Chapter 4

1804 Words
    Tiba di lantai lima belas, pintu lift terbuka. Aku melongokkan kepala dahulu sebelum benar-benar melangkah ke luar. Suasana di lantai ini benar-benar berbeda. Semuanya tampak megah, bernuansa coklat, krem, dan emas. Mulai dari dinding, lampu, sampai hiasannya. Keluar dari lift, di sebelah kiri adalah jalanan buntu yang dindingnya digantungi cermin berhiaskan batu alam di sekelilingnya. Lalu ada meja marmer bulat dengan pajangan kristal berbentuk merak di atasnya. Kalau ada pegawai yang tidak sengaja memecahkan, mungkin gajinya dipotong bertahun-tahun tidak akan cukup. Pajangan itu tampak cukup mahal. Begitu pun dengan dua lukisan yang digantung di dinding yang berhadapan dengan lift. Yang terpajang adalah dua lukisan bergaya Eropa yang kelihatannya saling berkaitan satu sama lain. Aku tidak begitu mengerti seni, tapi sertinya lukisan tersebut juga mahal harganya.     Cukup mengagumi beberapa hal di sekitarku, aku berbelok kanan, menyusuri koridor di depan lift itu. Beberapa langkah kemudian, aku menemukan ruangan yang hanya dibatasi dinding setengah badan. Nama Tammy tertera di papan yang tertempel di dinding pembatas itu. Dilihat dari isinya, aku yakin itu meja sekertaris. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Apa sekertarisnya pergi makan siang juga?     Aku berbalik, mengarahkan pandangan ke segala arah untuk melihat tempat lain yang kira-kira bisa kutuju. Di hadapanku lapang, ada satu set sofa dan meja kopi, kelihatannya menjadi ruang tunggu. Menempel di dinding, ada meja marmer persegi panjang yang dipenuhi berbagai macam snack dan dua dispenser minuman. Di sisi kiri ruangan sekertaris, ada jalanan masuk yang mengarah bagian lain ruangan. Aku memasukinya dan perhatianku teralih pada pintu kayu besar berwarna coklat tidak jauh dari tempatku berdiri. Di samping pintunya, ada tertempel papan kombinasi kayu dan acrylic bertuliskan Chief of Executive. Ruangan CEO.    Mencapai depan pintunya, aku menelengkan kepala. Ada penanda Do Not Disturb tergantung handle. Melihat tanda itu sudah cukup mengurungkan niatku untuk mengetuk. Tidak sopan kalau aku masih mengganggunya setelah melihat tanda itu. CEO juga pasti butuh istirahat, kan. Jadi, kuputuskan berjalan mundur sembari menimang-nimang map ditanganku. Apa aku kembali saja setelah jam makan siang? Atau aku titip di meja sekertaris dengan meninggalkan pesan di kertas?     Cukup lama aku menggalaukan hal itu sampai akhirnya aku tersadar. Semestinya aku memikirkan cara mendapatkan penjelasan bagaimana bisa aku ada di sini! Bukannya memikirkan pekerjaan yang kalau dipikir-pikir bukan pekerjaanku juga! Aku mengetuk kepalaku sendiri untuk menyadarkan diri. Kebiasaan bekerja bagai kuda membuatku lupa mementingkan diri sendiri.     Baiklah, lupakan dulu pesan Mellisa tadi untuk mengantarkan laporan ini. Sekarang, mari kita mencari kafetaria untuk mendapatkan keramaian. Aku mengangguk untuk memantapkan tekad. Kalau bisa tahu kenapa aku ada di sini dan menemukan jalan pulang ke kehidupanku yang asli, aku tidak perlu kena damprat Mellisa karena tidak melakukan amanahnya. Langkahku menjadi semakin ringan dan aku bersenandung riang memikirkan kemungkinan itu.     Mendekati lift, mendadak ada perasaan menggelitik di perut bagian bawahku. Aku meringis pelan. Kayaknya kandung kemihku full. Aku perlu ke toilet! Mataku mulai melirik kanan-kiri mencari tempat itu.     Tidak butuh waktu lama menemukannya, untung saja. Toilet ada di ujung ruang tunggu yang luas itu, dekat jendela. Aku beranjak dari tempatku berdiri dan bergegas ke sana. Baru saja aku akan mencapai jalan masuk toilet, sebuah suara serak terdengar, menjeda langkah kakiku.     "Lakukan dengan cepat. Jangan sampai perempuan itu kembali dan melihat kita. Dan jangan sampai orang ini bisa mengambil telepon untuk meminta bantuan."     Aku mengernyit, menajamkan pendengaran. Apa itu sekertarisnya? Kenapa suara laki-laki? Namun, sebenarnya tidak menutup kemungkinan juga ada sekertaris laki-laki,sih, pikirku dalam hati. Yang datang juga agaknya bukan hanya seorang. Menilai dari perkataannya, dia bak berpesan pada orang lain.     Derap langkah juga mulai terdengar jelas. Sepertinya orang itu datang dari emergency exit yang sempat kulihat di dekat ruang CEO. Suara mereka bukan berasal dari arah lift.     Lantas, aku meilirik map dalam peganganku. Ada baiknya aku memberikan laporan ini pada sekertaris itu dulu, setelah itu ke toilet dengan tenang. Bisa gawat, kan, kalau kena basah di toilet. Jadi, aku memilih berbalik dan berjalan gontai mendatangi orang yang baru datang itu.     "Ini tidak sampai mati, kan, Om?" Suara lain terdengar.     Otomatis aku mengerem langkah, lalu merapat ke dinding terdekat. Mati?     Aku sedikit melongok dari balik dinding untuk melihat siapa yang bicara. Dua orang berpakaian serba hitam, dengan penutup kepala rajut menutupi wajah mereka. Bagian mata berlubang. Satu orangnya menaikkan penutup kepala itu hingga philtrum. Tubuhnya besar, tapi tidak setinggi rekannya yang lain.     Jantungku sontak jumpalitan. Dari penampilan itu aku bisa menyimpulkan mereka orang jahat, alih-alih sekertaris. Mau apa mereka?     Dari tempatku, terlihat mereka sudah tepat di depan pintu ruangan CEO. Pikiranku langsung melayang kalau dua orang itu ingin menyakiti orang di dalam sana. Buktinya ada kata 'mati' di pembicaraan mereka. Aku kembali memperhatikan untuk memastikannya.     "Pasang topengmu dengan benar!" Yang tubuhnya lebih tinggi memarahi.     Yang lebih pendek terkekeh sambil menurunkan penutup kepalanya. "Maaf, Om, sesak tadi habis naik tangga."     Setelah penutup kepala si yang lebih pendek tertutup sempurna, barulah yang dipanggil 'Om' menjawab pertanyaan tadi. "Sampai sekarat boleh, mati jangan!"     Begitu saja, napasku tecekat dan kedua mataku melebar sempurna. Ingatanku melayang. Aku merasa kata-kata tadi tidak asing. Namun, yang kurasakan bukan seperti de javu. Kalau de javu, aku merasa pernah mengalaminya. Sedangkan yang ini, aku tidak merasa punya pengalaman sejenis ini sebelumnya. Hanya saja, aku pernah mendengar ... Tidak, tidak, bukan itu!     Mataku memejam untuk fokus memutar otak kenapa kata-kata itu familiar.     Sepertinya bukan mendengar. Aku berusaha berpikir lebih keras.      Dan saat suara handle pintu ditekan ke bawah terdengar, aku mengingatnya. Aku bukan mendengar, tapi membacanya!     Cinta Seorang CEO!     Bersamaan dengan munculnya judul itu di ingatan, aku membekap mulutku sendiri dengan tangan. Suara terkejutku tidak boleh terdengar. Terjawab sudah tanda tanya besar di kepalaku.     Adegan ini ada dalam naskah itu, naskah yang sedang kusunting. Dua pria dengan wajah tertutup kain rajut datang ke kantor utama Daniswara Group untuk menyerang CEO-nya. Pantas saja nama Daniswara Group terdengar tidak asing saat aku membacanya di name tag-ku ini. Aku mengingatnya dengan jelas sekarang, perusahaan makanan dan restoran raksasa. Tokoh utama pria dan wanitanya bekerja di sini. Yang pria CEO, sedangkan yang wanita akan jadi sekertaris.     Kata-kata yang diucapkan penjahat tadi pun aku teringat karena ada kesalahan ketik di dialog itu saat aku memeriksanya. Gambaran tempat ini juga persis seperti yang ada di naskah. Cermin, hiasan kristal, lukisan abstrak, letak meja sekertaris, sampai penanda Do Not Disturb di depan pintu. Semuanya tertuang di novel itu!     Tanganku mulai gemetar dan mual menyapa untuk kedua kalinya. Hanya ada dua kemungkinan, mimpi atau ada keajaiban yang terjadi sampai aku masuk ke dunia novel. Karena itu, lagi-lagi aku mengecek dengan mencubit pipi. Masih sama. Rangsangan nyeri itu masih dihantarkan saraf-saraf ke otak, yang artinya aku tidak bermimpi. Walaupun begitu, semua ini mustahil. Tidak mungkin, kan, aku masuk ke novel itu? Tidak masuk akal! Apa ada penjelasan lain yang bisa ditangkap logikaku?     Selagi memproses apa yang terjadi, aku kembali mengintip. Mereka sudah tidak ada. Kemungkinan besar sudah masuk ke dalam ruangan. Membayangkan apa yang terjadi di dalam seketika membuatku gelisah. CEO yang aku lupa namanya siapa itu sedang tertidur di kursi kerjanya. Penjahatnya masuk setelah mencuri kartu akses milik sekertaris. Jadi ceritanya, sebelum mereka naik, ada satu orang komplotan mereka yang menelepon si sekertaris, mengatakan kalau mobilnya ditabrak. Si sekertaris yang panik langsung turun ke basement untuk melihat. Dia bahkan lupa bilang ke bosnya kalau dia meninggalkan ruangan. Di jalan menuju basement dua orang yang masih menyamar dengan jas itu mencuri name tag, yang juga merupakan kartu akses. Si sekertaris ini ceroboh karena selalu malas menggantung name tag-nya dan malah menaruhnya di saku rok. Karena itu penjahat-penjahat ini bisa masuk.     Lalu, yang akan terjadi di dalam, CEO yang tidur itu tidak sadar ada yang masuk. Dia baru terbangun saat dua penjahat itu sudah sangat dekat dan membekap mulutnya. Yang bisa dia lakukan hanya memberontak karena kalah jumlah. Tangannya berusaha menggapai tombol emergency atau pun telepon, tapi tidak berhasil. Mereka membawa CEO itu ke tempat yang agak lowong, ke depan jendela besar. Di sana, CEO itu dihajar habis-habisan. Wajahnya dipukuli, perutnya ditendang, punggungnya diinjak ...     PRANG!     Aku terperanjat saat mendengar suara berang pecah itu. Lamunanku buyar, Ah, aku ingat di naskah itu juga dinarasikan si CEO sempat menyenggol patung anjing kesayangannya saat dia dibawa paksa. Mendadak aku merasakan ada sesuatu yang besar mengganjal di dadaku. Penyiksaan si CEO akan dimulai. Tidak lama, samar-samar aku bisa mendengar suara pukulan diiringi erangan tertahan. Aku makin serba salah. Hatiku berkata untuk menolong CEO itu, tapi otakku memerintahkan untuk tinggal dan tidak mencari masalah.     Di ambang kegundahanku, suara pukulan semakin kencang, sedangkan erangan si CEO tidak terdengar lagi. Dia tidak mati, kan? Kalau di naskah novelnya seingatku tidak. Namun, karena cemas kalau ceritanya bisa saja berubah, aku mengendap-endap mendekati pintu ruangannya untuk melihat.     Pintu tersebut untung saja terbuka lebar, jadi aku bisa melihat dengan leluasa apa yang terjadi. Si CEO masih saja diserang. Dia meringkuk, menghalau tendangan yang menerjangnya.     "Ka—kalian ... kalian ini ... si—siapa?" tanya si CEO dengan susah payah di sela-selah rintihannya.     Penjahat yang lebih tinggi berhenti, lalu memberi sinyal pada rekannya untuk turut menghentikan tendangan. Dia lalu berjongkok, menjambak rambut si CEO hingga membuatnya mendongak. Refleks aku meringis. Dari jauh pun bisa kulihat wajah CEO itu yang sudah babak belur.     "Kau tidak ingat pemilik warung kecil yang kau gusur untuk membuka restoran berkelasmu itu? Kau membakar warung kami, kau tidak ingat?" Suara penjahat itu menggelegar. Dia menghempaskan kepala CEO, membuat pipinya terantuk di lantai.     Bukan aku yang diperlakukan seperti itu, tapi aku merasakan nyerinya. Kakiku gatal ingin masuk dan melerai mereka.     "Bukan aku yang membakar warungmu itu, b******k!" Si CEO sepertinya mengarahkan seluruh energinya untuk mengumpat. Sesudahnya di terbatuk dan kembali terkulai lemas.     Emosinya terpancing, penjahat yang lebih tinggi itu bangkit. Dia kembali menendang dengan brutal. "Bukan kau? Bukan? Lalu siapa, b******k? SIAPA?"     Aku meremas tepian kemejaku melihat si CEO yang semakin melemah. Rasanya kejam kalau aku hanya melihat saja. Memang sih, sepengetahuanku, si CEO tidak akan mati di adegan ini. Dia hanya terluka parah, hilang kesadaran, sampai datang karakter utama wanita yang menemukannya dan menolongnya ke rumah sakit. Ini masih awal cerita. Suatu bagian yang akan berefek dipertemukannya dua pemeran utama. Kalau aku menolong sekarang, jalan cerita bisa jadi akan berubah.     Cuma, aku tidak tahan lagi melihat kekejaman di depan mataku. Aku harus bagaimana?                                                                                x-x-x     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD