Rendy terbangun dari tidur di pagi hari dan sedikit-banyak berharap bahwa perjumpaannya dengan hantu Torro hanyalah mimpi.
Meski begitu, sisi dirinya yang telah mampu menerima kenyataan menertawakan harapan tersebut, sebab sensasi kengerian nan rasa takut yang sempat dialaminya terlampau nyata untuk sekedar bunga tidur belaka.
Perlahan-lahan kedua kelopak mata Rendy mengerjap. Ia meregangkan badan sendi-sendinya yang kaku, lalu menguap lebar di atas kasur. Tubuhnya terasa lebih bugar, setidaknya tadi malam tidurnya nyenyak sekali---tanpa mimpi, barangkali kompensasi dari hari menegangkan yang dijalaninya. Seolah otaknya berpikir ‘kemarin adalah hari yang menakutkan, bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan, jadi tak perlu ada mimpi buruk malam ini’.
Rendy takkan mengeluh sedikit pun. Sudah cukup di dunia nyata ia harus meladeni kemauan mendiang kakaknya, Rendy tak mau menghadapi sosok Torro---yang berdarah-darah, menjerit tanpa suara---di dalam mimpinya juga.
Akan tetapi sekonyong-konyong bulu kuduknya meremang kala menyadari sosok mendiang kakaknya tengah duduk di kursi meja belajar dekat kasur.
“Pagi, Ren!” sapa arwah itu santai. Kelewat bersemangat.
“Astaga!” Spontan Rendy bergerak menjauh, lalu mengatur napas. “Udah gue bilang jangan ngagetin!”
“Gue gak berniat ngagetin. Udah sejak tadi gue di sini.”
“Ngapain lo di sini?”
“Nunggu lo bangun,” kata Torro dengan rikuh. “Gue kesepian, butuh temen ngobrol. Jadi … ya gue tunggu lo bangun di sini.”
Mengetahui bahwa tidurnya diamati oleh sosok yang telah meninggal terasa tak menentramkan bagi Rendy. Terutama ia menyadari seringkali tubuhnya bergerak dalam tidur. Bagaimana kalau Torro telah menyaksikannya tidur dalam posisi yang memalukan? Rendy putuskan untuk tak memikirkannya.
Tak butuh waktu lama untuk mengamati sosok kakaknya. Penampilan Torro tak ada bedanya dengan kemarin. Itu wajar mengingat sesosok arwah penasaran tak dapat menggunakan waktu luangnya untuk mandi dan berganti pakaian. Hanya saja, citra Torro kini terasa agak kabur. Kalau kemarin malam Rendy melihatnya bagai tubuh padat, kini sosok Torro tampak terbentuk dari kepulan asap dan kabut. Barangkali itu efek sinar matahari yang menyeruak masuk dari arah jendela. Sekarang sang hantu tampak nyaris transparan.
Diliat dari raut wajahnya, Torro tak menyadari itu. Ia terduduk dengan tenang di kursi meja belajar, pantatnya … Rendy tak yakin apa b****g itu melayang juga atau menempel pada alas duduk.
“Lo gak bisa nyentuh barang-barang, kan?” Tahu-tahu saja mulut Rendy melontarkan pertanyaan itu.
“Gak bisa,” jawab Torro cepat. “Gue kan uda ngasih tau itu semalam. Kenapa nanya lagi?”
Kala rasa ngeri di hatinya sudah surut, Rendy bergerak mendekat. Pikirannya terus-terusan mencamkan ‘lo gak harus takut sama sosok ini. Dia roh orang yang udah meninggal. Tapi dia kakak lo. Gak perlu ada yang lo takutin’.
“Cuma penasaran,” aku Rendy sejujurnya. “Kalau secara fisik lo gak bisa nyentuh benda padat, kenapa lo bisa duduk di kursi itu, bukannya harusnya nembus gitu aja? Dan kenapa juga lo bisa pindah ke lantai atas? Logisnya kan badan hantu lo bakal nembus ke lantai bawah.”
“Gue … gak pernah kepikiran soal itu.” Torro pun jadi mengerutkan keningnya kebingungan, juga terheran-heran pada pemikiran logis yang dipaparkan Rendy. Dengan ragu satu tangannya mencoba memegang sandaran kursi, tapi jemarinya segera saja menembusnya. Anehnya, pantatnya yang tak merasakan tekstur alas kursi tetap bergeming, tak tembus jatuh ke bawah. “Kok bisa?”
Sikap Torro terkesan jenaka di mata Rendy. Ia menahan tawa. “Gak perlu lo pikirin juga sih. Mungkin b****g lo emang punya aturannya sendiri, atau … entahlah. Si anak Donovan itu mungkin tahu, gak penting. Lo nunggu gue bangun mau apa? Ngajak ngobrol lagi?”
“Ah … bukan itu tepatnya.” Sosok arwah Torro bangkit berdiri. “Maksudnya, tujuannya emang ngajak ngobrol, tapi bukan cuman itu aja. Bisa dibilang … gue punya permintaan.”
Permintaan? Benak Rendy was-was lagi, sebagai sesosok roh gentayangan, kakaknya ini terbilang banyak maunya.
Sebelum Rendy sempat berkata apa pun, pintu kamarnya diketuk seseorang.
“Ren?” Puspa ibunya berseru dari balik pintu. “Kamu udah bangun?”
Mata Rendy melirik pintu. “Udah, Mah.”
Pintu kamarnya terayun terbuka dan tampaklah Puspa. Tampak sudah siap berpergian dengan polesan kosmetik sederhana dan hijab kuning yang serasi dengan warna baju gamisnya. “Baru bangun? Udah jam segini kok kamu belum siap-siap, emangnya gak akan pergi kuliah?”
Meliriklah mata Rendy ke arah jam terdekat. Pukul setengah delapan pagi. “Oh ….”
Puspa berjalan mendekat. Menatap hanya pada Rendy, tidak ke arah Torro. Rendy harus mengingatkan diri sendiri bahwa ibunya tak dapat melihat keberadaan Torro---yang kini bergeming di tempat mangamati obrolan yang berlangsung.
“Kamu baik-baik aja kan, Ren?” tanya Puspa, masih ada pertanda kecemasan di wajahnya. “Udah gak sakit kepala lagi? Obatnya udah dimakan kan semalam?”
Tangan Rendy bergerak menuju pundak yang terasa gatal dan menggaruknya. “Hmm … udah kok, Mah.” Dirinya berbohong, semalam ia terlalu fokus pada perbincangannya dengan Torro sampai lupa meminum obat apa pun. “Rendy udah baikan, gak sakit apa-apa lagi. Tapi Rendy mungkin gak akan kuliah dulu, istirahat di rumah sehari aja, sekalian beresin tugas.”
Dari sudut mata, Rendy dapat melihat bahwa Torro tersenyum. Seakan senang akan keputusan yang diambil Rendy untuk bolos kuliah. Serta-merta Rendy menyesali perkataannya, tapi enggan menariknya kembali.
“Oh ya udah kalau begitu.” Raut wajah Puspa lebih rileks. “Mamah mau pergi dulu, nganter Anggi ke sekolah sekalian ada beberapa keperluan. Kalau kamu ada apa-apa kabarin Mamah ya.”
“Oke, Mah,” Rendy menimpali. Dalam hatinya ia menyadari: jika dirinya masih berminat untuk menutup mata batinnya lagi, inilah saatnya untuk mendatangi Anggi, meminta gadis kecil itu membawa Donovan lagi ke sini sepulang sekolah. Maka Rendy bisa menyuruh anak lelaki itu menjalankan ritual apa pun agar dirinya tak perlu melihat Torro … untuk selamanya.
Hatinya mendadak terasa berat bagai ditekan baja seberat satu ton. Rendy tak menyukai beberapa sikap Torro, tapi tak begitu membencinya sampai-sampai bersedia tak akan melihat Torro lagi sepanjang sisa hidupnya. Lagi pula, Torro tadi berkata punya permintaan, dan Rendy penasaran untuk tahu.
Juga, dirinya membatin, dengan beberapa penyesuaian ia bisa membiasakan diri dengan keadaan ini. Toh hantu Torro takkan berada di sini untuk selamanya juga, kan?
“Jangan lupa sarapan,” Puspa berkata sebelum berbalik pergi. “Mamah udah siapin semua makanan kesukaan kamu di bawah.”
Rendy berpura-pura semangat---yang tak begitu sulit karena memang perutnya sudah lapar, kemudian ibunya pergi. Barulah setelah telinganya mendengar langkah kaki ibunya menuruni tangga, ia melirik saudara lelakinya.
“Gue senang lo gak pergi, Ren,” kata Torro menyeringai.
Bibir Rendy terkatup rapat sejenak. “Kalau gue berubah pikiran dan mau berangkat ke kampus sekarang, gimana?”
Torro mengangkat bahu santai. “Ya … tinggal gue ikutin lo aja ke kampus. Sama kayak kemarin waktu gue ikut Anggi ke sekolahnya.”
Helaan napas kalah tersembur dari hidung Rendy. Tak dapat dibayangkan bahwa ia harus dibuntuti oleh sesosok hantu selama menjalani kegiatan perkuliahan. Apalagi di perjalanan, mengerikan rasanya membayangaan Torro bersikukuh diboncengi menaiki ojek. “Jadi, apa yang tadi mau lo bilang? Lo punya permintaan apa?”
“Oh ya,” Torro ragu-ragu sejenak. “Gue pengen lo hubungin si Ruslan.”
“Buat apa?”
“Gue pengen lo minta bantuan ke dia buat perbaikin motor di garasi.”
Jelas saja permintaan itu tak diduga Rendy sebelumnya. “Motor gede lo yang rusak parah itu? Ngapain juga dibenerin? Kan gak akan lo pake lagi?”
Sejenak saja Torro terdiam, memikirkan alasannya. “Kalau udah dibenerin bisa lo pake, Ren. Atau … bisa dijual juga. Kan lumayan.”
Nada suara Torro begitu setengah hati kala mengatakan ‘dijual’, seakan itu adalah hal terakhir yang diinginkannya. Ada hasrat mendamba juga yang Rendy tangkap, ia menduga Torro sekedar berharap bahwa benda kesayangannya itu berfungsi dengan baik lagi. Bahkan kembali menunggangi motor tersebut jika keadaannya masih memungkinkan.
Pada akhrinya Rendy hanya berkata, “Gue gak mungkin bisa pake. Gue … gak bisa pake motor sama sekali.”
Rasanya mengesalkan bahwa ia malu untuk mengakui ini. Raut wajah Torro tak terbaca.
“Intinya, coba lo panggil si Ruslan dulu,” kata Torro penuh penekanan, nyaris bernada memohon. “Dia pasti mau bantu. Setelah motornya dibenerin, urusan ke depannya gampang. Lo juga bisa belajar, kan?”
Niatan untuk memprotes mulai merasuki pikiran Rendy. Takkan semudah itu mempelajari teknik mengendarai motor dengan motor besar punya Torro. Jika pun memang dirinya mampu memakainya suatu hari nanti, Rendy tak yakin ingin menggunakannya dalam jangka panjang. Menunggangi kuda besi yang pernah menewaskan kakanya … yah, bisa dibilang hati Rendy tak merasa itu bakalan aman.
“Biaya perbaikannya pasti mahal,” gerutu Rendy lebih kepada dirinya sendiri. “Gue gak punya duit sebanyak itu.”
“Hubungin dulu orangnya,” Torro bersikeras, sifat keras kepalanya rupanya tak lantas hilang hanya karena ia sudah meninggal. “Soal duit gak perlu dikhawatirin, nanti juga lo pasti paham.”
“Oke, nanti bakal gue telepon orangnya,” kata Rendy menyerah, lalu ia undur diri sejenak ke kamar mandi, karena dirinya sudah menahan godaan untuk buang hajat sejak tadi.
Torro tak meninggalkan kamarnya. Saat Rendy berjalan keluar, sosok roh tersebut berdiri di dekat jendela, memunggungi Rendy, memandang ke arah dunia di luar sana.
Menyingkirkan semua rasa merinding dan kegetiran, Rendy dapat membayangkan bagaimana sulitnya berada di posisi Torro sekarang ini. Kematian menghampirinya begitu mendadak, kini saudara lelakinya itu harus terombang-ambing di antara dua dunia yang berlainan. Berharap juga takut, akan berapa lama lagi waktunya yang tersisa di dunia ini---berkeliaran sebagai mahluk tak kasat mata.
Apa Torro sedang mencemaskan antara pilihan surga dan neraka? Mengingat Torro sering kesepian beberapa hari belakangan ini, Rendy yakin pemikiran menggelisahkan semacam itu sempat terlintas. Di luar semua itu, Torro juga harus melihat kondisi keluarganya hancur. Tak rukun. Tak harmonis. Ia juga didera rasa kesepian yang luar biasa, haus akan bersosialisasi dengan orang-orang hidup.
Tak pernah sebelumnya Rendy mengira sosok Torro akan sepeduli ini pada kondisi keluarga, tapi mungkin kematian adalah sebuah titik di mana Torro jadi lebih peka pada hal-hal sekitar. Lebih konsen pada orang-orang yang dulu sering diabaikannya semasa hidup.
Anehnya, Rendy lebih menyukai Torro versi pasca kematian dibanding Torro versi masih hidup. Torro versi hidup lebih menyebalkan dan keras kepala, juga berego besar serta berpikiran pendek. Torro versi di hadapannya ini lebih sabar, masih sedikit keras kepala, tapi setidaknya Rendy masih bisa menolerirnya.
Betapa ironis rasanya, hubungan Torro dengan dirinya mulai tampak membaik saat Torro tak bisa lagi menikmati dunia seperti dulu.
***