7. Bangkit

1235 Words
Semua terjadi begitu cepat. Terlalu cepat hingga Torro tak dapat mengingat kejadian setiap detik dengan pasti. Satu hal yang Torro ketahui, kebodohan yang ia lakukan telah mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Torro dapat sedikit menginggatnya, gelombang rasa sakit itu datang ketika truk yang dia lihat menghantam tubuh, membuatnya terhempas dari motor dan membentur aspal jalan. Belum sempat tubuhnya beradaptasi dengan itu, rasa sakit kembali menerjangnya berkali lipat kala dadanya terhantam oleh sesuatu yang Torro tak ketahui. Udara tersembur keluar dari mulut, suara tulang patah terdengar oleh telinganya sendiri. Seumur hidup, Torro tak pernah merasakan penderitaan sehebat ini hingga dirinya ingin berteriak. Namun, belum sempat suara teriakan itu keluar dari mulut, perasaan dingin dan kegelapan mulai menghampiri seiring dirinya yang hilang kesadaran. Berteman sakit, diselimuti hawa dingin dan dicengkram kesunyian, Torro merintih di ambang kematian. Jiwanya yang hanya berjarak sejengkal dengan ajal tak sanggup menghalau itu semua, rasa sakit itu menekan dirinya bagai tindihan beton, membuat Torro semakin terpuruk jauh dalam jurang kegelapan. Namun, Torro masih belum menyerah, tetap berusaha mengusir kegelapan yang seolah menyerangnya dari segala penjuru. Berpegang pada rasa sakit yang kini masih terasa agar jantunya tetap berdetak. Tetaplah hidup, perintah Torro pada tubuhnya sendiri. Torro yakin bahwa jika ia membiarkan kegelapan itu menguasainya, ia takkan selamat. Hidupnya selesai sudah. Tetapi kemudian muncul perasaan hangat yang mendera tubuhnya, rasa nyaman itu merebak dalam dirinya pada waktu yang tak disangka-sangka. Meruntuhkan segala pertahanan yang Torro punya. Membawa perasaan lega ke dalam jiwanya yang seolah berbisik: sudah waktunya untuk berhenti melawan. Pada akhirnya, Torro pun terbuai. Kematian mencengkram jiwanya yang lemah dengan mudah. Sunyi. Dan kilas balik masa lalu pun terjadi. Seperti tengah menonton televisi di dalam ruangan gelap, Torro menyaksikan perjalanan hidupnya sendiri di layar hitam putih. Berbagai kenangan yang bahkan sudah Torro lupakan juga melesat berlarian membanjiri isi kepalanya, memenuhi pikirannya dengan berjuta emosi yang pernah Torro alami semasa hidup. Dia melihat semuanya: wajah menggemaskan dirinya saat berumur satu tahun yang berada dalam gendongan ayah dan ibu kandungnya---Sumirah, tangisnya ketika tejatuh saat belajar berjalan, hari pernikahan ayahnya dengan Puspa---ibu sambung yang tak pernah Torro sukai dengan sungguh-sungguh, seluruh kenangan masa kecil terputar kembali hingga saat-saat terakhir hidupnya. Membuat Torro sedikit menyesal karena pernah menyia-nyiakan waktunya dulu. Dari semua kenangan yang terputar, ada satu kalimat yang selalu Torro pikirkan meskipun pemutaran 'film' itu telah usai. Gue kecewa dan malu punya saudara kayak lo. Sebuah kalimat yang Rendy ucapkan saat komunikasi Torro dengan adiknya terakhir kali. Hal itu kini membuat perasaan Torro gundah dan gelisah, baru ia pahami maksud dari kata-kata itu yang sebenarnya. Dirinya telah gagal menjadi seseorang yang dapat diandalkan. Beribu sesal yang belum pernah Torro rasakan saat hidup kini melanda dirinya seperti pukulan telak. Menyiksanya dalam keheningan yang seakan abadi. Maaf, pikir Torro dalam peristirahatan terakhirnya, sedikit berharap bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk mengucapkan permintaan maafnya itu langsung kepada keluarganya, terutama Rendy. Maafin gue, Ren. Gue ngecewain semua orang. Tetapi Torro tahu bahwa itu mustahil, takkan mungkin ada kesempatan lain, hanya kesunyian menyesakkan yang kini menjadi temannya. Dan jiwa Torro tenggelam semakin jauh dalam kehampaan. * Torro tidak tahu sudah berapa lama dirinya terselimuti kematian, keheningan total yang ia rasakan tak pernah menjauh darinya. Satu hari? Satu bulan? Atau satu tahun? Semua tampak sama dari waktu ke waktu Tapi, untuk berapa lama? Pertanyaan itu selalu dipikirkan Torro, sampai kapan ia akan berteman sepi seperti ini? Apa ini akhir dari yang sesungguhnya? Kepekatan absolut yang tak mengenal cahaya? Kesunyian yang tak mengenal suara? Dirinya tak dapat menemukan detak jantungnya sendiri, atau pun aliran darah serta hembusan napas, semua sunyi, gelap, seolah jiwa Torro terperangkap dalam ketiadaan, dan membaur dengan keabadian yang tak terbatas. Kesadaraannya mengambang di dalam ruang tanpa tepi. Namun kemudian, pada satu waktu yang mengejutkan setelah sekian lama berlalu semenjak jantungnya berhenti berdetak, Torro melihat sebuah cahaya. Satu titik cahaya putih, muncul dari kegelapan yang pekat menerangi dirinya dalam kilauan yang hangat, jiwa yang telah mati itu akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini ia cari, dan Torro berani bersumpah untuk sesaat jantungnya yang telah mati berdetak satu kali. Cahaya itu semakin membesar, kegelapan yang mengerubung dirinya perlahan menjauh, pancaran sinarnya sangat menyilaukan hingga Torro menutup indra pengelihatannya---tahulah Torro bahwa ia masih memiliki sepasang mata. Dan tak lama kemudian, sinar putih itu kembali meredup, mengecil hingga kembali menjadi setitik dan hilang dalam ruang yang Torro tempati. Merasa penasaran, dengan perlahan Torro kembali membuka kedua mata. Apa yang dilihatnya benar-benar di luar dugaan. Latar putih dengan empat sudut membentang dalam jarak pandangnya, sebuah lampu neon putih tergantung di tengah-tengah latar dengan kondisi menyala, Torro merasa tidak asing dengan apa yang dilihatnya sekarang, itu seperti ... langit-langit ruang kamarnya. Torro segera bangkit terduduk. Tubuhnya terasa seringan kapas. Matanya menatap nanar setiap barang yang ada. Lemari kayu berukir, nakas di pojok ruangan, satu set DVD player, serta semua benda-benda yang tampak tak asing bagi Torro. Semua itu miliknya. Keningnya berkerut. Merasa tak percaya pada apa yang sedang dilihatnya. Apa gue selama ini cuma mimpi? Pikir Torro dalam keheranan, beribu tanya tertimbun dalam benak kala mendapati dirinya kini berada di kamarnya sendiri. Bagaimana ia bisa ada di sini? Ia mempertanyakan kegelapan, kesunyian serta rasa sakit yang sempat dialami, semua itu tampak begitu nyata untuk diyakini hanya sekedar mimpi. Dia lalu berdiri, memastikan kondisi badannya, semua tampak normal, pakaian yang dikenakan sekarang masih sama seperti yang terakhir kali diingatnya ia pakai. Kaus hitam polos, jaket denim berkancing di bagian luar dan celana hitam panjang. Perlahan sebuah senyum terukir lebar di mulutnya. Rasa lega membanjiri. Mungkin semua itu memang cuma mimpi. Tapi, benarkah itu? Torro segera ke luar, melewati pintu kamar yang sudah terbuka, lalu menuruni tangga. Saat ia sampai di lantai bawah, telinganya mendengar suara tangis. Ia mencari sumber suara itu, yang ternyata adalah ibunya, terduduk di sofa di ruang tengah sambil memeluk sebuah figura. Tangisan lirih keluar dari wanita itu. Torro tak dapat melihat foto siapa yang tengah digenggam ibunya. "Mah?" tanya Torro sembari maju mendekat, agak gugup karena selama ini hubungan ia dengan ibu sambungnya tak begitu baik. "Mamah kenapa nangis?" Wanita itu tak memberi reaksi apa-apa, masih menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tiba-tiba, Torro teringat akan kabar perceraian kedua orangtuanya yang ia dapat dari Rendy. "Apa ini karena Papah? Di mana Papah sekarang?" Torro tak melihat ada orang lain di rumah selain ibunya, lalu ia melirik jam yang menempel pada dinding. Pukul dua siang. Ayahnya pasti sedang kerja, Rendy pergi kuliah, dan Anggi sekolah. "Mamah sama Papah beneran mau cerai?" Torro kembali melontarkan pertanyaan. Namun, ibunya masih bergeming, membuat Torro merasa bingung. Ada apa dengan ibunya? Apa ibunya sedang marah padanya karena sudah terlalu lama Torro tidak pulang, dan memutuskan mengabaikannya sebagai hukuman? "Assalamu'alaikum. Mah, Rendy pulang." Suara adik laki-lakinya tiba-tiba terdengar dari luar rumah. Pintu depan pun segera terbuka dan pria berambut hitam yang disisir rapi itu pun memasuki rumah. Torro menyadari kedatangan Rendy, ia melihat adiknya berjalan dari pintu depan ke ruang tengah. Torro segera menghadang jalannya. "Ren, gue lihat Mamah lagi nangis. Lo tau apa yang terjadi sama---" Ucapan Torro terhenti, merasa tercengang dengan apa yang terjadi. Rendy tampak tak menyadari kehadiran Torro. Yang membuat Torro terguncang, pria itu berjalan dengan leluasa seolah tak melihat adanya hadangan, menembus tubuh Torro dengan santai, seakan ia hanya terbuat dari udara. Masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi, Torro berbalik menatap Rendy yang segera menuju ruang tengah dan menemui ibunya. Mereka berdua benar-benar tak melihat keberadaan Torro. Apa yang terjadi sama gue? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD