40. Ruslan Tunjukkan Kebenaran

1609 Words
Tuan rumah macam apa dirinya ini? Selagi mempersiapkan minuman dingin dan camilan ringan untuk Ruslan, Rendy merutuki dirinya sendiri karena tak menawarkan jamuan lebih awal. Diminta air minum langsung oleh sang tamu sendiri, ia merasa sudah gagal menjadi tuan rumah yang baik. Terlalu fokus pada kedatangan ayahnya tadi jelas tak bisa menjadi alasan. Menurut Rendy sendiri, kepribadian Ruslan cukup baik---sopan dan rapi, tak seperti teman-teman Torro lainnya yang pernah ia temui dulu. Memang, pernah beberapa kali dirinya berjumpa dengan kawan-kawan Torro, kebanyakan dari mereka bertingkah laku seenaknya, tak sopan, dengan tampilan urakan dan mulut yang selalu menumpahkan kata-k********r. Ruslan jelas tak seperti itu, entah apa sikapnya memang selalu sesopan itu atau sengaja bersikap sepantasnya di depan Rendy. Di mata Rendy sendiri cowok itu kelihatan seperti anak baik-baik, hanya pria biasa yang kebetulan memiliki ilmu pertukangan otomotif di atas rata-rata. Bertato juga---Rendy perhatikan itu tadi saat Ruslan sengaja menyingkap bajunya sedikit, tapi tato bukanlah penanda pasti berandalan atau tidaknya seseorang. Satu hal pasti yang Rendy yakini, dirinya merasa tak akan kesulitan bergaul dan berteman dengan Ruslan jika mau. Alhasil sulit membayangkan bahwa Ruslan adalah pengaruh buruk bagi Torro dulu, teman yang menyeret mendiang kakaknya ke pergaulan liar malam ibu kota. Mungkin ayahnya hanya bersikap paranoid dan berpikiran negatif, Rendy membatin, yang biasanya memang selalu begitu. “Suguhin dia keripik kalau lo punya,” kata suara seorang pria di belakangnya. Tubuh Rendy terlonjak---tak tahu bahwa dirinya tak lagi sendirian, botol minuman dingin yang ia ambil dari kulkas nyaris saja terjatuh dari genggamannya. Ia melirik ke belakang dan melihat arwah Torro menyeringai kepadanya. Sejak kapan pria itu berdiam diri di sana selagi mengamati kegiatan dirinya? Rendy tak tahu. Kehadiran sang hantu selalu tak terprediksi mengingat kedatangannya tidak menimbulkan suara apa pun, yang sesungguhnya agak menakutkan. “Jangan ngagetin kayak gitu!” Rendy menggerutu sebal. “Inget, lo udah janji buat gak muncul mendadak kayak gitu.” Torro mengangkat kedua tangannya seakan tengah menyerahkan diri ke hadapan polisi, tapi tatapan matanya menyiratkan rasa geli. “Maaf, maaf. Gue gak bermaksud ngagetin lo, ya ampun. Lo ternyata gampang kagetan orangnya, tapi bagus sih buat ngelatih jantung.” “Gak lucu.” Rendy memfokuskan diri kembali pada apa yang sedang dilakukannya. “Kata lo apa tadi? Suguhin keripik?” “Iya. Si Ruslan demen nyemil keripik kentang atau pisang. Yang asin, kalau ada. Dia gak suka jajanan pedas.” Atas saran itu, Rendy membuka lemari pendingin dan melihat ada setengah bungkus keripik kentang asin. Ia tak tahu apa camilan itu milik Anggi atau ibunya, tapi sepertinya tak masalah. Dalam hati Rendy berjanji akan menggantinya nanti. Ia menghampiri rak alat makan dan meraih sebuah piring kaca. “Gimana urusan sama Papah tadi?” tanya Torro kemudian, rupanya sang hantu menghampiri Rendy karena ada maksud lain. “Lo ngobrolin apa aja? Dia ngomong apa aja?” Tanpa menoleh sedikit pun Rendy bercerita singkat: ayahnya khusus datang untuk mengecek keadaan dirinya yang dibilang sempat jatuh sakit, lalu peringatannya tentang harus jauh-jauh dari Ruslan, kritikan karena tahu ia akan memperbaiki motor serta soal lain-lain yang tadi sempat diobrolkan. Torro termenung sesaat. “Jadi … akhir pekan ini lo beneran mau berkunjung ke tempat penginapan Papah?” “Mungkin. Kalau Anggi-nya juga mau,” jawab Rendy seraya menumpahkan keripik dari bungkus plastik de dalam piring. “Gue pribadi gak yakin mau berkunjung