bc

RUMAH DI UJUNG SINYAL/Novel Horor Psikologis

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
fated
small town
like
intro-logo
Blurb

Raka Wardana, seorang content creator berusia 29 tahun, memutuskan untuk live streaming sendirian di sebuah rumah tua yang terbengkalai di pinggiran Malang selama tujuh hari penuh — demi mengejar jutaan penonton. Yang ia tidak tahu: rumah itu bukan sekadar kosong. Sesuatu di sana sudah menunggu lama. Dan sesuatu itu belajar cara berbicara melalui layar.

chap-preview
Free preview
RUMAH DI UJUNG SINYAL
BAB SATU: MALAM PERTAMA Hari ke-1 — Selasa, 14 April 2026 — 21:03 WIB Jalan menuju rumah itu tidak ada di Google Maps. Bukan karena belum dipetakan — tapi karena di titik koordinat yang dikirimkan Pak Harto tiga minggu lalu, Maps hanya menampilkan jalur abu-abu yang berhenti tiba-tiba di tepi perkebunan teh, seolah kartografer yang menggambarnya memutuskan: cukup sampai sini saja. Setelah itu, hanya hijau. Hijau pekat yang di layar ponsel terlihat seperti noda tinta yang tumpah dan tidak ada yang repot-repot membersihkannya. Aku tahu ini konten emas sejak pertama kali menemukannya. Motor sewaan bergetar keras ketika melewati jalan tanah yang sudah lama tidak dipadatkan. Ban belakang dua kali tergelincir di lumpur yang tidak terlihat dalam gelap — lampu depan motorku hanya mampu memotong kegelapan sejauh tiga meter ke depan, dan di luar itu dunia seolah berhenti ada. Tidak ada suara kendaraan lain. Tidak ada cahaya dari desa terdekat. Hanya gemerisik daun perkebunan teh di kanan-kiriku yang bergerak dalam angin malam, dan suara mesin motor yang terdengar terlalu keras untuk tempat ini. Seharusnya aku berangkat siang. Tapi tentu saja tidak. Siang itu membosankan. Malam ini — ini yang akan membuat orang tidak tidur menunggu live-ku pukul sepuluh. Aku tiba di gerbang rumah itu pukul 21:17. Gerbang besi berkarat, setengah terbuka, dengan rantai yang tergantung putus di sisi kanan. Di antara jalinan besi yang sudah menghitam, semak rambat tumbuh seperti jari-jari yang mencoba menahan gerbang tetap tertutup — tapi kalah. Sudah lama kalah. Di atas gerbang, ada prasasti dari beton yang sebagian hurufnya sudah rontok: VIL A SE AR. Villa Sekar. Begitu Pak Harto menyebutnya, dengan cara yang aneh — seperti ia melafalkan nama penyakit, bukan nama tempat. Aku berdiri di depan gerbang itu selama hampir dua menit, hanya memandang. Bukan karena takut. Aku ingin jujur tentang ini, setidaknya dengan diriku sendiri: bukan karena takut. Tapi ada sesuatu yang membuat kakiku tidak langsung melangkah masuk — semacam ragu yang tidak punya nama yang tepat. Bukan ragu yang kamu rasakan sebelum melompat dari papan loncat kolam renang. Lebih seperti ragu yang kamu rasakan ketika membuka pesan dari seseorang yang sudah lama tidak menghubungimu, dan sebelum layar terbuka kamu tahu — dengan cara yang tidak bisa dijelaskan — bahwa isi pesannya akan mengubah sesuatu. Aku mengeluarkan ponsel dan mengecek sinyal. Empat batang. LTE. Sempurna. Oke, pikirku. Ini kerja. Rumah itu lebih besar dari yang terlihat di foto yang dikirimkan Pak Harto. Dua lantai, dengan veranda depan yang sebagian atapnya sudah ambruk — menyisakan tulang-tulang kayu yang mencuat ke atas seperti tulang rusuk makhluk yang sudah lama mati. Cat dindingnya, yang dulu mungkin putih, kini menjadi abu-abu kotor berbercak coklat di bagian bawah karena lumut dan rembesan air hujan bertahun-tahun. Tiga dari lima jendela di lantai bawah masih memiliki kaca — dua sisanya sudah pecah, ditambal plastik hitam dari dalam yang berkibar pelan dalam angin. Pintu depannya tidak terkunci. Hanya tertutup. Aku mendorongnya, dan engsel yang berkarat memekik dengan suara yang membuatku menahan napas tanpa sadar — suara itu bukan sekadar berisik, tapi keberatan. Seperti sesuatu yang sudah lama tidak dibuka, dan sudah lupa caranya menerima tamu. Di dalam, baunya langsung menyambut: kayu tua yang lembap, debu yang sudah mengendap menjadi lapisan tipis di semua permukaan, dan sesuatu di bawah itu semua — sesuatu yang lebih organik, lebih dalam, yang tidak bisa aku namai dengan satu kata. Bau waktu, mungkin. Bau tempat yang sudah lama sendirian. Aku menyalakan senter ponselku dan menyapu ruangan. Ruang tamu. Sofa tua dengan jok yang sudah kempes dan kainnya sobek di beberapa tempat, kapuk yang menghitam menyembul keluar. Meja kopi dari rotan dengan gelas kosong di atasnya — satu gelas, bersih, tanpa debu, yang membuat aku berhenti sebentar dan melihatnya lebih lama dari yang seharusnya. Di dinding, ada kalender yang sudah kuning: Oktober 1987. Di pojok ruangan, ada televisi tabung yang layarnya retak diagonal — dan di pantulan layarnya yang retak itu, aku bisa melihat bayanganku sendiri, terpecah menjadi dua bagian yang tidak rata. Aku mengambil beberapa foto untuk i********: Stories. Setup peralatan memakan waktu hampir satu jam. Tiga kamera: satu di tripod untuk live utama di ruang tengah, satu kamera wide angle yang aku pasang di sudut atas menghadap seluruh ruang tamu menggunakan mount tempel khusus yang kubawa, dan satu kamera kecil yang akan aku bawa kemana-mana sebagai handheld. Lampu sorot LED portabel di dua sudut ruangan — cukup terang untuk gambar yang baik, tapi cukup gelap untuk menjaga mood. Generator kecil di teras belakang untuk listrik, karena tentu saja tidak ada aliran PLN. Dua power bank besar untuk cadangan. Laptop untuk monitoring komentar secara real-time. Dan terakhir, yang paling penting: router LTE portabel yang aku sewa khusus, dengan kartu SIM paket data empat puluh giga yang — berdasarkan pengetesan sinyal tadi — akan memberikan koneksi stabil untuk live streaming kualitas HD. Aku memeriksa frame kamera utama sekali lagi. Sudut yang terbaik, yang sudah aku putuskan sejak pertama kali melihat denahnya: kamera menghadap ke pintu depan, dengan ruang tamu dan tangga ke lantai atas terlihat di latar belakang. Di kanan frame, pintu yang menuju lorong ke dapur dan kamar belakang — setengah terbuka, sehingga kegelapan di baliknya terlihat, tapi tidak terlalu jelas. Penonton akan selalu bertanya-tanya tentang apa yang ada di balik pintu itu. Rasa ingin tahu adalah kunci engagement. Pukul 22:34. Aku duduk di depan kamera, menyesuaikan rambut, dan menekan tombol Go Live. Dua ribu penonton dalam tiga puluh detik pertama. Itu rekor pembukaan live-ku. Sebelumnya paling banyak sembilan ratus di awal, lalu naik perlahan. Tapi malam ini berbeda — pengumuman tiga minggu yang lalu, teaser konten yang aku bocorkan sedikit demi sedikit, dan kolaborasi promosi dengan dua kreator lain yang audiens-nya tumpang tindih dengan audiensKu, semuanya bekerja dengan tepat. Aku tersenyum ke kamera. Senyum yang sudah aku latih selama tiga tahun — bukan senyum palsu, tapi senyum yang terkontrol. Ada bedanya. "Halo, semua," kataku. Suaraku stabil. Aku bangga dengan itu. "Ini malam pertama. Jam hampir sebelas kurang. Dan aku sudah di dalam." Komentar mengalir seperti air: wkwkwk gila beneran masuk Raka berani banget sih!! background-nya serem poll kak itu pintu belakang kebuka dikiiit banget HATI HATI KAK RAKA Aku membaca beberapa komentar keras-keras, memilih yang paling lucu dan yang paling antusias. Standar. Ini bagian dari formula yang sudah bekerja selama ini. "Jujur?" aku merendahkan suara sedikit, mencondongkan badan ke kamera — teknik yang aku pelajari dari kreator Amerika yang angka penontonnya sepuluh kali lipat angkaku. Menciptakan intimasi. "Agak ngeri juga." Tawa. Emoji ketakutan berhamburan di kolom komentar. Angka penonton: dua belas ribu. Naik terus. "Tapi aku di sini tujuh hari. Tujuh malam. Tidak kemana-mana." Aku berdiri, mengambil kamera handheld dan mulai berjalan memperlihatkan ruangan. "Dan kamera ini tidak pernah mati. Selama tujuh hari, kalian bisa lihat semua yang terjadi di sini — mau tengah malam, mau subuh, mau kapanpun. Live terus." Dua puluh ribu penonton. Delapan belas menit sejak mulai. Satu jam pertama berjalan seperti yang sudah aku rencanakan. Aku tur seluruh lantai bawah — ruang tamu, ruang makan dengan meja kayu panjang yang kursinya sudah tinggal empat dari yang mungkin dulu delapan, dapur dengan kompor kayu yang sudah berkarat dan rak piring yang pecah-pecah, kamar mandi dengan cermin yang separuhnya sudah gelap karena lapisan amalgamnya mengelupas. Di lantai atas, aku hanya sampai di bagian atas tangga — menerangi lorong panjang yang ujungnya tidak terlihat dari posisi itu, sebelum turun kembali dengan alasan yang tidak sepenuhnya bohong: papan tangganya terasa tidak aman. Penonton menyukai momen itu. Komentar meledak. Aku menceritakan sedikit tentang sejarah rumah — versi yang sudah aku riset dari arsip lokal dan wawancara dengan Pak Harto, yang sudah aku saring dan dramatisir dengan tepat. Villa Sekar dibangun awal tahun 1970-an oleh seorang pengusaha dari Surabaya sebagai rumah peristirahatan. Ditinggalkan mendadak pada akhir 1987 tanpa alasan yang tercatat. Tidak pernah dijual, tidak pernah direnovasi, tidak pernah dihuni lagi. "Kenapa ditinggalkan, tidak ada yang tahu pasti," kataku ke kamera, dengan nada yang tepat — antara serius dan misterius. "Pak Harto, penjaga desa yang paling tua di sini, bilang ke aku satu hal waktu aku ketemu beliau minggu lalu." Aku berhenti sebentar. Pause dramatis. Ini penting. "Beliau bilang: 'Rumah itu tidak kosong, Nak. Tidak pernah kosong.'" Komentar meledak lagi. Tiga puluh satu ribu penonton. Pukul 00:17, aku mulai lelah. Bukan lelah yang mengantuk — lebih seperti kelelahan dari bermain peran selama dua jam. Live streaming membutuhkan energi yang berbeda dari energi fisik: kamu harus selalu on, selalu bereaksi, selalu memberikan sesuatu kepada penonton yang membuatnya merasa hadir bersamamu. Bahkan ketika tidak ada yang terjadi, kamu harus membuat tidak ada yang terjadi terasa menarik. Aku duduk di sofa tua — sudah aku lapisi dengan sleeping bag agar tidak langsung menyentuh permukaannya — dan membiarkan kamera tripod yang menghadapku melakukan pekerjaannya. Live ambient. Biarkan suasana berbicara. Tiga puluh delapan ribu penonton. Hampir semua diam, menonton. Itu selalu momen yang aneh: ketika puluhan ribu orang memandang kamu diam dalam diam. Kamu tahu mereka ada — angka itu nyata, komentar yang masuk setiap beberapa detik itu nyata — tapi kamu tidak bisa merasakan kehadiran mereka. Tidak ada yang merasakanmu. Kamu sendirian di ruangan ini, dengan tiga puluh