ORANG LAIN

1223 Words
“Apa bener Ratu udah menikah, Mi?” tanya Fritz pada Ami. Dia membuang mukanya ke dataran kota di bawah gedung. Tangannya memegang minuman. Ami menelan ludah. Berbicara dengan pria di depannya ini sungguh membuatnya tak nyaman. Selain karena kekuasannya yang tinggi, serta sikapnya yang sedingin es, Fritz tak pernah segan untuk menyingkirkan musuhnya. “Benar,” ujar Ami pelan. Fritz mengembuskan napas. Uap napasnya membuat kaca di depannya sedikit berkabut. Dia lantas menyeruput minumannya kembali. Fritz sama sekali tak habis pikir. Dengan posisinya sekarang, harta, dan karisma yang dia miliki, kenapa ayah Ratu tak pernah bisa merestuinya menjadi menantunya. Lupakan soal ayah Ratu. Fritz lebih heran lagi kepada Ratu. Kenapa dia tak pernah sekali pun mau jatuh hati padanya. Fritz pun memutar badannya. Dia lantas duduk di hadapan Ami sambil menyilangkan kakinya. Satu tangannya berada di belakang bangku dan tangan kanannya, masih memain-mainkan gelas minumannya. Ami kembali menelan ludah. Dia memang suka bersahabat dengan Ratu. Semua kebutuhannya dapat tercukupi. Ratu tak pernah pelit dan perhitungan padanya. Ratu sendiri juga orang yang suple namun sangat idealis. Namun Ami lupa. Kalau semakin besar posisi seseorang, semakin besar pula lawannya. “Kenapa kamu harus ditaksir oleh cowok kayak dia sih, Rat?” desis Ami dalam hati. Fritz meletakkan gelasnya di atas meja. Dia lantas meletakkan kedua tangannya di depan mulutnya. Tubuhnya sedikit membungkuk ke arah Ami. Matanya menyala, persis seperti harimau yang tengah mengintai mangsanya. "Apakah menurutmu, ada cara untuk memisahkan mereka selain membunuh suaminya?" tanya Fritz. Ami seketika bergidik mendengarnya. Andai tadi dia tidak ke mall untuk belanja, pasti dia tak akan bertemu dengan pria psikopat parah seperti Fritz. Jika dia tidak sedang pura-pura kesal sama Ratu karena tidak diundang ke pernikahannya, Ami pasti tidak akan duduk di sini dan berhadapan dengan salah satu pemuda kaya yang menakutkan. Tapi Ami sedikit bersyukur, untung saja Ratu itu tipe cewek pemberontak. Kalau saja dia mudah baper, pastinya dia akan termakan dengan raut wajah Fritz yang gantengnya tidak ketulungan. Ami berdeham. Dia ingin memperbaiki suaranya. Jangan sampai Fritz tahu kalau Ami merasa tertekan. “Apa kamu pikir dengan membunuh suaminya, Ratu akan jatuh hati padamu, Fritz?” tanya Ami balik. Dia mengiris steak lantas memakannya. Paling tidak dengan makan, Ami dapat membuat perasaan tak keruannya ini sedikit memudar. Fritz menjatuhkan badannya ke bangku. Dia menghela napas. “Benar juga kau, Mi!” ujarnya. Jari-jemari Fritz bermain di atas meja. Dia tengah berpikir. Ami kembali memakan makananannya. Matanya sesekali memperhatikan Fritz. Ami sedang menebak-nebak apa yang sekiranya bisa dia lakukan agar si maniak berdarah dingin ini tidak mengusik Ratu lagi. Ami tak mungkin membiarkan sahabatnya itu jatuh kepada pria dingin psikopat parah. Kaya sih, tapi hatinya miskin. Sudah paling benar Ratu sama Sagara saja. *** Ratu menelan ludah. Tangannya bergetar. Dia tak menyangka ada hari di mana, dia akan menyentuh benda paling menjijikan ini. Sagara geli sendiri tangannya diangkat oleh Ratu. Semenjak tadi, dia menahan tawanya. Rasa-rasanya Sagara benar-benar ingin tertawa kencang kala melihat wajah Ratu berpura-pura bahagia. Raut wajah Ratu sangat bertentangan dengan sorot matanya. Sumpah demi Tuhan, Sagara sangat ingin menyubit pipi istrinya itu. Inilah hari ke tujuh di mana Sagara bebas meminta apa saja dari Ratu. Nanti malam sebuah kontes akan diadakan untuk menentukan siapa yang akan menjadi majikan selama tujuh hari. Maka di hari terakhir ini, Sagara meminta hal yang paling diinginkannya, membuat Ratu memakaikan cincin pernikahan ke jarinya. Dan Sagara tak hanya meminta itu. Ia meminta agar Ratu mengambil cincin pernikahan Sagara dari kalung yang Sagara pakai plus mengambilnya di acara makan bersama orang tua mereka. “Sayang, cincin nikahmu di mana? Kok nggak dipakai?” tanya Ratu sok manis. Padahal aslinya dia ingin sekali muntah setelah mengatakan kalimat tadi. Sagara menggigit bibir bawahnya. Sekuat tenaga dia menahan tawanya. “Ada nih aku jadikan bandul di kalungku. Kan kamu belum pakein!” jawab Sagara dengan penuh geregetan. Dia pun berpura-pura akan mengambil kalung yang tersembunyi di balik kaosnya. “Eh, jangan! Biar aku ambil sendiri saja. Kan tanganmu kotor habis makan!” cegah Ratu. Dan demi Tuhan, dia benar-benar muak dengan bibirnya sendiri. Dia bersumpah pada dirinya. Pokoknya nanti malam, dia harus menang melawan Sagara. Tangan Ratu pun perlahan mendekat ke tubuh Sagara. Sekujur tubuh Ratu bergidik seketika. Belum pernah seumur-umur dalam hidupnya memegang lelaki selain ayahnya. Tapi kini dia malah akan memegang bagian tubuh laki-laki yang biasanya akan membuat wanita salah tingkah. d**a bidang. Ratu menelan ludah saat tangannya sampai ke d**a Sagara. d**a bidang yang hangat. Ratu kira dia akan benar-benar muntah sekarang, namun ternyata tidak. Ketika tangannya meraba d**a Sagara, Ratu merasakan ketenangan. Detak jantung yang begitu indah, menggetarkan tangan Ratu. Wanita itu hampir saja melamun karena kehangatan tubuh Sagara yang merambat melalui telapak tangannya. Jika saja Sagara tak mengeluarkan suara kikikan tawa, Ratu pasti sudah terdiam sambil tangannya terus menempel di d**a suaminya. Ratu pun dengan cepat menarik kaos Sagara dan mengambil kalung dari kepala suaminya itu. Seperti yang sudah sering Ratu katakan. Dia tidak boleh sampai jatuh hati pada suaminya. Haram. Pak Danaswara tersentuh melihat perkembangan hubungan anaknya. Dia tersenyum bahagia kala melihat Ratu yang terus-terusan terdiam saat menyentuh d**a Sagara. Dia tahu hal seperti akan datang, namun dia tak menyangka kalau momen seperti akan terjadi dalam waktu singkat. Bu Ira juga demikian. Dia bahkan sampai menyandarkan kepalanya ke bahu Danaswara. Dia ikut tersentuh melihat anak semata wayangnya kini mulai memasukkan cincin pernikahan ke jari Sagara. Dia sempat tertawa kala Sagara justru menekuk jari manisnya dan mengacungkan jari tengahnya. Bu Ira juga tertawa lepas kala Ratu menampar tangan Sagara agar tak jahil. Namun dia akhirnya meneteskan air mata kala Ratu benar-benar menyematkan cincin pernikahan ke jari seorang laki-laki. “Cium tangannya, dong!” usul Pak Danaswara kala Ratu selesai menyematkan cincin ke jari Sagara. Ratu memutar bola matanya. Seharusnya setelah menyematkan cincin ke jari Sagara, keinginan terakhir Sagara telah selesai. Namun tak mungkin bagi Ratu untuk menolak keinginan ayahnya. Bisa-bisa ayahnya sadar rencana Ratu untuk membuat Sagara benci dengan dirinya sehingga nantinya Sagara yang menggugat cerai. Maka Ratu pun tersenyum lalu menicum tangan suaminya itu. *** “Sumpah, pokoknya sekarang aku yang harus menang!” murka Ratu sembari membanting pintu. Dia benar-benar geram. Dirinya serasa seperti dipermainkan. Ratu melepas gaunnya dan melemparkannya ke ranjang. Sagara menggeliatkan badan. Dia pun melempar kemejanya ke sofa. Dia kini hanya memakai kaos dalam. “Jadi mau mulai sekarang?” tantang Sagara. Dia kini lebih mempersiapkan diri. Asyik juga menjadi raja dalam sepekan. Dia bebas meminta Ratu untuk melakukan apa saja. Termasuk memintanya untuk memasak, meskipun masakan Ratu rasanya parah, tapi Sagara sangat menikmati momen itu. Sagara menyiapkan kuda-kudanya. Sepertinya Ratu malam ini akan menantangnya berkelahi lagi, seperti satu minggu yang lalu. Namun Sagara menaikkan alisnya kala melihat Ratu juga menanggalkan roknya. Bola mata Sagara ikut jatuh kala melihat Ratu menjatuhkan roknya begitu saja ke lantai. Dan ketika Ratu melepas kaos kakinya, Sagara menelan ludah. “Kita akan bertarung kayak seminggu yang lalu, kan?” tanya Sagara ragu. Keringat dingin sudah membanjiri keningnya. Dan meskipun kamarnya ini menggunakan AC, Sagara sungguh merasa gerah. Dia sampai harus melonggarkan kerah kaosnya beberapa kali. “Aku benci melakukan hal yang sama dua kali. Apalagi aku tahu kalau melakukan itu, aku akan kalah.” Ratu mendekati Sagara. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Sagara. Tangannya mulai meraba tubuh Sagara. “Jadi malam ini kita akan melakukan sesuatu yang berbeda,” ujar Ratu. Sagara lagi-lagi hanya bisa menelan ludah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD