Rendy sejak awal selalu tahu bahwa peristiwa kecelakaan yang menewaskan kakaknya adalah akibat dari ulah Torro sendiri. Salah cowok itu karena berani-beraninya berkendara di bawah pengaruh alkohol, dan mengapa juga saudara lelakinya bisa menyukai menenggak minum-minuman keras tersebut? Padahal kebiasaan buruknya selalu ditentang habis-habisan oleh ayah mereka. Dan Torro terlalu keras kepala untuk menurut.
Namun ternyata, cerita yang dipaparkan Ruslan memberi Rendy sebuah sudut pandang baru.
Kurang lebih, Ruslan bercerita tentang apa yang terjadi pada malam itu. Semua dimulai pada penghujung hari, setelah cukup lama Torro bermain dan nongkrong di bengkel milik Ruslan, pria itu mengaku ingin menghabiskan jam-jam malamnya di sebuah diskotik yang sudah biasa disambangi.
Keduanya berpisah saat itu. Ruslan masih harus berada di bengkel karena harus menyelesaikan perbaikan motor milik salah satu pelanggannya. Tak ada rencana khusus yang mereka buat. Kata Ruslan, Torro memang selalu begitu, sikap dan kelakuanya tak bisa ditebak atau diprediksi. Torro bisa berada di sebuah tempat dalam waktu singkat jika bosan, atau dalam waktu teramat lama jika Torro menikmati suasananya, dan beberapa setelahnya bisa saja berada di sebuah tempat yang sangat berlainan dalam keadaan yang tak disangka-sangka.
“Sikap almarhum sejak dulu persis kayak kucing liar,” ujar Ruslan dengan tatapan mata mengenang.
Arwah Torro di sebelahnya menyeringai.
Rendy mengangguk menyepakati. Kucing liar yang sangat bandel dan sulit ditangkap.
Ruslan lanjut bercerita. Pada malam itu, beberapa jam setelah ia dan Torro berpisah, Ruslan mendapat sebuah telepon dari seseorang, anggota sebuah kelompok tongkrongan, yang memberitahukan bahwa pria bernama Fadlan menantang Torro untuk ngebal, menawarkan balapan yang rencananya akan diadakan di sebuah lokasi, dengan nilai taruhan yang sangat tinggi.
Sampai di sini, Rendy harus bertanya banyak apa maksudnya karena ia tak paham apa-apa tentang dunia balap ilegal yang gemar dilakoni kakaknya. Untunglah, Ruslan tak berkeberatan menjelaskan.
“Jadi,” Ruslan berkata sabar, “bisa dibilang gue ini partner kakak lo di dunia balap liar---asisten sekaligus pengarah. Semacam sponsor, lo bisa sebut begitu. Gue yang ngatur kapan dan di mana aja Torro tanding kecepatan di jalanan, soalnya gue punya banyak koneksi, tahu banyak tentang trek sama jadwal balap ilegal di Jakarta. Sebagai mekanik, tugas gue juga nyiapin kondisi motor Torro tiap kali dia mau balapan, mastiin semuanya aman. Dan kalau Torro menang, duit taruhan yang kita dapat bakal dibagi dua. Sampai sini lo paham?”
Semacam berjudi, Rendy membatin. Ia mengangguk. “Paham, terus apa maksudnya ‘ngebal’ itu?”
“Nah, itu istilah di dunia balap liar buat tanding ulang. Beberapa minggu kemarin, Torro pernah ikut balapan, lawannya sama anak di daerah Thamrin, namanya Fadlan. Torro menang waktu itu, si Fadlan kayaknya gak terima dan mutusin buat ngajak Torro tanding ulang, yang telepon gue malam itu kayaknya salah satu temen si Fadlan ini.”
“Oh.” Seketika otak Rendy terasa cerah karena mengerti.
Ruslan mengaku, setelah berakhirnya sambungan telepon yang berisi tawaran tanding ulang itu, ia menelepon Torro yang ternyata masih berada di sebuah diskotik dan mengabari apa yang terjadi. Torro bersemangat, siap menjajal lagi kemampuannya dalam beradu kecepatan. Atas arahan Ruslan, Torro pergi meninggalkan diskotik untuk menghampiri lokasi balapan, di mana rencananya Ruslan juga akan berada di sana guna mengecek keadaan motornya.
“Gak lama setelahnya Torro telepon gue,” ucap Ruslan bercerita. “Katanya dia mau batalin rencana tanding ulang balapan itu, alasannya dia lagi gak enak badan. Dia ngaku lagi di perjalanan mau pulang, gue gak ngerti kenapa tiba-tiba aja dia mau balik ke rumah---padahal gue tahu dia udah lama gak pulang.”
Mendadak Rendy menyadari tatapan sendu yang dilemparkan roh Torro kepadanya.
“Lo denger sendiri kan, Ren?” kata Torro pedih. “Setelah lo telepon gue malam itu, gue beneran mau pulang ke sini, sampai batalin rencana buat tanding ulang. SMS yang gue kirim ke lo waktu itu gak bohong. Gue masih peduli sama keluarga gue, bener-bener kaget denger kabar orang tua kita bakal cerai.”
Rendy menyedot ingus, tahu-tahu saja kelopak matanya terasa basah. Buru-buru ia menyeka keduanya dengan punggung tangan, rasanya memalukan merasa begitu emosional ketika ada orang lain di sekitarnya.
“Itu karena gue,” Rendy memberitahu Ruslan. “Gue telepon Mas Torro malam itu, nyuruh dia buat pulang. Dia emang sempat nolak, bilang kalau dia lagi mau ikut balapan liar lagi. Tapi gue tetep maksa, soalnya bokap sama nyokap lagi bertengkar, dan mereka mau … pisah.” Nada suara Rendy goyah kala menyebutkan kata terakhir.
Dirinya tak mengerti kenapa mau seterbuka ini pada sosok sahabat mendiang saudaranya. Mungkin karena pembawaan Ruslan yang tenang dan bisa dipercaya, sehingga sulit bagi Rendy menyembunyikan beberapa hal.
Sebentuk pemahaman kecil melintas di wajah Ruslan, pria itu merendahkan pandangannya dan berkata, “Gue ikut prihatin, Ren. Seenggaknya gue paham sekarang, kenapa Torro sampai nekat batalin rencana waktu itu. Dia ngelakuin hal yang benar.”
Melakukan hal yang benar. Rendy lega bahwa dirinya bisa setuju juga dengan pernyataan itu. Kakaknya selama ini dikenal jarang melakukan hal yang benar.
Kaki Rendy berjalan mendekati Ruslan di lantai. “Apa yang terjadi setelah Mas Torro batalin rencana balap liarnya?”
Ruslan makin menundukkan kepala. “Yah, gue lakuin apa yang gue bisa. Gue kabarin si anak Thamrin itu kalau tanding ulangnya batal. Dia---si Fadlan---gak terima, tapi bisa apa lagi?” Ruslan mengernyit. “Setengah jam setelahnya gue coba telepon almarhum lagi, berniat ngasih tahu perkembangannya. Mungkin firasat juga, perasaan gue agak gak enak waktu itu, pas panggilan gue diangkat, yang jawab ternyata polisi. Dari situ gue tahu kalau Torro kecelakaan, meninggal di tempat.”
Ukuran tubuh Ruslan sesungguhnya nyaris dua kali lipatnya tubuh Rendy. Namun kini selagi menyaksikan pria itu terpekur duduk di lantai, sementara Rendy menjulang tinggi di atasnya, sosok Ruslan menjadi terkesan amat kecil dan rapuh. Menceritakan tentang kematian sang teman rupanya benar-benar menguras emosinya juga.
Sering Rendy berharap suatu saat nanti bisa memiliki sosok teman seperti pria berbadan besar di hadapannya ini, yang begitu peduli dan penuh sesal kala menceritakan sebuah tragedi yang menimpa orang terdekatnya. Torro seharusnya beruntung memiliki teman seperti dia.
Dilihat dari ekspresi yang ditampilkan sang hantu, sepertinya dia menyadari itu.
“Ini salah gue,” ujar Ruslan tiba-tiba. “Kalau aja gue gak suruh Torro pergi dari diskotik malam itu, atau kalau aja gue bisa lebih peka sama kondisinya yang udah setengah mabuk dan inisiatif jemput, anter dia langsung ke rumah, mungkin Torro masih hidup saat ini.”
Tepat di sebelahnya, Torro membelalakan mata. “Lo bilang apaan, Bro? Lo gak salah apa-apa! Jangan nyalahin diri sendiri begitu. Gue jadi begini gara-gara minuman t***l itu! Si Vodka s****n!”
Ruslan jelas tak merespon, bahkan tak bisa mendengar sangkalan Torro tersebut.
Torro kini memelototi Rendy. “Bilang sama dia,” perintahnya tegas. “Dia gak salah. Gue yang salah karena udah kebanyakan minum.”
“Lo gak salah apa-apa, Bang,” kata Rendy seketika---langsung berjongkok, kini ia tak keberatan harus menjadi jembatan komunikasi antara Torro dan Ruslan. Demi menyelamatkan Ruslan dari sikap menyalahkan diri sendiri yang bisa saja menggerogoti mentalnya secara perlahan. “Mas Torro sendiri yang nekat berkendara setelah minum-minum. Itu gak ada hubungannya sama lo. Mas Torro bahkan udah jadi peminum alkohol sejak lama, jauh sebelum lo kenal dia. Iya, kan?”
“Tapi tetep aja, Ren.” Ruslan menyangkal. “Gue harusnya lebih ngeh pas malam itu, suara kakak lo udah setengah teler pas kita teleponan. Gue harusnya sadar kalau bakal ada yang gak beres setelah itu.”
“Lo gak mungkin persis tau, Bro,” kata Torro muram.
“Bang Ruslan gak bisa tahu persis,” Rendy mengulang. “Semuanya udah takdir, kecelakaan sama kematian Mas Torro murni musibah.”
“Mungkin.” Ruslan masih kelihatan ragu. “Tapi kemarahan bokap lo ke gue, gue bisa maklumi sekarang. Beliau bener, gue udah ngasih pengaruh buruk ke almarhum. Kakak lo keranjingan menggeluti dunia balap liar begitu awalnya karena gue.”
Rasa penasaran Rendy tergelitik, ia ingin tahu ada cerita apa lagi di baliknya. Tapi Ruslan tampak sangat muram sampai Rendy enggan menanyakannya. Pertanyaan itu dirinya simpan, mungkin akan ada kesempatan untuk melontarkannya di lain waktu.
Saat ini, Rendy malah merasa berkewajiban untuk membangkitkan semangat dan menghangatkan suasana. Ia meletakkan pantatnya di atas lantai dan ikut terduduk bersila, menatap Ruslan sampai cowok itu balik menatapnya.
“Gue gak peduli apa kata bokap. Lo jelas gak kayak temen Mas Torro kebanyakan,” kata Rendy perlahan, membiarkan setiap katanya teresapi benak Ruslan dengan jelas. “Gue gak bermaksud ngewakili Mas Torro atau apa, tapi gue berani bilang ini: kakak gue beruntung punya temen kayak lo. Mungkin emang lo yang ngenalin dunia balap liar ke beliau, tapi gue yakin itu gak masalah. Beliau menikmatinya, gak menyesali dan … bener-bener mahir ngelakuinnya.”
Tatapan Ruslan kosong untuk sesaat, lalu senyuman merekah di mulutnya. “Bener-bener mahir. Almarhum punya bakat di bidang adu kecepatan. Gue mengenali itu di sejak awal kita kenalan. Puluhan perlombaan udah dia ikuti, dan nyaris semuanya menang.”
“Gue cuman pernah kalah satu kali,” timpal Torro dengan nada bangga. “Itu pun gara-gara fokus gue keganggu, perut gue lagi sakit, diare kebanyakan makan keripik pedas.”
Mulut Rendy sendiri mulai mengembangkan senyum, tak bisa menahan diri ia mengulang, “Nyaris semuanya menang, sekalinya kalah gara-gara beliau nahan sembelit selama perlombaan.”
Meledaklah tawa Ruslan. Suara tawa yang lantang nan dalam, menggema di sepenjuru ruangan garasi. Begitu kontras dengan aura kesenduan yang tadi sempat menghinggapi semua orang.
“Ya, kebanyakan makan keripik dia,” lanjut Ruslan disela-sela tawanya, kemudian memandangi Rendy dengan penuh minat. “Gue gak tahu ternyata Torro sering ceritain pengalamannya ke lo. Selama ini gue taunya kalian gak begitu akur.”
Dengan jahil, arwah Torro mengedipkan sebelah matanya pada Rendy.
Alhasil Rendy jadi ikut tertawa. “Yah, kita berdua akur kok … dengan caranya sendiri.”
***