51. Tak Terlihat Orang Lain

1592 Words
Jadinya, Rendy memakai layanan jasa taksi mobil online. Bukan tanpa sebab, keikut sertaan Torro adalah alasannya. Meski sang hantu tampaknya tak masalah harus pergi ke rumah Ruslan dengan menaiki motor ojek---malah terkesan senang karena bisa mengenang masa lalu, tapi Rendy mual membayangkan harus berdesak-desakkan dengan arwah kakaknya di jok belakang. Lagian belum ada kepastian apa kakaknya secara fisik bisa menaiki motor---bukan hanya berjalan menembusnya. Meminta saudaranya berjalan kaki seorang diri ke sana juga jelas tak mungkin. Meski dalam wujud hantu pun, Rendy tak tega menyuruhnya. Keberadaan roh Torro ternyata membuat Rendy memikirkan banyak hal dalam perspektif berbeda. Ketika taksi yang dipesankan tiba, berangkatlah mereka berdua. Sang sopir langsung tancap gas setelah diberi tahu alamat lokasi tujuan. Ajaibnya jalanan ibu kota yang dilalui tampak lengang---ramai lancar pada saat itu. Sebagian besar warga Jakarta rupanya memutuskan tetap tinggal di rumah meski ini hari minggu, padahal cuacanya sedang bagus sekali. Matahari bersinar cerah, langit biru membentang tanpa awan dan semilir angin kering bertiup ke sana kemari. Hari yang cocok untuk rekreasi, berlibur ke suatu tempat bersama keluarga atau memadati tempat wisata yang tersedia di tiap titik daerah perkotaan. Tak ayal Rendy jadi memikirkan adik dan ayahnya. Jarak ke Dufan lebih jauh dari jarak yang harus ditempuh menuju rumah Ruslan, jadi keduanya pasti masih dalam perjalanan. Nantinya ketika sampai mereka akan bersenang-senang. Rendy berharap ketidak hadiran dirinya tak lantas menurunkan semangat Anggi dalam mencoba segala macam wahana. Bukan Rendy menyesali keputusannya untuk tetap pergi ke rumah Ruslan, ia sudah menetapkan pilihan dan tak ada gunanya meragu pada tahap ini. Waktu tempuh yang dihabiskan ternyata selama setengah jam lebih---empat puluh tiga menit tepatnya. Terlalu terhanyut pada lamunan di dalam kepalanya sendiri, tahu-tahu Rendy menyadari bahwa sang sopir sudah menghentikan laju kendaraan, mobil menepi di depan pagar sebuah rumah bergaya minimalis. “Kita sudah sampai, A,” kata si pengemudi, pria yang tampaknya beberapa tahun lebih tua dari Rendy sendiri. Dirinya melongok dari kaca jendela mobil yang diturunkan di sampingnya, lalu mengamati kondisi rumah tersebut. Tampak sepi. “Ini rumah Bang Ruslan?” tanyanya pada sosok Torro yang duduk di kursi sebelahnya. Pria pengemudi taksi melirik ke belakang, malah berpendapat bahwa ialah yang ditanyai. “Eh, kurang tahu, A. Saya gak tahu siapa Bang Ruslan ini, tapi alamat rumah yang dikasih benar kok ini.” Rendy meringis, sementara saudaranya menyeringai melihat kesalah pahaman kecil ini. Wajar saja, sebab si sopir bukanlah seorang indigo, tak menyadari bahwa adanya sosok hantu di antara mereka. “Iya bener ini rumahnya, Ren,” kata Torro bersemangat. “Ayo kita turun.” Ia langsung menembus pintu mobil di sebelahnya dan seketika berada di luar. Diam-diam Rendy berharap ia punya kekuatan super semacam itu. Dirinya mengikuti aksi sang kakak---tanpa menembus benda padat, tapi membuka pintu mobil secara manual, menyebalkan sekali---dan membayar biaya ongkos. Setelahnya mobil taksi itu pun pergi Sekali lagi Rendy amati rumah di hadapannya. Letaknya bukan berada di area jalanan kompleks perumahan, melainkan jalan raya kecil yang yang disesaki warung, pertokoan, dan berbagai g**g kecil menuju area padat penduduk. Sehingga kesannya rumah ini salah tempat, atau sang pembuat bangunan dulu memiliki penafsirannya sendiri tentang lokasi hunian yang strategis. Pagar besi kelabu tua setinggi leher tertutup dan terkunci, ujung atasnya runcing nan tajam sampai tak memungkinkan orang iseng bisa memanjat melewatinya. Dari celah pagar Rendy bisa lihat pekarangan depan. Di sisi kanan adalah taman kecil dengan tanah berumput dan ditumbuhi tanaman hias, sementara di halaman depan sebelah kiri adalah jalanan beraspal. Sebuah mobil terparkir di sana. Rumah itu sendiri mungil, bercat kuning pudar, atap genting merah dan berlantai satu. Pintu cokelatnya tertutup, kaca jendelanya pun tampak ditutupi tirai merah. Lampu teras depan menyala. “Kayaknya gak ada orang di rumah,” ujar Rendy usai menilai keadaan. “Ada. Si Ruslan pasti ada di dalam.” Tanpa ragu Torro menembus pagar dan berjalan menuju teras, lalu mendadak berhenti dan berbalik, tampak baru menyadari bahwa adiknya tak bisa melenggang masuk semudah itu. “Eh coba lu bunyiin bel, Ren.” Rendy mencari ke sekeliling dan menemukannya. Tombol bel terletak persis di samping pagar. Ia memencetnya beberapa kali menggunakan tangan yang bebas, kemudian mengintip lagi lewat celah pagar. Tirai jendela tersingkap sedikit dan wajah gahar Ruslan mengintip sekilas. Setelah dilihatnya siapa yang datang, wajah itu menghilang disusul oleh pintu yang terbuka. Ruslan terhuyung menghampiri pagar, mengenakan celana bahan selutut dan kaus tanpa lengan. “Eh, Ren,” katanya dengan senyum yang Rendy tangkap agak dipaksakan. “Ternyata lo yang dateng.” Ada yang tidak beres, Rendy bisa merasakannya. Pagar, pintu dan jendela yang tertutup serta lampu depan yang menyala … seakan-akan Ruslan sengaja menciptakan kesan sedang tidak ada siapa pun di rumah. Arwah Torro berjalan balik mendekati mereka. “Emangnya lo ngira siapa lagi yang bakal dateng, Rus?” Ruslan jelas saja tak mendengar atau merespon pertanyaan tersebut. Rendy dengan berbaik hati menanyakan ulang, “Emangnya Bang Ruslan ngira siapa lagi yang bakal datang?” “Eh, lupain aja,” timpal Ruslan menghindar, senyuman di mulutnya masih terkesan janggal. Ia membuka pagar sedikit dan melambai ke arah rumah. “Ayo, masuk, Ren. Masuk.” Dengan perasaan mengganjal di hatinya, Rendy menuruti. Ruslan buru-buru menutup dan mengunci pagar lagi, dan setelah Rendy memasuki rumah pun, pintu depan sekali lagi ditutup rapat. Melenggang masuk melewati pintu, Rendy langsung menyadari bahwa rumah itu cukup luas. Tampak mungkil dari depan, tapi bentuk bangunanya sendiri seperti balok---memanjang ke belakang. Ruang depan dihiasi meja dan kursi kayu, lemari pendingin berpintu tiga serta televisi yang ditempelkan ke dinding. Ada sebuah figura besar yang ditempelkan tepat di atas pintu, bukannya foto seseorang atau pemandangan indah, figura itu berisi foto motor sport keluaran terbaru. Bahkan untuk seorang penggila otomotif sekali pun, Rendy merasa ornamen penghias ruangan tersebut agak berlebihan. Ketika Rendy melirik sang tuan rumah, cowok itu sedang mengintip ke luar dari celah tirai jendela lagi. “Eh, Bang?” tanya Rendy hati-hati. “Gue gak salah pilih waktu buat main ke sini, kan?” Sosok Torro juga ikut memperhatikan gelagat temannya dengan resah. “Pasti ini ada hubungannya sama p*********n ke bengkel dia malam itu. Apa orang-orang yang bikin kerusuhan itu mulai neror dia kemari, ya?” Kemungkinan itu bisa saja benar, dan Rendy menjadi waspada. Rendy tak bisa melontarkan pertanyaan itu secara langsung, ia harus mulai pelan-pelan---tak bisa begitu saja melontarkan pertanyaan sespesifik itu. Ruslan menutup tirai dan menengok. Senyumnya masih agak kagok. “Gak masalah kok, Ren. Gue cuman … ah, bukan apa-apa.” Ia menunjuk salah satu kursi. “Duduk, Ren. Anggap aja lagi di rumah sendiri. Gue mau ke dapur dulu ambil … hmm, apa yang lo mau minum?” “Apa aja yang Bang Ruslan punya,” jawab Rendy sembari terduduk pada kursi yang letaknya paling dekat dengan pintu. “Gue gak akan pilih-pilih.” “Kopi gimana? Lo suka kopi?” “Eh,” Rendy jadi agak sungkan. “Gue lebih suka teh sebenarnya.” Atau s**u cokelat, batin Rendy menambahkan, tapi rasanya akan aneh jika dirinya meminta itu. “Oke. Gue buatin tehnya dulu.” Ruslan pun melenggang pergi. “Lo harusnya terima tawaran kopi dari dia,” saran Torro, mengambil tempat duduk yang berdekatan dengan adiknya. “Si Ruslan itu cukup jago juga ngeracik kopi, bikinan dia… beuh, mantap!” Nadanya penuh mengenang dan nostalgia. Mau tak mau Rendy tersenyum. “Jadi … dia montir profesional, pemilik bengkel, penggila otomotif, peracik kopi handal, dan penggiat budi daya tanaman hias juga, terus apa lagi?” Torro memandangnya bingung. “Penggiat budi daya tanaman hias apaan?” “Itu di depan,” kata Rendy, tangannya menunjuk pada taman mungil di pekarangan depan yang dipenuhi berbagai macam tanaman. Sang hantu tertawa. “Bukan, itu mah kerjaan nyokapnya.” Sebelum Rendy sempat bertanya lebih jauh, Torro melanjutkan, “Dia tinggal sendirian sih di sini, tapi nyokapnya kadang-kadang datang---udah punya keluarga sendiri. Bokap si Ruslan udah meninggal sejak dia sekitaran SMP.” “Oh.” Rendy mangut-mangut, tak yakin apa alasannya ia harus tahu sebanyak itu tentang sahabat kakaknya. Lalu Ruslan datang, membawa segelas teh yang ia genggam langsung dengan tangan, tangan lainnya menjepit pinggiran mangkuk plastik yang berisi keripik asin---camilan kesukaan cowok tersebut. “Nih, Ren,” katanya meletakan semuanya itu di atas meja bertaplak kain hitam polos. “Sorry jamuan gue seadanya begini.” “Ini udah cukup,” Rendy menyergah dan langsung menyesap the sebagai bukti bahwa ia menikmatinya. Terlalu manis, terlalu banyak gula, tapi suhunya dingin dan berisi es batu yang cukup menyegarkan kerongkongan Rendy. “Makasih, Bang.” Ruslan mengambil posisi duduk di samping Torro, tak sadar bahwa ia tengah berdekatan sekali dengan mendiang sahabatnya. “Lo ke sini gak pake motor, Ren?” Rendy tak lantas menjawab, ia tak berkeinginan memberitahu cowok itu bahwa dirinya tak bisa menggunakan motor. Dengan nada diplomatis Rendy berujar, “Enggak, gue ke sini naik taksi. Kebetulan baru aja ada acara keluarga, main ke mall … begitulah.” Pria itu bersiul, menunjuk tas belanja Rendy yang telah diletakkan di bawah kursi dengan dagunya. “Habis belanja banyak tuh.” “Lumayan,” sahut Rendy dan cengengesan setelahnya. Selama seperempat menit ia menikmati camilan yang disuguhkan, kemudian Ruslan bertanya, “Jadi … lo kemarin datangin bengkel gue, ya? Sorry banget gue lagi gak ada di sana kemarin. Lo mampir ke sana ada tujuan apa?” Pertanyaan ini sudah Rendy duga akan diterimanya, dengan santai ia berkata, “Cuman ngecek keadaan lo aja, Bang. Dan nyari tahu perjanjian macam apa yang udah lo lakuin sama mendiang kakak gue sampai lo rela bayarin semua perbaikan motor. Kata lo tempo hari lalu gue harus datang ke bengkel biar bisa tahu?” “Oh itu.” Wajah Ruslan berbinar, diungkitnya hal ini tampak membuatnya lebih … ceria. “Lo mau tahu lebih soal perjanjian gue sama almarhum, oke. Gue tunjukkin.” Ruslan lantas berdiri, dengan sikap berharap Rendy akan mengikuti. “Kita mau ke mana?” tanya Rendy penasaran. Torro kakaknya sudah bangkit dan bersikap tak sabar, andai saudaranya masih kecil pastilah ia sudah berjingkrak-jingkrak penuh antusiasme. “Bengkel pribadi gue dan kakak lo,” sahut Ruslan. “Letaknya ada di belakang rumah.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD