Percaya atau tidak, Rendy terkadang berkhayal bagaimana rasanya jika mata batinnya dibuka.
Yah, konyol memang. Akibat keseringan nonton film horor, ia selalu berandai-andai mampu melihat mahluk tak kasat mata. Sisi filosofis dalam dirinya menganggap bahwa keadaan tersebut bagaikan memiliki pengelihatan sejati, karena mata yang dipergunakan tak hanya bisa menangkap hal-hal nyata dan padat, melainkan juga mampu memandang sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mata t*******g--- bersifat gaib, bagai menembus tabir pemisah antara dua alam yang amat berlainan.
Namun kini ia justru merasa was-was dan curiga ketika kesempatan untuk mewujudkan khayalannya itu datang. Dan harus diakui, dirinya merasa sedikit takut.
Benak Rendy berpacu cepat. Benarkah cowok yang sedang memandanginya dengan penuh harap ini seorang indigo? Rendy tak bisa mengenyahkan kecurigaan bahwa ini hanya akal-akalan dan ia sedang akan dikerjai.
Lagi pula, penampilan Donovan benar-benar tak meyakinkan. Dia tak tampak … istimewa. Hanya siswa SMA biasa, mungkin tipe kutu buku dan penyendiri, tak mampu bergaul dengan anak seusianya. Tipe murid yang lebih memilih menyambangi perpustakaan ketimbang kantin sekolah saat jam istirahat tiba.
Dengan kata lain, Donovan mengingatkan Rendy pada dirinya sendiri sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Bukan pertanda bagus sama sekali.
Hanya saja, Donovan berserta Anggi baru saja mengungkapkan sebuah rahasia yang memang hanya Rendy dan Torro ketahui. Ucapan terakhir Rendy lewat telepon, dan SMS yang diterimanya sebelum Torro meninggal dalam kecelakaan … semua itu benar-benar pernah terjadi.
“Gimana, Kak?” tanya Donovan, tampak agak kesal karena harus menunggu lama. “Mata batin Kak Rendy saya buka, berani gak?”
Rendy menyipitkan matanya dengan skeptis. “Apa itu aman?”
Donovan menaikkan satu alisnya. “Ya … nantinya Kakak bisa melihat Kak Torro, seseorang yang baru aja meninggal seminggu lalu. Ngelihat dan bicara langsung sama arwahnya. Mungkin bakalan berefek sama ketenangan batin dan kestabilan mental juga emosi Kakak. Jadi … mungkin gak begitu aman---tergantung pada tekad Kakak sendiri.”
Benar juga, Rendy membatin. Donovan sepertinya tahu betul apa akibat dari membuka mata batin seseorang. Rendy putuskan untuk menanggapi ini seserius mungkin. Jika pun akhirnya ketahuan ini hanya bercandaan, Rendy takkan rugi apa-apa.
“Tapi,” Rendy mencoba mempertimbangkan dalam segala sisi, “kalau begitu, nanti saya bisa lihat hantu yang lain juga kalau begitu? Bukan cuman … yah.” Tangannya melambai tanpa daya pada udara kosong di mana---konon katanya---sosok Torro berada.
“Mas pasti bisa!” Anggi yang masih duduk di sampingnya tersenyum menyemangati. “Anggi aja udah biasa lihat mereka sejak kecil! Awalnya emang nakutin, tapi gak akan ada apa-apa kok. Mereka jarang ganggu juga.”
Bibir Rendy jadi memberengut dan menatap adiknya. “Omonganmu gak menenangkan sama sekali loh, Dek.”
Tapi di dalam hati Rendy merasa takjub juga. Jika semua ini benar, dan Anggi memiliki bakat lebih tersebut, bayangkan berapa banyak beban dan tekanan yang selama ini Anggi tanggung dan tutupi dari keluarganya. Jika Anggi sanggup menghadapinya, Rendy merasa ia juga harusnya bisa.
Sebelum bisa berucap apa-apa, Donovan menyela terlebih dulu. “Saya bisa bikin hanya roh Kak Torro yang bisa Kak Rendy lihat,” katanya penuh pemahaman, barangkali sadar ada binar ketakutan di mata Rendy. “Saya ngerti, pasti susah kalau harus hadapin … mahluk yang lain. Bisa saya atur hanya sesuatu yang spesifik yang bisa Kakak lihat.”
Kelegaan merekah dalam dadanya, tapi Rendy enggan mengakuinya terang-terangan. Ia menghela napas sebentar---memantapkan hati---dan berucap, “Oke. Kita coba … lakuin apa pun itu.”
Sesaat setelahnya, Rendy berharap ia bisa menarik kata-katanya lagi.
Donovan memintanya berbaring di sofa. Rileks, melenakan diri dan memejamkan pandangan. Rendy tak yakin awalnya, tapi ia mengikuti skenario saja setelah adik kecilnya mengangguk memberi dukungan. Dengan mata tertutup, kedalaman benak Rendy memunculkan berbagai macam bentuk abstrak. Tiada yang berarti, Rendy malah merasa kakinya agak kebas dan kesemutan.
Lalu sesuatu yang lembut menyentuh kedua sisi pelipis Rendy---jari tangan, dan suara Donovan terdengar, “Saya mau Kak Rendy kosongkan pikiran. Lemaskan badan, dan fokus pada gerakan jari tangan saya. Jangan khawatir, jangan cemaskan apa pun.”
Rendy malah terpikir akan praktik membuka mata batin yang sering dilihatnya dalam film dan acara mistis. Sang dukun, paranormal atau apalah sebutannya selalu berkomat-kamit membaca mantra, mengusap kepala target, bahkan ada yang sampai menyemburkan air dari mulutnya ke wajah. Rendy berharap Donovan takkan sekurang ajar itu.
Dan rupanya memang tidak. Alih-alih, Rendy malah merasa sedang dipijat oleh pegawai pangkas rambut langganannya. Sentuhannya halus, terkadang menekan dalam di beberapa titik kepala. Lebih seringnya Donovan membuat gerakan memutar di pelipis sampai ke kening, terus turun ke kelopak mata yang terpejam.
Disentuh di kepala sama orang yang baru dikenal, pikir Rendy, gue harap anak ini gak megang yang aneh-aneh sebelumnya, dan harusnya gue suruh dia cuci tangan dulu tadi.
Proses itu untungnya berlangsung cepat. Tak sampai lima menit, Donovan menarik tangannya menjauh dan meminta Rendy membuka mata.
Mendadak saja, satu titik di dalam kepalanya berdenyut nyeri. Rendy bangun terduduk dan mengerjapkan mata. Ia merasa terdisorientasi, pening dan mual. Matanya yang telah membuka tak menangkap sesuatu yang aneh … seperti arwah Torro misalnya. Denyutan di kepalanya malah lebih menjadi-jadi.
“Aduh,” keluh Rendy, tangannya bergerak mengusap kepala, berharap dapat meraih sumber rasa sakit itu.
“Mas?” tanya Anggi khawatir di sebelahnya. “Mas Rendy gak apa-apa?”
“Kepala Mas agak nyeri,” Rendy mengaku. “Apa ini efeknya? Kok Mas gak lihat ada yang aneh-aneh? Mana Torro?”
Sialan, batin Rendy memaki. Ternyata ia memang sedang dikerjai, tapi kemudian dirinya melirik Donovan, siswa SMA itu mengamatinya dengan hidung mengernyit.
“Efek dari membuka mata batin kadang-kadang emang begitu buat sebagian orang,” katanya yakin tak yakin. Rendy lalu memelototinya dan suara Donovan terdengar lebih mantap. “Ma-maksudnya, saya yakin prosesnya dimulai pelan-pelan untuk kasus Kakak ini. Mata batin Kak Rendy perlahan terbuka, cuman butuh sedikit penyesuaian. Tunggu aja … mungkin beberapa jam.”
Rendy memaksakan bangkit berdiri dan langsung sempoyongan, kakinya seolah kesulitan berpijak dengan kukuh. Anggi membantu dengan cara memegang sebelah legannya. “Mas beneran gak apa-apa, kan?” tanyanya makin kalut. “Mas Rendy mau ke mana?”
“Kepala Mas pusing banget, Dek,” aku Rendy yang kini mulai menepuk-nepuk kepalanya, jengkel karena denyutan itu tak kunjung hilang. “Kalau ini emang efeknya, Mas mau tiduran di kamar dulu beberapa jam.”
Anggi maupun Donovan tak berusaha mencegahnya. Rendy berusaha berjalan lebih mantap menuju tangga, samar-samar di belakangnya ia mendengar Donovan menenangkan kegelisahan Anggi dan menyarankan gadis kecil itu membiarkan Rendy sendirian sejenak.
Bagus, gue butuh itu sekarang.
Di kamar Rendy langsung melemparkan dirinya ke atas ranjang. Ia berbaring dalam posisi tengkurap, kedua tangannya merengkuh kepala. Denyutan dan rasa pening masih terasa, tapi anehnya ia jatuh tertidur hampir seketika.
Arti waktu menjadi kurang berarti saat seseorang terlelap, begitulah yang dirasakanya kini. Entah jam berapa, atau sudah berapa lama Rendy tertidur, saat ia mendengar pintu kamar dibuka dan suara ibunya berseru, “Ya ampun, Nak. Mamah minta kamu jaga di bawah padahal, kok malah tidur. Di jam segini lagi, pamali tahu! Ayo, bangun!”
Rendy tak membuka matanya sedikit pun saat menjawab, “Entar, Mah. Kepala Rendy mendadak pusing banget ini.”
Serta merta suara Puspa mengandung kecemasan. “Pusing kenapa? Sakit? Kamu demam, Ren?” Sebuah sentuhan lembut mendarat di kening Rendy, lalu Puspa bergumam, “Gak panas tapi. Mau periksa ke dokter? Atau Mamah bawain obat pereda sakit kepala aja, ya?”
“Gak perlu, Mah.” Mata Rendy masih saja terpejam. “Mungkin cuman perlu ditidurin aja sebentar, nanti juga mendingan.”
Mendengar kekhawatiran yang sunggung nyata dalam suara ibunya, Rendy tergoda untuk menceritakan semuanya: Bahwa ia tadi mengikuti proses membuka mata batin oleh seorang anak indigo yang tak memiliki sertifikat resmi dan belum diakui negara, dan kepalanya jadi pusing sebagai efek dari ritual tersebut. Oh ya, membuka mata batin tujuannya supaya Rendy bisa melihat hantu Torro yang bergentayangan di rumah ini. Hebat sekali.
Tentu saja, akhirnya Rendy memilih tutup mulut.
“Kamu gak apa-apa kan kalau Mamah tinggal sebentar?” tanya Puspa kalut. “Mamah mau nganterin Donovan---temennya Anggi pulang. Anggi ikut juga sekalian beli makan malam.”
“Iya, Mah. Pergi aja. Rendy gak masalah ditinggal sendiri.”
Padahal Rendy berharap Donovan tak cepat-cepat pergi. Anak aneh itu harus bertanggung jawab kalau sampai sakit kepala yang Rendy derita tak kunjung mereda.
Ketidaksadaran menghinggapi Rendy kembali setelah Puspa pergi. Tidur yang nyaman dan pulas. Selanjutnya ketika ia terbangun, sakit kepalanya telah menghilang. Denyut menyakitkan dalam kepalanya raib. Kondisi tubuhnya bugar, hanya menyisakan rasa lapar dan haus.
Rendy bangkit terduduk dan mengucek-ngucek mata. Bersyukur tak lagi merasakan sakit. Untuk sesaat ia melupakan alasan dibalik munculnya rasa sakit itu. Ia malah fokus memikirkan rumah yang sunyi, betapa ia sedang sendirian. Ibu dan adiknya pasti belum kembali sejak pergi mengantar Donovan pulang. Rendy harap ibunya membawa banyak makanan enak untuk kudapan malam.
Sekonyong-konyong terdengar suara seorang pria berkata, “Akhirnya lo bangun juga, Ren.”
Tubuh Rendy terlonjak dan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh ke arah sumber suara dan seketika menjerit histeris.
Salah kalau Rendy berpikir ia hanya seorang diri, karena kini ada sesosok pria berdarah-darah yang mengamatinya sambil duduk di kursi dekat belajarnya.
***