“Bangun, sayang! Ayo bangun!” bisik Sagara.
Ratu yang matanya tertutup eye mask sleep cover kaget dan spontan menendang Sagara. Sagara pun terpental dari ranjang.
“Ya ampun! Untung aku ndak tidur sekasur sama kamu, Rat!” sambat Sagara.
Ratu pun segera membuka penutup matanya. Dia langsung melihat ke arah Sagara. “Ngapain?” tanyanya sembari menyeret selimut dan menutupi dirinya yang memakai piyama. Tidak mungkin kan baginya untuk memakai BH ketika tidur.
“Jangan macam-macam, ya!” ancam Ratu.
“Siapa juga yang mau macam-macam. Ayo bangun!” ujar Sagara.
Ratu menghela napas lalu melihat ke jam. Masih pukul lima pagi. Dia menutup dirinya dengan selimut kembali lalu beranjak mau tidur.
“Ratu, istriku! Mau aku gendong aja supaya bangun?” tutur Sagara kemudian duduk di samping Ratu.
Ratu pun segera bangun dan mendorong Sagara menjauh dari ranjangnya. “Iiih! Nggak! Aku bisa bangun sendiri! Dan jangan sekali-kali panggil aku istrimu, jijik tahu!” sembur Ratu.
“Aku tunggu di bawah, ya!”
“Iya bawel!” sembur Ratu.
Ratu pun mencuci wajahnya. Lalu memakai baju hangatnya dan menuju ke bawah. Tadinya dia ingin mandi, tapi airnya begitu dingin. Hanya saja ada sebuah sensasi lain yang dirasakan Ratu. Badannya terasa lebih segar daripada biasanya. Di rumah ini, Ratu merasakan pikirannya benar-benar jernih. Belum pernah sebelumnya dia bangun dengan kepala seringan kapas.
“Mau ke mana, sih. Masih pagi kayak gini juga. Mana dingin lagi!” tanya Ratu sembari memeluk dirinya dan mengencangkan cardigannya.
“Mau aku peluk biar hangat?” usul Sagara.
“Ih, amit-amit!”
Sagara tertawa kecil. “Yuk!” ajaknya.
Belum sempat Ratu menolak, Sagara sudah terlebih dulu meraih tangan Ratu. Lelaki itu pun berlari cepat. Tangannya begitu erat memegang tangan Ratu. Dia tertawa sedang Ratu justru keheranan. Dia ingin melepaskan tangan Sagara dari tangannya, tapi tak bisa. Apalagi pegangan Sagara begitu erat.
Setelah berlari beberapa puluh meter, Sagara pun berhenti. Dia berbalik menatap ke Ratu. Sagara lantas tersenyum. Namun bukannya Ratu membalas senyum Sagara, dia justru menghadiahi lelaki itu dengan sebuah tendangan.
“Itu balasan karena memegang tanganku tanpa izin!” serunya.
“Ya nggak segitunya kali!” rintih Sagara. Dia mencoba untuk bangun. Tangannya memegangi perutnya, bekas tendangan Ratu.
“Bodo!” balas Ratu. Dia pun membenarkan pakaiannya lantas menyapu pandang, melihat di mana dirinya sekarang.
Ratu terperangah melihat apa yang ada di depannya kini. Sebuah laut dengan langit yang bersih dan garis mega kuning tipis di ujungnya.
“Indah, kan?” celetuk Sagara sembari menjajari Ratu.
Ratu tak menjawab. Dia masih saja terdiam di bibir pantai. Kakinya meraba-raba pasir putih yang masih terasa dingin. Ratu pun menarik napas, dirasakannya udara yang begitu segar. Udara yang sedikit asin serta lembab. Rasanya sejuk.
Deru ombak memainkan gendang telinga Ratu. Dentumannya ketika jatuh di laut, membersihkan pikiran Ratu. Kini dia tahu alasan mengapa dirinya dapat bangun dengan perasaan yang begitu ceria. Ternyata alam di sini benar-benar mendukungnya untuk mendapatkan ketenangan yang sudah lama dilupakannya.
“Samudra itulah arti dari namaku,” celetuk Sagara.
“Udah tahu!” sahut Ratu dengan nada jengkel. Ratu masih saja mencoba menjaga jarak. Kendati Sagara terus saja menghadiahi Ratu dengan nuansa-nuansa indah, Ratu tetap menjaga hatinya. Dia bersumpah tak akan jatuh cinta pada suaminya.
Sagara sama sekali tak tersinggung. Dia terus saja memasang senyum terbaiknya. Sagara tahu pasti. Tak gampang baginya untuk meluluhkan hati Ratu. Jangankan hati istrinya, hatinya sendiri juga belum bisa ia kalahkan. Meski jarang, Sagara masih ingat kenangan indah dengan wanita yang dulu dia cintai.
Ratu menengok ke arah suaminya. Dia ingin memastikan kalau Sagara mulai benci dengannya. Namun justru yang dia lihat malah senyum indah. Sialnya lagi ketika Ratu menatapnya, sebuah sinar emas mentari pagi, menerpa wajah Sagara, membuatnya jauh terlihat lebih tampan.
Wajah Ratu pun bersemu kemerahan. Jantungnya mulai berdegup tak keruan. Bahkan Ratu sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan. Matanya terus-menerus menatap Sagara yang sedang menatap laut.
“Yakin nggak mau lihat sunrise di pantai?” tanya Sagara tanpa menengok balik ke Ratu.
Ratu yang tengah melamun, mengamati wajah Sagara pun mendadak malu sendiri. Wanita itu langsung saja membuang mukanya, menghadap ke arah mentari terbit.
Ratu tersenyum tipis. Entah mengapa hatinya terasa sedikit hangat. Begitu pun juga dengan Sagara.
Sebuah ombak besar datang. Ratu mencoba menghindar, namun Sagara langsung memegangi tangan Ratu. Kaki mereka berdua pun akhirnya terkena terpaan ombak. Tidak seperti tadi, Ratu kali ini justru hanya memandang Sagara sejenak. Dia tidak protes maupun menendang Sagara. Untuk pertama kalinya Ratu merasakan betapa hangat dan eratnya tangan suaminya itu.
“Sudah mulai,” celetuk Sagara.
Ratu pun mengangkat kepalanya. Dia kembali menjajari Sagara. Bersama, mereka menikmati keindahan mentari terbit yang menyinari lautan. Ratu terpukau ketika melihat garis terang membentang di atas lautan. Dia tak sanggup menahan gejolak kagumnya kala menatap mentari mulai menyembul dari balik air. Sinar mentari itu lalu menyebar di atas permukaan laut, menciptakan warna-warna yang indah dan menawan. Sagara kian erat memegang tangan Ratu. Ratu membiarkannya. Dia ingin membalas genganggaman Sagara, tapi ego di hatinya masih menghalangi. Ratu hanya tersenyum. Itu pun dia masih menggigit bibir bawahnya, mencoba menyembunyikan ekspresi kasmarannya dari Sagara.
Sinar matahari yang mulai menyinari cakrawala, memancarkan warna-warna cerah yang membuat langit terlihat semakin indah. Burung-burung mulai terbang dengan riang di atas ombak, menciptakan kesan harmoni yang semakin merdu dengan suara alam yang menyelimuti. Ratu terpesona oleh keindahan yang ada di hadapannya, hatinya terpukau oleh panorama spektakuler yang menghiasi cakrawala.
Sagara, dengan senyum lembutnya, melihat betapa terpesonanya Ratu oleh pemandangan ini. Ia merasa senang bisa berbagi momen ini dengan Ratu. Meski masih ragu, Sagara merasakan hangat di hatinya. Mungkin itu cinta, tapi mungkin juga itu hanya perasaan nyaman. Namun satu yang pasti sekarang Sagara merasa Ratu adalah orang yang istimewa.
Ratu memandang ke arah Sagara. Hatinya yang awalnya tak pernah jatuh cinta, kini terasa berbeda. Ratu tak mau mengakuinya. Hanya saja sekeras apa pun dia menolak perasaan itu, perasaan itu justru tumbuh makin lebat dan tak terkendali. Sagara telah mengajaknya menyaksikan keindahan alam yang belum pernah ia temui sebelumnya, dan Ratu merasa koneksi yang kuat dengan Sagara. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, seolah ada energi yang menghubungkan mereka berdua. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi ia tahu bahwa hatinya terasa sangat nyaman sekarang.
“Ayo sarapan!” ajak Sagara setelah golden hour berlalu.
Mendengar Sagara yang berbicara seperti itu, Ratu baru sadar bahwa selama matahari bersinar begitu indahnya tadi, tangannya masih berpegangan dengan Sagara. Ratu pun buru-buru melepasnya. Namun ketika dia melihat ke arah yang ditunjukan Sagara, lagi-lagi Ratu hanya bisa terpukau.
Di depan Ratu kini, terdapat sebuah meja dengan taplak putih. Di atasnya terdapat beberapa menu sarapan sederhana. Hanya ada bubur dan sup kepala ikan yang masih mengepulkan asap.
“Kapan kamu menyiapkannya?” tanya Ratu. Hidungnya sudah mulai gatal. Harum masakan Sagara bukan main. Apalagi sup kepala ikan yang tampak sangat lezat itu. Mulut Ratu sudah dipenuhi air liur.
“Dari mulai jam tiga pagi,” jawab Sagara enteng. “Ayo makan, nanti keburu dingin, loh!” lanjut Sagara. Dia lantas menarik kursi untuk Ratu.
Ratu masih berdiri menatap suaminya yang tampak sangat semangat. Sekali lagi hatinya terasa sangat nyaman. Lagi-lagi ada gejolak rasa yang tak dapat dijelaskannya. Rasa yang membuat Ratu terus-terusan tersenyum.
“Kok, bengong? Kalau nggak mau, nanti aku habiskan sendiri!” cetus Sagara.
Ratu tertawa kecil. “Berani menyentuh bagianku, akan aku hadiahi kamu dengan tendangan!” ancamnya kemudian.
Sagara seperti biasa tertawa dan Ratu yang dulu benci sekali dengan senyuman serta cekikan tawa Sagara, kini entah mengapa terdengar amat merdu di gendang telinganya.
Ratu duduk. Sagara dengan cekatan, mengambilkan sup lalu menuangkannya ke mangkuk bubur milik Ratu. Dia juga menuangkan segelas teh hangat ke gelas lantas menyajikannya ke istrinya itu.
“Makasih,” ucap Ratu.
Sagara sedikit kaget mendengarnya. Ini kali pertama dia mendengar ucapan terima kasih dari istrinya. Sagara mengira dia akan butuh waktu paling tidak satu bulan untuk membuat Ratu mengatakan itu. Tapi ternyata, belum juga satu minggu, Ratu telah mengucapkannya.
“Sama-sama,” jawab Sagara. Senyum lelaki itu pun makin bersinar.
Sepasang suami istri yang dipaksa menikah itu pun makan berdua di bibir pantai. Mereka hanya ditemani oleh mentari yang baru terbit serta beberapa burung camar yang terbang mencari makan. Ratu masih mencoba menyelami apa yang dia rasakan kini. Berulang kali dia menduga kalau dirinya mungkin sudah jatuh cinta. Namun berulang kali juga dia membantahnya. Tidak mungkin Ratu jatuh cinta pada pria miskin seperti Sagara. Tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi.
“Bagaimana makanannya? Enak?” tanya Sagara.
Ratu yang tengah mengalami perdebatan batin itu pun mengangkat kepalanya. Dilihatnya Sagara yang tengah menanti jawaban. Sekali lagi, wajah Sagara tampak bercahaya. Mata birunya menyihir Ratu untuk terus menatapnya. Dan senyuman itu, senyuman yang terus Sagara pancarkan, membuat jantung Ratu makin cepat.
“Enak,” jawab Ratu. Kendati matanya semakin betah menapaki setiap inci wajah suaminya, namun Ratu masih enggan untuk menyerahkan hatinya begitu saja.
“Saking enaknya sampai makannya blepotan gitu, ya?” seringai Sagara.
“Hah? Mana mungkin aku makan sampai blepotan,” sanggah Ratu.
Sagara mendekati Ratu. Tangannya menjulur hendak membersihkan noda di bibir istrinya. Tapi Ratu langsung mencegahnya. Mereka berdua pun saling tatap. Dan entah apa yang terjadi, Ratu justru terpaku. Tangannya yang tadi mencegah Sagara untuk mendekat ke arahnya, kini perlahan merenggang. Ratu melepaskan tangan Sagara.
Tangan Sagara pun kembali mendekati ujung bibir Ratu dan membersihkan sedikit noda dari sana. Namun ketika dia hendak duduk kembali ke bangkunya, justru ada sebuah hasrat yang mencegahnya. Jika tadi tangannya yang menjulur, kini kepala Sagara yang mulai maju.
Ratu menelan ludah. Entah atas dasar apa, Ratu memejamkan matanya. Kepalanya perlahan pun maju, mendekat ke kepala Sagara.
Perlahan tapi pasti, napas Sagara mengenai wajah Ratu, begitu pun sebaliknya. Ratu semakin tak berkutik ketika napas Sagara mengenai wajahnya. Dia baru tahu kalau napas suaminya ini sesegar samudra. Tapi begitu hidung mereka saling bertemu, wanita itu pun tersadar. Dia segera membuka mata lantas pergi begitu saja, meninggalkan Sagara sendirian.
Ratu meremas kepalanya. Dia berulang kali menggeleng.
“Tak mungkin! Ini tak mungkin terjadi!” serunya.
Jantung Ratu masih berdegup tak keruan. Wajahnya bersemu merah. Ratu tahu ada yang tak beres dengan dirinya. Dan dari semua artikel dan novel yang dia baca, dia menyadari kalau perasaan asing yang ada dalam dirinya itu dinamakan cinta. Hanya saja akal dan ego Ratu tak mau mengakuinya. Dia tidak mau jatuh cinta dengan pria miskin dan tukang narsis seperti Sagara.
“Aku harus lakukan apa pun untuk membunuh perasaan ini!” tekad Ratu.