"Ren, gue di sini!"
Torro berteriak frustasi kala melihat sosok adiknya menaiki tangga menuju lantai atas. Segala macam cara telah ia lakukan untuk membuat ibu dan adiknya dapat menyadari keberadaanya. Tapi semua percuma, segala perkataan yang Torro ucapkan seolah hilang dan menguap di udara. Tak berarti apa-apa.
Jika Rendy dan ibunya telah bersekongkol untuk mengabaikan dirinya sebagai ungkapan marah dan kekecewaan, Torro merasa hukuman ini sudah terlampau kelewatan untuk dilakukan. Mustahil juga, tentu saja. Torro melihat sikap keduanya yang benar-benar seakan tak menyadari keberadaan dirinya, bukan berpura-pura tak melihatnya.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Torro tak mengerti mengapa dirinya bisa tak terlihat seperti ini. Apa ia tengah bermimpi atau … ia memang sudah mati? Torro menekan dadanya sendiri dengan telapak tangan, mengecek tanda-tanda kehidupan dalam dirinya.
Statis.
Tak ada ritme detakkan di jantungnya.
Bahkan ia tidak merasakan denyutan nadi kala ia menempelkan dua jemari ke pergelangan tangan. Kulitnya tak lagi hangat. Ia terkesiap, dan sadarlah bahwa dirinya tak lagi---perlu---bernapas.
Membutuhkan waktu lebih lama bagi Torro untuk menyimpulkan apa artinya. Setelahnya, kata-kata yang Rendy ucapkan barusan memukul inti kesadaran Torro bagai palu godam.
Seandainya lo masih hidup, mungkin keadaannya gak akan seburuk ini.
Torro jatuh berlutut, tak kuasa mengenal kenyataan mengerikan ini. Ia teringat kembali malam itu, malam terkutuk itu---hari terakhir dalam hidupnya---ketika dirinya berkendara di malam hari di jalan raya yang padat. Minuman beralkohol mulai berefek padanya, membuat Torro lengah … dan sebuah truk besar menghantam tubuhnya. Rasa sakitnya … masih dapat Torro ingat, begitu pula kegelapan dan kesunyian yang menghinggapi kesadarannya seakan tanpa akhir.
Kepalanya menggeleng kuat-kuat. Gue gak mungkin udah mati. Gue gak boleh mati.
Seberapa besar pun keinginan Torro untuk menyangkal fakta itu, tak ada lagi yang dapat dilakukannya. Torro tatap jemari tangannya lekat-lekat, mencoba meresap kenyataan bahwa di balik kulit itu kini tak ada lagi aliran darah. Satu pertanyaan pun terbetik di benaknya. Jika ia benar-benar telah meninggal, mengapa dirinya masih di sini? Mengapa ia tak berada di tempat mana pun jiwa-jiwa yang telah meningal bersemayam?
Tak ada seorang pun yang dapat memberinya jawaban pasti.
Masih dalam kondisi terguncang secara mental, Torro segera berdiri dan menyusul Rendy ke lantai atas. Langkahnya gontai, tiap pijakan kakinya ringan dan tak pasti, seakan kakinya tak benar-benar menyentuh pada lantai. Kulit di sekitar telapak kaki Torro tak bisa merasakan suhu marmer di bawah. Sensasi yang kini Torro rasakan membuat pikirannya sedikit linglung.
Jadi begini rasanya jadi hantu, pikir Torro merana.
Di kamar adiknya, Torro melihat Rendy sedang merebahkan diri di atas ranjang, melamun dengan pandangan mata fokus menatap langit-langit kamar. Apa yang sedang ia pikirkan, Torro sama sekali tidak tahu.
"Ini gue, Ren." Torro kembali bersuara, berusaha menunjukkan pertanda soal keberadaannya. “Gue masih di sini.”
Rendy tak memberi reaksi apa-apa.
Torro lalu melakukan beragam cara yang bisa ia pikirkan. Mencoba menjatuhkan benda-benda---tapi ternyata tangan hantunya tak bisa menyentuh apa pun, naik ke atas ranjang dan melompat-lompat---tapi bobot tubuh Torro tak dapat membuat ranjang berderit atau bergerak, atau bahkan sekedar memunculkan lipatan kain di seprai. Torro sampai mencoba berteriak tepat di depan hidung adiknya, yang mungkin bukan tindakan sopan---tapi Rendy tetap saja bergeming. Ia bagai seringan tiupan angin kecil, yang keberadaannya tak berpengaruh pada apa pun.
Pada akhirnya Torro menyerah, ia hanya duduk di tepi ranjang sambil memerhatikan sejumlah kegiatan yang dilakukan Rendy. Bertanya-tanya mengapa ia harus menjalani cobaan semacam ini setelah ia meninggal. Mungkinkah ini hukuman baginya karena telah menjalani kehidupan yang mengecewakan selama ini? Kemungkinan jawabannya membuat Torro enggan menebak-nebak.
Ketika waktu makan siang---atau sore?--- datang, Torro mengikuti adiknya turun dan bergabung di meja makan. Meski Torro tak bisa melakukan apa-apa---sebatas menggeser kursi yang ia pilih untuk diduduki misalnya, ia tetap berkumpul. Makanan di meja menyuguhkan hidangan yang disukai Torro semasa hidup, tapi sekarang ia bahkan tak berminat untuk meliriknya. Satu hal baru yang ia sadari: hantu ternyata tak memiliki selera makan.
Selagi Rendy menikmati makanannya, menciptakan suara bising dentingan sendok memukul piring, Torro memerhatikan Puspa---ibu tirinya. Wanita itu tidak ikut makan. Hanya melamun menduduki kursi yang bersebrangan dengan adiknya. Jari jemari kedua tangannya saling terkait. Dilihat dari ekspresi murung yang terukir di wajah itu, Torro menebak ibunya sedang memikirkan hal-hal yang kurang menggembirakan.
Salah satu hal menguntungkan menjadi sosok tak kasat mata adalah dapat memerhatikan seseorang tanpa khawatir orang itu akan mengetahuinya dan ikut menatap balik. Torro menyadarinya sekarang.
Seumur hidup, Torro tak pernah bisa dekat-dekat dengan ibu tirinya tanpa keadaan menjadi canggung. Hubungan Torro dengan Puspa tak pernah akur. Meski Puspa telah menjadi ibu sambung untuk dirinya semenjak berusia lima tahun, Torro masih tak bisa sepenuhnya mengenyahkan rasa enggan untuk menerima Puspa sebagai pengganti Sumirah, ibu kandung Torro yang meninggal saat ia masih kecil.
Di masa-masa awal pernikahan ayahnya dengan ibu tirinya, Torro selalu menunjukkan sikap tak suka dan tak terima secara terang-terangan. Alhasil membuat hubungan mereka menjadi berjarak. Torro tahu perlakuan ia pada Puspa tak adil waktu itu, tapi ia saat itu masih kecil. Masih dikendalikan oleh rasa duka akibat kehilangan ibunya beberapa bulan lalu. Torro tak percaya ayahnya bisa menemukan wanita lain untuk dinikahi hanya beberapa bulan setelah ibu kandungnya meninggal.
Hubungan antara Torro dan Puspa tak pernah berjalan harmonis sejak awal perkenalan mereka, tapi lambat laun Torro bisa menerima wanita itu sebagai ibu penggantinya. Ketika Torro beranjak dewasa, ada saat-saat ia ingin memperbaiki hubungan dengan ibu tirinya---hal-hal yang juga menjadi harapan ayah Torro sejak lama.
Namun, Torro tak pernah bisa menunjukkan niatnya secara gamblang. Terlalu malu dan menjengahkan untuk menyatakan hal seemosional itu. Lagi pula, tahun-tahun telah berlalu, Torro dan Puspa telah terbiasa menjaga jarak. Torro merasa, sudah terlambat untuk mulai mengakrabkan diri dengan ibu sambungnya.
Dan kini Torro telah meninggal. Kesempatan untuk memperbaiki hubungan itu telah lenyap sepenuhnya.
Selama ini Torro bertanya-tanya apa ibu tirinya peduli padanya. Atau memperhatikan Torro sebagaimana ia selalu memperhatikan Rendy dan Anggia, adik-adiknya. Apa perlakuan tak adil Torro padanya selama ini telah membuat Puspa tak begitu mempedulikannya?
Hari ini Torro telah menemukan semua jawaban untuk pertanyaan itu.
Ia melihat langsung bagaimana Puspa menangisi dirinya, menatap foto Torro dengan penuh kelembutan, nada sedih yang terdengar tiap kali Puspa membicarakan anak sambungnya yang baru saja meninggal. Bahkan hari ini ia telah memasakan makanan favorit Torro ketika ia hidup, seolah-seolah tahu Torro akan datang untuk melihatnya.
Ibu tirinya memang peduli padanya, Torro berpikir. Dan Torro sangat berterima kasih untuk itu.
“Maaf, Mah,” ucap Torro nelangsa. Meminta maaf bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk kesalahannya di masa lalu. Untuk sikap kasarnya selama bertahun-tahun, juga untuk kesedihan yang akan ditimbulkan Torro pada ibu tirinya di masa mendatang. Seribu kali permintaan maaf pun tak cukup mewakili semua itu.
Lagi-lagi, ucapan Torro hanya berlalu bagai semilir angin.
***