SUAMI SIALAN

1160 Words
Sebuah suara ledakan terdengar memekikkan telinga. Sebuah asap keluar dari kap mobil Ratu. Wanita itu pun segera mengerem dan menepikan mobilnya. Setelah membuka kap mobilnya, asap hitam keluar. Tanpa pikir panjang, Ratu pun mengambil air minum di mobil lalu menyiramnya ke sumber asap. Meski asap di kap mobil itu perlahan berkurang, namun Ratu hanya bisa menghela napas. Ratu mendesis kesal. Kenapa pula di saat dia kesal karena sudah menikah dengan Sagara, hal ini malah terjadi. “Sial!” teriaknya. Ratu pun mengambil handphone lantas menghubungi ayah, tidak diangkat. Ibu juga sama. Ratu pun langusng menghubungi telepon rumah, namun tiba-tiba saja sebuah pikiran menyusup dalam otaknya. Jika dia menelepon rumah dan yang mengangkat itu ayah atau ibunya itu tidak masalah. Tetapi jika yang mengangkat adalah suami barunya, pasti malah akan membuat dia makin marah. “Halo?” Dan benar saja apa yang dibatinkannya benar. Yang mengangkat telepon rumah adalah suara baru. Meski baru, Ratu hapal benar suara siapa itu. “Salah sambung!” pungkasnya. Benci banget rasanya mendengar suaranya saja. Apalagi nanti malam kalau sampai terpaksa dengan Sagara. Ratu sama sekali tak bisa membayangkannya. Saat pikiran itu melintas di benaknya saja, dia langsung merinding. Ratu pun menelepon Ami, tak diangkat juga. Tak menyerah dengan itu, Ratu terus menghubungi sahabatnya itu. Namun setelah mencoba beberapa kali dan malah direject bahkan hpnya dimatikan, Ratu pun menyerah. “Sialan!” Ratu mendesah. Dia menghubungi para sopir dan siapa pun nomor yang dia punya. Sialnya ketika dijawab, justru sopir itu sedang mengantarkan ayah dan ibu belanja. Bukan hanya satu, tapi semuanya. Ratu pun hanya bisa memutar bola matanya. Dalam pikirannya, ayah dan ibunya pasti sedang mempersiapkan banyak barang, menyambut menantu baru mereka. Dan pastinya mereka akan membuat kamar Ratu menjadi kamar yang … Ratu menggeleng-geleng. Dia tak mau memikirkannya. Jika benar apa yang duga, Ratu benar-benar harus pulang sekarang. Dia sama sekali tak mau kamarnya berubah, apalagi hanya gara-gara satu orang tak jelas yang kini menyandang sebagai suaminya. Tapi bagaimana, dia kembali secepatnya? Tadi dia sudah menghubungi bengkel untuk menderek mobilnya, hanya saja jika dia pulang menumpang mobil bengkel itu, dia bisa seharian di jalanan. Lebih sialnya lagi, di jalur ini, tidak ada ojek online yang menjawab pesanannya. “Hih!” kesal Ratu. Berulang kali ia memutar otaknya, namun tak satu pun jalan keluar selain menghubungi Sagara kembali. Ratu pun mengangkat handphonenya kembali. Dia menghela napas. Hendak dia menekan nomor rumah kembali, tapi egonya menghalangi. Ratu geregatan sendiri. Tangannya mengepal kuat. Rasanya enggan sekali menghubungi manusia satu itu. Tapi kalau dia tidak cepat pulang, kamar kesayangannya akan berubah menjadi kamar bencana. “Aaaa!” teriak Ratu. Dia lalu membuang egonya jauh-jauh lantas menghubungi nomor rumah kembali. “Ya?” jawab Sagara dari seberang. Nadanya terdengar bersahabat. Namun di telinga Ratu justru sebaliknya. Mau nada bicara Sagara sehalus penyanyi kelas atas pun, tetap saja terasa menganggu. “Kamu emang sengaja nunggu telepon dariku lagi, ya?” terka Ratu. Dia merasa sedikit kesal karena telepon darinya langsung saja diangkat. “Yaps. Mana mungkin aku mengabaikan telepon dari istriku,” jawab Sagara. Demi mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Sagara, Ratu langsung menutup teleponnya. Benci sekali dia mendengar kata itu. Memang siapa yang sudi menjadi istri seorang karyawan proyek? Ratu pun mendesis. Dia ingin sekali membanting handphonnya. Demi melampiaskan kemarahannya, dia pun menginjak-nginjak tanah. Semakin keras, semakin bagus. Dan setelah emosinya sedikit mereda, Ratu pun dengan sangat terpaksa menghubungi nomor rumah kembali. Untung saja dia tidak harus menghubungi nomor Sagara langsung, selain karena dia tidak akan pernah menghubunginya, dia juga tak mau menyimpannya. “Ya?” sambut Sagara, masih dengan nada bicara yang sama. Ratu mengelus-elus dadanya. Dia mencoba untuk bersabar. “Jemput aku, nanti aku kirim lokasinya!” “Kirim lokasi? Dengan telepon rumah?” Ratu makin geram. Dia pun mengeratkan giginya. Sebal sekali dengan logika Sagara yang berjalan terlebih dahulu. Kenapa pula Ratu tak kepikiran sampai ke sana. Sumpah, mendengarnya Sagara berkata demikian, membuat Ratu seakan sudah kalah satu langkah dari Sagara. Dan itu membuat Ratu semakin geram sendiri. “Cepat catat nomorku! Aku tidak mau ngulangin,” tandas Ratu. “Ok!” Ratu menarik napas. Dia pun ogah-ogahan menyebut satu per satu nomornya. “Bisa ulangi?” pinta Sagara. “Hah? Kuping Anda budek atau gimana? Kan sudah aku bilang nggak mau ngulang!” amuk Ratu. Alih-alih marah dengan celaan Ratu, Sagara justru tertawa. “Kan biasanya kalau minta nomor harus diulang biar ndak salah.” Ratu mendesis. Ia pun memejamkan matanya lalu membayangkan tengah menendang muka suami barunya itu. “Sekali lagi, dan jangan sampai minta diulangi lagi,” katanya sembari menahan amarah. “Hmm … ndak jadi, deh. Aku sudah dapat nomormu dari Ayah. Nanti aku kirim pesan agar kamu tahu nomorku ya, setelah itu segera kirimsa lokasinya, ya! Aku tunggu!” Sagara pun menutup teleponnya. “Dasar b******n!” teriak Ratu seketika setelah Sagara menutup teleponnya. Dia pun berbalik arah, menghampiri pohon lalu dia tulis nama Sagara dengan batu lantas berulang kali dihajarnya pohon itu dengan tendangan taekwondo yang paling mematikan. Baru setelah kakinya terasa sakit dan napasnya tak sanggup lagi untuk menghajar pohon itu, dia pun mengirim lokasi ke Sagara. Dan baru menunggu sebentar, Sagara sudah datang bersama mobil jeep biru tuanya. Ratu yang melihat itu pun segera menyadari kalau Sagara sebenarnya itu orang yang narsis. Mentang-mentang matanya biru, mobilnya juga biru. Dia memakai hem biru muda lagi. Oh ya, namanya juga Sagara yang berarti samudra. Dan samudra warnanya biru. Apalagi namanya kalau bukan narsis. “Ngebut ya?” terka Ratu. Walau aslinya dalam hati dia justru membatin, kenapa orang di depannya ini tidak kecelakaan sekalian? Sagara menggeleng. “Kan bisa lacak nomor. Jadi tidak perlu menunggu share lokasi.” Ratu yang mendengarnya hanya bisa mendengus kesal. Dia mulai menyadari kalau orang di depannya bukanlah sembarang lelaki yang gampang untuk dibohongi. “Minggir, biar aku yang nyetir!” usir Ratu. “Oh tidak bisa. Namamu Ratu Purbaningrum. Aku paham kalau kamu berkuasa di rumah. Tapi mobil ini kekuasaanku,” elak Sagara. Ratu makin jengkel dengan Sagara. Dia rasanya ingin menendang Sagara dan membawa kabur mobilnya. Namun dari data investigasinya itu tidak mungkin karena Sagara juga mempelajari salah satu ilmu bela diri. Tak lain dan tak bukan adalah boxing. Ratu pun makin sadar diri. Menghadapi Sagara bukanlah perkara yang mudah. Dia pintar dan terus berpikir ke dapan. Karena tak ada pilihan lain serta sepertinya mobil derek akan lama, jadilah Ratu pun naik ke mobil, tepat di samping Sagara. “Ayah sama Ibu ke mana?” tanya Ratu langsung ke poin intinya. Baginya Sagara masihlah orang asing, miskin, yang tahu-tahu jadi suaminya. Dan oh lihat, dia juga tidak memakai cincin pernikahannya. Entah kenapa, justru Ratu malah kesal melihat Sagara tidak memakai cincin pernikahan mereka. “Lagi beli perlengkapan buat kamar kita,” jawab Sagara. Mendengar itu, Ratu pun menyipitkan pandangan. Benar dugaannya. “Cepat antarkan aku pulang!” tandasnya. Bagi Ratu kamar di rumahnya adalah singgasananya. Maka tak ada satu pun, satu pun orang yang boleh masuk atau bahkan mengusik kamarnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD