Namanya Sagara Syailendra. Kesehariannya hanyalah sebagai karyawan proyek yang bertugas untuk menjadi penanggung jawab jalannya sebuah proyek. Dia hidup sendirian. Sagara tidak memliki ayah, ibu, maupun saudara. Kendati demikian, dia tidak pernah kesepian karena dia menjadi donatur utama sebuah panti.
Namanya cukup unik untuk lelaki modern di masa ini. Sagara berarti laut dan Syailendra berarti dinasti raja-raja yang berkuasa di Kerajaan Medang era Jawa Tengah Indonesia sejak tahun 752 dan menguasai Sriwijaya di Pulau Sumatra sejak kepemimpinan Balaputradewa dari Jawa Tengah Indonesia. Jadi secara tidak langsung Sagara Syailendra mempunyai makna raja yang mengusai lautan.
Tingginya sekitar 180 cm, kulitnya bersih, matanya biru, rambutnya lurus dan sedikit pirang. Seandainya dia masuk dunia model, pastilah banyak brand yang ingin bekerja sama dengannya, tapi Sagara tidak memedulikan itu. Dan bagi Ratu, wajah Sagara itu standar. Ganteng banget tidak, jelek juga tidak.
Semakin Ratu memikirkannya, semakin dia muak dengan pikirannya sendiri. Dia seorang, Ratu Purbaningrum yang bahkan menolak lamaran seorang CEO perusahaan minyak, malah akan menjadi suami seorang kantraktor? Yang benar saja!
“Ayah ini gimana, sih? Masa aku nikah satu bulan lagi, aku ndak tahu. Ini aku loh yang mau nikah!” protes Ratu. Dia pun menaruh garpu dan pisau. Steak lezat di depannya sama sekali tak menggodanya lagi.
Pak Danaswara justru tertawa. “Jadi kamu sudah ketemu sama Sagara?” tanyanya seraya mengambil air minum.
Ratu tak menjawab. Dia justru melempar pandangan kesal kepada ayahnya. “Apa untungnya sih, nikahin aku dengan pemuda yang tak punya asal-usul yang jelas seperti itu. Kaya nggak, ganteng ndak terlalu, kepintarannya juga dipertanyakan. Ayah ini mikir apa sampai menyimpulkan Ratu harus menikah dengannya!” berontak Ratu.
“Nanti kamu juga tahu,” jawab Danaswara singkat.
Ratu pun medesis. Dia lalu memandang ibunya dengan tatapan mengharap. Ibunya yangh melihat tatapan memelas anaknya hanya mengerutkan dahi. “Ibu setuju dengan ayahmu. Tidak ada yang perlu dibahas untuk ini.”
Ratu kian emosi. Dia lalu bersedekap lantas berpikir. Jika dia tidak bisa membatalkan pernikahan yang akan digelar satu bulan lagi, mungkin dia bisa mengontrol bagaimana jalannya pernikahan itu. Segera saja sebuah ide muncul dalam kepalanya. Wajah cemberut Ratu seketika berubah menjadi raut licik. Dia tersenyum amat penuh makna. Matanya juga menyala, mengisyaratkan menyimpan banyak penuh rencana.
“Baik. Jika itu yang Ayah sama Ibu mau. Tapi Ratu punya satu permintaan kecil.”
Danaswara menatap anaknya dengan tatapan tak percaya. Dia tersenyum lantas bersulang dengan istrinya. “Apa pun syaratnya, pasti ayah penuhi!” ujarnya.
“Nikahkan kami secara rahasia. Hanya ada ayah dan dua orang saksi. Tak boleh lebih atau kurang,” celetuk Ratu sembari tersenyum simpul. Dia lalu mengangkat gelasnya lalu meminum air di dalamnya.
“Apa tidak ada persyaratan lain? Bulan madu di Swiss misal? Ayah bisa biayai berapa lama pun kalian mau di sana?” usul ayah Ratu.
“Atau kalau mau traveling ke mana pun, kami pasti bolehin, kok. Biar Ayah dan Ibu yang urus perusahaan yang kamu kelola, ya!” sambung ibu Ratu.
Ratu masih memekarkan senyumannya. Kali ini dia tersenyum manis namun dengan raut wajah tegas. “Turuti atau lepaskan saja harta Ayah ke dinas sosial. Aku masih bisa hidup meski dengan perusahaanku sendiri,” tandas Ratu. Dia pun meninggalkan meja makan. Ratu tahu sendiri watak ayahnya. Meski dia takut kalau ayahnya benar-benar akan memberikan seluruh hartanya ke dinas sosial, tapi dia tidak mau untuk tunduk siapa pun. Dia Ratu dan sudah sepantasnya semua orang yang tunduk pada dirinya. Bukan sebaliknya.
Danaswara pun memeras kepalanya. Dia tak percaya kalau dirinya diancam balik oleh anaknya. Danaswara kini hanya bisa menghela napas. Ratu benar-benar menuruni segala watak dirinya sendiri. Tegas dan tentu keras kepala.
“Gimana ini, Mas?”
Danaswara hanya bisa memandang istrinya. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Ratu meski itu terasa sedikit memalukan bagi keluarga mereka. Mau tak mau, Danaswara pun harua membatalkan wedding organizer yang telah dia sewa. Termasuk juga membatalkan gedung, makanan, dan segala persiapan nikah, kecuali gaun pernikahan. Jika Ratu meminta pernikahan secara rahasia pastilah dia ingin menikah di rumah ini.
***
Dan akhirnya seperti apa yang diinginkan oleh Ratu. Pernikahan dirinya dan Sagara tidak dihadiri oleh orang banyak. Mereka menikah di rumah, bahkan sangat sederhana sekali. Ratu memakai kaos, sedang Sagara hanya memakai hem. Lantas Sagara menjabat tangan Pak Danaswara. Setelah Pak Danaswara mengucapkan akad dan dijawab oleh Sagara, lalu dua orang saksi yang tak lain adalah bawahan ayahnya sendiri mengucapkan sah, Sagara dan Ratu pun menjadi suami-istri.
Sagara tersenyum kepada Ratu. Tetapi Ratu tidak. Bahkan ketika Sagara mengangkat tangannya untuk memasangkan cincin ke Ratu, justru wanita itu malah mengambil cincin itu dan memasangkannya sendiri.
“Sudah, kan? Kalau sudah aku mau pergi,” katanya. Lalu tanpa menunggu persetujuan siapa pun, dia pun pergi.
Deru mobil terdengar sampai di ruang tamu, tempat Ratu dan Sagara menikah. Semua orang pun tercengang dengan kelakuan Ratu. Mereka paham kalau pernikahan ini tak hanya rahasia, tapi juga paksaan. Namun apakah Ratu sebegitu bencinya dengan Sagara, bahkan untuk bertukar cincin dengannya saja, dia tidak mau.
Sagara mengambil cincin miliknya. Dia pun menatap cincin itu lamat-lamat. Belum pernah terbayang dalam benaknya kalau istrinya sendiri tak mau memakaikan cincin di jari manisnya.
“Sepertinya kamu harus bersabar, Gar!” ujar Pak Danaswara.
Sagara tersenyum. Dia pun melepas kalungnya yang talinya terbuat dari kulit sintetis. Dia lalu menyematkan cincinnya di sana.
“Ayah santai saja. Ratu sekarang adalah tanggung jawabku. Aku akan pastikan dia yang akan mengenakan cincin ini di jariku,” ucap Sagara penuh optimis. Dia lalu menyalami Pak Danaswara dan mengecup tangannya. Pak Danaswara pun membelai kepala Sagara.
“Aku percaya padamu, Gar. Seperti aku mempercayai mendiang ayahmu dulu,” singkap Danaswara.
Sementara itu, Ratu pun melepas cincin pernikahan yang ia kenakan. Hendak dia membuangnya, namun urung. Satu-satunya yang berharga dalam pernikahannya hari ini hanyalah cincin yang Ratu kenakan sekarang. Cincin yang mempunyai desain mirip seperti The Blue Moon of Josephine, mempunyai harga sekitar 134 juta usd. Cincin ini begitu indah dengan dihiasi berlian biru tak bercela sebesar 10 karat. Meski Ratu benci dengan pernikahan yang sudah dilakukannya, namun dia bukan wanita bodoh yang gampang termakan emosi dan membuang cincin dengan harga fantastis itu.
Ratu pun berteriak. Dia benar-benar tak habis pikir mengapa ayahnya menikahkannya dengan pria miskin yang hanya bekerja sebagai karyawan proyek. Sumpah, tak ada satu pun alasan yang logis yang bisa dipikirkan oleh Ratu. Namun satu yang pasti, meskipun pernikahan ini sudah dilaksanakan, dia bersumpah pada dirinya sendiri, tak akan pernah akan jatuh cinta pada Sagara.
Sebuah pikiran sesat pun muncul dalam otaknya. Ayahnya pasti tetap akan memberikan seluruh asetnya pada dinas sosial kalau Ratu menuntut perceraian, tapi bagiamana jika Sagara yang menggugat cerai.
Ratu pun tersenyum dengan idenya.
“Awas aja ya, kamu Sagara Syailendra! Meskipun namamu berarti Raja Lautan, tak akan pernah kamu bisa menaklukanku, sekalipun kamu bisa menaklukan seluruh lautan sekali pun!”
Ratu pun memutar lagu rock keras-keras di dalam mobilnya. Dia mengoper gigi mobilnya lalu menambah kecepatan. Besok akan jadi hari pertamanya untuk membuat Sagara menggugat cerai ke dirinya. Dan Ratu bisa menjadi seorang wanita single yang bermandikan harta termasuk harta ayahnya sendiri.