30. Pandangan Baru

1423 Words
Rendy takkan malu untuk mengakui bahwa pada awalnya ia ketakutan setengah mati. Bagaimana tidak? Hanya dalam kurun waktu beberapa jam, hidupnya telah berubah total menjadi rentetan adegan tipikal di film horor. Hal-hal logis seakan direnggut paksa dari hidupnya, dan sebagai kompensasi, hidup memberinya kesempatan untuk bertegur sapa lagi dengan mendiang Torro, kakak lelakinya yang telah meninggal baru-baru ini. Bukan pertukaran yang bagus, kalau Rendy harus jujur. Bahkan jika nanti usianya mencapai seribu tahun sekali pun, Rendy yakin takkan pernah bisa melupakan momen saat pertama kalinya ia melihat Torro dalam sesosok arwah: berdarah-darah, cairan merah kental mengalir turun dari kepalanya yang penyok, punggungnya membungkuk, dan sebelah tangannya tertekuk ke arah yang aneh. Penampakan yang Rendy lihat malah seratus kali lebih menyeramkan dari penampakan Torro versi mimpi buruknya. Kondisinya persis seperti jasad kakaknya setelah mengalami kecelakaan di jalanan. Jenazah yang Rendy bantu kuburkan tempo hari. Melihat langsung mayat itu kembali hidup, berjalan dan berbicara pada dirinya … seolah-olah Rendy tengah memandang langsung ke alam kubur Torro. Wajar bila ia merasa ngeri, kan? Rendy bahkan tak peduli jika ketakutannya membuat ia terlihat seperti pengecut, yang diinginkannya hanyalah agar hantu itu pergi, agar Torro meninggalkannya sendirian. Dan anak bernama Donovan itu harus kembali dan menutup mata batinnya ini! Harus! Mengetahui adanya sesosok arwah gentayangan di luar kamar, sendirian di rumah jadi tak terasa menenangkan lagi. Rendy gelisah luar biasa, ia haus ditemani oleh seseorang yang hidup. Rasanya seperti terjebak di sebuah dunia baru---dunia gelap, angker dan dingin, Rendy begitu berhasrat menemukan sebuah pintu keluar agar bisa terbebas dari dunia mengerikan ini. Ketika pintu kamarnya diketuk dan adiknya Anggi memanggil lalu melenggang masuk, Rendy merasa lega luar biasa. Sosok gadis kecil itu bagai pelampung penyelamat, menolong kewarasannya yang nyaris saja tenggelam ke dasar lautan. “Mas Rendy gak apa-apa?” tanya Anggi penuh simpatik, ekspresi wajahnya menyiratkan bahwa ia paham apa yang terjadi. Mungkin arwah Torro yang telah memberitahunya, Rendy tak ingin tahu. “Mas gak sanggup, Dek,” aku Rendy lemas, tubuhnya masih meringkuk di pojok ruangan, berada sejauh mungkin dengan pintu kamar. Ia belum bergerak ke mana pun sejak peristiwa tadi. “Mas udah lihat hantu … hantu Mas Torro. Mas gak bisa lihat lebih lama lagi. Tolong panggil Donovan ke sini secepatnya!” “Mas Rendy jangan begitu, jangan diam di sana terus,” bujuk Anggi terlebih dulu. “Dan … Kak Devan udah pulang ke rumahnya, gak mungkin minta balik ke sini lagi sekarang juga.” Rendy melirik cemas pada pintu kamar, ragu-ragu untuk beranjak. Anggi rupanya memahami kekhawatirannya, ia berkata, “Mas Rendy gak usah cemas. Mas Torro ada di luar, udah Anggi larang buat masuk sebelum Mas Rendy siap ngelihat lagi.” Perkataan adiknya malah membikin Rendy makin takut. Hantu Torro berada tepat di balik pintu itu? Namun ia tetap beranjak ke tepi ranjang, mengamati Anggi yang mengambil posisi duduk di sebelahnya. Dalam segi apa pun tak ada yang berubah dalam diri Anggi, tapi perspektif Rendy pada adiknya ini mulai berubah besar-besaran. Pertengkaran-pertengkaran mereka di masa lalu---termasuk kemarin, cerita Anggi soal hantu dan hal gaib, kesemuanya memiliki arti lebih dalam dari yang Rendy selama ini sadari. Anggi ternyata tak pernah berbohong, ia adalah seorang anak yang memang memiliki kemampuan lebih. Dapat Rendy bayangkan betapa tertekannya Anggi selama ini, menanggung rahasia yang tak sanggup keluarganya pahami. “Mas berhutang banyak banget permintaan maaf ke kamu, Dek,” ucap Rendy menyesal, sambil mengusap kedua lengannya yang basah oleh keringat. “Mas gak bisa bayangkan … gimana rasanya ada di posisi kamu. Kamu ternyata bicara sejujurnya. Maaf kalau Mas selama ini gak pernah percaya.” Anggi menggeleng tak nyaman, meski ada sepercik kelegaan di wajahnya karena mungkin, akhirnya, satu orang lagi di keluarga dapat memahami perasaannya. “Mas Rendy gak perlu minta maaf, yang penting sekarang Mas udah percaya.” Ia menggigit bibir. “Sekarang Anggi cuman minta Mas Rendy buat berani. Jangan takut sama Mas Torro.” “Gak bisa,” Rendy mengembuskan napas berat dan mendengus. “Mas Torro … dia nyeremin. Mas gak sanggup.” Tangan Anggi mencubit-cubit kain rok yang dikenakannya. Keningnya berkerut samar. “Emangnya di mata Mas Rendy, penampilan Mas Torro kayak gimana?” Sulit mengatakannya secara detail, karena Anggi tak pernah dibiarkan melihat jenazah Torro pada proses pemakaman. Adik kecilnya ini tak tahu gambaran nyata akan kondisi fisik Torro setelah mengalami kecelakaan maut. Rendy hanya mampu berkata, “Dia berdarah-darah, banyak luka. Persis kayak … waktu meninggal.” Anak kecil itu bergeming. Ketenangan Anggi membuatnya agak terusik. Dalam batin Rendy bertanya, apa Anggi telah sering melihat hantu berwujud super seram sampai tak merasa terganggu lagi? “Anggi lihatnya gak kayak begitu tuh,” ucap Anggi kebingungan. “Roh Mas Torro kelihatan baik-baik aja.” Anggi menelengkan kepalanya, sedang berpikir keras. “Mungkin …. mungkin ini ada hubungannya sama cara Mas Rendy mikirin Mas Torro. Jangan bayangin kondisi Mas Torro ketika udah meninggal---itu bakal ngaruh ke persepsi mata batin, lebih baik coba bayangkan Mas Torro waktu masih hidup. Hidup dan sehat. Bisa Mas Rendy coba ngelakuin itu?” Saran Anggi membuat Rendy skeptis. Torro menyeramkan saat sudah mati, saat masih hidup? Menyebalkan luar biasa. Tapi Rendy mencoba memejamkan kata, kenangan lama berlarian di dalam otaknya, berisi momen-momen kala Torro masih bugar, sehat dan penuh aura kehidupan. Sekonyong-konyong Rendy merasakan setitik rindu. Mata Rendy terbuka lagi. “Apa ini benar-benar bakal membantu?” “Hmm … cuman ada satu cara buat tau.” Anggi menunjuk pintu. “Lihat langsung orangnya. Mas Torro udah nunggu cukup lama di sana.” Ini keputusan berat. Anggi pasti mengerti karena tak mendesaknya memberi jawaban. Bagaimana jika pintu itu dibuka dan yang Rendy lihat adalah zombie Torro yang bangkit dari kubur lagi? Ketenangan hatinya akan terguncang amat parah, mungkin Rendy akan mengkeret ketakutan lagi, terbirit-b***t ke pojok ruangan. Tapi ada Anggi di sini sekarang, hal ini memberinya sedikit keberanian. Lagian---hati kecil Rendy menyuarakan pendapat---kesempatan bisa berbicara dengan Torro sering diidam-idamkannya dalam diam. Dirinya juga memiliki banyak hal yang belum sempat terucap pada Torro, mungkin ini waktu yang tepat baginya menyelesaikan perseteruan dengan kakaknya. Mencuil sedikit perasaan bersalah yang kadang menghinggapi hatinya. “Kita coba,” kata Rendy akhrinya memutuskan. Suaranya mencicit dan lemah. Tanpa menunggu lama Anggi menghambur ke arah pintu. Kala sosok mendiang Torro akhirnya berjalan ke dalam kamar, benak Rendy terus-terusan mempertahankan citra Torro yang sehat dan hidup. Mematri bayangan itu begitu dalam di kedalaman pikiran. Jantungnya serasa ditabuh oleh pemain drum profesional, kedua telapak tangan Rendy mengepal erat-erat di kedua sisi tubuhnya. Mata Rendy mempertahankan fokus, dan segeralah dirinya tahu, saran Anggi berhasil. Torro kelihatan sama persis ketika masih hidup, memakai pakaian kesukaannya: jaket hitam yang tak dikancingkan, menampakkan dalaman berupa kaus polos hitam. Celana jeans biru gelap, dan bertelanjang kaki. Itu pakaian yang Torro kenakan saat-saat terakhir hidupnya, tapi kini tak ada noda darah, luka atau bagian tubuh yang membengkok aneh. Begitu normal. Torro bisa saja disebut baru pulang dari balapan dan iseng menyambangi kamar Rendy. Hanya saja, Rendy mengamati, bahwa tubuh Torro beberapa detik sekali tampak samar, dan ujung kakinya tak benar-benar menjejak lantai. Dia melayang. Ketakutan murni mulai memberati perasaannya, tapi Rendy tetap bertahan---terpaku di tempat. “Hai, Ren,” sapa sang hantu. Suara Torro terdengar jernih dan jelas di gendang telinganya, tak mungkin Rendy hanya membayangkannya saja. Serta merta Rendy melupakan keberadaan Anggi di dekatnya, kelima---atau barangkali enam---indera tubuhnya bekerja gila-gilaan menyerap fakta bahwa hantu Torro benar-benar ada. “Ini beneran lo,” Rendy berucap nelangsa. Kakaknya yang telah meninggal kini kembali pulang. “Ya … ini gue.” “Dalam sesosok roh, hantu gentayangan. Lo bener-bener ada di sini sekarang.” Kapan Rendy pernah melihat sesosok hantu tersenyum? Tak pernah, bahkan dalam film horor yang pernah ditontonnya sekali pun. Tapi di sanalah arwah Torro kini, bibirnya menyunggingkan senyuman. “Gue udah di sini sejak lama, nunggu-nungu momen ini datang: kesempatan bisa bicara ke lo lagi.” Tiba-tiba Rendy merasa wajahnya basah, dan ia harus menyekanya dengan tangan. “Apa yang lo mau omongin?” “Banyak hal, Dik. Banyak hal.” Sesaat Rendy hanya dapat mematung. Benarkah ini kakaknya? Torro tak pernah memanggilnya dengan selembut itu. Dalam kondisi normal, jika Torro dan Rendy bertemu tatap, keduanya bakal beradu mulut dan berselisih paham yang berakhir dengan masalah yang tak terselesaikan. Namun, sedikit demi sedikit Rendy agaknya bisa menebak alasan kenapa Torro ingin berbicara dengannya, paham bahwa situasi telah jauh berubah. Tak ada lagi saling berlomba mempertahankan ego. Kematian menjemput Torro terlebih dulu, dan di sinilah ia, berusaha memperbaiki keadaan dengan cara yang tak pernah Rendy sangka-sangka. Atau … yah, menghancurkan kewarasan Rendy secara permanen pada prosesnya. Sebab melihat Torro lagi mau tak mau seperti menggali luka lama. Luka yang tampaknya akan terlupakan, kini terpaksa harus Rendy hadapi lagi. Dan dirinya tak tahu berapa besar peluangnya bisa berbaikan lagi dengan keadaan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD