BERDUAAN DI HUTAN

1724 Words
“Serahin kunci mobilmu sini!” paksa Ratu. “Buat?” tanya Sagara keheranan. “Aku mau pergi.” Sagara menarik ujung bibirnya, membentuk senyum kecil. “Kamu lupa kita sedang di mana sekarang?” Ratu pun menepuk dahinya. Dia baru menyadari kalau dirinya berada di jauh dari peradaban. Untuk ke sini saja, Sagara perlu menyetir berjam-jam. Belum lagi melewati bukit-bukit serta menyusuri hutan. Ratu pun mendesah sembari menggerutu. Mengapa semenjak bertemu Sagara, dirinya bisa menjadi bodoh? Selalu saja tampak konyol di hadapan lelaki ini. “Mending ikut aku aja, yuk!” “Nggak! Mending di rumah. Aku mau tidur!” bantah Ratu. Dia pun balik badan lantas menaiki anak tangga, menuju kamar. Sagara seketika menarik tangan Ratu. Lelaki itu pikir nantinya Ratu akan jatuh lalu dia menangkap dan memandangnya dengan segenap hati. Dan ketika mereka saling tatap, momen berciuman yang tertunda ketika sarapan, bisa dia lanjutkan. Sayangnya bukan hal itu yang terjadi. Ratu memang akan terjatuh, tapi wanita itu justru salto ke belakang, memutari Sagara. Dia lalu memegang tangan Sagara yang tadi memegang tangannya dan memutarnya ke belakang. “Sekali lagi kamu pegang tanganku, tanganmu patah!” ancamnya. Sagara merintih kesakitan. “Ok fine-fine!” ujarnya. Ratu melepas tangan Sagara. Dia lalu melangkah kembali menuju kamar. Sedang Sagara masih memijit-mijit tangannya. Andai Ratu bukan seorang wanita yang ahli taekwondo, pasti tadi sebuah scene romantis akan terjadi. Sagara pun mengembuskan napas. Dia tatap punggung Ratu yang semakin menjauh. Sagara berpikir. Pasti ada sebuah cara untuk mengajak Ratu pergi. Dan ketika sebuah ide tercetus di kepalanya, sebuah senyum yang lebar pun memancar dari “Sayang!” panggil Sagara sambil menyengir lebar. Ratu seketika menoleh, menatap tajam ke arah Sagara. “Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu!” “Kamu tidak lupa dengan perjanjian yang kamu buat sendiri, kan?” ucap Sagara. Ratu menggeram. “Damn!” umpatnya. Dia pun memejamkan mata lalu membayangkan menghajar Sagara dan melemparnya ke jurang. “Apa yang kamu mau, hah!” lantang Ratu. Sagara tersenyum. “Untuk hari ini, cukup ikut aku jalan-jalan, yuk!” Ratu menghela napas. Dia menyilangkan tangannya. “Ok! Tapi aku yang bawa mobilnya!” “Fine!” Sagara pun memberikan kunci ke Ratu. Sesaat setelah menerimanya, Ratu tersenyum jahat. Akhirnya ada sebuah kesempatan baginya untuk membuat Sagara benci dengan dirinya. “Hahaha!” tawa Ratu dalam hati. Sayangnya rencana Ratu justru gagal total. Dia mengendarai mobil Sagara secara ugal-ugalan. Ketika ada tanjakan atau lubang, Ratu hajar saja. Dia tidak memelankan kecepatan mobil, malah ketika ada gundukan kecil, Ratu sengaja ngebut, membuat mobil Sagara seakan terbang. Ratu pikir Sagara akan marah atau paling tidak dia menjadi takut. Namun justru sebaliknya, Sagara ayem-ayem saja duduk di bangku penumpang. Dia malah sempat-sempatnya membaca bermain gawai, ambil foto, dan buat instastory. Ratu yang geregetan sendiri karena merasa usahanya sia-sia, akhirnya angkat bicara. “Kamu nggak khawatir kalau mobil kesayanganmu rusak?” Sagara kembali mengangkat hpnya. Dia lalu sedikit mendekat ke Ratu dan mengarahkan kamera depan sembari mengacungkan dua jari. Ratu pun melihat sebuah kesempatan. Seketika dia membanting kemudi. Ratu ingin menjatuhkan hp Sagara lalu mengebut kembali. Dan usahanya berhasil. Sialnya hp milik Sagara hanya jatuh ke dalam mobil, bukan ke jalan. Hpnya pun tidak kenapa-kenapa. Ratu kembali mengembuskan napas sebal. “Kenapa sih gagal mulu!” raung Ratu dalam hati. “Kita beli mobil buat apa?” tanya Sagara santai. Tangannya mengelap-elap layar hpnya. “Dinaiki,” jawab Ratu. “Kalau dinaiki pasti ada resiko rusak, kan?” Ratu menghela napas. Dia memutar bola matanya malas. Sagara benar-benar melampaui semua pemahaman Ratu soal cowok. Belum pernah sebelumnya dia menemukan pria seperti Sagara ini. “Kita mau ke mana, sih?” tanya Ratu yang akhirnya menyadari kalau tujuan mereka tidak sampai-sampai. Selama Ratu menyetir mereka hanya melintasi hutan dan hutan. Sejauh mata memandang hanya ada pohon dan pohon. “Nggak tahu!” jawab Sagara enteng. Mendengarnya, membuat Ratu mengerem dadakan. Sagara yang tidak persiapan pun jadi terbentur ke dashbord. Untung saja dia memakai sabuk pengaman, kalau tidak, lelaki itu pasti sudah terpental ke luar. “Apa? Lalu buat apa aku nyetir kalau nggak ada tujuannya?” amuk Ratu seketika. Sagara mengusap-usap kepalanya. “Kan buat jalan-jalan. Belum pernah kan jalan-jalan sama AA,” tanggap Sagara. Dia pun memandang Ratu sembari memainkan alisnya. Ratu makin kesal dengan Sagara. Dia pun turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. “Mau ke mana?” teriak Sagara. “Pergi. Aku nggak mau pergi sama kamu!” murka Ratu. “Ok!” sahut Sagara santai. Ratu seketika menoleh ke Sagara. Dia sama sekali tak percaya dengan apa yang Sagara katakan. Bisa-bisanya istrinya pergi, Sagara malah santai-santai? Bahkan ketika Ratu menengok kembali, Sagara malah menghidupkan musik. Ratu pun makin muak. Dia tak peduli lagi. Yang penting baginya sekarang adalah pergi dari Sagara. Jika dia bertahan untuk terus bersamanya, bisa-bisa dia menjadi gila. Dengan sepatu high hellsnya, Ratu berjalan menyusuri jalan. Sepanjang jalan, dia pun mengumpat. Logikanya benar-benar tak sampai kepada Sagara. Dia masih tak menyangka kalau dirinya akan menikah dengan lelaki miskin, tidak romantis, dan sangat menyebalkan. Usahanya untuk membuat Sagara benci kepada dirinya pun sia-sia. Semalam, Ratu sengaja mengunci Sagara di luar. Ratu pikir, lelaki itu akan kedinginan dan protes. Namun justru sebaliknya. Ratu tak bisa tidur karena kelaparan. Dia tak bisa memasak. Dan di luar ada bau yang sangat harum. Sagara tengah membakar ikan di luar rumah. Tak hanya ikan, ada juga singkong, dan ketela. Karena tak mau begadang hanya dengan minum, Ratu akhirnya membukakan pintu. Niat hati ingin mengunci Sagara di luar, dia justru yang keluar sendiri dan duduk di samping Sagara. “Hih!” teriak Ratu makin gemas. Dia tidak tahu lagi caranya untuk membuat lelaki itu benci pada dirinya dan akhirnya meminta cerai. Merasa amarahnya tak tertahankan, Ratu pun menendang ranting yang ada di depannya. Ranting itu terpental jauh. Sebuah suara pekikan seketika terdengar. Ratu pun mengangkat kepalanya, mencoba melihat ranting yang dia tendang mengenai apa. Belum juga Ratu melihatnya, seekor monyet keluar dari semak-semak. Monyet besar itu meringis melihat Ratu. Monyet itu pun langsung menyerang. Dengan sigap, Ratu segera menendang si monyet, membuat monyet itu pergi. Awalnya Ratu kira keadaan sudah aman, dan dia bisa pergi, tapi justru sebaliknya. Si monyet yang tadi dia serang, ternyata kini memanggil bala bantuan. Tanpa pikir panjang, Ratu pun lari menuju Sagara kembali. “Sagara!” teriak Ratu sekencang yang dia bisa. Yang dipanggil pun menengok penuh dengan senyuman. Sagara pikir Ratu kembali dengan wajah kesal karena selalu menemukan jalan buntu. Tapi ternyata dia salah. “Cepat nyalakan mobilnya!” sambung Ratu. “Hah?” “Cepetan!” serunya lagi. Sagara masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun dengan aba-aba yang diberikan oleh Ratu, dia pun menghidupkan mesin mobilnya segera. Dia lantas menginjak gas. Ratu pun segera menyusul. Dengan ilmu lompatan bela diri taekwondo, dia berhasil mendarat ke jok belakang mobil jeep. Untung saja mobil jeep milik Sagara tidak ada atapnya, kalau ada pasti atapnya sudah jebol. “Rat, ambil kacang di belakang dan lemparkan ke mereka!” suruh Sagara cepat. Ratu mengerutkan dahi. “Kamu bawa kacang?” “Apa pertanyaan itu penting untuk dijawab sekarang?” Ratu pun segera mencari keberadaan kacang yang dimaksud oleh Sagara. Setelah memeriksa di bagasi, dia menemukan satu kantung penuh dengan kacang. Melihat Sagara yang membawa kacang sebanyak ini, pun membuat Ratu semakin keheranan dengan tingkah ajaib suaminya. Ratu mengambil kacang-kacang itu lalu melempar semuanya ke monyet-monyet yang tengah mengejarnya. Sekali tak berhasil, dua kali tak berhasil juga, baru lemparan ketiga kalinya, satu per satu monyet berhenti. Mereka mengambil kacang. Setelah Ratu melempar kacang terakhir, Ratu melihat semua monyet telah berhenti mengejar. Monyet-monyet itu sibuk berebut kacang. Ratu pun mengembuskan napas. Dia kira dirinya sudah aman. Ratu hendak berpindah ke depan. Belum juga dia melakukannya, seekor monyet tiba-tiba saja muncul di dasbor. Monyet itu langsung menyerang Sagara yang memegang stir kemudi. Monyet itu menyakar dan menggigit Sagara. Sagara berusaha untuk menjauhkannya, namun tak berhasil. “Menunduk!” perintah Ratu. Tepat saat Sagara menunduk, Ratu menangkap monyet itu lalu dengan segenap tenaga, dia pun melemparnya. Sagara segera saja tancap gas. Dia mengerahkan seluruh tenaganya, menjauh dari kerumunan monyet gila. Ratu menengok ke Sagara. Tangan dan tubuhnya sudah dipenuhi oleh darah. Tampaknya cakaran monyet tadi menyisakan luka yang cukup dalam. Ratu melihat ke belakang, para monyet itu benar-benar sudah tak tampak sekarang. Suasana pun sudah berganti dari hutan menjadi tanah lapang. Sagara pun memberhentikan mobilnya. Dia melepas sabuk pengamannya dan menuju ke belakang. Dia mengambil P3K. Ratu pun membuntutinya. “Biar aku saja!” tawar Ratu saat melihat Sagara hendak membersihkan luka-luka yang dia terima. Ratu pun mengambil antiseptik lalu membersihkan luka-luka Sagara. “Bisa buka kaosnya?” tanya Ratu. Sagara mengangguk. Namun ketika dia hendak melakukannya, tangannya terasa nyeri. Ratu tersenyum. “Sini aku bantu. Angkat tangannya!” ujarnya. Sagara pun melakukan apa yang dikatakan Ratu. Lalu dengan amat hati-hati, Ratu membuka kaos Sagara. Mereka sempat bertatap-tatapan dan Ratu tersenyum manis. Sagara pun terdiam melihatnya. Baru kali ini dia melihat sosok yang lain dari istrinya. “Meski sakit, harus ditahan!” ucap Ratu lalu mengoleskan antiseptik ke luka di d**a Sagara. Setelah selesai, dia lalu memerban lukanya. “Ke dokter, ya!” ujar Ratu. “Ndak usah, nanti juga sembuh, kok.” “Aku takut kamu kena rabies.” “Aku sudah vaksin, Rat. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.” Ratu memutar bola matanya. “Ke dokter dalam keadaan masih sadar seperti ini, atau pilih aku buat pingsan dulu?” tanyanya kemudian. Sagara menatap heran Ratu. Baru saja dia melihat sisi lembut dari istrinya, kini Ratu malah sudah kembali ke stelan pabrik. “Iya-iya,” ucap Sagara. Dia lalu mengambil jaket dan memakainya. Ia melempar kaos yang sudah sobek gara-gara monyet itu ke bagasi. *** Ratu menyetir sendiri. Sedangkan Sagara sudah tertidur. Untung saja ada sinyal di tempat antah berantah ini. Kalau tidak, Ratu tidak tahu harus ke mana dia menyetir. Sayangnya tempatnya cukup jauh. Maka dari itu, Ratu menyuruh Sagara untuk tidur saja. Melihat Sagara yang anteng dan sudah terlelap seperti bayi, justru terlihat sedikit lucu. Wajahnya polos dan tampak sangat damai. Saking damainya malah terlihat seperti orang mati. Sebuah pikiran jahat mulai merasuki pikiran Ratu. Dia kepikiran. Kalau dia memang ingin berpisah dengan Sagara, mengapa tak meninggalkannya di tengah hutan seperti ini? Mengapa dia tak membiarkannya benar-benar mati kehabisan darah? Bukankah tadi di perutnya terdapat luka cakaran yang cukup dalam?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD