Rendy tak ingat kapan terakhir kalinya ia bisa merasa dekat dengan ayahnya.
Bukan berarti Roy Rahmadi seorang ayah yang dingin dan berjarak, bagi Rendy beliau sejak dulu adalah sosok kepala keluarga yang hebat, penuh perhatian dan peduli dengan kebahagiaan anak-anaknya. Hanya saja, sejak Torro memberontak, memulai berbagai aksi nakal, fokus sang ayah jadi lebih tertuju pada anak sulungnya. Harus diakui, itu membuat Rendy merasa disisihkan---atau setidaknya dinomor sekiankan.
Belum lagi ketika dimulainya berbagai pertengkaran dengan ibu mereka, sosok ayah menjadi begitu berbeda di matanya---lebih serius, tegas dan kaku, terlebih saat Rendy mendengar kasus KDRT … dalam waktu singkat dirinya sudah benar-benar tak mengenal sosok ayahnya.
Hari ini, saat mereka menghabiskan waktu akhir pekan dengan berjalan-jalan, Rendy senang menemukan sikap lembut ayahnya yang dulu masih belum berubah. Seberkas bukti bahwa pria tua itu adalah ayah yang dikenalnya semasa dulu.
Roy membawa mereka terlebih dahulu ke pusat perbelanjaan di jantung kota Jakarta---menghabiskan berjam-jam waktu dengan berkeliling mal, membelikan barang-barang yang diinginkan Anggi dan dirinya, bermain agak lama di zona permainan dan ketika lapar mengunjungi salah satu gerai makanan dan membeli pizza ukuran besar untuk dimakan bertiga.
Secara keseluruhan semua kegiatan itu cukup menyenangkan. Meski tadi sempat diawali dengan cekcok antar orang tuanya, suasana hati semua orang sudah membaik. Anggi sendiri telah menemukan rasa antusiasmenya kembali, menarik tangan ayahnya ke arah permainan yang ia mau, alhasil Rendy dan arwah Torro hanya mengikuti.
Suatu kali, Anggi dan Roy sudah berada cukup jauh di depan dan Rendy serta Torro dengan santai berjalan menyusul.
“Gue ikutan senang lihat Anggi bisa nikmatin jalan-jalan ini,” kata Torro di suatu tempat di dekatnya. Sosoknya menjadi sulit dilihat berkat penerangan lampu yang luar biasa cerahnya serta seringnya kerumunan orang menembus tubuh bagai asap Torro.
“Gue juga,” Rendy berkata, matanya tetap tertuju pada kedua orang yang jauh di depan. Ia selalu berhati-hati memilih kondisi jika ingin menyahut perkataan sang hantu, sebab di mata orang lain yang berpengelihatan tumpul ia akan terlihat seakan berbicara sendiri. Rendy sedang tak ingin dianggap sinting dan gila. “Lihat Mamah sama Papah hampir adu mulut tadi sempat bikin dia murung.”
“Emang.” Suara Torro terdengar begitu dekat meski Rendy tak dapat melihatnya. “Lo lihat kan, Ren gimana buruknya hubungan orang tua kita? Sikapnya dingin dan berjarak banget, gak bisa sedetik aja ketemu tanpa adu mulut, gue jadi ragu ….”
Kalimatnya berhenti di tengah-tengah, tapi Rendy paham apa maksudnya. Ia juga ragu bahwa rencana apa pun yang akan mereka lakukan demi mempersatukan kembali orang tuanya, itu takkan berhasil.
“Kapan lo bakal pergi ke rumah Ruslan?” tanya Torro kemudian, rupanya memilih mengganti topik, terdengar tak sabar ingin segera bertandang ke rumah sang sahabatnya.
Rendy sedikit tak mengerti, sang kakak dalam wujud hantunya telah bermain ke tempat itu semalam. Menghabiskan waktu cukup lama untuk menguntit Ruslan. Apa yang begitu menarik dari rumah cowok itu sampai Torro tak bosan bermain ke sana berulang-ulang?
“Secepatnya,” Rendy menjawab. “Gue lagi coba mikirin alasannya ke Papah, biar dia ngizinin gue pegi.”
Pembicaraan pun terhenti karena Rendy sudah sampai di tempat ayahnya berada. Roy telah membeli sebuah tiket masuk ke wahana rumah balon dan memberikan karcis tersebut ke sang penjaga wahana. Dengan riang Anggi pun menghampiri pintu masuk wahana, menghambur masuk ke dalamnya.
“Serius?” gumam Rendy, ia harus berkata dengan nada lebih keras demi meningkahi suara kerumunan. Kakinya beberapa kali harus bergerak ke sana kemari memberi jalan untuk orang lewat. “Bukannya Anggi udah terlalu besar buat naik permainan beginian?”
Ayahnya tersenyum lebar. “Gak ada kata terlambat untuk bersenang-senang, Nak.” Matanya menatap lurus pada Rendy. “Kamu mau naik juga?”
“Papah bercanda,” Rendy memelototinya, dan Roy tertawa lantang, menciptakan garis-garis halus di seputar kelopak mata dan bibirnya. Inilah yang Rendy maksud dengan menemukan sifat sosok ayahnya yang dulu. Lebih santai dan menyenangkan, juga memiliki selera humor meski kadang bercandaannya kolot sekali.
Sang ayah melirik ke dalam wahana, mencari-cari sosok Anggi di antara banyaknya anak yang bermain. Begitu ditemukan, gadis kecil itu menyengir lebar dan melambaikan tangan ke arah mereka, setelahnya Roy melirik Rendy kembali.
“Barang-barang yang udah Papah belikan bagaimana? Udah cukup?” tanyanya melirik beberapa tas belanja yang kini Rendy jinjing. “Apa ada keperluan lagi yang harus dibeli?”
Ayahnya sedang bermurah hati sekali, Rendy membatin. Sejak tadi berkeliling Roy telah membelikan ia dan Anggi banyak hal. Untuk Rendy, ayahnya telah membelikan tinta pena, power bank untuk laptop---karena yang lama Rendy miliki sudah rusak---serta berbagai macam benda penunjang perkuliahan. Rendy menduga bahwa sikap ayahnya ini semacam bentuk kompensasi dari keadaan yang tak menentu akhir-akhir ini.
Rendy takkan mengeluh. Ia toh kini bisa membeli beberapa keperluannya tanpa harus menghabiskan jatah uang jajannya sendiri.
“Buat sementara ini udah cukup kok, Pah,” kata Rendy dengan seulas senyum. “Makasih banyak.”
Roy balas tersenyum, tapi kedua sudut bibirnya segera bergerak turun. Ia mengganti tumpuan kakinya. “Omong-omong, ini soal perbaikan motor, perkembangan terbarunya bagaimana? Udah selesai diperbaiki?”
Perasaan Rendy jadi was-was. Dirinya tahu bahwa ayahnya masih belum sepenuhnya setuju akan aksinya memperbaiki motor Torro. “Belum selesai, Pah. Kerusakannya parah. Kata Bang Ruslan ada beberapa komponen yang harus diganti, beberapa di antaranya susah didapat karena harus beli di luar kota. Jadi … masih nunggu.”
“Biaya perbaikannya pasti bakal mahal dan membengkak tuh,” gumam Roy mengandung sedikit nada sindiran.
“Papah gak usah khawatir, Rendy gak akan gunain tabungan pendidikan, cuman pakai tabungan dari uang jajan aja.”
Itu semua jelas berupa kebohongan. Pada kenyataannya Rendy tak perlu merogoh kocek sepeser pun. Ruslan dengan jelas mengaku bahwa ia bersedia menanggung semua modal reparasi. Rendy masih tak mengerti mengapa, dan ia akan segera mencari tahu sesampainya di rumah sang mekanik nanti.
Roy mengembuskan napas berat. “Papa percaya, cuman … masih gak setuju kamu sampai buang-buang uang buat hal gak menentu. Ke depannya lebih bijak lagi pakai keuangan kamu, ya?”
“Oke.”
“Dan Papah gak mau dengar kamu bergaul lebih jauh lagi sama si Ruslan itu,” ucap Roy lebih tajam dan menusuk.
Rendy mengatupkan bibirnya. Inilah alasannya kenapa ia tak bisa berterus terang tentang rencananya berkunjung ke rumah Ruslan. Ayahnya jelas takkan membiarkan dan mengizinkan dirinya pergi jika sampai tahu. Rendy harus membuat alasan yang tak akan membuat Roy curiga.
Sewaktu durasi bermain di wahana rumah balon untuk satu tiket telah habis, Anggi berjalan keluar, menghampiri mereka dengan wajah capek berkeringat dan mengeluh lapar. Maka Roy membawa anak-anaknya ke gerai makanan cepat saji terdekat. Begitulah ceritanya mereka sampai ada di sana, menyantap potongan pizza untuk makan siang.
Selagi makan, pembicaraan tak berhenti. Roy yang lebih sering memulai sebuah topik, salah satunya menanyakan bagaimana kabar kegiatan sekolah Anggi dan perkuliahan Rendy. Rendy bercerita alakadarnya, tentang bagaimana beratnya tugas yang diberikan, kelakuan para dosen serta teman-teman di kampus.
Selebihnya Anggi yang bercerita lebih banyak, mengeluh tentang berbagai ujian dadakan. Rendy membiarkan adiknya menguasai obrolan, sekali-kali memperhatikan sosok Torro yang terus melekat ke mana pun mereka pergi. Kakaknya tak banyak bicara, hanya tersenyum atau memberengut mendengar topik yang diobrolkan.
Lalu pembahasan sudah mulai mengarah ke ‘tempat mana yang akan mereka tuju selanjutnya’.
“Dufan!” Anggi bersikeras dengan nada tak mau ditawar-tawar. “Anggi mau ke Dunia Fantasi. Pleaseeee, Pah!”
“Oke, oke.” Roy terkekeh dan mengangkat tangan, mengalah dengan kemauan putri bungsunya. “Kita ke Dufan setelah ini.”
“Aysik!” Anggi menyantap irisan pizza-nya lebih cepat, kedua kakinya terayun-ayun di bawah meja.
“Rendy?” Roy memandangi putranya yang bisa ia lihat keberadaannya. “Kamu gak keberatan kita ke sana setelah ini?”
Tiba-tiba saja Rendy sulit mengabaikan tatapan yang dilayangkan Torro padanya. Sang hantu membisu, tapi matanya jelas sedang bertanya, ‘Kapan kita pergi ke rumah Ruslan?’. Bertepatan dengan itu, ponsel di dalam saku celana Rendy berbunyi. Ia mengeceknya, sebuah pesan masuk dari Ruslan berbunyi:
Ren lo jadi ke rumah gue kan? Kapan? Jam berapa?
Sudah tak ada gunanya mengulur waktu. Rendy sadari ia tak bisa ikut bersenang-senang ke Dufan, karena pasti akan menghabiskan waktu berjam-jam sampai sore di sana. Jika ia memang akan pergi, sudah saatnya melontarkan alasan untuk memisahkan diri sekarang juga.
“Eh, Pah,” Rendy menggunakan nada penuh sesal terbaiknya. “Sebenernya Rendy gak bisa ikut lebih lama dari ini. Rendy ada janji main ke rumah temen hari ini juga.”
Roy juga Anggi menatapnya.
“Loh kok mendadak banget?” tanya ayahnya. “Emang gak bisa janjian main ke sananya ditunda dulu?”
“Gak bisa,” Rendy berujar tak enak hati. “Ini soal … eh, tugas sama projek kuliah buat besok. Orangnya udah nungguin, dia baru aja SMS Rendy.”
“Temen kuliah?” selidik Roy sangsi. “Rajin amat ngerjain tugas kuliah di akhir pekan sampai janjian ketemuan segala. Bukan Ruslan, kan?”
Raut wajah penuh ketenangan Rendy nyaris runtuh seketika. Bagaimana bisa ayahnya menebak sebegitu tepatnya? Mungkin hanya berbekal firasat orang tua. Biar bagaimana pun, Rendy tetap bersikap tenang dan berujar, “Bukan, Pah. Astaga, Bang Ruslan bahkan bukan teman kuliah Rendy. Kalau gak percaya, nanti Rendy kenalin orangnya ke Papah. Namanya Effendi, dia sering ngasih Rendy tumpangan pulang dari kampus.”
“Oke, Papah percaya,” sahut Roy kemudian, gurat di wajahnya menunjukkan sepercik kesedihan. “Kamu mau Papah anterin ke sana?”
Tawaran yang menyenangkan. Rendy bisa saja memberi alamat tujuannya, toh ayahnya takkan tahu bahwa alamat rumah tersebut adalah kediaman Ruslan. Masalahnya akan sangat celaka jika ayahnya nanti benar-benar berminat menemui teman Rendy, dan menemukan sang pemilik rumah adalah Ruslan---bukan Effendi.
“Gak perlu, Pah,” jawab Rendy kalem. “Jaraknya jauh dari sini, beda arah ke Dufan. Papah sama Anggi langsung ke sana aja, Rendy bakal pesan ojek online.”
“Mas Rendy gak asik,” keluh Anggi menatapnya. “Kan ini hari minggu, kita udah janjian bakal jalan-jalan seharian.”
“Kamu masih bisa jalan-jalan kok, Dek.” Rendy tersenyum miring. “Kan masih sama Papah. Nanti malam kamu bisa ceritain serunya wahana air di Dufan sama Mas, oke?”
Anggi tak membantah. Gadis kecil itu cemberut, mulut tertutup dan mengertakkan gigi. Ia adalah anak yang pintar. Rendy tahu, Anggi bisa menebak bahwa ada yang ditutupi kakaknya. Terutama melihat fakta bahwa Torro tampak bersemangat. Tahu bahwa kedua kakanya akan pergi berbarengan ke suatu tempat rahasia.
Syukurlah, Anggi tetap tutup mulut, hanya terlihat … kesal.
“Ya udah,” ucap Roy akhirnya sambil berdiri, membersihkan remah-remah yang mengotori celananya. “Anggi, cepet kamu beresin barang-barang, kita pergi sekarang. Nak,” ia menggapai sebelah tangan Rendy dan meremasnya, “hati-hati di jalan, ya? Jangan pulang kemalaman.”
“Iya, Pah.” Hati Rendy menghangat mendengar kekhawatiran sang ayah.
Tak lama setelahnya, Rendy hanya terduduk sendirian di salah satu meja sebuah gerai makanan. Ayah dan adiknya telah pergi menghilang di balik keramaian, menuju tempat di mana semua kesenangan akan terjadi.
Torro menduduki kursi yang tadi ditempati ayah mereka. “Lo nyesel gak ikut mereka ke Dufan?” tanyanya.
“Enggak kok,” sergah Rendy, tapi ia sedang tak mau bertemu tatap dengan kakaknya. “Gue cuman … yah, jarang-jarang kan Papah bisa ngeluangin waktu seharian begini buat kita---anak-anaknya? Biasanya dia sibuk. Gue nyesel gak bisa luangin waktu lebih lama sama dia.”
Sesaat hening---atau setidaknya Torro terdiam, karena suara riuh keramaian masih terdengar di sekitar---lalu Torro berkata, “Lo boleh batalin rencana pergi ke rumah Ruslan kalau mau. Gue gak akan maksa lo, lagian kita bisa rencanain lain waktu. Belum terlambat buat nyusul Papah sana Anggi, gue yakin mereka masih di area parkir.”
Kini Rendy memandangnya, sang kakak yang baru saja melepas egonya. “Lo serius?”
Sang hantu mengedikkan bahu. “Gue tahu lo udah lama gak dapat waktu berkualitas sama Papah. Mumpung ada kesempatan, ya kan?”
Hanya sebentar saja keraguan menghinggapi benak Rendy. Meski masih berat memisahkan diri dari adik dan ayahnya, Rendy tetap bertekad untuk mendatangi Ruslan dan mencari tahu masalah apa yang terjadi. Ia masih tak lupa dengan keinginannya membantu menyelesaikan urusan sang kakak, sikap mengalah yang ditunjukkan Torro kini malah mengobarkan tekad Rendy kembali.
“Gue gak apa-apa,” Rendy menggeleng. “Masih ada lain waktu kok. Seenggaknya Anggi bisa dapat waktu berkualitasnya sama Papah. Kita pergi sekarang … ke rumah temen lo.”
Seringai lebar terbit di bibir Torro, dan ia bangkit berdiri. Kedua kakinya tetap tak menjejak tanah.
Rendy sendiri membereskan tas belanjaan dan barang-barangnya sendiri. Sebelum pergi meninggalkan area gerai makanan cepat saji, Rendy membuka ponselnya dan mengirimkan pesan balasan pada Ruslan, isinya:
Gue jadi ke rumah lo. Sekarang gue berangkat. Tunggu aja.
***