"Bhadrika Danadyaksa Ararya Daniswara."
Aku mengulang-ulang nama itu dalam hati agar cepat ingat. Nama dia terlalu panjang dan sulit. Bikin lidah membelit. Kenapa sih nama CEO dalam novel itu rata-rata susah? Kenapa mereka tidak memakai nama gampang dan pasaran saja seperti Hasan, Ilham, Reza, Ahmad, dan sebagainya? Apa pas ujian dia tidak kesusahan membulatkan namanya yang panjang itu? Kira-kira pas absen panggil, gurunya bisa mengucapkan dengan benar tidak ya?
"Kamu tidak perlu antar saya sampai depan lift."
Aku tersentak. Kepalaku yang sejak tadi menunduk lantas menengadah. Karena terlalu serius dengan nama tadi aku tidak sadar sudah memasuki koridor tempat lift berada. Padahal niatnya, keluar dari ruangan Bhadrika, aku akan singgah di ruangan Tammy. Bhadrika tadi mengatakan hanya akan ditemani supir untuk schedule-nya hari ini. Sedangkan aku, sebagai sekertaris barunya, diminta tinggal untuk belajar kilat di Tammy. Supaya besok aku sudah bisa selaras dengan tempo dia katanya.
"Baru bilang sekarang, Pak? Ini sudah dekat ..." Awalnya aku ingin sedikit bercanda, tapi melihat tatapan tajamnya saat mendengar perkataanku, aku buru-buru tersenyum lebar kelihatan gigi dengan canggung. Lalu aku berderap ke arah tombol lift. Setelah menekannya, aku berdiri tegap dengan kedua tangan mengait di depan perut. "Karena tidak bisa ikut dengan Bapak hari ini, biar saya antar Bapak sampai depan lift. Ini sudah tugas saya." Punggungku menekuk ke depan, memberikan hormat.
Dia yang sudah tiba di hadapanku lantas melirik ganjil. "Belum juga hari pertama, tapi sejak tadi kamu sudah melakukan kesalahan. Kamu tahu apa?"
Perlahan tubuhku kembali menegak. Aku hanya mengerjapkan mata dengan memasang ekspresi sepolos mungkin sebagai tanda ketidaktahuanku. Apa dia masih marah karena masalah otot itu? Atau karena aku tidak tahu namanya?
"Kamu daritadi panggil saya 'Pak' atau 'Bapak'. Saya tidak suka dipanggil seperti itu," ungkapnya kepala dimiringkan. Alisnya bertaut dan mata kecilnya semakin menyipit.
Rasanya aku ingin menghela napas panjang saat itu juga. Namun, sebisa mungkin kutahan. Kenapa sih, kelakuan orang kaya suka aneh-aneh! Di mana salahnya memanggil atasan dengan 'Pak' atau 'Bapak'. Lalu memangnya dia mau dipanggil apa? Kenapa tidak sekalian saja bilang: 'Saya tidak suka dipanggil 'Pak', Bianca. Panggil saja saya dengan panggilan ini ...' Biar lebih jelas. Kalau begini, apa aku harus menebak-nebak?
"Kalau begitu saya panggil 'Sir'?" tebakku. Dia mendengkus tidak senang. Tebakanku salah, silakan coba kembali.
"Tuan?" Dia menggeleng dengan raut letih.
"Mas? Kak?" Kali ini matanya membulat kaget. Lagi-lagi salah.
Aku jadi teringat perkataan Mellisa saat kebingungan tadi: 'Di sini, kita sudah sepakat untuk memanggil nama, apa pun jabatannya.'
Senyum kemenanganku terbit. Kali ini aku hampir seratus persen yakin tebakanku benar. Telunjukku ikut terangkat mengarah ke atas karena terlalu bersemangat. "Bhadrika?"
Mulutnya terbuka sedikit. Tampaknya agak terkejut. Aku beranggapan jawabanku ini sudah benar, tapi belum cukup tepat. "Bhad? Drika?" tebakku lagi. Semakin bersemangat, tubuhku terdorong maju.
Dia yang hampir dua puluh sentimeter lebih tinggi dariku menunduk, membuat jarak kami terkikis. "Kamu mencoba tidak sopan ya, manggil saya dengan nama saja?" Suaranya dalam dan tegas.
Deg!
Mati aku, jauh lebih salah lagi ternyata! Bola mataku bergerak ke kiri dan kanan, menghindari tatapannya yang lurus menghunus seperti terpancar laser. "Saya, kan, enggak tahu, Pak. Eh ..." Aku mengernyit tatkala kelepasan kembali memanggilnya 'Pak'.
"Kamu sudah berapa lama kerja di sini? Kenapa bisa tidak tahu saya dipanggil apa kalau di kantor?"
Sebenarnya mau kujawab baru saja tadi. Cuma, kalau kuceritakan aku berasal dari dunia berbeda dan tiba-tiba saja masuk ke dunia ini beberapa saat yang lalu, dia pasti menganggapku gila. "Saya emang suka gitu ..."
Perkataanku yang menggantung ditangkap dengan baik oleh Bhadrika. Untung saja. Dia langsung menyambungnya. "Bos. Panggil saya 'Bos'," ucapnya.
Ah, benar juga! Kalau dipikir-pikir karakter utama wanita tidak pernah memanggil si CEO ini 'Pak'. Alasannya sih tidak dijelaskan di buku. Sepertinya Sandra—karakter utama wanita dalam novel ini—lebih pandai dariku dan langsung menyadari keadaan. Lebih tepatnya dia digambarkan seperti itu, tahu begitu saja. Aku mana mengerti.
"Kamu tidak mau memanggil saya 'Bos'? Kenapa tidak menanggapi?"
"I-iya. Saya emang suka begitu, Bos. Sering lupa." Aku cepat-cepat memperbaiki diiringi tawa hambar
Mendengar jawaban serta panggilanku yang sudah tepat, dia mengangguk puas.
Dentingan lift memutus perhatiannya padaku. Dia menegakkan badan, lalu menarik turun jasnya agar kembali ke posisi pas badan. Di sampingnya aku menghela napas lega. Sesak juga melihatnya begitu dekat. Bukan karena takut, tapi lebih karena grogi melihat kegantengannya.
Pintu lift di hadapan kami terbuka. Aku bersiap-siap mengantar kepergian Bhadrika, tapi sosok yang di dalam lift membuatku tertegun. Saat aku melirik, Bhadrika juga bergeming di tempatnya sampai sosok tadi melangkah ke luar. Seorang perempuan tinggi semampai. Kalau dilihat-lihat, mungkin sekitar 170 sentimeter. Parasnya cantik. Mata besar, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir tipis, dilapis dengan make up minimalis, tapi tetap menonjolkan struktur wajahnya. Rambutnya panjang bergelombang, tergerai hingga punggung, dan berwarna coklat keemasan. Dia memakai terusan selutut berwarna kuning cerah. Lengan dress-nya menggembung hingga siku dan bagian d**a berbentuk kotak agak rendah. Di bahu kanannya tersampir tas selempang berwarna putih. Tangan kirinya memeluk sebuah map berwarna coklat. Perempuan ini mengingatkan ku pada ...
"Karakter utama wanita." bisikku pelan.
"Selamat sore. Perkenalkan saya Cassandra Sanders. Sa—"
Tebakanku benar! Dia Sandra, karakter utama wanita novel ini! "Tuh kan!" Aku tanpa sadar menyeru terlalu keras dan menunjuki perempuan anggun itu. Sial, antusiasmeku melihatnya datang membuat ku lupa diri. Aku merutuki diriku sendiri yang sangat bodoh ini.
Bhadrika dan Sandra sama-sama menoleh heran ke arahku. Dengan gugup aku berusaha menuturkan alasan untuk menutupi keanehanku. "Tuh kan, liftnya jadi ketutup lagi!" Jemariku kubelokkan ke arah belakang perempuan itu, menuding lift. "Liftnya jadi turun lagi, Pak ... eh ... Bos!"
Aku merasa Bhadrika seperti ingin menelanku bulat-bulat melihat kelakuan absurdku. Namun, dia memilih untuk tidak mengacuhkanku dan beralih ke Sandra. "Ada apa nona Cassandra Sanders?"
Sandra berdehem sebelum menjawab. Bahkan dehamannya pun terdengar ayu dan lembut. Benar-benar tipe yang akan membuat laki-laki jatuh cinta. "Saya diminta Tuan Gonsalez untuk menemui CEO perusahaan ini."
Sementara mereka sibuk berbincang, aku merenung. Pembicaraan mereka terpantul, tidak masuk ke telingaku, tidak bisa lagi aku beri perhatian. Pasalnya, kalau karakter utama wanita sudah ada di sini, bagaimana nasibku? Jalan cerita sebenarnya sudah agak melenceng. Pada saat ini, mestinya Bhadrika masih belum ditemukan dan dalam keadaan sekarat, sudah tidak bisa bergerak lagi. Keadaannya jauh lebih parah dibandingkan saat aku menemukan tadi. Si Sandra ini kemudian tiba di lantai lima belas, sama sepertiku di awal, kebingungan melihat ruangan Tammy kosong. Karena itu dia langsung berpikiran mendatangi ruangan CEO, untuk mengecek apakah ada orang atau tidak. Dan tadaa! Cerita selanjutnya, dia bagai masuk ke dongeng fabel di mana menolong hewan yang terluka atau sakit bisa mendapatkan balasan kehidupan yang lebih baik.
Meski melenceng, sebuah cerita pasti akan tetap mengikuti dua pemeran utamanya. Apalah aku yang hanya remah-remah rengginang. Yang kebetulan saja terjebak di dunia ini tanpa kejelasan. Tentu saja Bhadrika akan lebih memilih pasangan yang sesungguhnya. Iya, kan? Apalagi si Sandra ini sangat cantik. Siapa saja akan terpesona dan bersedia mengangkatnya menjadi sekertaris pribadi. Kalau begitu, apa aku akan dipecat bahkan sebelum mulai bekerja? Aku rasanya ingin menangis. Ini artinya selamat tinggal gaji dua dijit. Semangatku untuk tinggal di dunia ini jadi berkurang drastis. Aku jadi tidak termotivasi. Tidak ada gunanya berlama-lama di tempat asing ini kalau tidak ada gaji dua dijit. Aku mau pulang sekarang!
Bahuku terkulai lemas. Mereka masih saja serius berbincang di tengah kegalauanku. Mau bagaimana lagi, kalau ditilik realitanya, aku hanyalah extra dalam cerita ini. Tidak ada artinya sama sekali.
Malas-malasan, aku mulai mendengarkan apa yang dua orang ini bicarakan.
"Maaf, saya tidak punya lowongan pekerja apa-apa. Saya memang habis memecat sekertaris saya. Tapi saya sudah punya sekertaris pribadi baru. Sampaikan juga maafku pada Tuan Gonsalez."
Eh? Aku tidak salah dengar kan? Namun, Bhadrika menoleh padaku untuk menekankan pernyataannya. Sandra juga ikut menoleh. Aku hanya bisa melongo karena menjadi fokus mereka berdua.
"Ahh ... begitu ya." Sandra mengangguk paham. "Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih telah meluangkan waktu Anda." Dia menunduk dengan sopan.
Bhadrika membalas salam perpisahan itu, lalu memberiku sinyal untuk menekan tombol lift. Gelagapan, aku menjalankan perintahnya. Setelah itu, aku spontan merapatkan tubuh ke lengannya. "Bapak enggak pecat saya?" bisikku.
Bhadrika menggerakkan lengannya dengan raut tidak nyaman, berusaha menjauhkanku. "Kamu mau saya pecat?" tanyanya balik.
Aku menggeleng cepat. "Enak aja, enggak mau!" ceplosku. Sedetik kemudian aku tersadar dan segera memperbaiki sebelum dia sempat berkomentar. "Maksud saya tidak, Bos."
"Kamu tahu, kan, kalau kamu aneh-aneh, penggantimu sudah ada?" Bhadrika menelengkan sedikit kepalanya ke tempat Sandra berdiri.
Aku merapatkan kaki. Kuangkat tanganku ke pelipis, memberi gerakan hormat. "Saya akan bekerja sebaik mungkin, Bos!"
Hormatku diabaikannya. Begitu lift terbuka, dia masuk, meninggalkanku dan Sandra yang mengiring kepergiannya dengan tubuh membungkuk sampai pintu lift tertutup kembali.
Di saat yang sama, ponsel Sandra berdering. Aku meliriknya saat menerima panggilan. "Halo, Om? Um ... iya, aku sudah bertemu dengannya. Aku tidak mendapatkan pekerjaan. Katanya tidak ada lowongan untukku."
Di depan, aku menampakkan ekspresi turut berduka. Terutama saat pandangan kami bertemu. Namun, dalam hati aku sudah berkoar heboh. Gila, ini gila! Aku baru saja mendepak karakter utama wanita sebuah cerita!
x-x-x
Operan tugas-tugas dari Tammy ternyata butuh waktu yang cukup lama. Banyak hal yang harus kuperhatikan. Kami baru selesai saat hari sudah memasuki malam. Tammy sudah pulang duluan, sedangkan aku sudah kembali ke ruangan Divisi Marketing. Sudah tidak siapa-siapa di sana. Semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Aku juga hanya akan mengambil tas dan kembali ke rumahku. Tempat tinggalku di dunia novel ini.
Aku membuka laci meja kerjaku. Di sana ada selembar kertas yang berisi identitasku. Aku mengangkatnya. Tadi sore, jam empat lewat, yang kata Tammy sudah jam pulang kantor, aku sempat mendatangi ruangan ini. Aku beruntung karena saat itu, semua orang Divisi Marketing ada di ruang rapat. Jadi, aku mendatangi meja Mellisa dan melakukan panggilan telepon. Aku menghubungi bagian HRD.
Orang yang menerima teleponku sepertinya tidak familiar dengan suara Mellisa, jadi dia percaya-percaya saja saat aku mengatakan kalau aku adalah Mellisa, Marketing Manager perusahaan ini.
"Saya ingin meminta data Bianca Marisa, anggota divisi saya," kataku saat itu.
Dia awalnya membalas akan mengirimiku via email, tapi tidak mungkin aku bisa mendapatkannya. Alamat email Mellisa saja aku tidak tahu. Syukurlah aku bisa meyakinkan orang HRD itu untuk mengirim via fax. Begitulah caranya aku mendapatkan data diriku. Nama, tanggal lahir, umur, berat-tinggi badan, dan semua hal dasar lainnya sama dengan diriku yang asli. Yang berbeda hanyalah riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, fakta bahwa aku yatim piatu di dunia novel ini, dan yang terpenting, alamatku. Setting lokasi yang digunakan dalam naskah yang kumasuki ini adalah kota fiksi, kota buatan. Penulisnya hanya menggambarkan kalau tokoh berada di Indonesia, kota Perbawa. Aslinya, tidak ada kota bernama Perbawa di Indonesia.
Aku mengambil ponsel dan membuka aplikasi internet. Halaman Gugal langsung terbuka. Meskipun namanya berbeda, mesin pencarian di dunia novel ini punya fitur yang mirip Google. Thank God!
Jemariku bergerak lincah di layar mengetikkan nama alamatku. Kemudian aku membuka aplikasi peta virtual saat alamatku tersebut muncul. Tempat tinggalku tidak begitu jauh. Sekitar lima kilometer dari kantor ini. Kututup aplikasi peta dan memeriksa aplikasi-aplikasi lain di ponselku. Aku berharap menemukan aplikasi ojek online. Layanan semacam itu sangat membantu untuk manusia sepertiku yang tidak punya kendaraan pribadi.
Namun, ada hal lain yang menarik perhatianku. Aplikasi jadwal bus. Aku memeriksa riwayatnya dan menemukan jalur bus yang sering digunakan. Maksudku, sering kugunakan. Ada jalur pulang juga. Ternyata tempat tinggalku dekat dengan bus stop. Lumayan juga, biaya bus di sini tertera hanya empat ribu rupiah, tentu saja ini akan lebih murah dibanding harga ojek online dengan jarak lima kilometer.
Segera aku menyambar tas. Baiklah, saatnya pulang, Bianca!
x-x-x