Saat terdengar suara mobil menepi di depan rumah, Torro segera pergi ke luar menghampiri.
Detik-detik yang dihabiskannya di rumah menanti ibu dan adik perempuannya pulang sungguh tak mengenakan, terutama karena di lantai atas ada Rendy yang kelihatannya masih syok dan ketakutan sampai tak berani keluar kamar. Torro ingin membantu menghilangkan kengerian yang melanda Rendy, tapi lelaki itu selalu saja memejamkan mata dan bahunya bergetar tiap kali Torro berusaha menunjukkan eksistensinya.
Torro berpikir, Anggi-lah satu-satunya orang yang dapat membantunya kini, meyakinkan Rendy agar tak perlu takut. Jika tetap tak berhasil … yah, Torro akan meninggalkan egonya dan membiarkan Donovan menutup mata batin adik lelakinya kembali.
Anggi sudah menyadari keberadaan Torro yang melayang gelisah di teras depan sejak masih di dalam mobil. Gadis kecil itu memandangnya penasaran, alisnya bertaut penuh tanya, tapi tetap menutup mulut selagi Pupsa ibunya memarkirkan mobil di halaman depan.
Tampak menyadari adanya masalah, Anggi yang pertama turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu, disusul cukup lama oleh Puspa yang rupanya tengah membereskan dulu barang-barang belanjaan di kursi belakang mobil.
“Anggi, tolong cek keadaan kakak kamu, ya,” pinta Puspa masih di dalam mobil. “Tolong lihat apa Rendy masih sakit. Bilang kalau sebentar lagi makan malam.”
“Iya, Mah,” Anggi menyahut.
Gadis cilik itu melangkah masuk melewati pintu dan disusul oleh Torro. Setelah keduanya berada di dalam, luput dari pandangan Puspa, Anggi segera berbalik dan langsung bertanya, “Ada apa, Mas?”
“Donovan temanmu berhasil,” kata Torro pelan-pelan. “Rendy udah bisa lihat dan denger Mas.”
Mata Anggi lantas berbinar. “Bagus kalau begitu.” Binar di matanya memudar dengan cepat setelah mengamati situasi. “Tapi kenapa Mas Torro kelihatan … gak senang?”
“Rendy ketakutan.” Wujud roh Torro melayang gelisah. “Dia jerit-jerit dan intinya gak mau lihat atau ngobrol sama Mas. Masa minta tolong sama kamu, Dek, coba bicara sama Rendy, bilang kalau dia gak perlu takut. Rendy ngurung diri di kamarnya sejak tadi.”
Raut muka Anggi menggelap, seakan telah punya dugaan hal ini akan terjadi dan tak senang mengetahui tebakannya benar. Ia menggigit bibir sejenak, lalu menghela napas. “Oke, bakal Anggi coba.”
Keduanya lalu menaiki tangga menuju kamar Rendy. Torro hendak ingin masuk menembus dinding, tapi Anggi menahannya.
“Mas Torro sebaiknya tunggu di sini,” katanya dengan satu tangan yang telah menggenggam gerendel pintu. “Biarin Anggi bicara dulu sama Mas Rendy. Kalau Mas Rendy udah siap, Mas Torro baru boleh nunjukkin diri lagi.”
Oh benar, batin Torro mengucap, ia pun berdiam di tempat. Aneh rasanya diatur oleh anak SD, tapi Anggi bersikap begitu bijak dan percaya diri hingga sulit menganggap remeh pendapatnya.
“Mas Rendy!” sapa Anggi sambil mengetuk pintu singkat, lalu mendorongnya hingga terbuka dan berjalan masuk tanpa menunggu respon dari Rendy. Meninggalkan Torro sendiri setelah kembali menutup pintu.
Torro benar-benar berharap bisa mendengar percakapan kedua adiknya di dalam, tapi menjadi hantu rupanya tak lantas membuatnya memiliki pendengaran super. Tembok semen di depannya benar-benar memisahkan, mencegah suara dari dalam terdengar jelas ke luar. Torro hanya dapat menangkap bisikan samar, dan suara agak lantang yang Torro kenali adalah Rendy, itu pun suara teredam yang kurang bisa ditangkap tiap katanya.
Sedetik Torro tergoda mengintip. Barangkali hanya menyembulkan kepalanya saja ke dalam---demi bisa mendengar lebih jelas, itu harusnya tak masalah, kan? Yah, tidak juga, hati kecil Torro membantah, Rendy bisa saja secara tidak sengaja melihat ‘kepala buntung’ Torro itu, ketakutan setengah mati dan terkena serangan jantung mendadak.
Dengan pemikiran seperti itu, Torro bertekad takkan mengganggu.
Dari anak tangga teratas, sejenak Torro mengamati lantai bawah, Puspa telah memasuki rumah dan berderap ke dapur dengan tangan menjinjing banyak tas plastik terisi penuh. Torro berharap ibunya akan cukup disibukkan di dapur selama beberapa saat, bukannya ikutan menghambur ke kamar Rendy dan menginterupsi percakapan antara Rendy dan Anggi yang tengah berlangsung sekarang.
Malah pikirannya makin menjadi, bagaimana jika Torro meminta Donovan agar membuka mata batin ibu tirinya juga, malah kalau bisa lebih bagus lagi mata batin milik ayahnya dibuka. Dengan begitu mereka berempat bisa bicara secara langsung menuntaskan semua permasalahan yang ada.
Ide bagus, juga nekat, tapi Torro yakin pemecahan masalahnya takkan semudah itu.
Dirinya begitu tenggelam dalam renungan sampai tak sadar pintu kamar Rendy terbuka. Anggi mengintip dari celah pintu dan berseru dalam bisikan, “Mas Torro!”
Torro menoleh dan menghampiri. “Gimana, Dek?”
“Hmm,” Anggi ragu-ragu sesaat. “Mas Rendy masih takut, tapi udah Anggi coba yakinkan buat gak harus takut. Mas Rendy bilang dia berani coba lagi … lihat langsung Mas Torro, maksudnya. Tapi Mas Torro jangan ngelakuin gerakan yang aneh-aneh dan mendadak, ya?”
Gerakan aneh dan mendadak? Torro bertanya-tanya dalam hati gerakan macam apa itu, tapi ia cepat-cepat mengangguk. Memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Rendy, dirinya takkan menyia-nyiakan hal ini.
Dengan gerak lambat, Torro berjalan masuk---kakinya bergerak langkah demi langkah meski telapaknya tak menyentuh lantai, jadi masih tampak seperti melayang. Rendy duduk di tepi ranjang, membelalakan mata menatapnya. Torro menahan diri agar tak membuat aksi mengejutkan, seperti melompat mendekat layaknya pocong dan menyapa penuh horor, “Rendiiiii!”
Jujur saja, Torro benar-benar tergoda melakukannya hanya demi mengetahui reaksi Rendy.
Raut wajah dan gerak tubuh Rendy, tak salah lagi, bagai tengah melihat sesosok hantu. Tubuhnya menegang dan berkeringat, saraf-saraf pada badannya tampak kaku dan terkunci. Kulit wajahnya pucat, nyaris sepucat lilit, bola matanya awas dan siaga, tapi juga merah dan lembap. Bibir tipisnya menutup rapat, rambut hitam pendeknya sendiri lepek dan tak tersisir rapi. Meski baru bangun tidur, Rendy malah kelihatan seperti seseorang yang bau saja menghabiskan waktu satu jam terakhir dengan berlari di seputar tempat pemakaman umum pada tengah malam.
Atas arahan Anggi, Torro berhenti melangkah hanya tiga meter di depan adik lelakinya. Kemudian, dengan suara seramah mungkin, Torro berkata, “Hai, Ren.”
Rahang Rendy mengeras, tatapan matanya adalah campuran dari banyak rasa berlainan: takut, ngeri, marah, sedih dan putus asa.
“Ini beneran lo,” kata Rendy tercekat, air mata jatuh dari klopak mata kirinya dan mengalir ke pipi.
Hati Torro bagai diremas-remas dengan tangan sekeras baja melihat air mata itu. “Ya … ini gue.”
“Dalam sesosok roh, hantu gentayangan.” Kedua telapak tangan Rendy meremas kuat kain seprai. “Lo bener-bener ada di sini sekarang.”
Torro mencoba tersenyum. “Gue udah di sini sejak lama, nunggu-nungu momen ini datang: kesempatan bisa bicara ke lo lagi.”
Air mata makin mengalir deras dan Rendy menyekanya dengan punggung tangan. “Apa yang lo mau omongin?”
“Banyak hal, Dik,” Torro berkata lembut. “Banyak hal.”
Kapan terakhir kali Torro berucap selembut itu pada Rendy dan memanggilnya “Dik”? Sejauh yang bisa diingatnya, jarang, atau malah tak pernah sama sekali. Sedikitnya Torro yakin Rendy pasti kebingungan melihat sikap tak biasa Torro ini.
Anggi yang sedari tadi terdiam hanya tersenyum mengamati. Gadis kecil itu terkesan tak ingin menginterupsi momen pertemuan kedua kakaknya yang jarang sekali tampak akur.
Sebelum seseorang di antara ketiga orang itu berbicara, terdengar suara sepasang kaki berjalan mendekat dan sosok Puspa muncul di ambang pintu.
“Ya Allah, Nak!” Puspa mendekati Rendy dan duduk di sisinya, tangannya menyentuh dagu putranya. “Muka kamu pucat banget, Sayang. Dan kamu … ini habis nangis? Kepalanya masih kerasa sakit, ya?” Puspa mengusap kepala Rendy dengan lembut, bersikap penuh hati-hati seolah di dalam kepala itu ada bom waktu yang dapat meledak kapan saja. “Kalau masih sakit kita ke dokter sekarang juga ya, Nak?”
Rendy mengusap tangannya sampai kering. “Enggak perlu ke dokter kok, Mah, ini cuman … ini cuma,” Rendy melirik Anggi, sosok Torro dan terakhir ibunya. Kemudian tatapan Rendy mengeras, seolah sebuah tekad baru tengah menyala-nyala di dalam dirinya. “Tadi Rendy sempat demam tinggi sebentar, tapi sekarang udah mendingan. Mungkin Rendy cuman stres aja sama tugas kuliah, butuh istirahat sebentar aja.”
Di telinga Torro sekali pun, alasan yang dikemukakan adik lelakinya itu teramat lemah dan susah dipercaya, tapi samar-samar Torro menangkap pesannya, seakan Rendy baru saja memberinya pernyataan: ibunya tak boleh tahu, jangan sampai Puspa mengetahui keberadaan Torro. Ibunya jangan sampai terlibat.
Atas reaksi pernyataan itu, Torro mengangguk apresiatif.
“Kamu beneran gak mau ke dokter?” Puspa membujuk lagi. “Sakit kamu bisa aja serius, Nak.”
Rendy menggeleng. “Gak usah, Mah. Lagian kondisi badan Rendy udah mendingan, paling cuman perlu makan obat pereda sakit kepala aja.” Kemudian Rendy memaksakan sebuah senyum. “Tapi makan dulu. Makan malamnya udah ada, kan? Rendy laper.”
Puspa terkekeh singkat, meski raut wajahnya masih menunjukkan kesedihan dan kecemasan. “Iya udah siap. Kalau kamu cukup sehat sampai masih berselera buat makan, Mamah yakin sakit kamu juga gak serius. Ayo, kita makan.” Puspa menoleh pada Anggi. “Ayo, Anggi juga makan ya. Kita makan bareng.”
“Iya, Mah,” kata Anggi menimpali.
Ketiga orang---yang masih hidup---beranjak pergi dari kamar. Sesaat meninggalkan Torro---yang sudah mati---sendirian. Torro berusaha tak memikirkan kenyataan bahwa ibunya tak mengajaknya makan juga, rasanya menyakitkan melihat keberadaannya seakan tak dianggap.
Tapi Rendy kini tahu dirinya ada, Torro memilih fokus pada fakta itu. Ada orang baru yang dapat diajaknya bicara melewati waktu-waktu sepi. Di kepalanya sendiri, Torro telah menyiapkan beberapa rencana.
Pelan-pelan, batinnya mengingatkan, semua harus dilakukan dengan perlahan.
Meski takkan ikut makan, Torro akhirnya ikut ketiga orang itu menuju lantai bawah.
***