Chapter 6

1913 Words
    "APAAAA?" pekikku kaget.     Bukannya memberi penjelasan padaku, si CEO malah menoleh kembali pada Tammy. "Sore ini, berikan dia penjelasan apa saja pekerjaanmu."     Aku memelotot. Tanganku yang awalnya melingkar di punggungnya dan memegangi lengannya merosot. Entah dia akan menganggapnya kurang ajar atau tidak, aku mendorong pundaknya untuk menghadapku. Kulihat dia sampai mengerang pelan sambil memegangi perutnya. Mungkin nyeri karena pergerakan mendadak saat aku mendorongnya.      "Kata siapa?" tanyaku kemudian dengan sebelah alis terangkat. Terkesan menantang mungkin. Namun, dia duluan yang cari masalah dengan langsung menentukan tanpa menanyakan kesediaanku.     "Saya barusan," jawabnya lekas tanpa rasa bersalah.     "Saya belum setuju," protesku sembari berkacak pinggang.     Menanggapiku, dia tersenyum angkuh meskipun wajahnya lebam-lebam dan dihiasi luka lecet. Aku rasa keadaannya tidak separah luka yang terlihat. Apa dia tipe orang yang cepat melemah, tapi juga cepat pulih. Tadi kupikir dia sudah hampir mati.     "Kamu mau menolak?"      Pertanyaannya membuatku menggigit bibir dengan sebal. Kuarahkan pendanganku ke langit-langit, menerawang. Sistemnya bagaimana, sih? Aku bisa menolak atau tidak? Bisa setuju atau tidak? Cuma kalau dipikir-pikir, tidak ada ruginya aku bersikap tidak sopan dan menolaknya. Toh, aku bukan berasal dari dunia ini. Aku pasti akan kembali ke dunia asliku. Iya, kan? Kan?     u*****n melesat dari bibirku tatkala menyadari aku pun tidak yakin dengan jawabannya. Sama dengan kemunculanku di dunia naskah ini yang masih buram, cara pulangku pun belum bisa terlihat hilalnya.     "Kamu mengumpat ke saya?"     Cengkraman tangan si CEO yang mendarat di bahuku serta nada suaranya yang naik satu oktaf membuatku tersentak. Aku buru-buru menggeleng sebelum dia salah paham.      "Saya mengumpat ke diri saya sendiri, kok."     Dia memutar bola mata tidak percaya, tapi tetap melepaskan cengkramannya dari bahuku.     Sementara aku—dan kelihatannya Tammy juga—masih di tahap memproses segala yang terjadi di sini, CEO itu meninggalkan kami berdua. Dia tertatih-tatih menuju meja kerjanya. Sesampainya di sana, dirapikannya isi meja itu yang berantakan karena kejadian tadi. "Jadi gimana? Kamu mau jadi sekertaris pribadi saya tidak?" tawarnya lagi dengan tatapan berfokus pada barang-barang di depannya.      Aku mendekatinya, berdiri tepat di depan meja. Aku melakukannya agar dia bisa melihat jawaban yang kuberikan. Ketika dia menengadah dari aktivitasnya menutup berkas-berkas di atas meja, aku menggeleng. Itu adalah jawabanku atas pertanyaannya, menolak. Aku sudah menetapkan hati. Dia seenaknya saja menunjukku tanpa menanyakan pendapat dulu. Bisa kutebak kalau dia jadi atasan langsungku, pasti akan semena-mena juga. Lagipula, ada hal yang lebih penting yang perlu kulakukan. Aku masih belum tahu kenapa aku ada di dunia ini dan sampai kapan ada di dunia ini. Yang paling penting, aku mau pulang! Bukannya jadi sekertaris!     "Kamu yakin?" si CEO tersenyum miring. Tangannya yang mengangkat bolpoin berhenti di udara. Tiba-tiba saja, dia sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajahku.     Tanpa melihat pun aku yakin tampangku sekarang ini sudah seperti kepiting rebus. Dengan jarak dekat, aku baru melihatnya dengan seksama. Aku baru sadar ada lesung pipi kecil yang muncul saat dia tersenyum seperti itu. Seketika denyut jantungku meningkat, melewati batas normal. Manisnya berlipat ganda! Oh, Tuhan, kenapa dia tetap sangat menawan walau penuh luka. Karakter novel sialan ini sudah memenuhi dua kriteria laki-laki yang kusuka. Meskipun muak dengan rentetan karakter CEO dalam naskah yang diberikan padaku, secara khusus aku menyukai penggambaran fisik karakter laki-laki di novel ini.     "Um ... misi," panggilku mengabaikan pertanyaannya. Aku perlu memastikan sesuatu. "Bisa tampar atau cubit saya tidak?"     "Hah?" si CEO keheranan.     Aku meyakinkan dengan menarik tangannya. "Pukul atau cubit saya coba, Pak?" pintaku. Tangannya kudekat-dekatkan ke pipiku agar dia segera melakukannya.     Rautnya ragu sesaat, tapi tanpa peringatan, mendadak dia menyentil dahiku dengan tangan lainnya.     "AH!" Aku mengaduh kencang, merasakan nyeri di dahiku.     "Kamu yang memintanya," ujarnya enteng.     Benar, aku yang memintanya. Sekali lagi aku memastikan ini bukan mimpi. Manusia fiktif ini ada di hadapanku dalam bentuk nyata. Benar-benar ciptaan yang indah. Kira-kira dari mana penulisnya dapat inspirasi ...     "Sekali lagi saya tanya, kamu yakin mau menolak? Kamu bisa dapat keuntungan dengan menjadi sekertaris pribadiku." Lamunanku buyar mendengarnya bicara semakin dekat, kini hanya satu jengkal dari wajahku. "Pertama, kamu akan mendapatkan pemandangan indah."     Pemandangan indah? Aku mengernyit bingung.     Membaca ekspresiku, laki-laki memesona itu meletakkan punggung tangan di bawah dagunya. "Saya."     Walaupun aku setuju, tetap saja aku geli melihat ke-narsisannya. Kuperlihatkan mimik sejijik mungkin untuk membuatnya sadar diri. Mestinya dia juga berkaca, dibaliknya memang ada wajah manis, tapi yang di permukaan sekarang gabungan antara biru, merah darah, dan bengkak.     Namun, dia tidak terpengaruh. Senyum miring masih terlukis di bibirnya, tapi dia sudah menarik diri, kembali menegakkan punggungnya. Dalam hati aku kecewa. Padahal aku masih ingin menikmati pemandangan indah itu dari jarak dekat.     "Kedua ... Saya lihat kamu dari Divisi Marketing, ya? Menjadi sekertaris saya, gajimu bisa dua kali lipat dibanding tinggal di divisi itu."     Mendengar pernyataan gaji dua kali lipat, hidungku jadi kembang kempis. Aku tidak tahu berapa gaji yang kudapatkan sebagai anggota Divisi Marketing di perusahaan ini, tapi tidak mungkin di bawah UMR atau Upah Minimum Regional, kan? Di perusahaan tempatku kerja—yang asli—karena gajinya sudah bisa dikatakan bagus, mendapatkan kenaikan gaji itu bagaikan mendapatkan pacar seorang CEO kaya, tampan, masih muda dan available. Sangat mustahil untuk terealisasi.     "Gaji tetapmu tujuh belas juta per bulannya, belum termasuk bonus."     "EEEEHHHHH?" Aku benar-benar terkejut sampai kali ini aku yang memajukan badan ke si CEO. "Serius?"     Dia mengangguk meyakinkan.     Damn, gajinya benar-benar dua kali lipat! Maksudku dua kali lipat juga dari gajiku sebagai editor. Pantas saja Tammy hampir menangis saat dia dipecat. Cari pekerjaan itu susah. Cari pekerjaan dengan gaji segini banyaknya lebih susah lagi.     Aku jadi tergoda. Kira-kira kalau aku kerja di sini selama beberapa bulan, baru setelah itu mencari cara untuk kembali ke dunia asalku, uang yang kutabung di dunia novel ini akan ikut juga tidak, ya?      "Kalau kamu mau ..." Si CEO meraih gagang telepon. "Saya akan menelepon bagian HRD sekarang."     "Tunggu!" tahanku. Aku perlu memikirkan hal ini baik-baik. Uang penting. Pulang ke dunia asalku juga penting. Sekalipun aku editor dari novel ini dan sudah mengetahui kurang lebih setengah ceritanya, dunia ini masih terasa asing bagiku. "Berikan saya waktu sehari untuk berpikir."     Si CEO menggeleng. "Tidak, tidak ada waktu untuk berpikir. Saya tidak punya waktu untuk menunggu."     Kukeluarkan jurus membujukku. Puppy eyes dan bibir menekuk.     Lima jari si CEO terangkat, sejajar dengan pandanganku. "Waktumu lima detik untuk menentukan. Lima ..." Tentu saja dia tidak terpengaruh.     Arrggggh! Ayo cepat berpikir, Bianca! Pertama, memikirkan kenapa aku ada di sini sudah tidak penting lagi. Kemungkinan besar tidak ada yang tahu. Kedua, jalan pulang. Belum diketahui. Kalau ditelaah, aku tertidur lalu terbangun di dunia ini. Jadi mungkin, kalau aku tidur lagi, bisa saja aku kembali dan terbangun di dunia nyata. Cuma itu belum pasti. Kalau ternyata bukan, bagaimana?     Hanya sisa satu jari si CEO  yang tersisa. "Sa ..."     "Permisi, Bos." Seorang petugas keamanan datang menyela. Aku menghela napas lega karena diberikan waktu untuk berpikir lebih.     "Ada apa?" si CEO berhenti menghitung. Perhatiannya tertuju penuh pada petugas keamanan tadi.     "Polisi sudah ada di bawah. Kami akan membawa dua orang itu dan mengirim petugas kebersihan untuk membereskan ruangan Anda."     Si CEO mengangguk.     "Ada ambulans juga di bawah, Bos. Apa Anda mau ke rumah sakit mengobati luka-luka Anda?" Pria berpakaian hitam-hitam itu menawari.     "Tidak perlu. Jadwal saya penuh hari ini. Luka saya juga tidak begitu parah sepertinya. Saya akan mengobatinya sendiri," jelas si CEO. "Ah, tolong beritahu juga pada polisi yang datang, saya akan datang ke kantor mereka sore nanti. Mereka pasti meminta saya ikut untuk memberikan keterangan."     "Baik, Bos." Si petugas keamanan itu menunduk hormat. "Kalau begitu, kami permisi dulu," pamitnya.     Baru saja berbalik, si petugas keamanan dipanggil. "Daril."     Laki-laki bernama Daril itu tidak jadi pergi. Dengan sopan dia kembali pada posisi siap. "Ya, Bos?"     "Bawa dia juga bersamamu. Saya akan mencari sekertaris lain." Si CEO menunjukiku, kemudian menunjuk pintu ruangannya.     Aku membelalak. Maksudnya dia tidak jadi merekrutku? Oh my God, no!     "Tunggu!" Refleks, aku menahan Daril yang hendak menuntuku ke luar. Daril melirik ke arah si CEO dan laki-laki yang tidak mau menunggu itu memberikan sinyal kalau dia yang akan mengurusnya. Sekali lagi Daril menunduk pamit, lalu meninggalkan kami berdua lagi.     "Baiklah, saya akan menerimanya. Saya akan jadi sekertaris Anda," jawabku cepat sebelum aku semakin membuatnya menunggu dan dia berubah pikiran.     Ya, benar. Lebih baik aku menerima saja dulu pekerjaan ini, berhubung tepat di depan mata. Aku akan bekerja di sini sampai tahu cara kembali. Tidak ada gunanya merasa frustrasi. Siapa tahu saja di sela-sela itu aku bisa menemukan caranya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Setidaknya selama di dunia ini, aku bisa merasakan gaji dua dijit di depan enam nol.     "Bagus. Kamu bisa mulai hari ini." Senyum puas terbit di bibir orang di hadapanku. Dia mengangkat kembali gagang teleponnya lalu memencet beberapa nomor. Aku mengasumsikan yang dihubunginya adalah bagian HRD.     Sementara dia berbicara di telepon, aku mendatangi Tammy yang masih berdiri di tempat terakhir aku meninggalkannya. Dia bergeming. Tepian tangan jas pinknya ada bercak-bercak basah, nampaknya bekas mengelap air mata.     "Maafkan aku," ucapku pelan untuk menarik perhatiannya.     Dia sedikit terkesiap, tapi dengan segera tersenyum saat menyadari sosokku di sampingnya. "Tidak, tidak apa-apa. Ini bukan salahmu."     Aku balas tersenyum canggung. Memang bukan salahku, sih. Kalau saja dia tidak teledor menaruh kartu aksesnya di saku jas, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi. But who am I kidding? Adegan p*********n itu sudah tertuang dalam novelnya. Kalau Tammy sekertaris yang berhati-hati dan selalu menggantungkan kartu akses di lehernya, adegan itu tidak akan terjadi.     "Aku merasa bersalah menggantikan pekerjaanmu." Yang ini aku serius. Aku merasa tidak enak padanya. Dia dipecat, sementara aku mendapatkan pekerjaan baru.     "Kamu tidak usah sok merasa bersalah. Saya yang memecat dia dan saya yang mempekerjakan kamu. Saya saja tidak merasa bersalah."     Si CEO sudah muncul di tengah-tengah kami. Kata-katanya tadi membuatku ingin menyikutnya tepat di ulu hati. Si sombong itu terlalu kejam. Namun, yang diucapkannya selanjutnya membuat rasa jengkelku luntur.     "Tammy, saya pecat kamu di headquarters, sebagai hukuman atas kelalaian kamu. Tapi, kamu bisa kerja di salah satu kantor cabang. Saya sudah menghubungi Pak Riza di bagian HRD. Nanti kamu temui dia dan tanyakan lebih lanjut," jelasnya.     Mendengar itu Tammy menghela napas lega. Warna mukanya yang  tadinya pucat, kini sudah lebih berseri. Dia membungkuk dalam sebagai bentuk terima kasihnya pada si CEO. "Terima kasih, Bos. Terima kasih."     Si CEO hanya mengangguk. Aku memandanginya dari samping. Dilihat-lihat ternyata dia cukup baik juga. Seingatku, di novel dia cukup menyebalkan dan membuat pusing.     "Oh iya, Tammy, sebelum menemui Pak Riza, pekerjaan terakhir kamu bantu saya menunda semua schedule hari ini selama satu jam," pesannya. Kemudian dia beralih padaku. "Lalu kamu ..."     Nada bicaranya yang menggantung membuatku beranggapan dia menginginkan jawaban nama. "Bianca."     "Ya, Bianca. Ikut saya," perintahnya. Sejurus kemudian dia mulai melangkah lebar ke ruangan lain yang ada di kantornya.                                                                             x-x-x
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD