Sejak kemarin, Rendy sudah menyesali pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Anggi. Seharian tadi ia telah mencoba merangkai-kata-kata maaf di kepalanya, merencanakan beberapa bujukan seperti hadiah berupa setoples permen jeli, jajanan favorit Anggi, atau ajakan jalan-jalan nonton film animasi ke bioskop.
Kini, diungkit lagi soal topik yang dipertengkarkan kemarin, dan ditambah sosok Donovan yang bagi Rendy adalah pihak luar, membuatnya jadi gusar dan niatan untuk meminta maaf itu musnah seketika.
“Dek, tolonglah,” protesnya sambil menggertakan gigi, lalu menghela napas demi memanen kesabaran. “Kita gak perlu bahas ini lagi, udah gak penting buat dibicarain.”
Raut wajah Anggi menjadi suram, sama persis seperti kemarin. Kulit di sekitar pipi dan matanya memerah, seperti hendak menangis. “Mas Rendy harus percaya sama Anggi! Mas Torro ada di sini beneran! Anggi enggak mau berhenti bahas ini sampai Mas percaya!”
“Anggi bicara sejujurnya,” lanjut Donovan meyakinkan, nada suaranya lebih tenang dan penuh perhitungan. “Tujuan utama saya diundang datang ke sini, adalah supaya ikut membantu meyakinkan Kak Rendy kalau semua itu benar. Roh mendiang Kak Torro lagi ada bersama kita sekarang.” Jari-jari Donovan yang kurus kembali menujuk TV, atau setidaknya ruang hampa yang menjadi pemisah antara Rendy dengan televisi. “Kak Torro sendiri yang minta saya datang, beliau tahu kalau Anggi seorang gak cukup untuk bikin Kakak percaya.”
Rahang Rendy mengeras. “Bisa kalian berdua berhenti ngomongin hal yang yang gak masuk akal seperti itu? Apa buktinya kalau dia,” tangan Rendy melambai pada udara kosong, “beneran ada di sana?”
Donovan memperhatikan dirinya sejenak, lalu Anggi kemudian sesuatu di tengah-tengah udara. “Kak Rendy,” katanya agak kaku lalu menunduk memainkan kuku-kuku jari, “biasanya saya jarang mengakui ini secara terang-terangan, tapi demi Anggi …,” Matanya kini menatap lurus pada Rendy. “Saya ini indigo, saya punya bakat lebih; kemampuan khusus melihat hantu, roh dan semacamnya. Anggi---adik Kakak juga punya bakat itu. Justru karena inilah kita bisa berteman, sama-sama punya kemampuan yang … unik. Kita berdua ngomong yang sebenarnya sekarang.”
Entah di mata orang lain, tapi Rendy berusaha kuat untuk tetap kelihatan tenang. Padahal kenyataannya pengakuan Donovan membuat beberapa hal yang terasa aneh jadi masuk akal kini, yang lantas membuatnya teringat mimpi-mimpi yang menghantuinya beberapa malam terakhir: sosok Torro yang berdarah-darah, berteriak tanpa suara seakan hendak menyampaikan sesuatu. Apa mimpi itu sunggung-sungguh sebuah pertanda?
“Kasih saya bukti,” ucap Rendy keras kepala. “Kalau Torro beneran ada di sini, suruh dia … ngomong atau gerakin benda-benda atau apalah.”
Sebuah senyum tertahan kini bermain-main di mulut Donovan, bahkan Anggi juga sudah tak terlihat marah---melainkan antusias, tetap berdiri tak menggerakan tubuhnya karena tegang.
Sambil memaju-mundurkan tubuhnya Anggi berkata, “Mas Torro gak bisa ngelakuin itu meski pun mau.”
“Kenapa gak bisa?” Rendy menyangsikan. “Di film-film horor hantu bisa ngelakuin itu.”
Donovan malah tergelak, seakan ia sudah menebak bahwa Rendy akan mengatakan ini dan tertawa karena melihat tebakannya benar. “Konyol banget kalau menyamakan apa yang ada di film sama kenyataan. Roh Kak Torro adalah arwah yang belum sepenuhnya menyeberang ke alam lain, beliau bukan setan, iblis atau hantu gentayangan. Beberapa mahluk kuat … mungkin bisa gerakin benda atau menggangu manusia ‘normal’, tapi itu butuh kekuatan besar dan jarang terjadi.”
Mau tak mau Rendy merasa tersinggung. Apa anak ini baru saja menertawakan cara berpikirnya?
Rendy berdiri. “Kalau begitu gak ada bukti Torro ada di sini, saya gak perlu ladenin lagi ocehan kalian berdua. Lebih baik kalian lanjutin belajarnya.”
Dirinya hendak berjalan pergi, tapi Anggi menahannya di tempat, memintanya agar menunggu.
“Oke-oke,” Donovan menyahut cepat-cepat, kemudian melirik kehampaan di dekat televisi lagi. “Kasih tau sesuatu … yang cuma Kakak dan Kak Rendy tahu. Rahasia punya kalian berdua.”
Hening sejenak. Rendy bertanya-tanya sungguhan apa ia sekarang sedang dikerjai. Ia mencoba membayangkan sebuah sosok yang sedang Donovan ajak bicara, tapi tak ada apa pun di sana selain oksigen dan partikel debu yang memenuhi udara.
“Katanya,” Donovan bicara pelan-pelan, “Kak Torro pernah sembunyi-sembunyi ngambil uang saku Kak Rendy di kamar---yang disembunyiin di belakang lemari baju, dulu waktu Kakak masih SMA. Kak Rendy panik nyari-nyari uangnya, bahkan sampai nuduh Anggi yang ngambil, kenyataannya Kak Torro yang ngambil.”
Bibir Rendy merengut mendengarnya. Ia ingat kejadian itu---beberapa tahun lalu, uang simpanannya hasil menabung dari uang saku hilang tiba-tiba. Ia sempat kelimpungan mencarinya, bahkan berkeluh kesah pada orangtuanya dengan putus asa. Samar-sama ia juga ingat sempat menuduh Anggi sampai menciptakan sedikit pertengkaran. Waktu itu, akhirnya ayahnya yang menengahi, bersedia menggantikan uang yang hilang. Sekarang Rendy merasa geram jika benar Torro-lah yang melakukannya, tapi tetap saja ….
“Itu bukan rahasia betulan,” sergah Rendy menahan kesal. “Semua orang di rumah ini tahu kejadiannya, Anggi bisa aja ngasih tau hal ini ke kamu sebelumnya, dan kalian ngarang cerita soal kalau Torro-lah yang ngambil duit itu.”
Mendadak Anggi memukul pinggang Rendy. Pukulannya terbilang lemah, tapi tetap saja terasa sakit.
“Aduh!” Rendy mengeluh, mengusap-usap sisi tubuhnya.
“Anggi gak pernah ngambil uang Mas Rendy, ya!” bentak gadis kecil itu galak. “Anggi gak mungkin berani ngelakuin itu.” Kemudian ia melirik pada udara kosong di depan TV dan mendesah jengkel. “Nyebelin! Ternyata Mas Torro yang ngambil waktu itu!” Sunyi beberapa detik, kemudian Anggi berseru dengan mata menyala-nyala, “Ih, tapi tetep aja, Anggi sama Mas Rendy jadi berantem gara-gara itu! Mas Torro, nih”
Sisi lain di kepala Rendy menganggap bahwa reaksi Anggi ini lucu, tapi bagian kepalanya yang lebih dominan terheran-heran melihat sikapnya, mengajak ngobrol ruang kosong seolah---yah, seolah-olah memang ada seseorang di sana.
Donovan hanya memutar bola mata, seakan menyaksikan pertengkaran tiga orang bersaudara adalah hal yang terakhir ingin dilakukannya saat ini. “Oke, Kak Torro, kasih tau rahasia yang jauh lebih spesifik. Sesuatu yang … lebih intim---maksudnya, cuma terjadi antara Kakak dan Kak Rendy.”
Rendy masih berdiri, menyaksikan keheningan berlangsung di antara mereka. Tangannya kini mulai mengepal, kesabarannya dalam menghadapi apa pun ini kini nyaris habis. Namun kemudian, ia memerhatikan sesuatu berubah dalam raut wajah Donovan dan Anggi, hampir-hampir emosional, seolah mereka telah mendengar suatu cerita mengharukan.
Mata Anggi bahkan sudah berkaca-kaca. “Mas Torro ….” Suaranya melirih.
Lirikan mata Donovan kini tertuju pada Rendy, ekspresi mukanya melembut. “Kata Kak Torro, beliau minta maaf karena gak bisa nepatin janji bakal pulang ke rumah malam itu. Malam saat Kak Torro meninggal kecelakaan, sebenarnya dia hendak pulang, persis seperti di SMS yang dikirim ke Kak Rendy sebelumnya. Kata-kata terakhir Kak Rendy di sambungan telepon malam itu bikin Kak Torro sadar buat segera pulang.”
Anggi ikutan melirik Rendy, menggigit bibir bawahnya---berusaha keras tak menangis. “Mas Rendy beneran pernah ngomong kalau Mas malu dan kecewa punya saudara kayak Mas Torro?”
Kulit wajah Rendy memucat, mulutnya terbuka. Kata-kata kedua orang di sekitarnya ini telah menghantam telak kesadaran Rendy, mustahil untuk membantah kebenarannya. Kepalan tangannya melemas. Bagaimana bisa Anggi atau bahkan Donovan tahu? Soal SMS yang diterimanya dari Torro malam itu, Rendy tak pernah menceritakan pada siapa pun, dan obrolan terakhirnya dengan Torro terlalu menyakitkan untuk diungkit-ungkit.
Saking terekjutnya Rendy, ia merasa kedua lututnya lemas. Tanpa daya ia duduk lagi di sofa, tertegun memandang area kosong yang sedari dipandangi Anggi maupun Donovan.
Lama sekali Rendy terdiam, ia berusaha meresap fakta bahwa tepat di sana ada Torro kakaknya, orang yang telah meninggal berhari-hari lalu. Kenapa begitu sulit baginya untuk percaya?
“Dia beneran ada di sana?” Rendy akhrinya bersuara, tercekat. “Mas Torro?”
Tenggorokan Rendy serasa tersumbat dan kedua matanya panas. Anggi kini terisak-isak, duduk di sampingnya, memeluk pinggang Rendy dan membenamkan wajah di bahunya.
Donovan tersenyum miring. “Itulah yang sedari tadi saya coba katakan. Kak Torro ada di sini, sangat ingin berbicara langsung sama Kak Rendy, bahas banyak hal.”
Rendy memaksakan diri menunduk, menatap puncak kepala adik kecilnya lalu menoleh pada lelaki itu. “Tapi … gimana caranya? Saya gak bisa lihat dia, apalagi dengar suaranya.”
Senyum Donovan makin lebar, puas karena obrolan telah sampai di poin utama. “Itulah kenapa saya diminta datang kemarin, untuk membuka jalur komunikasi antara kalian.” Ia menggeserkan badannya makin dekat. “Kalau Kak Rendy bersedia, saya bisa buka mata batin Kak Rendy.”
Sesuatu mendadak membuncah di dalam d**a Rendy, dan ia menyadari betul apa itu: rasa takut.
***