Tempat tinggalku ternyata cukup sederhana. Hanya hunian tipe 36, satu lantai, dengan dua kamar tidur. Aneh juga mengetahui ada dua kamar tidur di rumah ini padahal aku hanya tinggal sendiri. Satu saja kan cukup untukku. Memangnya ada yang sering berkunjung sampai aku harus menyiapkan kamar lain?
Aku berjalan menyusuri meja buffet panjang yang ada di ruang depan. Di atasnya tertata rapi beberapa pigura foto yang menampilkan diriku dan juga dua pasangan berumur yang kutebak adalah kedua orang tuaku. Aku mengangkat satu foto dan memperhatikannya dengan seksama. Orang-orang di dunia asliku mengatakan aku sangat mirip dengan ibuku. Terutama di bagian mata dan hidung. Sedangkan untuk ayah, aku hanya mengambil jidatnya yang lebar. Namun, dari foto di tanganku, aku terlihat lebih mirip ayah dibandingkan ibuku. Hidungnya tidak mancung dan membulat di ujungnya, persis sepertiku. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu mereka karena yang kutahu dari data diriku di perusahaan, mereka berdua sudah meninggal dunia.
Setelah meletakkan foto tadi, aku berjalan memasuki dapur yang sudah disertai meja makan kecil, hanya cukup untuk makan berdua. Aku mengambil gelas dan mengucurkan air dingin dari dispenser, lalu kembali berkeliling. Kunyalakan semua lampu yang ada di rumah itu, terutama di kamar mandi kecil yang terletak di antara dua kamar tidur. Meski aku orang yang gampang beradaptasi dengan keadaan, tapi tetap saja. Sejak kecil, aku tinggal bersama kedua orang tuaku, jadi aku tidak terbiasa dengan keheningan seperti ini di rumah. Aku merasa kesepian—dan sebenarnya agak ketakutan. Bagaimana kalau tiba-tiba ada mahluk halus yang melayang-melayang di sekitarku? Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri.
Karena tidak ada telivisi di rumah ini, untuk menambah keramaian, aku memutar lagu dari ponsel. Begitu musik mengalun, suasana menjadi lebih hidup dan tidak sesepi tadi. Aku meletakkan gelasku tadi di meja kopi di ruang depan, menjatuhkan bokongku di sofa berwarna biru navy, lalu mulai membongkar tas. Berhubung sedang ada waktu luang, ada yang harus kupikirkan sebelum masuk kerja besok. Rencana yang bisa membuatku kembali!
Begitu menemukan buku catatan kecil serta bolpoin, aku membuka lembaran yang kosong. Kuketuk-ketukkan pulpen itu sembari memutar otak. Jadi, aku ada dalam dunia novel Cinta Seorang CEO. Tadi, mestinya adegan di mana tokoh utama pria dan tokoh utama wanita bertemu, tapi aku mengacaukannya dengan ikut campur. Tokoh utama wanitanya tidak jadi bekerja untuk si CEO, malah aku yang diangkat jadi sekertaris. Itu artinya, AKU YANG JADI TOKOH UTAMA!
"OH MY GOD! OH MY GOD!" Aku memekik heboh. Tidak menyangka, tapi juga agak senang. Ini pertama kalinya aku menjadi center of attention dalam suatu hal.
Masih dengan terkekeh-kekeh b**o, aku menuliskan namaku dan nama Bhadrika, kemudian membulatinya masing-masing. Oke, sekarang mari kita pikirkan, ini adalah novel, selain itu, aku sudah menjadi pemeran utama. Kemungkinan terkuat cara untuk pulang adalah, novel ini selesai. Mencapai kata tamat! Kalau sudah tamat, tidak ada lagi, kan, yang perlu kulakukan di dunia novel ini? Kutambahkan kata 'tamat' besar-besar, lalu turut melingkarinya.
Detik berikutnya, aku melompat dari kursi. Kuacak-acak rambutku dengan gemas. Aku belum selesai membaca naskah novel ini! Bagaimana aku tahu tamatnya seperti apa? Tanganku yang mengacak rambut meluncur turun ke pipi, menekannya penuh derita.
Namun, selepas beberapa saat merenung, aku memutuskan untuk menjalaninya saja dulu. Sambil mengamati apakah jalan ceritanya akan sama dengan naskah yang k****a atau tidak. Setidaknya aku sudah mengetahui setengah dari sisa naskah itu. Sisanya mungkin bisa diatur. Aku kembali mengetuk-ngetukkan pulpen ke atas buku.
Sambil memangku kepala dengan sebelah tangan, aku kembali larut dalam penalaranku. Sebenarnya ada paling penting, yang meskipun tidak mengetahui ending naskah aslinya, bisa kulakukan saat ini untuk membuat novel ini tamat. Karena genre novel ini adalah romance, yang perlu kulakukan hanyalah mendapatkan hati pemeran utama. Benar, bukan? Itu adalah hal yang vital dalam sebuah cerita romansa. Membuat dua tokohnya saling jatuh cinta, mengungkapkan perasaan satu sama lain, menjadi sepasang kekasih, dan hidup bahagia bersama selamanya.
Aku harus membuat Bhadrika jatuh cinta padaku. Kalau aku mah, gampang! Pastinya tidak akan sulit untuk memiliki perasaan macam itu pada manusia seganteng Bhadrika. Mudah diatur. Yang susah diatur adalah perasaan si CEO itu. Andaikata ceweknya secantik Sandra, mungkin akan lebih mudah. Namun, masalahnya aku dibanding Sandra bagaikan angsa putih dan itik buruk rupa. Berdandan saja, kelihatannya aku tetap tidak bisa menyainginya.
Namun ... aku tidak boleh menyerah! "Kamu harus percaya diri, Bianca! Kamu pemeran utamanya!" Aku berusaha menyemangati diri sendiri dengan menepuk-nepuk puncak kepalaku.
Tekad sudah bulat. Misi sudah jelas. Aku menuliskannya dengan semangat 45 ke bagian kosong di bawah catatan-catatanku tadi. Lalu aku mengangkat buku itu tinggi-tinggi, memandanginya dengan senyum lebar.
Misi : Menjadi kekasih Bhadrika!
x-x-x
Lift sedang melesat dari lantai Lobby menuju lantai lima belas. Aku bersenandung kecil sambil mematut diri di kaca dalam lift. Selera berpakaianku ternyata tidak jauh berbeda anatara di dunia novel dengan aslinya. Buktinya, isi lemariku di rumah mirip dengan yang kupunya di dunia nyata. Hari ini aku menggunakan kemeja satin lengan panjang berwarna hijau emerald yang dipadukan dengan rok suede melewati lutut berwarna coklat s**u. Bagian tengahnya terbelah kurang lebih 10 sentimeter. Kemejaku masuk ke dalam rok dan lengannya kugulung hingga siku. Di leherku selain tergantung name tag, juga tergantung kalung bohemian berwarna senada. Untuk rambut, aku menatanya dengan model messy bun, kemudian dilengkapi dengan bando lilit. Sudut bibirku terangkat ke atas. Penampilanku tidak buruk untuk menggaet hati Bhadrika.
Aku membalik badan, menghadap pintu lift. Kakiku yang dilapisi sepatu boot coklat mengentak-entak lantai. Saking bersemangatnya menyambut hari pertamaku kerja sebagai sekertaris, aku datang sejam lebih cepat dari jam masuk kantor. Semangat itu sebanding dengan gaji. Semakin tinggi gaji, semangat juga bisa semakin tinggi.
"Dance for me, dance for me, dance for me oh oh oh. I've never seen anybody do the things you do before." Kini senandungku berubah menjadi nyanyian yang menggema di lift yang kosong. Tanpa tahu malu, aku juga menggerakkan pinggul ke kiri dan kanan, menggesekkan sepatu dengan lantai.
"They say, move for me, move for me, move for me ay ay ay ..." Tarianku yang absurd terhenti tatkala pintu lift terbuka dan sosok di baliknya bertemu mata denganku. Sontak saja aku mematung. Dia menautkan alis, tapi tidak memutus tatapannya. Pintu lift kembali bergerak hendak menutup, karena tidak ada sedikitpun pergerakan dari kami. Dalam hati aku juga merapal doa agar pintu itu cepat menutup. Biar aku bisa menyembunyikan malu. Bisa kutebak kepiting rebus pun kalah merahnya dengan wajahku sekarang.
Sayangnya, doaku tidak terkabul. Dia memencet tombol lift, hingga belum sempat menutup, pintu kembali terbuka. "Ngapain kamu? Keluar cepat!" perintahnya dengan suara serak baru bangun.
"Ngapain tadi kamu di dalam lift?" tanya Bhadrika saat aku sudah berdiri di sampingnya. Ia menaikkan sebelah alis dengan raut heran.
"Menyambut pagi dengan sukacita," jawabku dengan tangan membentang dan cengiran lebar.
Bhadrika memutar bola matanya. Aku hanya berharap dia tidak menyesali keputusannya menjadikanku sekertaris. Untuk itu, aku buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Bos nginap di sini, ya? Lembur?" Selain suara serak baru bangun, pakaian yang Bhadrika gunakan juga masih pakaiannya yang kemarin. Jadi, aku menyimpulkan dia tidur di kantor.
Dia menggeleng. "Saya malas pulang. Malas dilihat sama orang rumah," ungkapnya dengan telunjuk mengarah ke wajah. Maksudnya malas kalau orang rumah melihat luka-lukanya. Mungkin tidak mau membuat khawatir.
Belum sempat aku menggapi, dia lebih dulu melanjutkan. "Oh iya, karena kamu sudah datang ..." Tangannya merogoh sesuatu di saku celana. Begitu mendapatkannya, dia melemparkan benda tersebut ke arahku. Untung saja aku sigap menangkap. "... ambilkan sepatu Tod's hitam saya di mobil."
Baru juga datang, belum mulai jam kerja, aku sudah disuruh. Sepertinya aku harus mempertimbangkan datang lebih cepat besok-besok. Padahal niat awalku adalah mengatur meja kerja baruku, tapi ini malah menjadi pesuruhnya si Bhadrika.
"Buruan! Saya mau siap-siap!" Tegurannya menyentakkanku dari lamunan.
"Eh, iya, siap, Bos!" balasku dengan tergagap. Dengan satu gerakan cepat aku menekan tombol lift. Sayangnya, kotak besi itu sempat turun tadi saat mengantarku, sehingga butuh waktu untuk naik lagi ke lantai lima belas.
Bhadrika sendiri belum beranjak dari tempatnya. Bilangnya tadi mau siap-siap, tapi sekarang dia malah sibuk memandangi dari atas sampai bawah. Aku menyadarinya dari sudut mata. Ketika aku menoleh, dia tidak tampak merasa bersalah atau tertangkap basah. Justru tetap mengamatiku dengan terang-terangan.
"Kenapa, Bos?" tanyaku akhirnya karena mulai merasa tidak nyaman dipandangi seperti itu.
"Kamu pakai baju itu ke kantor?"
Aku menunduk, melihat pakaianku. "Memangnya ada yang salah dengan kemeja saya, Bos?"
"Bukan cuma kemeja. Semuanya. Semuanya, Bianca!" Bhadrika menekankan ucapannya dengan menggerakkan tangan di udara dari atas ke bawah.
Mataku mengerjap heran. Bingung dengan maksud bosku ini. "Salah gimana, Bos? Bukannya di perusahaan ini enggak ada peraturan mengenai pakaian dan bebas mengekspresikan diri, ya?" debatku.
"Tapi itu tidak cocok kalau kamu jadi sekertaris saya." Kali ini dia merogoh saku belakangnya. Yang diambilnya ternyata dompet. Dia membuka dompet itu dan mengeluarkan kartu berwarna hitam. Disodorkannya padaku kartu itu. "Setelah mengambil sepatu saya, kamu pergi cari baju yang pas. Waktu kamu sampai sebelum jam masuk kantor, jam delapan."
Ditraktir baju itu asyik sih, tapi yang benar saja, ini baru jam tujuh pagi! Mau cari baju di mana jam segini? "Mana ada toko pakaian buka jam segini, Bos?" bantahku dengan suara meninggi.
Bhadrika mengembuskan napas kasar. "Kamu hubungi Tammy, tanyakan soal butik langganan mama saya. Terus kamu hubungi toko itu dan minta mereka buka sekarang. Bilang perintah dari saya."
Aku melongo dengan tangan terulur menerima kartu kreditnya. Wow, orang kaya levelnya memang beda! Bisa minta toko buka seenak jidat, padahal tokonya juga bukan punya dia. Namun, pemilik toko pastinya menganggap customer seperti Bhadrika ini adalah raja di atas raja. Bayangkan saja manusia dengan duit berlimpah seperti ini menjadi pelanggan tetap. Toko tidak ramai pun tidak jadi masalah.
"Cari pakaian yang proper. Tanyakan ke pemilik tokonya gaya pakaian kayak apa yang suka. Pilih yang dia rekomendasikan, jangan kamu pilih sendiri," pesannya.
Bibirku mengerucut. Ribet juga ya, jadi sekertaris Bhadrika. Pakaian saja sampai diatur. Bagaimana kalau jadi pacarnya? "Bos enggak suka style berpakaian saya, ya?" tanyaku iseng. Aku perlu memastikan, sebagai refrensi biar dia tidak ilfeel duluan cuma karena melihat gayaku berpakaian.
"Kalau saya suka, saya tidak akan suruh kamu ganti."
"Style yang Bos suka kayak gimana?"
"Yang kurang bahan kayak lingerie."
Aku tahu dia hanya menjawab sarkastis. Kentara dari ekspresi mukanya yang menyebalkan. Karena itu, aku pun membalas tak kalah nyebelinya. "Saya boleh pakai lingerie ke kantor, Bos? Kalau itu sih enggak perlu dibelikan, saya ada beberapa kok di rumah. Bos mau liat? Saya balik dulu buat ganti. Nanti kalau udah, saya bakal langsung melapor ke ruangan Bos." Kulemparkan kerlingan nakal untuk menggodanya.
Bhadrika mengangguk dengan wajah serius. "Ya silakan saja. Nanti kita sama-sama telepon bagian HRD ya mengabari pemecatan kamu."
Aku memelotot. NO! Aku tidak mau dipecat!
Lelaki jangkung itu beranjak begitu saja di tengah-tengah kekagetanku. Sontak aku menahan lengannya, menampilkan raut patut dikasihani. "Bercanda saya, Bos. Bercanda. Saya enggak punya lingere kok, Bos. Tenang aja."
"Terserah mau punya lingere atau tidak. Buruan sana ambilkan sepatu saya!" Dia menarik paksa tangannya. Dengan satu gerakan cepat membalik tubuhku dan mendorong punggungku.
"Saya enggak bakal dipecat kan, Bos?" tanyaku sedikit berteriak karena dia sudah berjalan menjauh.
"Saya pecat kalau tiba lewat jam delapan!"
x-x-x