delapan ribu pasang mata yang tidak punya tubuh. Aku mulai menelusuri komentar secara acak, bukan untuk dibaca keras-keras, hanya untuk tetap grounded. Suara apa itu aku dengar juga gasss bukan suara yang raka bikin itu Raka diem dulu dong dengerin sekitar ada yang ngetuk ngetuk gasss Aku menghentikan jempol di komentar-komentar itu. Aku tidak mendengar apapun. Sudah hampir sepuluh menit terakhir — suasana sunyi. Angin di luar, sesekali suara generator dari belakang, dan derit kayu yang normal dari bangunan tua yang mendingin di malam hari. Penonton itu mungkin hanya membuat-buat. Itu juga bagian dari fenomena live streaming horor — penonton yang role play ketakutan, yang berpura-pura mendengar sesuatu untuk menciptakan suasana. Aku mengerti psikologinya. Aku bahkan kadang mengandalkannya. Aku mengetik di kolom komentar dari ponsel keduaku: Suara apa? Aku tidak dengar apa-apa. Balasan datang cepat. ketukan dari arah kanan kamera raka ketukan pelan tapi jelas bgt itu bukan suara kayu biasa kak Aku memiringkan kepala, memusatkan perhatian. Dan kemudian, seperti telingaku tiba-tiba belajar cara mendengar hal yang selalu ada tapi tidak pernah didaftarkan: ada ketukan. Sangat pelan. Teratur. Dari arah dinding kanan ruangan — dinding yang di baliknya, kalau aku tidak salah ingat dari tur tadi, adalah ruang makan. Tiga ketukan. Jeda. Tiga ketukan lagi. Aku bangkit berdiri perlahan. Kamera tripod masih menangkapku — reaksiku, perubahan ekspresi wajahku yang aku sendiri tidak bisa kendalikan sepenuhnya. "Kalian dengar itu?" bisikku. Komentar meledak. Angka penonton melompat ke empat puluh tiga ribu dalam hitungan detik. Aku berjalan perlahan ke arah dinding, mengambil kamera handheld dalam perjalanan. Merekam dinding. Mendekatkan mikrofon. Dan ketukan itu — jelas sekarang, tidak bisa aku sanggah dengan alasan apapun — terus berbunyi dari balik dinding dengan irama yang terlalu teratur untuk menjadi sesuatu yang tidak disengaja. "Aku mau cek ruang makan," kataku ke kamera. Tapi sebelum aku melangkah ke pintu, aku membuka laptop untuk melihat komentar satu kali terakhir — kebiasaan yang tidak bisa aku hentikan, refleks seorang kreator yang selalu mengecek audiensnya bahkan di tengah momen kritis. Dan di antara ribuan komentar yang mengalir, satu komentar berhenti membuatku membaca ulang. Satu komentar yang tidak seperti yang lain — bukan karena katanya mengancam, bukan karena namanya aneh, tapi karena nada dan pilihannya terasa seperti sesuatu yang kamu dengar dari seseorang yang sudah tahu. Seseorang yang berbicara bukan kepada puluhan ribu penonton, tapi langsung kepadamu. @SekarMalam_ : "Akhirnya kamu datang juga, Raka. Aku sudah menunggu lama sekali." Jantungku berhenti sebentar. Bukan karena kata-katanya seram — dalam konteks live streaming horor, pesan seperti itu tidak langka. Penonton suka bermain peran, suka membuat suasana. Tapi ada yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa aku namai sampai jauh kemudian: pesan itu tidak memiliki tanda baca yang salah. Tidak ada huruf besar acak. Tidak ada ejaan yang terburu-buru. Kalimat yang sempurna — seperti ditulis oleh seseorang yang sudah memikirkan kata-katanya dengan sangat hati-hati, jauh sebelum kamu membukanya. Aku scroll ke atas untuk mencari akun itu. Tidak ada. Aku ketikkan nama akunnya di kolom pencarian: @SekarMalam_ Akun tidak ditemukan. Ketukan di dinding berhenti ketika aku memasuki ruang makan. Ruangan itu kosong — sama seperti yang aku ingat dari tur tadi. Meja panjang, empat kursi, rak piring yang pecah di sudut. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada tanda-tanda seseorang baru saja berada di sana. Aku menerangi setiap sudut dengan senter, memperlihatkan semuanya ke kamera handheld dengan teliti — untuk penonton, dan juga, jujurnya, untuk diriku sendiri. "Tidak ada apa-apa," kataku. Suaraku terdengar lebih kering dari yang aku inginkan. Komentar terus mengalir. Penonton yang beralasan: pasti tikus, suara pipa, kayu yang muai. Penonton yang senang: SEREMM, jantungku mau copot, raka keren banget nggak kabur. Dan beberapa yang aku tidak tahu harus mengkategorikannya sebagai apa: jangan buka pintu di pojok kiri raka itu pintu apa? nggak kelihatan dari tadi raka ada pintu yang tersembunyi di pojok itu Aku mengarahkan kamera ke pojok kiri ruangan. Di balik rak piring yang miring, tersembunyi sebagian oleh bayangan — ada pintu. Pintu kecil, seperti pintu lemari, tapi dengan engsel dan gagang yang menunjukkan itu pintu yang sesungguhnya menuju suatu tempat. Aku tidak memperhatikannya waktu tur tadi. Aku mendekatinya. Mengulurkan tangan. Dan tepat ketika jariku menyentuh gagangnya yang dingin — lebih dingin dari semua logam lain yang aku sentuh malam ini — generator di belakang rumah mati. Seluruh ruangan tenggelam dalam kegelapan total. Dalam gelap itu, aku mendengar sesuatu yang lebih sulit aku jelaskan daripada ketukan tadi. Suara napas. Bukan napasku — aku tahu persis irama napasku sendiri, dan ini bukan itu. Lebih pelan. Lebih dalam. Dan dari jarak yang, jika aku harus memperkirakan dalam gelap yang sempurna ini, tidak lebih dari dua meter di depanku. Generator kembali menyala dua belas detik kemudian. Ruangan itu kosong. Pintu kecil di pojok itu tertutup rapat. Aku tidak ingat apakah tadi terbuka atau tertutup — dan itulah yang kemudian membuatku tidak bisa tidur sampai subuh: bukan suaranya, bukan gelapnya, tapi ketidakmampuanku untuk mengingat satu detail sederhana yang seharusnya aku ingat dengan sempurna. Aku kembali ke ruang tamu. Duduk di depan kamera utama. Menatap lensa yang menatapku balik. Lima puluh satu ribu penonton. "Baik," kataku akhirnya, dengan suara yang lebih tenang dari yang aku rasakan. "Ini baru malam pertama." Pukul 03:47, setelah penonton berkurang menjadi dua belas ribu dan aku menyatakan istirahat live hingga pagi, aku membuka laptop satu kali terakhir. Aku mencari akun @SekarMalam_ sekali lagi. Akun tidak ditemukan. Tapi di kolom riwayat komentar yang tersimpan dari sesi live tadi — sistem secara otomatis menyimpan semua komentar untuk arsip kreator — aku menemukannya. Timestampnya: 23:04:17. Tiga menit setelah aku mulai live. Dan di bawahnya, satu komentar lagi dari akun yang sama, yang tidak aku lihat tadi: @SekarMalam_ : "Kamu tidak perlu memeriksa pintu itu malam ini, Raka. Kita masih punya banyak waktu." Timestamp: 01:09:33. Empat menit sebelum generator mati. Bersambung ke Bab Dua: "Yang Tersisa di Pagi Hari" Catatan Penulis: Seluruh percakapan dalam novel ini — termasuk komentar-komentar live streaming — adalah fiksi. Nama, karakter, dan tempat merupakan rekaan sepenuhnya. RUMAH DI UJUNG SINYAL · Bab 1 dari 24

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
750.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
983.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.1K
bc

Not just, the Beta

read
349.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook