“Perkenalkan diri kamu.” Pak Bima memerintah pada seorang siswa asing yang baru saja masuk. Cowok itu mengangguk seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. Membuat para gadis menggigit bibir bawah mereka. Oh, dia manis sekali. “Hai semua, nama saya Rangga Aditya. Kalian bisa panggil saya Rangga. Terima kasih, salam kenal,” ucap murid baru itu. Di kursi belakang sana, Qiana mematung. Hatinya mencelos seketika. Ia menatap tak percaya laki-laki di depannya itu. Yang sedang dipuji-puji oleh para kaum perempuan. “Kamu silakan duduk. Cari kursi yang kosong,” sahut Pak Bima. Rangga mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Tatapannya berhenti pada kursi kosong di samping Qiana. Karena memang hanya itu yang kosong. Qiana menahan napasnya saat dia bertatapan dengan Rangga.

