38. Perdebatan Tengah Hari

1960 Words
“Ngapain Papah kemari?” tanya Rendy yang tak bisa menutupi keheranannya. Ayahnya balik menatapnya dengan kening berkerut. “Apa maksudnya? Ini kan masih rumah Papah juga.” Rendy mengganti tumpuan kakinya dengan gelisah. Dengan dalih memalingkan muka karena jengah, Rendy melirik pada sosok Torro yang tak bisa dilihat ayahnya. Sang hantu juga sama terkejutnya dengan kedatangan mendadak pria ini, Torro tak banyak bicara. “Rendy pikir …. Rendy kira Papah gak akan pulang.” Dirinya masih belum berani membalas tatapan langsung pria di hadapannya. “Mamah bilang kalian gak akan tinggal serumah buat sementara.” Tak ada jawaban langsung. Ayahnya menghela napas beberapa kali sebelum berkata, “Papah hanya mampir sebentar, sekedar ngecek keadaan anak-anak Papah sendiri gak masalah, kan?” Pertanyaan itu bukan hal yang harus dijawab secara langsung. Rendy mengangkat sebelah bahunya tanpa daya. “Jam segini Anggi masih di sekolah. Papah seharusnya mampir agak sorean.” Akhirnya ia beranikan diri mengangkat kepala, memandang langsung pada sosok pria yang telah membesarkannya. Rendy termukan seulas senyum tipis di bibir sang ayah, “Papah tahu,” kata Roy dengan lembut. “Tapi kamu juga kan anak Papah, Ren.” Pria itu lalu mengajak putranya agar duduk santai di sofa yang berbeda, selama beberapa detik fokus mendengarkan berita kecelakaan lalu lintas yang disiarkan di layar televisi. Mau tak mau keduanya meringis, teringat pada mendiang Torro. Rendy berusaha keras agar tak melirik sang kakak yang kini duduk di sofa yang sama dengannya. Semenit … dua menit … tiga menit … sampai nyaris lima belas menit berlalu, dan Roy tak berkata apa-apa lagi. Rendy gemas dibuatnya. Ayahnya datang ke sini pasti memiliki alasan khusus, tak mungkin pria tua itu mau-maunya menyempatkan diri mengecek keadaan Rendy pada jam sibuk kerja seperti ini. Memandang wajah ayahnya, perasaan Rendy jadi kalut. Diingat lagi olehnya tentang kasus KDRT, kini Rendy tak merasakan adanya kemarahan. Hanya kecewa. Kekecewaan ini justru berefek lebih buruk dari sekedar ledakan amarah biasa. Hatinya menemukan ia dalam keadaan berharap semoga ayahnya bisa segera pergi, melanjutkan dunianya sendirian. Rendy tak tahan harus berdekatan dengan ayahnya terus-terusan. “Papah khusus datang ke sini buat kamu,” kata Roy kemudian, ia melirik putra satu-satunya yang masih hidup. “Mamah kamu ngabarin kalau kamu sempat sakit semalam. Gimana keadaan kamu sekarang?” Sesaat Rendy melongo. Ibunya memberi tahu hal itu pada ayahnya? Mereka masih berhubungan---berbagi kabar? Hati Rendy menghangat, setidaknya sampai ia teringat bahwa ibunya sedang tak berada di rumah. Lagi ada beberapa urusan, kata Puspa tadi sebelum berangkat. Apa itu hanya akal-akalan? Mungkin kah kedua orang tuanya merencanakan hal ini? Puspa sengaja pergi lama karena tahu Roy akan menyambangi rumah? Bisa saja itu benar, keduanya semata-mata berencana begitu karena belum mau bertemu muka secara langsung. “Hmm, mendingan, Pah,” Rendy memaksakan diri menjawab. “Gak terlalu parah kok sakitnya semalam, Mamah aja yang terlalu berlebihan nanggepinnya.” Rendy terdiam sebentar. “Papah emangnya hari ini gak kerja?” Roy menunduk mengamati jari-jemari tangannya yang terkait. “Kerja, Papah izin keluar sebentar biar bisa datang kemari.” “Papah gak seharusnya bertindak begitu, tinggal hubungi lewat telepon kan bisa.” Sulit mempercayainya, tapi Rendy bertanya-tanya apa ayahnya merasa bersalah dengan keadaan sulit yang ada hingga bereaksi demikian? “Papah gak usah khawatir, Rendy sehat-sehat aja.” Roy tak terkesan menjadi rileks ditenangkan seperti itu. Malah kini kulit di sekitar keningnya berlipat-lipat. Mulutnya terbuka. “Ren, ada yang Papah mau omongin sama kamu, ini soal---” Kalimat yang diucapkan terhenti di tengah-tengah, disela oleh dering bel rumah yang berbunyi lantang. “Siapa yang datang?” gumam Roy. Diliriknya Rendy. “Kamu lagi nunggu seseorang?” Sialan. Rendy merutuki dirinya sendiri, Ia berani bertaruh bahwa yang datang kali ini benar-benar Ruslan. “Rendy buka pintu dulu, Pah,” katanya yang tak benar-benar menjawab pertanyaan ayahnya. Kakinya berjalan cepat menghampiri pintu dan membukanya. Benar saja. Di hadapannya kini, berdirilah Ruslan yang masih mengenakan helm. Tubuh besarnya dilapisi jaket kulit, celana berbahan tebal dan sepatu. Pria itu menggendong ransel di punggungnya, satu tangannya menjinjing sebuah wadah persegi panjang yang Rendy duga adalah alat-alat permesinan. Perlengkapan seorang mekanik ketika akan menghadapi sebuah mesin rusak. “Ren,” sapa Ruslan tersenyum lebar. “Sorry, gue udah berusaha datang secepatnya. Jadi di mana motor … nya.” Senyum itu pupus kala Ruslan melirik ke balik bahu Rendy. Yang Rendy tak sadari, bahwa ayahnya telah membuntutinya. Roy menatap nyalang pada tamu baru itu. “Ngapain lagi kamu kemari?” Rendy berjengit dibuatnya. Apa ayahnya harus seterbuka itu memperlihatkan rasa tak sukanya pada teman dekat Torro ini? Kulit wajah Ruslan memucat---takut dan panik. Lalu matanya melirik pada Rendy dengan tatapan menuduh, pasti mengira bahwa Rendy telah berbohong perihal sedang tidak adanya kehadiran Roy di rumah ini. “Eh, Om ….” Merasa adanya ketegangan yang merambati udara, Rendy berbalik badan agar dapat melihat ayahnya. Muka Roy memerah, dengan bibir yang nyaris masih tertutup ia berkata, “Saya udah peringatkan sebelumnya! Jangan berani-berani lagi datang kemari dengan alasan apa pun!” “Pah!” Rendy menyela, getir melihat betapa kasarnya sikap pria itu. “Bang Ruslan ke sini atas permintaan Rendy. Rendy minta bantuan dia buat perbaiki motor Mas Torro yang rusak di garasi.” Kemarahan tak lantas surut di wajah pria berumur itu, hanya sedikit mereda. Raur wajah kebingungan kini terpatri di sana selagi menoleh pada Rendy. “Kamu berniat perbaiki motor kakak kamu? Sengaja? Buat apa?” Tak ada jawaban yang bagus untuk itu. Atau setidaknya tak ada jawaban yang bisa Rendy paparkan tanpa dianggap sinting. Ayahnya tahu betul bahwa ia tak pernah bisa menggunakan motor, pilihannya untuk mereparasi motor jelas akan dianggap aneh. Tak luput dari perhatian Rendy, bahwa arwah Torro berada tak jauh di sana, mengamati ketegangan yang terjadi. Torro berharap kakaknya itu bisa ada gunanya kali ini, sekedar memberi saran atas apa yang harus Rendy katakan. Kenyataannya Torro tak berucap apa-apa, seolah menganggap bahwa situasi ini mampu Rendy hadapi seorang diri. Akhirnya Rendy hanya bisa berkata, “Rendy cuman berpikir, mungkin Mas Torro di alam sana bakal senang kalau motor kesayangannya diperbaiki.” Nah, itu alasan yang aman, dan terbaik yang bisa Rendy ucapkan. Setidaknya dengan alasan itu ayahnya hanya akan menganggap sikap Rendy sebagai suatu proses sembuh dari rasa duka belaka. Sikap emsional seorang adik yang ingin mengenang kehidupan saudara lelakinya yang telah tiada. Raut wajah Roy lantas melembut. “Kita harus banyak bicara, Nak. Terus tolong suruh orang ini pergi secepatnya.” Ayahnya pun lekas membalikan badan dan berjalan ke arah dapur, dengan gerak tubuh yang mengisyaratkan bahwa Rendy harus ikut, untuk berbicara empat mata. Di lain sisi, Ruslan tetap berdiri di tempat dengan gelisah. “Rendy, mungkin sebaiknya gue pergi aja sekarang.” “Eh gak usah, Bang,” Rendy berkata cepat-cepat. Merasa tak enak hati karena tamu yang diundangnya untuk mampir malah diperlakukan seperti tadi. “Lo udah terlanjur jauh-jauh datang. Sorry atas sikap bokap gue barusan, dia baru aja datang. Sumpah, gue gak bohong! Dia mendadak pulang.” Ruslan hanya tersenyum. Meragukan alasan Rendy, tapi tak mempermasalahkannya lebih jauh. “Oke lupain aja. Jadi, di mana motornya?” Rendy menuntun Ruslan memasuki garasi dan memperlihatkan bongkahan mesin yang teronggok di salah satu sudut ruangan. Segera saja Ruslan bersikap profesional, meneliti tiap bagian motor sampai detil terkecil. Rendy bertanya-tanya dalam hati apa Ruslan merasa jeri atau ngilu, mengingat motor itu adalah milik temannya yang telah meninggal. “Emm, Bang? Gue tinggal sebentar gak apa-apa, ya?” Rendy berkata ragu. “Gue ngurus bokap dulu.” “Oh iya boleh aja.” Ruslan tak mengalihkan pandangannya saat berbicara. “Gue tetap di sini, coba ngukur kerusakannya dan apa yang bisa gue perbaiki buat sekarang.” Roh Torro yang berdiri sangat dekat dengan temannya mengangguk setuju. “Gue bakal di sini, Ren. Lo urus Papah dulu gih.” Ingin benar rasanya Rendy berteriak pada sosok hantu itu. Seenaknya Torro memerintah ini-itu padanya, tapi Rendy terpaksa mengikuti. Sewaktu Rendy memasuki dapur, ia melihat ayahnya sedang berdiri, menyandarkan punggungnya pada konter bak cuci piring. Tangannya bersedekap, terlipat di depan d**a. Alisnya yang tebal bertaut, tampak sedang berpikir kerasa pada sesuatu. Rendy sampai harus menyapa terlebih dulu agar pria itu sadar bahwa dirinya telah datang. “Ren, Nak! Kemari!” Rendy mengikuti, berhenti berjalan di depan lemari pendingin. Roy mulai berkata, “Papah benar-benar gak suka kalau kamu mulai bergaul sama anak tadi.” Kritikan ini tak mengejutkan Rendy. Ia sudah tahu sejak awal. “Bang Ruslan maksudnya? Dia orang baik kok, Pah.” “Baik katamu? Ruslan itu penyebab Torro jadi anak liar! Bawa pengaruh buruk ke mendiang kakakmu dulu! Kamu harusnya lebih pintar dalam memilih pergaulan.” Rasanya aneh diceramahi begini ketika ayahnya sendiri memiliki kesalahan yang tak dapat Rendy abaikan begitu saja. Namun, Rendy tetap berusaha bersikap diplomtasi. “Pah, tolong jangan salahkan terus orang lain atas apa yang terjadi sama Mas Torro. Lagian Rendy gak berteman sama Bang Ruslan. Udah dibilang tadi, Rendy cuma minta bantuan---” “Buat perbaiki motor?” potong ayahnya dengan nada tak mengerti. “Gak ada manfaatnya, Nak. Kalau kamu mau punya motor sendiri, nanti coba Papah carikan. Mungkin motor bekas, tapi Papah jamin kondisinya masih layak pakai.” “Bukan itu intinya!” seru Rendy putus asa. Sekali saja Rendy ingin ayahnya mengerti akan perasaannya, tapi Rendy pun tak mungkin bisa berkata jujur. “Terus apa intinya?” ayahnya menantang, nada suaranya mengandung rasa sabar yang kian menipis. “Papah gak mau kamu sia-siakan banyak waktu buat jalanin sesuatu yang sia-sia---seperti kakakmu dulu. Apalagi sampai buang-buang uang. Perbaiki motor serusak itu butuh biaya yang besar.” Mata Roy kian menyipit. “Papah gak mau dengar kamu nyalahgunain tabungan pendidikan buat ini.” “Rendy janji gak akan begitu.” Saat mengatakannya, hati kecil Rendy justru meragukan dirinya sendiri. Ayahnya benar, mereparasi motor Torro memerlukan banyak modal, dari mana Rendy dapat memilik uang sebanyak itu? Tapi Torro sempat berkata bahwa uang tak masalah …. Yah, kalau dipikir-pikir lagi, uang memang bukan masalah kalau kau hanya sesosok hantu. Tiba-tiba saja Rendy menyesal karena menurut pada apa yang Torro perintahkan. Rendy mulai berkata, “Pokoknya Papah tenang aja. Rendy masih bisa berpikir bijak kalau menyangkut masalah uang. Seandainya biaya perbaikannya nyentuh nominal jutaan, Rendy bakal batalin rencana perbaiki motornya.” Di mata ayahnya, Rendy dapat melihat bahwa pria itu mempercayai ucapannya. Ini salah satu keuntungan jadi anak yang penurut dan jarang menimbulkan masalah. Terkadang begitu mudah bagi Rendy meyakinkan orang tuanya akan apa yang menjadi pilihannya. “Kamu juga harus janji, Nak,” pinta Roy kemudian. “Udah cukup sekali aja kamu hubungi anak itu. Setelah ini jangan berteman atau bergaul sama dia lagi.” Tak peduli seberapa besarnya Rendy ingin menuruti perintah itu, sisi egois dalam dirinya menjeritkan protes. Ia menggeleng. “Enggak bisa, Papah gak bisa minta Rendy menjanjikan hal kayak begitu. Rendy udah dewasa, punya hak sendiri berteman sama siapa aja.” Roy mendesah berat, sekali ini pria itu tampak kehabisan kata-kata. “Ucapan itu juga yang mendiang kakak kamu katakan waktu dia mulai terjerumus ke pergaulan yang salah.” Matanya nanar menatap sosok Rendy. “Papah gak mau kamu mengikuti jejak yang salah seperti Torro dulu, Papah gak sudi lihat kamu tersesat ke jalan yang salah.” Suasana menjadi hening. Dalam kesunyian yang berlangsung sebentar tersebut, Rendy jadi lebih mawas pada penampilan ayahnya secara keseluruhan. Pria tua itu, tampak makin … yah, tua. Terkesan amat kelelahan dan putus asa. Matanya yang masih tajam menampakkan kesenduan, kesedihan dan kegetiran yang kadang Rendy luput perhatikan. Rasa kecewa yang Rendy pendam mungkin mengaburkan penilaian tersebut sebelumnya. Namun, Rendy kini paham bahwa ayahnya juga salah satu korban. Korban dari kondisi yang tak menentu, keadaan hidup yang berjalan tak seperti apa yang diharapkan. Korban kesedihan atas meninggalnya Torro. Hati ayah mana yang tak hancur mengetahui hidup salah satu anaknya telah berakhir begitu cepat? Jauh di lubuk hati, Rendy merasa secercah perasaan malu dan bersalah. Setelah mendengar kasus KDRT, ia sudah sangat siap mendepak pria di hadapannya ini dalam hidupnya. Sudah berencana meninggalkan ayahnya dan bertahan hanya dengan Anggi dan ibunya. Seolah-olah, hidupnya akan tetap baik-baik saja meski tanpa figur ayah. Rendy kini sadar bahwa pemikiran itu keliru. Ayahnya masih peduli dan membutuhkan dirinya, dan dengan cara yang belum diketahui, Rendy pun membutuhkan sosok pria itu. “Papah jangan khawatir,” Rendy berkata semantap dan selembut mungkin. “Rendy gak akan mengikuti jejak kesalahan Mas Torro dulu.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD