4. Gejolak

1156 Words
Sebuah mobil ambulans tiba tak sampai lima belas menit kemudian, suara sirine yang berkumandang kencang menambah ketegangan di mana lokasi kecelakaan lalu lintas terjadi. Pekerja medis yang datang dengan sigap mengecek keadaan para korban yang berjumlah dua orang. Setelah menyadari bahwa keduanya masih memberikan tanda-tanda kehidupan, para korban yang tubuhnya tergeletak di atas aspal bersimbah darah itu segera dibawa ke rumah sakit terdekat, berharap bahwa kedua nyawa itu dapat terselamatkan jika segera diberi penanganan medis. Sebelumnya, kepolisian telah datang lebih dulu, berkat salah satu saksi mata yang segera menghubungi panggilan darurat setelah peristiwa naas itu terjadi, dan juga karena jarak antara lokasi kecelakaan terjadi memang tak jauh dengan kantor kepolisian terdekat---membuat mereka lekas sampai. Para petugas berwenang segera bertindak cepat, mengamankan lokasi kejadian; memberi garis polisi untuk menciptakan batas TKP, hingga membubarkan para pengguna jalan yang berhenti dan berkerumun agar alur lalu lintas dapat kembali berjalan normal. Sang sopir truk yang telah menabrak juga segera diamankan, supir itu merupakan seorang pria tua berusia sekitar akhir empat puluhan, wajahnya yang bercambang terlihat pucat saat polisi memaksanya turun dari truk yang dia kendarai. Dia tentu terguncang atas apa yang telah diperbuatnya, dan tak menunjukkan perlawanan saat salah satu petugas mengamankannya. Wajahnya pias. Tak menyangka bahwa dirinya telah membuat kekacauan, menabrak seseorang hingga tak sadarkan diri---mungkin sampai tewas, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya saat dirinya dimintai keterangan. Membisu. Sebuah mobil truk pengangkut pun telah didatangkan. Motor Torro yang rusak parah dan motor pengendara lainnya diangkut lalu dibawa sebagai barang bukti. Beberapa petugas kepolisian terlihat tengah memintai keterangan dari para saksi mata yang berada di sekitar TKP. Guna mengungkap sebuah penyebab mengapa kecelakaan itu terjadi. Tak jauh dari TKP, seorang polisi tengah sibuk mengutak-atik ponsel, menekan-nekan sederet angka. Berusaha menghubungi pihak keluarga dari para korban. Pada tangan kirinya, terdapat dua buah kartu identitas para korban kecelakaan yang telah diambil sebelum dibawa pergi, salah satu KTP itu bertuliskan nama: Mahardika Rusdiantorro. *** Rendy belum tidur. Sudah cukup lama dirinya menahan diri dari rasa kantuk, pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya beberapa menit lalu telah benar-benar membuat dia terjaga. Apakah Torro saudara lelakinya bersungguh-sungguh atas perkataannya di pesan singkat itu? Masih merasa ragu, Rendy kembali menatap layar ponselnya, membaca SMS itu dengan cermat. Ren, tunggu gue di depan rumah, jangan tidur dulu. Gue otw balik sekarang. Rendy masih tak yakin harus menanggapi hal ini dengan cara apa---ia bahkan masih belum memberi pesan balasan, mungkinkah perkataan terakhir Rendy yang ditujukan kepada Torro lewat sambungan telpon telah menyadarkannya? Rendy menggeleng cepat, ia sudah mengenal bagaimana sikap Torro dengan cukup baik. Keras kepala. Tak mungkin kakak lelakinya itu dapat disadarkan hanya dengan kata-kata. Namun, Rendy tetap memikirkan pesan singkat itu. Rendy bangkit dari kasurnya, di mana di sampingnya, Anggi tengah tertidur pulas. Anak itu benar-benar masih bersikap manja meskipun telah menginjak usia gadis remaja, ia sendiri yang meminta untuk tidur dengannya malam ini. Mengingat apa yang telah Anggi saksikan tadi sampai menangis, membuat Rendy tak tega menolak permintaan adik satu-satunya itu. Pria berkulit kecoklatan itu menajamkan pendengaran, mencari suara-suara sumbang dari arah luar, tetapi hasilnya hanya keheningan yang ia dapat. Pertengkaran antara kedua orangtuanya telah benar-benar berhenti. Rendy bernapas lega. Bersyukur bahwa nada tinggi yang bersahutan itu kini tak lagi terdengar. Mungkin ayah dan ibunya sudah terlelap sekarang. Dengan langkah gontai, Rendy keluar dari kamar, turun meniti anak tangga menuju lantai bawah, tapi saat ia sampai di ruang tamu, Rendy menemukan ibunya tengah di sana, duduk di salah satu sofa dengan kedua telapak tangan menutupi wajah. Kening Rendy berkerut, lalu ia berdeham. Puspa menoleh dengan cepat, lalu matanya menampakan rasa terkejut kala melihat sumber suara dehaman yang didengarnya barusan. "Rendy, Nak. Kamu belum tidur?" Rendy memperhatikan ibunya sejenak, ada sesuatu di sepasang mata itu yang membuatnya yakin akan satu hal: ibunya baru saja menangis. Dan---kali ini---Rendy memutuskan untuk pura-pura tidak tahu. "Rendy masih belum ngantuk, Mah." Dusta kecil itu terucap dengan lancar. Tak mungkin Rendy mengucapkan alasan sebenarnya, ia tak ingin membuat ibunya terlalu berharap, lagi pula kepulangan Torro belumlah pasti. "Jangan tidur terlalu malam," nasehat Puspa kepada anak lelakinya itu, "Kamu besok kuliah, kan?" Kepada Rendy mengangguk. Lalu ia berjalan pelan mendekati ibunya dan ikut duduk di sofa yang posisinya berhadapan. Ada begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala Rendy saat ini, salah satunya mengenai hubungan orangtuanya yang kini dalam proses perceraian. Ia tahu bahwa ayah dan ibunya tengah menutup-nutupi hal itu, sampai detik ini mereke belum tahu bahwa Rendy telah mengetahuinya. Surat perceraian yang datang dari pengadilan agama itu pun Rendy lihat secara tak sengaja dan sembunyi-sembunyi. Benak Rendy tak henti-hentinya melontarkan satu pertanyaan: Mengapa mereka tak segera memberitahu anak-anaknya? "Mah," Rendy mengucap ragu setelah mencoba mengulur waktu, hingga akhirnya menghela napas lalu bertanya, "Mamah sama Papah beneran bakal cerai?" Tatapan mata Puspa melebar. "Bagaimana ... kamu tahu?" Rendy menelengkan kepalanya ke arah kanan, dirinya merasa seperti anak kecil yang ketahuan membeli setoples coklat saat sedang sakit gigi. "Rendy lihat suratnya kemarin. Di kamar waktu Rendy cari Mamah, terus ... kenapa? Kenapa harus cerai?" Puspa menatap putranya itu dengan pilu, ia sudah menebak bahwa lama-kelamaan anak-anaknya pasti akan tahu, tetapi tetap saja, Puspa tak sanggup melihat rasa kecewa yang terpancar jelas dari tatapan Rendy padanya. "Ini yang terbaik buat keluarga kita." Rendy menutup matanya. Jawaban macam apa itu? "Satu hal yang harus kamu tahu," lanjut Puspa mencoba meyakinkan. "Apa pun yang nanti akan terjadi, kita semua tetap satu keluarga. Nggak akan ada yang bisa merubah hal itu." Rendy mendengar jawaban itu dan berharap dapat memercayainya. Namun, bagaimana bisa? Ayah dan ibunya selalu bertengkar bahkan sebelum mereka benar-benar berpisah, dan hal itu sudah cukup membuat kondisi keluarganya renggang---adiknya Anggi sampai dibuat tertekan karenanya. Setelah mereka resmi berpisah, apa yang akan terjadi? Apakah semuanya akan kembali normal setelah perceraian terjadi? Rendy ragu akan hal itu. Telepon rumah yang terletak dekat dengan anak tangga tiba-tiba berbunyi, deringnya memecahkan kesunyian rumah di malam hari. "Biar Mamah aja yang angkat," ucap Puspa segera berdiri dari sofa. "Sekarang kamu tidur gih. Ini sudah hampir tengah malam. Besok jangan sampai bangun kesiangan." Rendy mengerutkan bibir, kebiasaan ibunya untuk segera menyuruhnya tidur terasa menjengkelkan. Ia laki-laki dewasa sekarang, usianya sudah menginjak 19 tahun, tapi perlakuan yang sering Rendy terima seakan-akan ia belum dianggap telah dewasa. Namun, kali ini Rendy mengangguk saja. Toh matanya juga sudah meminta untuk terpejam. Di dalam hati Rendy sedikit bertanya-tanya, siapa gerangan yang menelepon rumahnya pada malam hari begini? Rendy kembali berjalan dan meniti anak tangga, sementara ibunya tengah mengangkat telepon dari seseorang. Dapat Rendy dengar ibunya tengah berbicara, Rendy pun mulai melanjutkan perjalanan ke kamar. Saat Rendy sudah berada di lantai atas, ia membeku, tubuhnya bergeming ketika suara ibunya yang semula normal kini terdengar panik. Kemudian, mengucapkan nama Torro dengan nada histeris. Bukan pertanda baik. Dapat Rendy tebak bahwa kabar yang diterima ibunya mengenai Torro adalah kabar buruk. Pikiran Rendy langsung merasa skeptis, ulah apa lagi yang akan dibuat kakak laki-lakinya kini? Lalu ia berjalan menuruni tangga lagi, adrenalin dan tempo detak jantungnya semakin cepat. Ia kembali teringat akan pesan singkat yang dikirim Torro. Ren, tunggu gue di depan rumah, jangan tidur dulu. Gue otw balik sekarang. Apa saudara lelakinya itu akan benar-benar pulang malam ini? Kemungkinan jawabannya membuat Rendy gentar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD