Pada malam terjadinya kecelakaan lalu lintas yang menewaskan Torro, motor yang dikendarainya rusak parah karena dihantam badan truk serta terbanting ke aspal jalanan.
Namun, ponsel Torro di saku jaketnya---anehnya---berhasil bertahan. Masih menyala, bahkan tetap berfungsi dengan baik, hanya layarnya saja yang agak retak sedikit.
Rendy ingat, selama beberapa hari ponsel itu ditahan oleh kepolisian selama proses olah TKP dan penyelidikan berlangsung. Barulah setelah kasus ditutup ponsel Torro dikembalikan ke keluarganya.
Roy dan Puspa---ayah dan ibunya---mengaku tak berminat menyimpannya, barangkali merasa adanya hubungan sentimentil mengingat telepon genggam itu milik salah satu putra mereka yang baru meninggal. Anggi sendiri tak diperbolehkan memilikinya, karena anak perempuan itu belum diizinkan mempunyai ponsel sendiri.
Maka ujung-ujungnya Rendy-lah yang dipercaya untuk memilikinya. Sejujurnya? Rendy sendiri tak keberatan memiliki ponsel lebih dari satu.
Namun HP Torro itu pada akhirnya jarang terpakai. Rendy lebih sering menyimpannya di sudut laci meja belajar dalan keadaan mati. Ia hanya mengambil kartu SIM dan kartu memorinya dan dipasangkan di ponsel kepunyaannya sendiri. Alhasil semua koleksi lagu, video dan kontak telepon di HP Torro kini berada di dirinya.
Jadi, ketika Torro meminta Rendy menghubungi Ruslan, Rendy sudah memiliki nomor ponsel cowok itu. Meski pun dirinya tak pernah menghubungi Ruslan sekali pun sebelumnya.
Ketika Rendy mencoba menelepon, dirinya dan Torro sudah berada di dalam ruang garasi, memandangi motor hitam rusak seolah-olah benda itu adalah pasien gawat darurat yang tengah menunggu kedatangan dokter secepatnya. Mengingat apa pekerjaan Ruslan, persamaan tersebut tak begitu jauh bedanya.
Menurut cerita Torro, Ruslan adalah seorang mekanik handal, memiliki usaha bengkel motor sendiri yang sudah berjalan dua tahun lebih. Torro teramat yakin bahwa sahabatnya itu memiliki komponen motor yang tepat untuk memperbaiki kerusakan motor miliknya. Kepercayaan Torro pada sahabatnya itu begitu besar sampai Rendy tak merasa kesulitan untuk diyakinkan.
Percobaan sambungan tak terangkat beberapa kali, hingga pada akhinya di sambungan ke lima, panggilan telepon terjawab.
“Hmm, halo?” Suara berat seorang pria di seberang panggilan memulai.
Rendy langsung mengenali suara itu. “Oh, halo, Bang Ruslan. Ini gue, Rendy.”
Ruslan tak segera menjawab, nada suaranya setengah mengantuk saat akhirnya berkata, “Rendy? Rendy yang mana, ya?”
“Speakernya gedein, Ren,” pinta hantu Torro di sebelahnya, berharap dapat mendengar juga suara temannya.
Rendy menuruti, lalu berkata dengan ponsel yang berada tepat di depan mulut, “Gue Rendy adiknya Torro.”
“Oh.” Serta merta suara Ruslan terdengar penuh kesadaran, seakan ‘adik Torro’ adalah seseorang yang harus ia tanggapi secara serius. “Rendy, iya iya. Ini nomor lo ternyata? Gue save ya. Ada apa telepon gue? Tumben amat.”
Ditanyai seperti itu, Rendy tak lantas menjawab. Ia belum menyusun kalimat apa pun di dalam kepalanya untuk menyatakan apa yang Rendy minta dari Ruslan. Apa tepatnya yang ia harus katakan? Ruslan memang pria baik, sahabat kakaknya dan semacamnya, tapi Ruslan bukanlah teman Rendy. Rendy kesulitan memulai kata-kata.
Tahu akan kebingungan Rendy, Torro menyarankan, “Bilang aja langsung, minta bantuan dia buat perbaiki motor gue.”
Rendy mengangguk. “Anu … gini, Bang, gue mau minta bantuan ….”
Benak Rendy berpacu, haruskah ia berkata sejujurnya bahwa roh Torro yang menyuruhnya meminta bantuan? Tidak, tentu saja tidak. Ruslan pasti akan menganggapnya gila.
“Ya?” Ruslan memancing. “Bantuan apa, Ren?”
“Bantuan buat perbaikin motor.”
“Oh,” Ruslan terdiam lagi beberapa detik. “Motor punya lo?”
Karena kakinya terasa pegal harus terus berdiri, Rendy menekuk lutunya dan berjongkok. Punggungnya ia sandarkan ke dindin terdekat. “Bukan, motor punya kakak gue, Mas Torro. Yang rusak parah itu.”
Ruslan terbatuk-batuk. “Lo serius? Motor gede yang … beliau pake pas kecelakaan itu bukan?”
“Iya, motornya ada di rumah gue, di ruang garasi. Gue pikir mungkin ada baiknya motor itu dibenerin, bisa aja nanti gue pake atau … dijual.” Rendy abaikan pelototan yang dilemparkan Torro padanya. Sekarang sudah jelas bahwa mendiang sang kakak tak pernah berniat menjual benda kesayangannya tersebut.
Hampir satu menit setelahnya Ruslan membisu. Rendy lanjut berkata, “Gimana, Bang? Bisa gak? Lo bisa mampir ke sini sebentar buat ngecek kondisinya dan tingkat kerusakannya atau apalah. Torro sih yakin lo bakal mampu benerin semuanya.”
Mulut mendiang Torro menyeringai, awalanya Rendy tak tahu apa alasannya---tapi sedetik kemudian ia paham.
“Hah?” Ruslan kebingungan. “Torro bilang gitu? Kapan?”
Jelas Rendy tergagap dibuatnya. “Eh---maksudnya---anu, gue yakin lo bisa perbaikin kerusakan motornya. Torro bilang---waktu dia masih hidup, dulu---kalau lo ini mekanik jagoannya apalah. Gue gak punya kenalan mekanik lain selain lo.”
Ya ampun, seni bersilat lidah dirinya payah sekali, Rendy membatin. Mekanik motor jagoan apaan? Dan satu-satunya yang Rendy kenal? Mustahil, ia bisa saja mampir ke bengkel terdekat kapan pun dan berkenalan dengan beberapa montir yang bekerja di sana.
Dan juga, kenyataannya semasa Torro masih hidup, pria itu tak pernah memberi tahu apa-apa soal Ruslan. Rendy praktis baru mengenal Ruslan setelah Torro meninggal dunia.
“O-oke.” Ruslan ragu-ragu, pasti bisa merasa ada yang tidak beres. “Gue bakal coba mampir … nanti siang paling. Eh, tapi … bokap lo lagi gak ada di rumah kan, Ren?”
Mulut Rendy meringis, bahkan Torro juga bereaksi serupa. Ruslan pasti belum melupakan kemarahan seorang Roy Rahmadi padanya tempo lalu---pada kunjungan terakhirnya ke rumah ini.
“Gak ada.” Rendy meyakinkannya. “Bokap gue lagi pergi. Gue sendirian di rumah.”
“Baguslah kalau gitu.” Terdengar Ruslan mengembuskan napas lega. “Oke, nanti siang gue bakal ke sana.”
“Sip, gue tunggu.” Rendy kepikiran untuk bertanya jam berapa tepatnya Ruslan akan datang, tapi cowok itu sudah terlanjut memutuskan sambungan telepon.
Rendy menekan tombol di pinggir ponsel untuk mengunci layar, lalu memasukkannya ke saku celana. Diliriknya Torro. “Udah puas, kan? Lo udah dengar barusan, dia bakal datang.”
Torro mengacungkan kedua jempol tangannya dan mengedip penuh arti. Sosoknya mulai bergerak memutari motor berulang kali, memeriksa tiap bagian. Ia kemudian mencoba lagi berusaha menyentuh sebuah komponen---yang lagi-lagi gagal.
Sang hantu mendesah. “Seandainya gue bisa megang benda padat sebentar aja, pasti gue bisa benerin sendiri. Lo lihat kan, Ren? Kerusakannya gak parah-parah amat, tinggal ganti body, peretelin mesin dalamnya, ganti perseneling, rotornya udah karatan, terus kaca spion ….”
Detik-detik selanjutnya Rendy hanya bisa terdiam mendengarkan, meski pun dirinya tak paham apa yang sedang hantu itu bicarakan. Rendy juga berpikir bahwa kakaknya ini terlalu menganggap enteng permasalahan. Bagi Rendy yang tak memahami otomotif saja, ia tahu bahwa tingkat kerusakan bangkai besi tersebut termasuk parah.
Ketika Torro mulai menjelaskan soal pergantian mesin, velg dan baut, Rendy memutuskan untuk menyela. “Lo tahu kan kalau pun motor ini bener lagi, lo gak bisa pake?”
Torro menatapnya jengkel. “Ya terus?”
Rendy mengehela napas, bangkit berdiri dan berkacak pinggang. “Lupain aja. Gue gak demen diam di sini lama-lama natap benda mati. Gue mau sarapan dulu.”
Beranjaklah Rendy pergi meninggalkan ruang garasi. Sekali ini, Torro tak mengikuti.
Mungkin roh orang mati memang selalu terikat dengan benda kesayangannya semasa hidup. Rendy mencoba menjelaskan pada dirinya sendiri kenapa Torro begitu terobsesi dengan motornya. Torro menggemari balapan, kecepatan dan otomotif, barangkali dengan tetap membahas seputar itu, benak kakaknya akan sedikit teralihkan oleh fakta bahwa ia tak lagi dapat mencicipi kehidupan.
Bukan cara yang buruk untuk menikmati sisa-sisa waktu berada di dunia ini, kalau Rendy harus jujur. Toh kalau pun dirinya ada di posisi Torro sekarang, kemungkinan besar Rendy akan melakukan hal yang sama. Berkutat pada hal-hal yang ia sukai saat masih bernapas.
Tanpa adanya Torro yang mengamati, sarapan yang dinikmati terasa santai dan lezat. Bibir Rendy sengaja menelan dan mengunyah pelan-pelan, agar bisa menikmati setiap cita rasa. Menu sarapan yang dipersiapkan ibunya sama persis dengan apa yang diminta Anggi semalam---soto ayam dengan potongan jantung beserta nasi, tahu dan tempe. Tak ada menu yang diminta Rendy, tapi ia takkan mengeluhkan hal itu.
Seusai sarapan, Rendy berbaring santai di sofa ruang tamu---tempat yang sama ketika Donovan menjalankan proses membuka mata batinnya kemarin. Benarkah itu baru kemarin? Rendy agak kaget juga mengetahui begitu banyak yang terjadi semenjak waktu itu. Dunia yang ditinggalinya berubah dalam tempo cepat. Mendadak dan tak diduga-duga.
Rendy memilih channel yang menayangkan berita pagi hari sebagai temannya melewati waktu luang. Ia seharusnya berada di kamar mengerjakan tugas, tapi badannya sedang malas beranjak. Otaknya mencari-cari alasan: Ruslan akan datang tak lama lagi, Rendy harus siaga di dekat pintu utama jika bel berbunyi.
Jauh sebelum bel benar-benar berbunyi, sosok Torro datang menghampirinya lagi.
“Si Ruslan kapan datangnya?” gerutu sang hantu gentayangan. “Kok lama amat.”
Mata Rendy tak beralih dari layar televisi. “Sabar aja. Dia juga pasti punya kesibukan. Kan kita minta bantuan dia mendadak banget tadi.”
Torro tak menjawab, citranya bergeming gelisah dekat TV.
Rendy jadi ikut-ikutan tak sabar. “Lo bisa kan nunggunya gak tepat berdiri di sana? Ganggu konsentrasi gue. Sekali-kali nongkrong aja dulu sama temen-temen hantu lo.” Pemikiran itu agak menakutkan, tapi Rendy juga penasaran. “Maksudnya penghuni di rumah ini, lo pernah ketemu mereka?”
Dirinya mengharapkan pengakuan menegangkan, cerita seru nan horor yang dituturkan mendiang kakaknya. Alih-alih begitu, Torro menggeleng lesu. “Gue gak pernah lihat satu pun sejak gue … yah, lo tahu, meninggal dan berkeliaran sebagai … ini.” Tangan Torro melambai pada tubuhnya sendiri, tak mampu mengucap ‘hantu’ atau ‘roh penasaran’.
“Itu aneh.” Rendy berpendapat bahwa sudah lumrah jika Torro mempunyai kenalan baru dari alam sejenis yang ditinggalinya kini. “Tapi apa yang gue tahu? Mungkin hantu-hantu lain gak mau ngajak lo nongkrong bareng.”
“Haha, lucu.” Ejekan Rendy pasti membuat Torro sebal, karena sosoknya mulai bergerak menuju garasi lagi.
Tapi sebelum benar-benar menembus dinding, bel rumah berbunyi lantang.
“Nah!” seru Torro seraya berbalik badan. “Akhirnya datang juga itu anak. Cepet buka pintunya, Ren!”
Rendy terpaksa bangkit dari posisi nyaman dan berderap ke arah pintu. Ia membuka kunci, menarik pintu hingga terbuka, sepenuhnya menyangka akan melihat wajah sahabat mendiang kakaknya.
Alih-alih, Rendy mendapati sosok ayahnya yang berdiri di sana.
“Pah?” Tatapan mata Rendy melebar karena terkejut.
“Halo, Nak.” Roy Rahmadi tersenyum kikuk, lantas berjalan masuk tanpa dipersilakan terlebih dulu.
Mengingat rumah ini adalah miliknya, sikap itu tak perlu dipermasalahkan. Namun Rendy tetap saja merasa heran. Terlebih lagi, ia belum siap untuk bertemu dengan ayahnya. Tak tahu apa harus bersikap santai, memusuhi atau mengajak damai lelaki tua itu.
Kini, perasaan Rendy malah semakin tak nyaman mengingat bahwa Ruslan juga bakalan datang. Pertemukan ayahnya dengan sahabat Torro itu, dan pagi yang santai bisa sekejap saja berubah menjadi menegangkan.
***