8. Adaptasi

772 Words
"Assalamu'alaikum. Mah, Rendy pulang." Ucapan salam yang Rendy serukan tak mendapatkan sambutan, membuatnya mengira tak ada seorang pun di rumah. Namun segera ia temukan bahwa pintu depan tak terkunci, dan ketika berjalan memasuki rumah, terdengar suara isak tangis perempuan dari arah ruang tengah. Rendy menghela napas, tak sulit untuk menebak bahwa itu adalah ibunya. Dalan benak Rendy pun bertanya-tanya apa pertengkaran orangtuanya tadi pagi masih berkelanjutan sampai sekarang? Dirinya segera berjalan menuju ruangan di mana sumber suara itu berasal, mendapati ibunya terduduk di salah satu sofa. Menangis sambil menatap figura berfoto yang Rendy duga adalah foto Torro saudaranya. "Mah?" ucap Rendy dengan nada pelan. Wanita di sofa menoleh, setelah tahu siapa yang ada di belakangnya, ia segera menyeka air mata yang membasahi wajah dan berdiri. "Oh. Rendy, Nak. Kamu sudah pulang." Rendy melihat foto yang digenggam ibunya, menyadari tebakannya ternyata benar. "Mamah masih mikirin Mas Torro, ya?" Puspa tersenyum kecil, membenarkan perkataan anaknya. "Tadi Mamah habis beres-beres di kamar kakakmu. Mamah cuma merasa sedikit kepikiran dia." Alasan yang payah, Rendy membatin. Bukan hal yang baru baginya melihat ibunya menangisi Torro. Hari ini terhitung sepekan setelah kematian Torro, dan entah sampai kapan hal itu akan berhenti. Rendy hanya berharap kondisi keluarganya akan normal lagi, senormal sebelum Torro meninggal dunia. Harapan konyol. Bahkan tanpa tragedi kematian kakaknya pun, kondisi keluarganya sudah tak lagi harmonis. "Oh iya, kamu sudah makan siang?" tanya Puspa beberapa saat kemudian. Rendy meringis dan menduduki sofa di dekat ibunya. Perutnya berbunyi seakan menjawab pertanyaan itu secara langsung. "Belum. Itu alasan Rendy pulang lebih cepet sebenarnya." Puspa terkekeh kecil melihat tingkah Rendy yang mengelus perutnya tanpa sadar. "Terus kenapa tadi pagi kamu nggak sarapan dulu sebelum berangkat kuliah?" "Eh, itu karena ... anu ...." Ia tak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Pikirannya teringat kembali akan kejadian tadi pagi, Rendy begitu penat mendengar ayah dan ibunya bertengkar hingga berlalu meninggalkan rumah tanpa sarapan atau pun mengucapkan salam terlebih dulu. "Kamu dengar Mamah sama Papah-mu berdebat lagi, kan?" tebak Puspa kembali terduduk, ibunya tak pernah mengakui secara terang-terangan bahwa ia dan suaminya bertengkar jika di depan anak-anaknya. 'Berdebat' dan 'berselisih paham' adalah dalih yang selalu digunakannya untuk menjaga perasaan Rendy dan Anggi. Rendy bisa paham jika ibunya melakukan hal itu pada adiknya yang masih kecil. Tapi bagi Rendy, ia sudah tak lagi bisa dibohongi. Sikap diam yang Rendy tunjukan, dianggap sebagai jawaban ya bagi Puspa. "Maaf kamu harus lihat hal itu lagi, Nak. Emosi Mamah gak bisa terkontrol tadi pagi." “Jangan lagi,” Rendy berucap lelah, yang membuat Puspa ibunya mengerutkan kening. Ia beringsut mendekat. “Maksud Rendy, Mamah gak perlu minta maaf dan bikin alibi yang aneh-aneh lagi. Rendy udah dewasa, Rendy tahu hubungan Papah sama Mamah udah gak begitu baik. Mamah gak perlu pura-pura di depan Rendy atau … apa pun. Rendy cuma berharap Mamah sama Papah bisa jaga sikap kalau Anggia lagi ada.” Bibir Puspa bergetar, Rendy khawatir kalau kata-katanya akan membuat ibunya menangis lagi. Namun Puspa hanya mengangguk dan berkata dengan nada lemah, “Mamah akan coba. Mamah juga tahu adikmu seharusnya gak lihat apa yang terjadi tadi pagi.” Mau tak mau Rendy meringis. “Anggi lihat kejadian tadi pagi …?” Ibunya mengangguk, ekspresi wajahnya mengguratkan penyesalan. “Dia sampai sempat menolak berangkat sekolah tadi pagi.” Kepala Rendy kontan menoleh ke segala sisi untuk mencari keberadaan adiknya itu. Pada jam seperti ini, Anggi biasanya telah pulang sekolah dan berada di rumah. “Di mana dia sekarang?” “Di rumah temannya. Dia sepulang sekolah tadi minta izin main dan nginep di rumah temen sekolahnya. Mamah gak bisa nolak permintaannya. Mungkin dia juga jenuh kalau harus di rumah.” Rendy mengangguk sepakat. Adiknya yang malang, harus melihat secara langsung huru-hara yang terjadi di sini. Rendy juga menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa menjadi sosok saudara lelaki pelindung bagi adiknya. Apa yang harus Rendy lakukan? Tak ada seorang pun yang pernah mengajarinya harus bersikap bagaiamana saat menghadapi situasi semacam ini. Perut Rendy kembali berbunyi, lebih keras hingga Puspa pun mendengarnya. Ibunya pun tersenyum kecil dan berdiri. "Ya udah, Mamah mau siapin makan siangnya dulu. Sekarang kamu mandi sama ganti pakaian dulu, gih," katanya sebelum berlalu menuju dapur. Figura yang ia pegang sedari tadi diletakkan di meja. Rendy meregangkan badan, lalu sejenak melihat foto saudaranya. Foto itu diambil ketika hari kelulusan Torro di SMA, menggunakan seragam putih abu-abu, sosok kakaknya tersenyum lebar ke arah kamera. "Seandainya lo masih hidup, mungkin keadaannya gak akan seburuk ini," ucap Rendy pelan dengan nada berharap, ia pun bertanya-tanya apa dirinya sudah gila karena sedang berkata pada selembar foto tak bernyawa. Tanpa lebih banyak bicara, ia pun berderap menaiki tangga menuju kamar tidurnya sendiri. Tak sadar bahwa arwah Torro kakaknya telah mendengar perkataannya sedari tadi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD