“Tidak ada yang parah. Kondisinya baik. Dan dari laporan suami Anda, dia kan sudah divaksin. Jadi lukanya tidak berakibat fatal. Seminggu nanti juga sembuh. Selama itu, tolong kurangi aktifitasnya ya!” terang dokter.
Ratu mengembuskan napas lega. Dia mengangguk-ngangguk. Dokter itu pun pergi, sementara Ratu masuk ke kamar Sagara, melihat keadaan suaminya. Sempat terpikir olehnya untuk meninggalkan Sagara di tengah hutan. Namun logikanya menentang. Jika dia memang mau berpisah dengan Sagara, bukan jalan sesat seperti itu yang harus dia tempuh. Meninggalkan Sagara di tengah hutan dan membiarkannya mati, pasti akan membuat Ratu dihantui perasaan bersalah seumur hidupnya. Apabila Ratu ingin pisah, dia harus menggunakan cara yang lebih cantik, seperti halnya seorang ratu yang menyelesaikan seluruh masalahnya.
"Sudah cukup jalan-jalannya. Kita pulang ke rumah ayah sekarang!" tandas Ratu.
Sagara hanya mengangguk. Dia tersenyum. Dan karena dokter juga sudah memperbolehkan pulang, Ratu bersama Sagara segera pulang. Setelah mereka membereskan villa, keduanya langsung kembali ke rumah Pak Danaswara.
“Makasih ya, sudah repot-repot membawaku ke rumah sakit,” ujar Sagara sembari membenarkan posisi duduknya.
Ratu mengembuskan napas. “Sebenarnya tadi aku mau ninggalin kamu di hutan biar sekalian mati gitu.”
Bukannya kaget, Sagara justru tertabahak.
“Kok malah ketawa, sih?”
“Ya abis lucu aja. Aku nanti kalau mati di hutan pasti jadi hantu. Nah, kalau jadi aku bisa menemani kamu tidur tanpa perlu takut kena tendangan lagi.”
Hidung Ratu seketika berkerut. Alisnya juga turun bersamaan dengan mulutnya yang terbuka. Dia merasa jijik mendengarnya. Bahkan seluruh tubuhnya pun langsung merinding, membayangkan dirinya didekap oleh Sagara.
“Jika kamu jadi hantu, di kamar udah aku pasang pengusir setan!” cetus Ratu.
“Pengusir setan hanya bisa ngusir setan jahat. Kan aku bukan setan jahat. Setan yang lagi mencoba mengobati perasaan istrinya yang kehilangan.”
“Hah? Aku? Merasa kehilangan? Mana ada? Aku malah bersyukur kalau kamu segera meninggal. Aelah, kamu jadi suamiku aja aku rahasiain dari semua orang.”
Sagara mengangguk-ngangguk. Mulutnya tersimpul. “Kamu merahasiakannya biar pernikahan kita serasa jadi pacaran terus, kan?”
Lagi-lagi mulut Ratu terbuka gara-gara mendengar perkataan Sagara. “Keknya tadi rabiesnya nggak ngefek sama kesehatanmu tapi ngefek ke otak, deh. Kok bisa-bisanya kamu nyimpulin gitu?”
“Bisa, dong. Bagiku pernikahan kita itu pernikahan teristimewa. Coba belahan dunia mana yang pernikahannya cuma dihadiri oleh orang tua mempelai wanita dan dua orang saksi? Hanya enam orang loh yang ada dalam pernikahan kita, itu pun termasuk kita.”
Ratu tertawa kecil. “Sadar nggak, sih. Kalau kamu tuh sebenarnya cuma aku manfaatin biar ayah mau mewariskan hartanya ke aku.”
“Aku tahu, kok. Aku juga tahu kalau kamu tak pernah percaya cinta bahkan bersentuhan secara langsung dengan laki-laki. Aku juga tahu kalau kamu menganggap dirimu di atas semua kaum laki-laki.”
Ratu pun menengok ke Sagara. Dia heran. Ratu pikir perkataan pedasnya itu paling tidak akan membuat hati Sagara terluka, tapi nyatanya Sagara tetap saja tersenyum.
“Dan kenapa kamu masih mau menikahiku kalau sudah tahu semua itu?” tanyanya kemudian.
“Hanya satu alasan, Rat.” Sagara mengangkat punggungnya, mendekati Ratu. Wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Ratu. “Kamu itu wanita tersuci yang pernah aku kenal. Tak pernah jatuh cinta atau bahkan bersentuhan dengan lawan jenis.”
Ratu menelan ludah. Wajahnya seketika memerah. Jantungnya berdetak tak keruan. Dan tiba-tiba saja mulutnya menggariskan sebuah senyuman. Sadar atau tidak, hatinya merasa amat hangat. Belum pernah sebelumnya Ratu merasakan sensasi seperti ini. Dan harus dia akui, dia senang merasakannya.
***
“Ya ampun, suamimu kenapa, Rat?” tanya Bu Ira. Dia mengecek luka-luka yang diperban di sekujur tubuh Sagara.
“Nggak apa-apa, kok, Bu. Cuma kena cakar saja.”
“Ratu … Ratu …. Kalau mau main jangan kasar, dong!” timpal Pak Danaswara sambil terbahak.
Mata Ratu mengerjap-ngerjap. Dahinya berkerut. “Ini yang nyakar bukan aku, loh!” sanggahnya seketika. Dia sama sekali tak mau dianggap telah bermalam dengan Sagara. Berciuman saja belum pernah, apalagi melakukan hal yang lebih daripada itu.
Namun Pak Danaswara tetap saja tertawa. Dia merangkul istrinya lalu tertawa bersama.
“Bukan aku yang nyakar, ih!” ulang Ratu,
Dan ayah ibunya malah tambah tertawa. Merasa kesal, Ratu pun segera menuju kamarnya.
“Aku duluan ya, Yah, Bu!” izin Sagara. Dia menyalami mertuanya lantas masuk, menyusul Ratu. Dilihatnya sang istri sedang marah-marah sendiri di kamar. Sagara tertawa kala melihat Ratu mengambil bantal guling yang telah ditempel fotonya lantas Ratu injak-injak.
Sagara pun beralih ke dapur. Dia membuatkan cokelat panas dan beberapa camilan. Sagara lalu membawanya ke kamar.
“Nggak mau nginjek-nginjek yang asli saja?” tanya Sagara.
Ratu kaget. Dia sontak membalikkan badan.
“Minum dulu sini! Kamu kan sudah nyetir jauh, pasti haus dan lapar. Tapi karena kamu lagi emosi, jadi sepertinya belum mood makan. Maka aku bawa camilan, buat ganjal perut.”
Ratu sedikit terkesima dengan sikap Sagara yang begitu perhatian. Dia tahu salah satu minuman favorit Ratu. Dan dia tahu juga kalau sekarang Ratu tengah lapar. Walaupun tadi sebenarnya Ratu tak merasakan perutnya keroncongan, tapi saat melihat camilan yang dibawa Sagara, berikut dengan cokelat panasnya, air liurnya pun keluar.
“Aku nggak lapar!” tolak Ratu. Egonya masih lebih unggul daripada rasa laparnya.
Kendati dia mengatakan itu, tapi perutnya berkata lain. Perut Ratu berbunyi nyaring.
“Ayo makan! Ndak mau kan kalau sakit? Kalau nanti sakit yang jagain kamu itu pasti aku, lho. Berdua doang di rumah sakit kayak tadi pagi,” seringai Sagara.
Ratu tak mau itu terjadi. Amit-amit kalau sampai dia disuapi sama Sagara di rumah sakit. Lebih baik dia membuang egonya sekarang daripada nanti malah jatuh sakit dan diurus oleh Sagara.
Dengan pancingan Sagara, akhirnya Ratu mau duduk berhadap-hadapan dengan Sagara. Ada sebuah sofa kecil di pojok kamarnya yang terletak di samping jendela.
"Kenapa sih kamu bisa sesabar ini?" tanya Ratu sambil masih mendengus-dengus marah.
Sagara mengambil satu batang fried fries kemudian memakannya. Dia memandang ke luar, melihat ke arah taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga.
"Kan aku sudah bilang kalau kalian adalah keluargaku sekarang."
"Stop bilang gitu. Aku tahu kok kalau kamu suka sama seorang cewek terus kamu ditinggal nikah sama dia, kan?" sembur Ratu. Sudah dia katakan kalau dia selalu mencari tahu data tentang Sagara, sedetail yang ia bisa
"Dia hanya masa lalu, Rat. Kalau kamu ndak percaya, kamu bisa cek hp, laptop, dompet, atau apa pun. Tak ada kontaknya lagi, fotonya, atau apa pun yang berkaitan sama dia."
Ratu menyesap cokelat panasnya. Dia tahu kalau Sagara berkata jujur. Ratu pernah membuka hp, laptop, dan mengobrak-abrik lemari Sagara. Tidak ada satu pun foto, tulisan tangan, atau kenangan apa pun tentang sosok perempuan masa lalu Sagara itu. Sagara benar-benar bersih.
"Tapi aku tuh cewek yang aneh tahu, Gar. Nggak bisa masak, matre, dan keras kepala. Nggak kayak cewe yang kamu suka itu. Siapa namanya?" Ratu menyentuh-nyentuh dagunya, mencoba mengingat. "Oh ya Balqis."
Sagara sempat terdiam kala nama itu disebutkan. Namun itu hanya sesaat sebelum dia kembali menyesap cokelat panasnya. "Rat, sehebat apa pun wanita itu di masa lalu, dia tetaplah orang lain sekarang. Dia tidak menerimaku menjadi keluarganya. Hanya kamu dan keluargamu yang menerimaku apa adanya. Kamu tahu sendiri kalau aku sudah lama hidup sebatang kara. Maka dari itu aku akan menjaga keluargaku sekarang, sebisa mungkin."
Ratu sedikit terperangah mendengar penjelasan Sagara. Untuk menyamarkan raut mukanya, Ratu pun mengambil camilan.
"Emang apa pentingnya keluarga bagimu?" tanya Ratu.
"Lebih penting daripada nyawaku sendiri. Maka dari itu, aku tak pernah sekali pun menganggap pernikahan ini main-main."
Ratu yang tadinya hendak meminum cokelat panasnya, pun jadi terhenti. Dia melirik ke Sagara. Bibirnya mengulaskan sebuah senyuman. Dan lagi-lagi seperti sebelumnya. Ada saja yang membuatnya teringat akan tujuan utamanya. Kali ini kala Ratu melihat pantulan wajahnya yang tersenyum di kaca, dia menjadi malu.
"Apa yang harus aku lakukan agar tidak jatuh cinta sama suamiku sendiri?" jerit Ratu dalam hati.