“Nak,” Puspa berucap dengan nada lemah, membuat tatapan mata Torro melebar. Apa ibunya secara ajaib bisa mendengar permintaan maafnya barusan dan memberi respon? Ternyata tidak. Sedetik kemudian Torro sadar bahwa ibunya tengah berbicara pada adiknya.
Rendy mendongak dari makanan di piring yang sedang disantapnya. “Hmm?”
“Kamu gak keberatan kan kalau besok kamu yang jemput Anggi di rumah temannya?”
Kening Rendy berkerut, dari ekspresinya Torro tahu bahwa adiknya merasa keberatan. “Eh, kenapa harus Rendy?”
Kepala Puspa menunduk, seakan tahu Rendy akan menanyakan hal itu dan tak menyukai tebakannya ternyata benar. “Mamah baru ingat kalau besok pagi udah jadwal sidang. Mamah harus ke sana, Nak.”
Raut muka Rendy menjadi segelap awan mendung. Torro bertanya-tanya mengapa, dan sidang apa yang sedang dibicarakan ibunya?
“Mamah sama Papah beneran mau ngelanjutin ini?” tanya Rendy, terlihat kesal. “Apa gak bisa ditunda dulu?”
Kekesalan yang ditampakkan adiknya membuat Torro teringat pertengkaran terakhir mereka pada malam terakhir di hidup Torro. Kata-kata menyakitkan yang Rendy ucapkan padanya sebelum menutup telepon, serta informasi mengejutkan yang disampaikannya waktu itu.
Sadarlah Torro apa yang sedang mereka perdebatkan: perceraian. Ayah dan ibunya sedang dalam proses perceraian.
Bahkan sampai detik ini pun, kenyataan itu masih belum bisa Torro cerna seluruhnya. Terasa begitu janggal dan tak benar. Kemungkinan ayah dan ibunya akan berpisah tak pernah benar-benar Torro harapkan akan terjadi.
Memang benar di masa awal pernikahan mereka Torro tak menyambutnya dengan senang hati, tapi keadaan sudah berubah sekarang. Torro paham mengapa ayahnya bisa menikah lagi setelah ibu kandungnya meninggal secepat itu. Lagi pula ada Anggi, adiknya yang paling kecil itu masih butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya secara utuh.
“Mamah sama Papah kenapa harus cerai sih?” tanya Torro keras-keras meski tahu Puspa takkan bisa mendengarnya.
Wanita itu menggeleng lesu. “Maaf, Nak. Engak bisa. Papah-mu juga gak mau proses perceraian ini ditunda-tunda.”
“Keterlaluan,” seru Rendy seraya meletakkan sendok di piring. Tampak telah kehilangan selera makan. “Mas Torro baru aja meninggal. Kita masih berduka, dan yang kalian pikirin cuma cerai? Sama sekali gak bisa nunggu sampai situasi lebih tenang?”
Puspa menyeka setetes air mata yang terjatuh dari kelopak matanya. “Mamah tahu waktunya gak tepat, tapi lebih cepat lebih baik. Situasinya lebih rumit dari yang kamu tahu, Nak.”
Mulut Rendy menampakkan senyum sinis, meragukan kebenaran kata-kata tersebut.
“Dan Mamah minta tolong,” lanjut Puspa mengabaikan sikap keberatan anaknya. “Kamu jangan kasih tahu Anggi soal ini. Jangan dulu. Dia belum siap buat tahu hal ini.”
Dan tertawalah Rendy. Tawa pahit yang tanpa ada unsur kesenangan di dalamnya. Torro mengenali jenis tawa itu, ia pun sering menggunakannya … ketika ia masih hidup.
“Rendy juga belum siap, Mah!” bentak adiknya dengan nada tinggi. Mengejutkan Puspa, bahkan Torro sendiri. Menjadi anak kasar dan pembangkang adalah peran Torro, bukan Rendy. Adiknya selama ini lebih dikenal sebagai anak baik dan penurut.
“Mamah pikir Rendy udah siap dan menerima semuanya?” Kedua mata Rendy kini tampak sembap dan memerah, tampak siap memuntahkan semua tekanan hatinya yang selama ini ia tahan. “Mamah pikir Rendy gak akan masalah kalau Mamah sama Papah pisah? Enggak! Gak akan siap, begitu juga Anggi. Dia emang masih kecil, tapi dia bukan anak bodoh! Dia udah sadar kalau kalian sering berantem, pasti bakalan tahu sendiri kalau kalian bakal pisah. Pikirin perasaan dia gimana kalau nanti kalian mulai rebutan hak asuh anak!”
Bahu Puspa bergetar, kini mulai menangis. Isakan pelan yang tak ditahan-tahan keluar dari bibirnya. “Mamah janji itu gak akan terjadi. Kamu sama Anggi bebas memilih mau tinggal sama siapa.”
“Terserahlah!” Rendy berdiri, begitu cepat sampai kursi yang didudukinya terjengkang dan terjatuh ke lantai. “Rendy gak mau bicarain ini lagi.”
Ia pun berlalu pergi menuju kamarnya sendiri, meninggalkan ibunya yang masih menangis, serta arwah Torro yang menatapnya dengan nanar.
Torro sebelumnya sudah diberitahu oleh Rendy bahwa hubungan kedua orangtuanya tak lagi harmonis, mereka kerap kali bertengkar, tapi Torro tak pernah memikirkannya secara serius. Ia berpikir: hanya pertengkaran normal. Setiap pasangan suami istri pernah mengalaminya, jadi mengapa harus mengkhawatirkannya secara berlebihan? Torro juga melihat bagaimana ayah dan ibu tirinya sangat saling mencintai. Mustahil mereka memutuskan bercerai karena alasan apa pun.
Kini Torro sadar ia telah menyepelekan semua itu. Menyadari saat situasi sudah buruk. Keadaan pasti sudah sangat serius sampai-sampai Rendy---adiknya yang Torro kenal sebagai anak penurut---bisa bersikap pahit seperti tadi.
Membayangkan bahwa kenakalan-kenakalannya semasa hidup yang menyebabkan kedua orangtuanya bertengkar dan bermuara pada perceraian, Torro benar-benar merasa bersalah dibuatnya, menikam hatinya dengan rasa sakit seperti ditusuk pisau belati.
Berjam-jam kemudian Torro habiskan dengan memikirkan hal itu. Ketika malam datang, ia masih tak bisa menemukan cara untuk memperbaiki kesalahannya, menyembuhkan kerusakan yang ia perbuat. Setiap ide dan pemikiran yang timbul selalu dikalahkan oleh satu kenyataan pahit: bahwa ia hanya sesosok arwah. Telah meninggal, tak punya kuasa untuk melakukan apa pun yang dapat disadari keluarganya yang masih hidup.
Entah karena sudah menjadi hantu, atau begitu terhanyut dengan pikirannya sendiri, Torro merasa waktu berlalu begitu cepat. Ada kalanya ia merasa hanya melamun semenit tapi kenyataannya enam puluh menit penuh telah berlalu. Ia bahkan tak akan menyadari hari telah gelap jika ibunya tak menyalakan semua lampu rumah.
Saat sudah terlalu penat dengan lamunannya sendiri, Torro memilih untuk berkeliling rumah. Ia menemukan tubunya dapat menembus dinding saat mencoba memasuki kamar Rendy yang pintunya tertutup. Segala penghalang fisik tak menjadi masalah untuknya, hal ini sedikit membuatnya terhibur. Satu-satunya hiburan yang ada di hari pertama Torro menjadi arwah gentayangan.
Sudah beberapa minggu Torro memang belum pulang, agak ironis memikirkan sekalinya pulang ke rumah ini ia dalam keadaan tak lagi hidup. Namun Torro mencoba tak terlalu berfokus pada hal itu, memutuskan sebaiknya menikmati setiap detik waktu yang ada selagi masih ada di sini.
Dirinya tak mungkin bergentayangan di dunia ini selamanya, benak Torro berkata. Entah dengan cara apa, pada satu saat ia pasti harus pergi ke alam lain, alam di mana yang mati beristirahat, menanti sampai hari kiamat tiba dan semacamnya.
Dan dia bisa bertemu kembali dengan ibu kandung yang sudah sangat Torro rindukan. Pemikiran ini menyemangati dirinya sedikit. Ia hanya berharap keluarganya yang di sini bisa harmonis kembali saat itu tiba.
Torro mendapati sebuah kejutan ketika dirinya menembus dinding untuk memasuki garasi rumah. Di pojok ruangan yang nyaris kosong itu, teronggok sebuah mesin hitam besar yang sangat dikenalinya. Itu motornya. Ducati Monster hitam kesayanganya. Si kuda besi yang Torro tunggangi di malam nahas itu.
Dilihat dari kondisinya Torro mengira tak ada seorang pun yang berniat memperbaikinya. Meski begitu bentuk motor itu tetap membuatnya takjub. Mengingat betapa kuatnya hantaman truk yang menewaskan Torro, motor miliknya harusnya sudah tak berbentuk lagi. Namun apa yang ada di hadapan Torro kini jelas-jelas masih berbentuk motor. Hanya beberapa bagian yang rusak. Kenalpotnya melengkung ke arah yang aneh, badan bagian samping kiri penyok parah tapi masih bisa diganti, bagian kanannya hanya lecet sedikit, dan salah satu kaca spionnya hilang.
Sementara untuk mesinnya … Torro tak bisa mengeceknya. Tangan hantunya tak bisa menyentuh motor itu untuk mengecek kondisi dalam motor. Tapi Torro cukup yakin motor ini masih bisa diperbaiki ke performanya yang semula.
Ruslan bisa perbaikin ini, batin Torro tak ragu. Mendadak saja pikirannya disesaki kenangan lama tentang sahabat karibnya tersebut. Torro lagi-lagi diliputi kegelisahan, bagaiamana Ruslan menghadapi kabar kematian Torro? Bagaiaman kabar cowok itu sekarang? Apa bengkel milik temannya masih beroperasi? Jika iya, kenapa Ruslan tidak menawarkan diri pada keluarganya untuk memperbaiki motor ini?
Berbagai pertanyaan, pikiran dan kenangan saling berkeliaran di benak Torro, membuat ia lupa waktu. Ia pasti akan terus berada di garasi menatap motornya sampai pagi jika tak mendengar suara pintu depan diketuk keras-keras.
Torro menembus dinding menuju ruang depan tepat waktu untuk melihat ibunya melintasi ruangan menuju pintu depan. Torro saksikan ketika pintu itu dibuka, dan berdirilah seorang pria yang sangat dikenalinya, berpakaian tebal, kedua tangan masuk ke saku celana, dan raut kelelahan menghiasi wajahnya yang telah berumur.
Roy Rahmadi, ayahnya baru saja pulang.
***