ke sana sendirian, apalagi kalau Mamah tahu. Apa dia bakal ngizinin?” Setelah semua minuman dan cemilan siap, Rendy meletakan semuanya di atas sebuah nampan. Menata posisinya dalam keadaan seimbang. “Gue yakin dia bakal ngasih izin,” ucap Torro berpendapat. “Mamah pasti bakal ngerti, ibu kita bukan tipe orang yang egois.” “Kalau soal itu kita sepakat.” Rendy berbalik dengan kedua tangan mengangkat nampan tersebut, matanya lekat menatap arwah saudara lelakinya yang telah tiada. “Gue penasaran, ucapan Ruslan tadi---tentang kalian udah bikin perjanjian---maksudnya apa? Kok dia sampai mau-maunya nanggung semua biaya perbaikan?” Senyum sok misterius terkembang di mulut Torro. “Nanti juga lo tahu. Udah itu lo bawa dulu camilannya ke dia, si Ruslan pasti kehausan tuh.” Lagi-lagi disuruh ini-itu oleh sosok hantu gentayangan, Rendy sambil menahan keki berjalan ke ruang garasi. Ruslan jelas menyambut baik jamuan yang Rendy bawakan. Senyumnya serta merta sumeringah, tak menunggu lama ia telah menenggak segelas air dan mulai mengudap keripik dengan rakus. Kedua kaki pria itu sudah direntangkan jadi dalam posisi selonjoran. Kedua telapak tangannya masih kotor bernoda oli, tapi ia tampaknya tak peduli. Keheningan yang terjadi tak lantas membuat keduanya merasa jengah, tapi Rendy berusaha membuat suasana lebih mencair. “Jadi soal motor ini,” Rendy mulai bicara, “Hari ini bisa tetep dilakuin beberapa perbaikan, atau udahan dulu sampai nunggu kebeli komponen yang dibutuhin?” Ruslan cepat-cepat menelan keripik yang tengah dikunyahnya. “Gue bisa sedikit perbaiki beberapa hal lagi sih, sekalian pengecekan ulang, sambil ngedata bagian mana aja yang kudu diganti. Gue bakal langsung mulai setelah ini habis.” Dagunya menunjuk pada piring berisi keripik yang tinggal seperempatnya. “Santai, Bang. Gue gak minta lo ngeburu-buru, tenang aja gue punya banyak waktu hari ini.” “Emangnya hari ini lo gak kuliah? Atau kegiatan lain?” tanya Ruslan dengan kening berkerut. Rendy menggeleng. “Gue sengaja bolos kuliah hari ini, gak ada rencana kegiatan apa -apa.” “Sengaja bolos kuliah cuma demi manggil montir buat perbaikin motor? Gue bisa dipanggil kapan aja padahal, hari minggu juga bisa.” Ruslan tak menunggu tanggapan. Ia menepuk tangannya guna mengenyahkan remah-remah keripik lalu mulai bekerja, mempreteli bagian motor lebih banyak lagi dengan begitu mudah seperti tengah membongkar rumah-rumahan dari lego saja. Demi membantu penerangan, Rendy membuka lebar gerbang garasi depan agar cahaya matahari bisa bersinar masuk. Setiap kali botol minuman habis, Rendy inisiatif mengisinya kembali, suatu kali menawarkan Ruslan kopi---pria itu menerimanya dengan tangan terbuka, Rendy juga atas keinginan sendiri mengelap ceceran oli yang tertumpah ke lantai, menata onderdil motor yang Ruslan letakkan agar rapi dan mudah dijangkau. Ruslan sepertinya memang terbiasa bekerja tanpa banyak bicara, tak tampak rikuh meski diperhatikan Rendy secara seksama hampir sepanjang waktu. Kadang kala tatapan mereka bertemu dan Ruslan hanya nyengir singkat seraya meneruskan pengamatannya lagi. Yang Ruslan tak tahu, bahwa sosok mendiang temannya kini berada di dekatnya, memberi saran-saran yang tak bisa didengarnya sama sekali. Hal ini Rendy angap sedikit lucu. Arwah Torro tampak sangat transparan dengan adanya cahaya matahari ini, tapi mata Rendy yang jeli tetap bisa menangkap pergerakannya. Duduk dekat sekali dengan Ruslan sambil melontarkan saran dan arahan seperti “Tabung olinya kudu diganti, Bro!”, “Persenelingnya macet total nih!” dan “Kalau onderdil ini diganti mahal ya? Harga pasarannya berapaan sekarang?”. Jelas saja ucapan itu sia-sia. Ruslan tak bisa melihat Torro atau mendengar suaranya. Lama-kelamaan Torro jadi kelihatan sebal, lalu memandang Rendy penuh permintaan. “Ren! Lo coba ngomong dong! Bilang ke dia apa aja yang tadi udah gue bilang. Jangan malah bengong terus-terusan.” Rendy hanya menahan senyum dan menggeleng tak kentara. Saat ini dirinya sedang tak ingin menjadi penghubung komunikasi di antara kedua pria di depannya. “Ren,” kata Ruslan tiba-tiba berbicara di tengah-tengah pekerjaannya, matanya sekilas melirik Rendy. “Gue boleh tanya sesuatu?” “Boleh. Soal apa?” Rendy tengah berdiri di ambang pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang depan. Tangannya bersilang di depan d**a. “Soal sikap bokap lo tadi,” Ruslan meneruskan. “Sebenernya di mata beliau salah gue ini apa?” Ada begitu banyak jenis pertanyaan yang bisa diajukan, tapi Rendy tak menyangka Ruslan akan melontarkan pertanyaan yang satu itu. Sosok Torro jadi ikutan terpaku, memandangi wajah sahabatnya dengan raut menyesal. Rendy mengganti tumpuan kakinya gelisah. “Sekali lagi, gue bener-bener minta maaf soal sikap Papah gue tadi, tapi … gue gak enak hati kalau harus ngomong jujur.” “Bilang aja.” Ruslan memancing, kini sungguhan menatap lekat mata Rendy. “Maksudnya, gue sejak awal bingung. Awal-awal gak ada masalah, kan? Gue sempat diperbolehin ikut urus pemakaman almarhum kakak lo, tapi mendadak aja bokap lo marah dan ngelarang gue datang ke sini lagi.” Cara Ruslan bertutur kata begitu cepat dan diakhiri dengan desah napas lega di ujung, seakan puas akhirnya bisa mengungkapkan semua unek-uneknya. Rendy sadari bahwa mungkin sejak tadi Ruslan ingin mengajak ngobrol dengannya mengenai permasalahan tersebut, hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk memulainya---yakni saat ini. Otak Rendy meraba-raba kejadian hari-hari lalu. Ayahnya memang tak pernah secara spesifik menyebutkan apa kesalahan Ruslan sampai tak diterima lagi di sini, hanya tiba-tiba saja sikapnya menjadi kasar. Mungkin dari sudut pandang Ruslan, hal itu memang aneh dan membingungkan. Lima belas detik adalah rentang waktu yang dibutuhkan bagi Rendy dalam mengumpulkan keberanian untuk berkata dengan nada sesal, “Papah gue nyalahin lo atas apa yang terjadi sama … Mas Torro.” Dari sudut mata, Rendy menangkap gerakan kepala kakaknya yang menggeleng-geleng. Sementara itu, Ruslan terdiam seribu bahasa. Rendy melanjutkan, “Semua perilaku buruk kakak gue semasa hidup, dimulai dari sering minum alkohol, main ke bar malam dan keranjingan ikut balapan liar, bokap gue ngira lo yang pertama ngajak-ngajak, bawa pengaruh buruk ke kehidupan almarhum.” “Enggak,” arwah Torro langsung menyangkal. “Itu gak bener sama sekali, semua sikap buruk gue di masa lalu, sepenuhnya tanggung jawab gue sendiri.” Mau tak mau Rendy terkesan. Kakaknya baru saja mengakui kesalahan, tak ingin membuat orang lain yang tak bersalah ikut menanggung beban moral. “Tapi semua itu gak bener kan, Bang?” Rendy berujar, menunjukkan sikap bahwa dirinya tak sepakat dengan pendapat ayahnya. “Apa yang terjadi sama Mas Torro, itu kesalahannya sendiri. Bukan karena orang lain. Bang Ruslan gak sepatutnya disalahkan.” Begitu pula dengan ibunya, batin Rendy menambahkan. Namun, kata-kata Rendy bagai telah membuka topeng ketegaran di wajah Ruslan. Ekspresinya kini penuh dengan kegetiran dan keputus asaan. Ruslan mengelap wajahnya dengan kain kausnya dan memalingkan muka. “Mungkin bokap lo gak sepenuhnya keliru, Ren,” katanya dengan nada kecut---kepahitan yang dianggapnya sendiri merupakan kebenaran. “Secara gak langsung gue yang udah bikin Torro meninggal.” Tanpa diduga-duga, Ruslan pun mulai mengisahkan sebuah penyesalan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD