VILLA CINTA

1128 Words
Wajah Ratu tampak bingung, tak mengerti dengan apa yang Sagara maksud. Sagara tersenyum dan mencoba menjelaskan dengan lebih jelas. "Aku ingin ngakak kamu ke tempat yang istimewa, tempat yang memiliki makna bagi pasangan suami istri baru. Namanya Villa Cinta, sebuah rumah kecil di tepi pantai yang tersembunyi dari keramaian." Mendengar apa yang dikatakan oleh Sagara, Ratu hanya bisa bergidik. Dia tak pernah bisa membayangkan kalau dirinya hidup jauh dari keramaian. Tak pernah sekali pun, dia berlibur ke tempat-tempat sepi. “Nggak deh, makasih,” tolak Ratu. “Eh, eh. Nggak boleh nolak. Kamu sendiri yang bilang kalau yang kalah harus menuruti apa pun yang diinginkan oleh pemenang,” sergah Sagara. “Cih, maksa.” “Kan kamu sendiri yang buat tantangan. Hmm … apa jangan-jangan kamu takut?” Sagara tertawa di akhir kalimatnya. Kuping Ratu pun gatal dengan perkataan Sagara tadi. “Apa kamu bilang? Aku takut? Mana mungkin. Tak ada yang kutakutkan selain Tuhan,” bantah Ratu segera. Dia lalu memakan semua sandwichnya dan meminum susunya. “Sudah kubilang, kan. Jangan pernah remehkan Ratu Purbaningrum.” Sagara tertawa. “Ok!” Ratu menyilangkan tangannya. Dia tatap Sagara dengan tatapan tajam. Namun ketika mereka sampai di rumah yang Sagara maksud, mata Ratu melebar. Dia menelan ludah, melihat apa yang ada di depannya kini. Sebuah rumah kosong dan tak ada rumah lain, sejauh mata memandang. Hanya ada rumah kayu mungil di pinggiran pantai terpencil. Rumah yang menghadap ke pantai. “Ini rumahmu sendiri?” tanya Ratu. Sagara yang tengah memutar kunci pun memutar kepalanya ke belakang, melihat Ratu. Dia dengan tersenyum, mengangguk. “Aku butuh waktu lama untuk membeli tanah dan membangunnya sendiri.” Ratu pun mengorek telinganya dengan jari. Matanya mengerjap-ngerjap. Dia sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sagara. “Aku nggak salah denger, kan?” Sagara menggeleng. “Aku kan seorang karyawan proyek, bahasa gampangnya ya, kuli, lah,” jawab Sagara. Dia lalu menekuk tangannya untuk memamerkan otot tangannya. Ratu bukannya terpukau, alis Ratu justru tertaut. Mulutnya terbuka. Matanya menatap jijik Sagara yang bersikap demikian. Hanya saja Sagara sama sekali tak memikirkannya. Dia justru tertawa lalu masuk. Sementara Ratu masih saja memandangi rumah di depannya kini. Dia jadi teringat akan rumah Elsa yang dia bangun sendiri di atas gunung salju. Jika rumah Elsa itu istana, nah rumah Sagara ini justru gubuk. Benar-benar sederhana. Namun Ratu akui, rumah yang dibangun Sagara cukup cantik. “Butuh bantuan?” tanya Sagara setelah menaruh tasnya di dalam rumah. “Nggak,” tolak Ratu. “Ok.” Ratu pun kembali menyeret kopernya. Sedari perjalanan dia ke sini, dia menarik koper itu sendiri. Pantang baginya untuk terlihat lemah, apalagi oleh Sagara. Tak ada sedikit pun celah yang akan Ratu berikan agar Sagara bisa bersikap sok perhatian. Dengan susah payah, Ratu menaiki tangga depan rumah. Dia kira penderitaannya akan usai, sialnya dia salah. Ketika dia masuk dan menarik-narik kopernya, tak ditemukannya sebuah kamar, tempat dia bisa meletakkan semua barangnya. “Kamarnya kok nggak ada?” tanya Ratu. Sagara tak menjawab. Dia sedang minum. Hanya tangannya yang menunjuk ke pojok rumah, mengarah ke anak tangga yang mengarah ke atas. Baru setelah Sagara menuntaskan minumnya, dia pun berkata. “Kamarnya khusus di atas. Di bawah hanya ada dapur sama ruang tamu.” “Hah?” dengus Ratu tak percaya. Menarik koper menaiki tiga anak tangga di teras saja, dia sudah hampir kehabisan napas. Apalagi menaiki puluhan anak tangga untuk sampai ke kamar? “Butuh bantuan?” tanya Sagara kembali. “Nggak!” tegas Ratu sekali lagi. “Ok!” Ratu dengan rasa gengsinya yang tinggi pun mencoba untuk menyeretnya sendiri. Dan seperti yang dapat diduga, di tangga ke tiga, Ratu tak kuat lagi menyeret kopernya. Dia pun terjatuh. Beruntung ada Sagara yang sigap langsung menangkapnya. Alih-alih tersipu dengan Sagara, Ratu justru memberontak. Dia ingin segera turun. Badannya merinding seketika kala jatuh dalam pelukan Sagara dan dia tidak suka sensasi itu. Namun Sagara tak menggubrisnya. Dia justru menaiki tangga sambil terus membopong Ratu. “Turunkan aku!” berontak Ratu. Dan atas tindakan Ratu, Sagara pun kehilangan keseimbangan. Mereka berdua terjatuh. Sagara dengan sigap memeluk Ratu dan membuat dirinya sendiri jadi tumpuan agar Ratu sama sekali tak terbentur apa pun. “Iih kamu, sih. Makanya tadi lepasin aku!” cerca Ratu. Dia pun memegangi kepalanya. Kendati tadi Sagara melindungi kepala Ratu dengan tangannya, tetap saja kepala Ratu terasa sedikit sakit. Ratu memegangi kepalanya. Dia turut memeriksa lengannya, kali saja ada yang lecet. Tapi nihil. Sama sekali tak ada yang terluka maupun memar. Sagara benar-benar memeluk dan menjadikan tubuhnya sebagai pelindung Ratu. Hanya saja sikap Sagara, tetap saja tak membuat Ratu terkesima. Dia justru makin sebal dengan suaminya itu. “Awas saja kalau diulangi lagi kayak tadi,” ancam Ratu. Ratu masih memeriksa keadaannya sampai dia baru menyadari kalau Sagara sama sekali tak ada tanggapan. “Gar?” panggil Ratu. Tak ada jawaban. “Gar?” panggil Ratu kembali. Kali ini dia pun membalikkan badan. Dilihatnya Sagara yang masih terpejam. “Gar?” panggil Ratu sedikit keras. Sedikit rasa khawatir mulai muncul dalam benaknya. Ratu pun mengangkat tangannya, hendak menyentuh Sagara, namun ia ragu. “Sagara!” teriaknya di samping telinga suaminya itu. Tetap tak ada tanggapan. Ratu pun menghela napas. Dia mengalihkan pandangannya dan menyentuh Sagara, mencoba untuk membangunkannya. Sayangnya tindakannya itu sama sekali tak membuahkan hasil. Sagara masih saja pingsan. Ratu yang mulai khawatir pun seketika memandang Sagara. Dia menyentuh kepala suaminya itu lantas mengecek deru napasnya. Namun tangannya sama sekali tak dapat merasakan aliran napas Sagara. Akhirnya Ratu pun mendekatkan telinganya ke lubang hidung Sagara. Namun tiba-tiba saja Ratu terpeleset, bibirnya menyentuh bibir Sagara. Dan saat itu juga Sagara sadar. Ratu pun segera berdiri. Dia buru-buru ke toilet. Sayangnya dia tidak tahu toiletnya di mana. Jadi yang dia bisa lakukan hanyalah ke luar rumah. Sementara Sagara masih mencerna apa yang terjadi barusan. Kepalanya terasa sakit sekali. Pastinya gara-gara benturan tadi. “Kenapa kamu menciumku? Kan aku hanya pingsan bukan tenggelam?” tanya Sagara. Salah satu tangannya sibuk mengompres bagian belakang kepalanya. Ratu masih membuang muka. Wajahnya bersemu kemerahan. Dari kecil hingga sebesar ini, dia sama sekali tak pernah menyentuh laki-laki. Baginya dirinya terlalu suci untuk berpegangan dengan yang namanya kaum adam. Apalagi sampai berciuman seperti tadi. Mana pernah dia terbayang hal itu akan terjadi. “Sialan! Kenapa tadi nggak aku biarkan saja dia? Kenapa aku repot-repot mau mengecek napasnya!” geram Ratu dalam hati. Ratu pun menengok ke belakang. Tanpa menjawab atau memedulikan Sagara yang terlihat seperti kesakitan, dia pun melewatinya begitu saja. Ratu lalu melangkah ke atas, menuju kamar. Di sana dia merebahkan diri lalu mengambil bantal. Dibekapnya mulutnya sendiri menggunakan bantal lalu berteriak sejadinya. Sagara tertawa kecil mendengarnya. Dia lantas menyentuh bibirnya menggunakan telunjuk. Membayangkan dia berciuman seperti tadi, membuatnya turut malu sendiri. Ini juga pertama kalinya dia berciuman dengan seorang perempuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD