42. Kerinduan Yang Terpendam

1903 Words
Tak pernah sedetik pun Torro dalam hidup maupun matinya meragukan kesetia kawanan Ruslan. Di antara semua kenalan yang Torro miliki, Ruslan-lah sosok yang paling dekat dan memahami kepribadiannya. Dan hari ini selagi Ruslan datang berkunjung, cowok itu sekali lagi membuktikan diri bahwa ia teman yang dapat dipercaya dan diandalkan, seorang sahabat karib yang tulus ikut berduka atas kematian Torro, bahkan menyalahkan diri sendiri atas tragedi itu meski pun sama sekali bukan salahnya kecelakaan lalu lintas itu terjadi. Memang, ada saat-saat Torro merasa jengkel, karena Ruslan tal dapat menyadari kehadirannya atau mendengar suaranya. Torro berharap sekali bisa mengobrol banyak dengan Ruslan. Torro bahkan sudah mempertimbangkan untuk meminta bantuan lagi pada Donovan untuk membuka mata batin sang teman. Tapi sudah cukup, hati kecil Torro seolah menegur keinginan tersebut. Masalah yang dimilikinya tak ada sangkut pautnya dengan sang mekanik itu, Torro harus bersikap lebih dewasa, tak ada bagusnya menyeret orang lain lagi. Sudah cukuplah ia menyeret Rendy, yang bahkan sampai kini adiknya masih selalu terkaget-kaget tiap kali Torro menampakkan diri. Setidaknya Torro telah mendapat kesempatan untuk melihat motor kesayangannya diperbaiki. Keinginan kecilnya sesaat lagi terkabul. Jika motornya sudah kembali berfungsi---Torro rela---Rendy bisa memilikinya. Satu hal yang Torro sukai dari apa yang terjadi hari ini, adalah menyaksikan interaksi antara Ruslan dan Rendy. Sikap Rendy yang kaku dan lurus ternyata bisa juga bergaul dengan Ruslan yang luwes dan terbuka. Sebab, sejak dulu Torro selalu menganggap keduanya sangat berlainan, bertolak belakang, bagai berasal dari alam yang berbeda. Ruslan adalah bagian dari hidup Torro yang liar dan bebas, sang teman yang tak pernah ragu untuk diajak minum-minum sampai teler, balapan liar, dan sederet aktivitas yang pasti akan ditentang keluarganya habis-habisan. Sementara Rendy, adalah bagian dari sisi hidup Torro yang berlainan. Sebuah keluarga. Bagian hidup itu begitu penuh aturan dan kekangan, sejak hidup dulu Torro berusaha mati-matian menghindari sisi hidup yang ini. Kini setelah dirinya mati, kedua sisi hidupnya tampak berbenturan. Kacau, tapi di sisi lain menarik untuk dilihat. Salah satunya, melihat bagaimana Rendy dan Ruslan menyikapi keberadaan satu sama lain. Berjam-jam lamanya sang teman dan sang adik nongkrong di garasi, Torro mengamatinya sampai pada detail terkecil. Sesekali Torro berucap sesuatu, yang kadang-kadang saja bersedia Rendy ucapkan kembali pada Ruslan. Kebanyakan waktu Torro hanya terdiam, membiarkan sebuah jalinan pertemanan baru timbul di antara keduanya. Saat urusan Ruslan telah selesai, matahari telah bersinar terik di langit di luar sana. Rendy membantunya membereskan berbagai macam spare part yang tergeletak di lantai. Torro merasakan keengganan untuk membiarkan temannya pergi, tapi dirinya tahu bahwa pria itu punya banyak hal yang perlu dikerjakan. “Gue seneng bisa lihat lo lagi, Bro,” ucap Torro meski tahu Ruslan tak dapat mendengarnya. “Tolong jangan salahin diri lo lagi atas apa yang terjadi sama gue.” Rendy yang dapat mendengarnya hanya tersenyum penuh arti. Ruslan pergi meninggalkan rumah pada pukul satu siang---setelah memberesi urusan perbaiki motor kecil-kecilan, mendata komponen rusak yang perlu diganti serta menjanjikan pada adiknya bahwa ia akan segera kembali setelah semua komponen didapat agar bisa menyelesaikan perbaikan secara menyeluruh. Rendy dan Torro mengantarnya sampai di teras depan. Ketika motor yang dikendarai Ruslan telah menghilang di belokan jalan, Torro melirik pada adiknya. “Gimana menurut lo?” Rendy balik menatapnya. “Gimana apanya?” “Ruslan. Apa pendapat lo tentang dia?” “Dia baik.” Rendy berbalik dan berjalan memasuki rumah serta menutup pintu. “Bang Ruslan jelas gak kayak temen lo yang lain yang dulu pernah gue temuin.” Torro nyengir dibuatnya. Kalau Rendy bisa berpikir seperti itu, artinya Torro telah memilih orang yang tepat untuk dijadikan sahabat. “Jadi, lo juga ikut berpikir apa yang bokap kita ucapin itu salah, kan? Ruslan, dia gak seburuk itu.” Adiknya berjalan ke arah tangga, jadi Torro terpaksa mengekor di belakang. Rendy baru behenti dan berbalik ketika satu kakinya telah menapaiki anak tangga terbawah. “Dia emang gak buruk,” katanya kalem. “Tapi Papah ada benarnya, kan? Dia bawa pengaruh buruk, ngajarin lo dunia balap liar. Ruslan sendiri ngakuin itu.” Kening Torro mengerut. “Yah, emang. Tapi ucapan lo tadi juga gak salah, Ren. Gak pernah sekali pun gue menyesali gabung ke dunia balap ilegal, gue enjoy dan menikmati. Seperti lo bilang tadi, gue bener-bener mahir.” Ujung bibir Rendy berkedut, nyaris tersenyum. “Gue tadi bilang gitu sengaja biar Bang Ruslan gak menyalahkan dirinya sendiri lagi. Bukan berniat buat muji lo.” Ia menghela napas keras. “Udah ah, gue mau ke kamar dulu, ngerjain tugas-tugas kuliah. Buat sementara jangan ganggu gue, please?” Tanpa menunggu respon, Rendy segera berbalik dan berderap menaiki tangga. Alhasil Torro sendirian lagi. Kali ini ia tak masalah dengan kondisinya, ada banyak hal yang ingin Torro renungkan dalam-dalam di tengah ketenangan. Salah satunya masalah tentang kedatangan ayahnya tadi. Oke, ralat. Kedatangan pria tua itu mungkin bukan masalah. Namun, Torro temui ia kesulitan menatap sang ayah lama-lama. Berbagai perspektif buruk yang akhir-akhir ini Torro dapat membuat ia agak muak dan sebal. Torro sengaja tak bicara banyak saat ayahnya ada di sini, bahkan tak berminat menguping pembicaraannya dengan Rendy tadi. Meski sesudahnya ia agak penasaran dan ingin tahu. Pria tua itu mungkin telah mengambil langkah yang tepat. Seperti menyerahkan mobil agar bisa Puspa dan anak-anaknya gunakan, bersikap mengalah, bahkan menyempatkan diri di tengah kesibukan bertandang kemari guna mengecek keadaan Rendy yang dikabarkan sakit. Termasuk ajakan agar anak-anaknya bermain dan menghabiskan waktu dengannya di akhir pekan ke penginapan. Namun, Torro berpendapat bahwa semua usaha itu tak cukup. Tadi malam Torro telah menyaksikan sisi rapuh ibu tirinya, yang begitu berhasrat membahagiakan anak-anaknya dengan rencana memohon-mohon untuk membatalkan proses perceraian. Dirinya berpikir, Puspa telah memiliki niat berkorban sebesar itu demi sesuatu yang lebih penting, mengapa ayahnya tak bisa melakukan hal yang sama? Mengapa bercerai di tengah kondisi yang tak menentu seperti ini begitu ayahnya pertahankan? Apa yang lebih penting baginya ketimbang melihat anak-anaknya bahagia? Sungguh, bahkan setelah mati pun Torro mengalami kesulitan dalam memahami sikap ayahnya. Apa ego pria itu memang terlampau tinggi untuk bersedia mengalah? Kemudian Torro berpikir, jika dirinya mencoba menguntit sang ayah, mengamati sikap, suasana hati dan kegiatannya sepanjang hari dalam ketidak kasat mataannya, mungkin Torro akhirnya bisa memahami sosok kepala keluarga itu. Seperti sekarang ia bisa memahami Rendy, Anggi dan Puspa jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebelum rencana dan gagasan itu dipikirkan matang-matang, pemikiran Torro terbuyarkan oleh seseorang yang memencet bel rumah. Segera saja ia lihat Rendy turun lagi keluar dari kamarnya---arwah Torro mengekor seperti biasa, menghampiri pintu lalu membukanya, dan menemukan Puspa telah pulang. “Mah,” sapa Rendy tersenyum miring. “Bagaimana keadaan kamu?” Puspa bertanya seraya berjalan masuk. “Masih ngerjain tugas kuliah?” “Iya, tinggal sedikit lagi.” Rendy mengikuti ibunya ke ruang tamu setelah mengunci pintu kembali. “Oh iya, tadi Papah mampir ke sini sebentar, Mamah tahu itu?” Puspa tak tampak terkejut. Wanita itu bersantai di salah satu sofa dan memijiti keningnya pelan-pelan. “Iya, kan Mamah yang ngasih tahu dia kalau kamu sempat sakit. Dia inisiatif datang ke sini buat jenguk kamu.” Tatapan mata Rendy menyipit. “Jadi itu alasan sebenarnya Mamah pergi, kan? Ngaku ada urusan sebentar, padahal sengaja gak ada di sini pas Papah pulang.” Ibunya tak menjawab atau membantah tudingan itu. Torro kembali berpikir tentang apa yang telah disaksikannya di kamar ibu tirinya semalam. Bagaimana Puspa telah mengeluh, mengomel juga mencurahkan isi hatinya pada seorang teman. Adik lelakinya tak tahu apa-apa mengenai itu, juga Torro tak ingin memberitahunya karena kejadian itu terlampau personal untuk dibahas. “Coba lo tanyain Mamah ke mana aja dia tadi,” saran Torro pada Rendy. “Gue berani bertaruh Mamah baru aja pulang dari rumah temennya yang namanya Renata itu.” Selama sedetik Rendy meliriknya, kemudian melirik ibunya. “Mamah habis dari mana?” Tangan Puspa memperbaiki lipatan kain hijab di sekitar keningnya dan menjawab, “Mamah habis mampir ke rumah temen Mamah.” “Tante Renata?” sebut Rendy. “He’em.” Mulut Rendy memberengut pada Torro seakan ingin bertanya ‘Dari mana lo bisa tahu?’. Akhirnya ia hanya berkata, “Mamah gak habis marahin beliau karena udah cerita ke Rendy soal masalah itu, kan? Tante Renata gak salah apa-apa.” Puspa terkekeh, rupanya menganggap sikap curiga Rendy agak menghibur. “Kamu jangan terlalu pikirin itu, Nak. Mamah sama Renata cuman bicara empat mata bahas sesuatu.” Bahas sesuatu? Torro mau tak mau bertanya-tanya apa ibunya sempat menangis lagi karena terus melanjutkan pembahasan semalam yang terputus, tapi itu bukan pertanyaan yang pantas diajukan saat ini. Selama sesaat mereka terdiam. Torro memperhatikan bahwa sikap Rendy agak gugup, kedua lengannya tak bisa berhenti bergerak, terus-terusan mengubah posisi duduknya. Adiknya itu kelihatan butuh sedikit bantuan. “Langsung aja lo bilang, Ren,” kata Torro lembut. Berusaha tak menggunakan nada memaksa seolah-olah itu adalah perintah. Rendy menatapnya. Bola mata Torro berputar. “Lo mau cerita soal ajakan Papah tadi, kan? Sekalian sama kedatangan Ruslan. Langsung cerita aja semuanya, jangan ragu-ragu.” Tubuh Rendhy kontan merileks. Dorongan keberanian dari Torro tampaknya membuahkan hasil. “Mah,” katanya perlahan. “Rendy mau ngasih tahu sesuatu.” Puspa memandang ingin tahu, dan Rendy mulai bercerita tentang segala hal yang diobrolkan dengan sang ayah tadi siang. Sesudah bercerita, Rendy bertanya, “Mamah gak keberatan kalau Rendy ngajak Anggi berkunjung ke tempat penginapan Papah hari minggu nanti?” Wanita itu melipat bibir sesaat, tampak berusaha kuat untuk tak menunjukkan tanda-tanda ketidak setujuan. “Itu hak kalian,” katanya. “Mamah gak akan menghalangi, kamu bisa ajak Anggi kalau dia juga mau.” Jawaban itu menurut Torro sangat tidak egois, membuktikan bahwa ibu tirinya jauh lebih bijak dalam memandang persoalan. Tapi entah kenapa Rendy terkesan tak lega dengan jawaban tersebut, seolah jawaban Puspa membebani hatinya. “Ada satu lagi,” ucap Rendy kemudian. “Ini soal motor Mas Torro yang rusak di garasi, Rendy berpikir mungkin sudah waktunya motor itu diperbaiki. Jadi, Rendy hubungin Bang Ruslan buat minta pertolongan. Dia udah datang ke sini tadi, baru aja pulang.” Kabar satu ini mengejutkan ibunya lebih dari kabar sebelumnya. “Ruslan?” tanya Puspa. “Ruslan teman kakak kamu yang sempat bantu proses pemakaman itu?” “Hmm, ya.” “Kenapa kamu minta tolong sama dia?” Spontan Torro berjengit, dari nada suaranya, ibu tirinya tampak tak begitu suka dengan sosok Ruslan. Rendy tetap mampu bersikap diplomatis. “Dia seorang montir, Mah. Dia jago perbaiki motor beginian, dan Mamah gak perlu khawatir dengan biaya perbaikannya. Semuanya bakal lancar.” “Tapi … apa ini gak terlalu kecepetan, Nak?” Puspa bergerak gelisah. “Lagian buat apa diperbaiki? Kamu kan gak bisa pakai nantinya.” Ia terdiam sesaat. “Tunggu---tadi dia datang ke sini? Pas Papah-mu lagi ada di sini juga?” Dari cara bicaranya pun, ibu tirinya tahu bahwa kondisi semacam itu bisa menimbulkan percikan masalah. Rendy menceritakan lebih detail lagi tentang suasana tegang yang sempat tercipta, termasuk rasa tidak suka ayahnya saat melihat Ruslan, dan anjuran pada Rendy agar jauh-jauh dari pria itu. Tak disangka, kini Puspa mengangguk penuh apresiasi. “Mamah setuju sama ayahmu, Ren,” kata Puspa lemah. “Ruslan … dia kayaknya anak yang pergaulannya liar. Mamah dengar dia juga anak geng motor, kan?” “Bukan!” Torro spontan membantah, ternyata ada juga sikap dari ibu tirinya yang ia tak sukai. Adik lelakinya mampu bersikap lebih tenang, Rendy terkekeh singkat. “Bukan, Mah. Bukan geng motor, tapi komunitas pecinta motor gede. Keduanya beda. Mamah harusnya ada di sini pas Bang Ruslan datang, sikap dia cukup sopan.” Puspa mendesah berat, tak sukses ditenangkan. Torro merasa sedikit kecewa akan betapa kolotnya pemikiran ibu tirinya. Hanya karena seseorang menggandrungi otomotif dan motor besar, tak lantas membuat orang tersebut tergabung ke dalam sebuah geng motor yang berkonotasi negatif. “Yang penting kamu hati-hati aja, Ren,” Puspa akhirnya berujar. “Jangan sampai ikut kebawa-bawa yang gak bener … seperti mendiang kakak kamu dulu.” Sekali lagi selimut duka dan kesenduan membayangi wajah perempuan tua tersebut. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD