Chapter 5

1591 Words
    "Hentikan!"     Keputusan yang aku ambil pada akhirnya adalah masuk ke dalam masalah. Tiga pasang mata yang ada di ruangan itu memandangiku. Manikku hanya balas menatap si CEO. Wajahnya penuh memar dan darah terutama di bibir dan pipi. Aku meringis saat melihatnya juga meringis.     Mungkin mendapatkan kekuatan melihat adanya bantuan, dia berusaha bangkit. Namun, si penjahat yang lebih tinggi lebih cepat menginjak punggungnya. Si CEO kembali tersungkur tidak berdaya diiringi erangan menyayat hati.     "Aku bilang hentikan!" teriakku lagi sambil bergerak maju.     Si Penjahat Tinggi menelengkan kepalanya ke arahku sehingga Si Penjahat Pendek melangkah lebar untuk menghadang jalan. "Nona kecil, sebaiknya kamu pergi sebelum terluka," ucapnya dengan jemari diregangkan.     Aku mendecih. Seenaknya saja mengataiku kecil. Memangnya dia tidak pernah berkaca apa? Dia saja juga pendek untuk ukuran laki-laki.     "Kami memberimu kesempatan. Keluar dari ruangan ini, kembali ke ruanganmu, dan berlakulah seperti tidak melihat apa-apa." Dia mengeluarkan pisau lipat dari saku celana. Memainkannya dengan satu tangan sambil mengikis jarak.     Ketika aku berhenti, dia terkekeh pelan. Aku tidak melihat bibirnya, tapi bisa kupastikan bibir itu tersenyum miring penuh kemenangan. "Gadis pintar. Sekarang pergi dari sini dan ingat, tutup mulut." Tangannya melambai, lalu setelah itu membuat gerakan mengunci mulut.     Merasa sudah berhasil membuatku ketakutan, dia hendak berbalik untuk bergabung kembali dengan rekannya. Namun, kata-kataku membatalkan geraknya.     "Aku tidak mau pergi. Anda bisa melawanku kalau mau," kataku tanpa ragu.     Melihat matanya, sepertinya Si Penjahat Pendek tercengang beberapa saat. Lalu dia tertawa terbahak-bahak, seakan-akan yang kukatakan tadi sangat lucu. Si Penjahat Tinggi juga ikut tertawa sembari menggeleng. Mungkin heran mendengarku terlalu percaya diri.     "Kau urus dia. Terserah mau diapakan, tapi sama seperti bosnya, sekarat boleh mati jangan." Si Penjahat Tinggi memberi perintah.     Saat aku refleks memasang posisi kuda-kuda, si CEO malah berteriak lirih, "Mending kamu lari dan minta bantuan! Dasar bodoh!"     Terpancing oleh teriakannya, senyum sinisku terbit. Dia belum tahu saja siapa aku.     Si Penjahat Pendek maju sambil mengayunkan pisaunya. Aku bergerak ke kanan, menghindari sofa yang ada di kiriku agar lebih leluasa. Jarak kami kini hanya satu meter saja. Di menggeser kakinya untuk meninjuku dari dekat, tapi aku lebih cepat menunduk dan mengayunkan badan berlawanan dengan arah tinjuannya. Dia kaget hingga tidak siaga. Satu tinjuanku lolos mengenai pipi kirinya. Keseimbangannya goyah. Dia terhempas beberapa langkah ke belakang.     Pekikan beserta u*****n melesat dari mulutnya. Aku kembali awas. Sebelum dia sempat mendekatiku lagi, aku melayangkan tendangan ke depan hingga mengenai ulu hatinya. Dia tersungkur ke lantai, memegangi perut.     "Segitu saja kemampuanmu?" ledekku karena belum ada perlawanan lagi darinya.     Dia mendelik marah. "b******k!" Sambil mengucapkan kata itu, satu tangannya menekan lantai untuk membantu tubuhnya bangkit. Namun, aku sudah lebih dulu mengayunkan kaki. Punggung kakiku tepat mengenai bagian samping kepalanya.     One man down! Si Penjahat Pendek tergeletak di lantai dingin, sudah tidak berdaya.     Si Penjahat Tinggi menyeru keras. Tanpa melihat dulu kondisi rekannya, dia melesat kencang menerjangku. Wajahku nyaris saja terkena bogem mentah kalau aku tidak langsung menyingkir. Gerakannya cepat beralih, kali ini menyerangku dengan pukulan dan tendangan silih berganti. Beberapa bisa kutangkis, tapi kekuatannya lebih besar dariku. Aku juga bisa menilai dari caranya, dia lebih mahir berkelahi dibanding Si Penjahat Pendek.     Tanpa sadar, punggungku menabrak punggung sofa dan aku terpental ke dudukannya. "Kau akan mati hari ini gadis b******k! Berani-beraninya kau membuat orangku terluka!" Si Penjahat Tinggi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil pisau lipat rekannya. Mungkin dia pikir aku tidak akan sanggup bangkit lagi setelah terjatuh. Namun, syukur saja aku masih bisa beraksi dengan lincah. Aku berguling turun saat tubuh penjahat itu berbalik. Secepat kilat aku bangkit dan menyambar benda berat yang bisa kulihat. Kebetulan sekali ada pajangan batu fosil di atas side table.     Baru saja Si Penjahat Tinggi itu berbalik, aku menghantam tengkuknya dengan batu. Tidak begitu keras, tapi menurutku cukup untuk membuatnya pingsan. Dan kalkulasiku benar. Dia langsung saja tumbang. Ikut tidak berdaya bersama temannya. Aku kemudian berjongkok dan menyentuh bagian lehernya dengan dua jari. Untunglah dia masih hidup.     Takut mereka segera siuman, aku buru-buru menghampiri telepon di meja kerja si CEO dan menekan nomor untuk dihubungkan ke Lobby. "Ini dari ruangan bos besar!" sergahku saat suara di seberang sana menyapa. Belum sempat yang menerima telepon itu menanggapi, aku lanjut berkata, "Pak ... Maksudku bos besar diserang orang tidak dikenal di ruangannya. Dia terluka parah. Cepat kirim petugas keamanan ke sini! Telepon ambulans juga!"     Begitu telepon kututup, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Aku harus menemukan sesuatu untuk mengikat mereka sampai petugas keamanan datang. Pandanganku tertumbuk pada lemari yang terlihat seperti lemari pakaian di sudut kiri ruangan. Ketika berjalan ke sana, aku melewati si CEO masih terbujur lemah. Aku singgah sebentar untuk mengecek keadannya. Punggungnya masih bergerak meskipun lemah. Alisnya masih bertaut menahan sakit. Rintihan pun masih terdengar.     "Tunggu bentar ya, Pak. Saya ikat mereka dulu baru tolongin Bapak," pesanku sambil menepuk-nepuk bahunya untuk meyakinkan. Tidak kusangka dia justru meraung kesakitan. Refleks aku menarik tangan. Kugigit bibir bawahku karena merasa bersalah, juga takut. Kayaknya yang kutepuk tadi bagian yang terluka. "Maaf," bisikku lantas lekas menghindar, melanjutkan niat awalku tadi untuk mencari pengikat.     Dugaanku benar tentang lemari itu adalah lemari pakaian. Aku menemukan beberapa dasi di sana dan langsung menggunakannya untuk mengikat tangan dan kaki dua penjahat tadi.     Sesudah itu, aku mendekati si CEO lagi. Kubalikkan badannya perlahan lalu kubantu dia bangkit. Tubuhnya terkulai lemas di lenganku yang melingkari punggungnya. Susah payah aku berusah mendorongnya agar bisa duduk dengan tegak.     "Bapak baik-baik saja?" tanyaku saat dia sudah tidak dalam posisi riskan untuk hilang keseimbangan dan terantuk ke belakang.     Dia tidak langsung menjawab. Matanya terpejam rapat, alisnya bertaut, dan dia menelan ludah berkali-kali. Begitu kelopak matanya terangkat, dia melirikku tajam.     Aku mengerjap. Terima kasih kepada penulis naskah novel Cinta Seorang CEO itu. Deskripsinya di tulisannya membuatku bisa melihat salah satu ciptaan Tuhan yang indah. Netra si CEO. Walaupun bagian atas mata kanannya agak bengkak karena tadi dipukuli, mata sebelahnya masih terlihat bentuk aslinya. Mata itu kecil, dengan lipatan kelopak yang terlihat jelas, iris berwarna coklat gelap, kantung bawah mata dengan ukuran yang pas, dan bulu mata tidak terlalu panjang. Benar-benar seperti tipeku!     "Kamu pikir saya tidak apa-apa?" Balasannya dengan sedikit membentak membuat lamunanku buyar.     Aku kicep. Terluka saja dia masih galak, bagaimana kalau tidak, ya?     "Kayaknya Bapak masih ada tenaga," ucapanku membuatnya mengangkat sebelah alis. Lagi-lagi aku terpesona sesaat karena alisnya yang tebal, rapi, dan terbentuk dengan alami. Namun, aku cepat-cepat menggeleng untuk mengembalikan konsentrasiku. "Karena Bapak masih ada tenaga buat galak, pasti masih ada tenaga juga dong buat berdiri," sindirku. Dia baru mau protes, tapi aku lebih dulu bangkit dan menuntunnya untuk turut. Akhirnya dia hanya patuh tanpa banyak berkomentar.       Kegaduhan mulai terjadi di luar sana. Derap-derap langkah terdengar mendekati ruangan. Aku dan si CEO mendongak berbarengan. Tak lama, muncullah gerombolan petugas keamanan dan seorang wanita dengan wajah pucat pasi. Mereka semua membungkuk tatkala melihat si CEO. Sejurus kemudian, petugas keamanan menyerbu dua penjahat tadi. Sedangkan wanita dengan wajah pucat pasi mendatangi kami.     "Ma—maaf, Bos, sa—saya ..." Dia tergagap dengan tangan gemetar. Ketakutan tercetak jelas di wajah tirusnya. Aku menebak, dia sekertaris CEO ini, Tammy. Saat melirik ke bawah, tebakanku terbukti benar. Badge bertuliskan nama tersebut tersampir di jasnya. Karakteristiknya benar-benar seperti yang tertera di novel. Dia hanya muncul sebentar dan di awal-awal, tapi ada yang khas yang aku ingat, tertulis kalau setelan jas serta roknya yang selalu berwarna pink.     "Sa—saya ... Saya tadi melihat mobil. Saya ... saya tidak tahu kalau mereka ..."     "Kamu dipecat!"     Penyataan tegas si CEO membuat Tammy melongo. Aku sih sudah tidak kaget lagi.     "Ta—tapi, Bos ..."     Aku milirik wanta itu. Matanya sudah berkaca-kaca. Disenggol sedikit saja pasti air mata itu jatuh. Kasihan sekali padahal bukan salahnya. Cuma, memang jalan ceritanya seperti itu. Tammy ini memang dipecat karena dianggap lalai meninggalkan CEO seroang diri tanpa penjagaan.     "Tidak ada tapi-tapi. Mulai besok, kamu tidak perlu masuk lagi. Kamu ini sudah lalai, meninggalkan ruangan kamu tanpa izin dulu ke saya. Lalu, kartu kamu mana? Saya yakin, mereka ambil kartu kamu yang selalu ditaruh di saku saja itu."     Tuh kan, Tammy benar dipecat tanpa ampun dan alasannya sesuai dengan yang kupikirkan. Ah, dan jeli juga CEO ini bisa tahu kartu Tammy yang diambil oleh penjahat itu.     "Pak, saya minta maaf. Saya ..."     "Saya terima maaf kamu. Tapi pemecatan ini keputusan final. Kamu siapkan fail daftar pekerjaan dan fail operan hal-hal yang harus diperhatikan saat menjadi sekertaris saya."     Tammy yang awalnya menunduk dalam mengangkat kepala. Kulitnya merah padam seakan semua darah dipompa ke wajahnya. "Eh? Bos sudah dapat pengganti?"     Eh? Si CEO sudah dapat sekertaris pengganti? Aku ikut membatin.     Setelah kuingat-ingat, yang terjadi di naskah novel adalah si pemeran utama wanita yang menemukan si CEO, tapi sudah dalam keadaan sekarat. Penjahatnya pun baru saja pergi saat dia dari lift. Tammy belum juga kembali, jadi si pemeran utama wanita itu membawa si CEO sendiri ke rumah sakit terdekat. Tammy akhirnya dipecat dan penggantinya adalah si pemeran utama wanita sebagai balasan terima kasih si CEO karena menyelamatkan nyawanya. Itu awal mula mereka saling bersangkutan.     Lalu, mana si pemeran utama wanita itu? Aku mengulurkan kepala untuk melihat karakter penting itu. Barangkali si CEO sudah melihatnya datang.     "Orang ini." Suara bass si CEO mengagetkanku.     Orang ini? Aku mengecilkan jarak pandang. Memerhatikan hanya di sekitar kami. Namun, tidak ada siapa-siapa lagi selain aku, Tammy dan si CEO. Karena itu aku mendongak ke pria di sampingku, untuk memastikan siapa yang dia maksud.     Yang aku dapati, CEO itu sedang memandangiku. Tatapan kami saling mengunci untuk beberapa detik.     Sesaat kemudian, aku mengerjap heran. Kenapa dia memandangiku seperti itu?     Menjawab tanda tanya besar di otakku, dia menunjukku dengan dagu. "Dia sekertaris pribadi baru saya."     "APAAAA?"     x-x-x
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD