49. Menyingkap Sisi Gelap Dunia

2322 Words
Bukan tanpa sebab Rendy memulai obrolan menyeramkan dengan adik perempuannya. Seperti yang dikatakan Torro, nanti pada saatnya tiba untuk menceritakan kondisi spesial Anggi pada ayah dan ibunya, dirinya harus bersiap sedia mendampingi adiknya dan mendukung apa pun yang akan menjadi pilihannya. Namun, sebelum saat itu tiba, Rendy ingin memahami Anggi lebih dalam terlebih dulu. Dari sisi kemampuannya melihat mahluk halus, apakah kemampuan tersebut berguna untuk dipertahankan atau lebih baik ditekan dalam-dalam supaya menghilang. Ia tahu bahwa dengan suatu cara bakat lebih tersebut bisa dihilangkan. Dengan menemui orang-orang yang tepat, Anggi bisa menjadi anak normal. Bertumbuh dewasa dan menikmati masa pra-remaja seperti banyak anak perempuan pada umumnya. Sekali lagi, itu pun jika hanya Anggi yang menginginkannya. Rendy menghela napas dan berjalan memutari kasur Anggi, lalu duduk di kursi plastik di belakang meja belajar. Meja belajar punya Anggi jelas berbeda dengan milik Rendy di kamarnya: lebih banyak pernak pernik, dihiasi stiker tempel aneka tokoh kartun, boneka serta barang-barang yang jelas pada umumnya takkan dimiliki seorang mahasiswa. Tangan Rendy meraih sebuah boneka kuda poni bertanduk seukuran telapak tangannya, mengamatinya seakan benda itu bisa saja sewaktu-waktu hidup. “Mas penasaran soal hantu-hantu di rumah ini, apa mereka seperti Mas Torro? Arwah baru meninggal yang bergentayangan? Kalau iya, kenapa mereka bisa begitu lama bergentayangan di dunia ini? Mas Torro sendiri percaya kalau dia punya batas waktu buat berkeliaran di sini …,” Rendy melirik Anggi, “selama empat puluh hari.” Pertanyaan itu agaknya sulit dicerna anak SD, tapi Anggi mengangguk paham. “Kata Kak Devan,” Anggi berkata, “orang yang baru meninggal, jiwanya bakal berada di dunia di sekitar keluarganya selama empat puluh hari. Begitulah biasanya. Anggi dulu pernah lihat roh nenek berkeliaran di sini, gak lama---mungkin emang empat puluh harian---kemudian gak kelihatan lagi.” Jari Rendy mencubit-cubit moncong hidung sang boneka unicorn. “Terus soal hantu-hantu di sini yang kamu ceritakan tadi, gimana?” “Mereka bukan roh manusia yang pernah hidup,” sahut Anggi, bola matanya terpicing pada apa yang dilakukan tangan Rendy. “Kak Devan percaya, kalau mereka hanya jin yang menyerupai sosok orang yang udah meninggal sejak lama. Sementara roh manusia yang asli udah tenang di alam berbeda.” “Jadi mereka berbeda?” Dengan lagak santai Rendy mengembalikan boneka ke meja. Anggi belum berkata apa-apa, tapi Rendy yakin adiknya akan marah jika ia tak sengaja merusak salah satu kolekasi bonekanya. “Setahu Mas, Mas Torro sendiri gak bisa nyiptain suara langkah kaki---kakinya melayang gak napak tanah, tapi sosok kakek-kakek yang kamu bilang sering mondar-mandir di luar kamar sering munculin pertanda keberadaannya dengan suara langkah kaki.” “Mereka … emang berbeda,” Anggi menyahut ragu-ragu. “Kak Devan pernah bilang, mahluk-mahluk yang sering meneror dan menghantui manusia … semua itu cuman jin. Bukan roh manusia meninggal asli.” Telapak kaki Rendy mengetuk-ngetuk lantai marmer. Entah kenapa pembicaraan ini membuat tubuhnya tak bisa diam. “Kak Devan … Donovan kan maksudnya? Kamu kayaknya percaya banget sama semua omongan dia.” “Emang,” Anggi mendadak bersikap defensif, seolah tak menyukai nada meragukan yang digunakan Rendy saat mengatakan temannya sesama indigo. “Kak Devan udah lama bantu Anggi supaya gak merasa takut lagi. Dulu waktu Mas Rendy masih gak mau percaya … cuman Kak Devan yang mau dengerin omongan Anggi dengan serius.” Praktis Rendy merasa bersalah dibuatnya. Sosok Donovan bagi adiknya ini ternyata memang sepenting itu. Jika dipikir-pikir, wajar saja mengingat keduanya memiliki keterkaitan nasib yang sama. “Maaf atas sikap Mas yang dulu, Dek,” kata Rendy mengalah. “Tapi Mas sekarang ada di sini, percaya seratus persen. Bilang sama Mas, apa kamu nyaman sama kondisi sekarang? Berniat buat hilangin bakat spesial itu? Nanti bakal Mas bantu jelasin sama Papah dan Mamah kalau kamu mau.” Bola mata Anggi melirik ke kiri dan kanan, bagai sedang mencari-cari sebuah benda hilang. “Kata Kak Devan kemampuan ini gak bisa dihilangkan sepenuhnya, dan … Anggi gak berminat menghilangkannya.” Seharusnya jawaban tersebut tak mengejutkan, tapi Rendy tetap kaget. “Kamu nyaman sama keadaan itu?” Anggi mengangguk antusias. Kepala Rendy meneleng ke satu sisi. “Kenapa? Ngelihat mahluk-mahluk menyeramkan, kan gak enak?” “Iya … Anggi juga takut pada awalnya. Dulu sering banget Anggi ketakutan sampai nangis dan gak bisa bilang jujur apa penyebabnya sama Papah dan Mamah. Tapi sekarang ada Kak Devan yang bantu Anggi buat berani. Anggi malah senang, karena punya bakat ini Anggi jadi gak pernah kehabisan teman buat ngobrol. Dan,” bibirnya mengulas senyum penuh arti, “berkat kemampuan Anggi ini juga keberadaan arwah Mas Torro bisa diketahui.” Argumen yang bagus, pikir Rendy. Anggia telah berpikir matang di atas rata-rata. Dalam hati Rendy juga mencamkan diri agar jangan pernah lagi mengejek atau meragukan sosok Donovan. Anak SMA itu mungkin saja ceking dan berpenampilan kurang meyakinkan, tapi Anggi sungguh mengidolakan sosok tersebut lebih dari siapa pun. “Mas Torro beneran gak akan selamanya ada, kan?” kata Rendy sendu. “Suatu hari nanti dia bakal menghilang permanen, dan kita gak akan pernah bisa menjumpainya lagi?” Kelopak mata Anggi pun mendadak basah. “Iya,” ia berkata tercekat. “Sama kayak almarhum nenek dulu.” Tubuh Rendy menghampiri untuk mengelus-ngelus puncak kepala Anggi---berusaha menenangkan. Tanpa ragu Anggi pun memeluknya, meletakan lengan ke sekeliling pinggang. “Mas Torro gak akan menghilang permanen,” ralat Rendy lembut. “Mas Torro bakal tetap ada di ingatan kita selamanya.” Ia merasakan kepala Anggi mengangguk. Momen emosional tersebut berlangsung singkat. Hati keduanya sudah terkuras dan kini membutuhkan berjam-jam waktu beristirahat. Setelah pelukan terlepas, Rendy mengakhiri obrolan dan menyuruh Anggi kembali berbaring, mengingatkan anak gadis itu tentang rencana jalan-jalan besok bersama ayah mereka. Ketika Rendy berada di ambang pintu, Anggi mendadak berkata, “Mas?” Rendy menoleh. Mata Anggi masih sembap. “Makasih udah percaya sama Anggi sekarang.” Dirinya lantas mengeluarkan senyum terbaiknya. “Udah seharusnya. Tidur yang nyenyak, Dek.” Lantas Rendy berlalu pergi. Tak lama berselang Rendy juga nyaman berbaring di kamarnya sendiri. Menatap langit-langit, merasakan kantuk perlahan menyeretnya ke alam mimpi. Hanya sepersekian detik, telinganya mendengar kembali, samar-samar, suara langkah kaki mondar-mandir di luar kamar. Selintas terbetik apa artinya itu di benakanya, tapi Rendy sudah terlalu mengantuk untuk sekedar peduli. Paginya Rendy terbangun oleh suara alarm yang sudah ia setel, pukul setengah tujuh pagi. Ia buru-buru bersiap mandi. Hantu Torro belum menampakkan batang hidungnya dimana pun, tapi Rendy tahu kakaknya bisa datang kapan saja. Ketika dirinya sudah siap turun ke lantai bawah, barulah Torro datang. Penampilannya sama sekali tak berubah---itu sudah jelas, masih mengenakan setelan pakaian yang dipakainya sewaktu mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Raut wajah Torro datar tanpa emosi. Melihat pakaian Torro, pikiran Rendy jadi sedikit melantur: ketika sedang dibuat, tahukah penjahitnya bahwa baju itu akan menjadi benda terakhir yang seseorang pakai? Barang yang mengantarkan pemiliknya ke kematian? Sekaligus juga benda yang dipakai pemilik sebagai hantu gentayangan? Yah, Rendy kira pikiran sang pembuat tak sampai sejauh itu. “Siap buat jalan-jalan, Ren?” kata Torro selepas menembus pintu kamarnya. Sudut bibir Rendy terangkat, ia sedang memainkan ponselnya di tepi ranjang. “Lagi berusaha buat siap,” ujarnya. Ia tatap sosok sang kakak. “Dari mana aja lo semalaman tadi?” “Banyak tempat.” Torro hanya berdiri mematung. Barangkali karena sudah tak memiliki tubuh yang bisa pegal dan capek, dirinya kini bisa tetap diam dalam posisi tertentu dengan waktu lama. “Gue main ke tempat temen-temen gue dulu, ke jalanan tempat gue kecelakaan juga. Gue malah makin sedih, tahu, kan? Perasaan kayak terisolasi karena udah beda alam sama mereka. Kenyataannya temen-temen gue udah bisa ngelanjutin hidup setelah gue mati.” Pikir Rendy, Torro terlalu melebih-lebihkan. Andai saja cowok itu tahu betapa ramainya proses pemakaman jasadnya. Banyak orang berkumpul, keluarga yang berduka, kerabat yang berkabung serta teman yang turut mengucapkan berbela sungkawa. Pada hari itu, Torro seakan menjadi fokus utama dunia. Kenangannya dibicarakan terus tanpa henti. Para teman Torro selalu mengenang bahwa mendiang adalah sosok pemberani, bernyali besar, tak kenal takut serta setia kawan. Tak ada kesepakatan yang dibuat, tapi semua orang pada waktu itu kompak memuji almarhum, dan tidak mengenang Torro sebagai sosok anak bandel, pembangkang, jarang pulang ke rumah, apalagi kebiasaan buruknya menikmati dunia liar ibu kota. Pada akhinya semua orang harus melangkah maju. Iya, kan? Sudah seharusnya begitu. Duka yang muncul mendadak perlahan mengering, orang-orang melanjutkan hidup. Kematian Torro memang sebuah tragedi, tapi akibat waktu kenyataan itu sudah bisa diterima. Layaknya melempar batu ke sebuah sungai, riaknya akan muncul sesaat, tapi batu itu akan tenggelam ke dasar dan aliran air sungai akan terus bergerak maju. “Apa lo main ke rumah Ruslan juga?” tanya Rendy kemudian, berharap bisa mengalihkan pikiran saudaranya dari kesedihan. Torro mengangguk. “Gue langsung ke rumahnya, jauh banget dari sini. Tapi sepadan, gue kangen berat nongkrong ke sana.” “Apa aja yang lo lihat?” “Gak banyak, si Ruslan udah tidur pas gue nyampe. Gue berlama-lama diam di bengkelnya aja.” Rendy mengerutkan dahi lalu berkata, “Bengkel? Lo ke bengkelnya juga? Buat apa, kan lagi gak ada siapa-siapa di sana?” “Bukan bengkel kerjanya,” ralat Torro mulai bergerak mendekat. “Tapi bengkel di rumah dia. Ada satu ruangan kosong yang si Ruslan ubah jadi bengkel pribadi. Kita dulu selalu modif motor di sana.” Bibir Rendy mengerucut. “Dia udah punya bengkel sungguhan, kenapa harus bikin lagi di rumah?” Torro tertawa geli. “Lo gak akan paham alasannya walau gue kasih tahu, Ren. Ini berhubungan sama hobi otomotif dia. Tunggu aja, hari ini lo bakal ke sana, kan? Lo bakal lihat sendiri bengkelnya, akan ada kejutan juga.” Mendadak Rendy merasa was-was. Dirinya tak menyukai konsep kejutan, perasaan ketika dirinya tahu ada sesuatu yang bakal terjadi tapi tak tahu pastinya apa. “Kejutan apa?” “Nanti lo bakal tau sendiri,” Torro bersikeras tak memberi tahu, alhasil membuat Rendy gusar. Ketika Rendy sudah selesai mempersiapkan diri, ia pergi ke lantai bawah di mana Anggi dan ibunya sudah duduk tenang di meja makan. Torro mengekor di belakang. “Kata Anggi ayah kalian yang bakal jemput ke sini, ya?” Ibunya bertanya setelah Rendy bergabung menduduki salah satu kursi. “Iya,” jawab Rendy. “Katanya Papah bakal sewa mobil khusus buat hari ini.” “Oh.” Puspa mengerjapkan mata. “Dia udah jalan ke sini?” “Katanya lagi siap-siap, tadi Papah udah ngirim pesan, nyuruh kita nunggu aja.” Anggi bertepuk tangan, bersemangat sekali dengan apa yang bakal berlangsung. Suasana hati gadis cilik tersebut begitu bagus pagi ini. Gabungan antara karena ini hari minggu---sekolah libur---dan rencana jalan-jalan bersama ayah yang sudah berhari-hari tak ditemuinya. “Anggi udah gak sabar!” serunya antusias. Puspa menatap putrinya dengan harapan yang terpancar di matanya. Tak ada hal yang bisa lebih menyenangkan hati seorang ibu ketimbang melihat anaknya bahagia. Rendy bisa merasa bahwa ibunya tengah menahan-nahan sesuatu, mungkin ucapan yang masih dipertimbangkannya ragu-ragu. “Mamah bisa berubah pikiran sekarang kalau mau ikut,” ujar Rendy memancing, tapi ibunya hanya menghela napas, tersenyum disertai gelengan kepala. Pada jam sembilan lebih beberapa menit, ayahnya datang. Suara deruman mobil yang mulus terdengar menepi di depan rumah. Puspa tak tampak hendak beranjak ketika akhirnya bell rumah berbunyi, jadi Rendy yang berinisiatif bangkit dan membuka pintu depan. Roy sudah berdiri di sana, menggunakan pakaian santai. Celana bahan sepanjang mata kaki, kaus dan jaket. Rambutnya yang memutih disisir rapi. “Pah,” sapa Rendy mengembangkan senyum. Ayahnya tersenyum membalas. “Kalian udah siap pergi?” Sebelum sempat menjawab, terdengar suara langkah kaki mendekat dari belakang Rendy dan sosok Anggia bergabung di ambang pintu. “Papaaah!” serunya senang. “Anggi kangen!” “Iya, Papah juga kangen sama kamu, Nak!” Mereka berpelukan sesaat. Setelah pelukan terlepas, Roy bertanya, “Udah siap jalan-jalan, Nak?” Mata Anggi berbinar-binar. “Udah siap banget. Kita mau jalan-jalan ke mana?” Sang kepala keluarga sedikit membungkukkan punggungnya. “Terserah ke mana aja yang Anggi mau. Kolam renang? Kebun binatang? Dufan? Taman safari atau mal? Semuanya bakal kita datangi kalau kamu mau.” “Asyik!” Anggi berjingkrak-jingkrak kesenangan saking girangnya, alhasil semangatnya ikut menulari Rendy. Dirinya tertawa. Namun, Rendy mengingatkan diri bahwa hari ini khusus untuk Anggi. Rendy sendiri memiliki rencana sendiri. Ia bakal ikut bersenang-senang sebentar sebelum pamit pergi memisahkan diri ke tempat Ruslan. Kira-kira begitulah rencananya. Situasi berubah agak canggung kala ibu mereka menghampiri. “Roy,” sapa Puspa kaku. Ayahnya menundukkan pandangan, menolak saling bertatap. “Puspa.” Ia berdeham. “Aku bawa anak-anak buat sehari.” “Jangan pulang kemalaman,” kata ibu mereka sambil menyedekapkan tangannya. “Dan hati-hati, jangan beri Anggi terlalu banyak jajan es krim, dia bisa batuk-batuk, dan jan---” “Aku mengerti,” Roy memotong dengan nada sekeras patung batu. “Aku bisa mengurusi anak-anakku sendiri.” “Kita bisa pergi sekarang juga?” Rendy menyela, sebelum mereka bisa beradu mulut lebih jauh lagi. Ia ngeri melihat betapa makin buruknya hubungan komunikasi mereka. Lagian ada Anggi, kedua orang tuanya benar-benar tak berusaha menutupi ketidak akuran mereka barang sekejap saja. Anggi saja jadi tak begitu bersemangat lagi. “Oke.” Roy menghela napas panjang. “Ayo, anak-anak. Kita pergi. Bawa barang-barang kalian.” Tak banyak barang yang dibawa Rendy mau pun Anggi, jadi proses berkemas berlangsung singkat. Keduanya berpamitan pada ibunya, lantas memasuki mobil. Roy menduduki kursi pengemudi, di kursi sampingnya adalah Anggi. Rendy sendiri menduduki kursi belakang---bersama Torro. Tak lama kemudian, ayahnya malajukan mobil jauh meninggalkan rumah. Rendy amati sikap Torro menjadi begitu pendiam sejak kedatangan ayahnya. Tatapan yang tertuju pada Roy juga Rendy perhatikan agak … benci? Tak suka? Kecewa? Ia tak tahu pasti, yang pasti keadaan itu tak membuat suasana lebih baik untuk dijalani. Jalan-jalan akhir pekan yang diawali dengan drama keluarga? Rendy tak begitu bersemangat menjalaninya. Bahkan di kursi depan, wajah Anggi kelihatan masih murung. Melihat kedua orang tuanya berdebat singkat pasti membuat anak itu teringat tentang proses percerian. Cara jitu dalam menghancurkan antusiasmenya yang terbendung sejak berhari-hari lalu. “Anggi, kamu gak apa-apa kan, Nak?” Roy bertanya, tampak sadar apa yang terjadi. Satu tangan berada di kursi, tangan lainnya mengusap puncak kepala putrinya. Anggi menoleh dengan senyum terpaksa. “Enggak apa-apa kok, Pah.” Roy melirik ke kursi belakang saat mobil terhenti sebentar akibat macet. “Oke, jadi kita mau ke mana dulu?” “Mal,” jawab Rendy, bersamaan dengan Anggi yang berseru, “Dufan!” Sang ayah melirik keduanya bergantian lalu tersenyum. Jenis senyuman yang penuh akan nostalgia, seakan hal ini mengingatkannya pada peristiwa di masa lalu, ketika keadaan terasa jauh lebih baik. “Kita ke mall dulu,” ucap Roy memutuskan, lalu melanjutkan laju mobil karena kemacetan di depan mulai terurai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD