Qiana duduk di kursi paling belakang. Sendirian. Karena ia tak suka bersosialisasi, cewek itu memilih memisahkan diri dari orang-orang agar tak perlu banyak mengeluarkan kata. Baginya hal itu sangat sulit. Cewek itu mengeluarkan ponsel lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk papanya yang sedang berada di luar kota.
Papa kapan pulang, sih? Qia kangen tau.
Qiana menghela napas panjang setelah mengirimkan pesan itu. Sebetulnya, ia kesepian. Papanya sering berangkat keluar negeri dan luar kota. Cewek itu hanya ditemani oleh para asisten rumah tangga. Sungguh hal yang membosankan. Ia hanya menghabiskan waktu dengan membaca komik dan novel di rumah.
Beberapa menit setelah mengirim pesan, terdengar dentingan dari ponselnya. Pesan balasan dari papanya. Ia segera membuka dan membacanya.
Besok papa pulang, sayang. Papa juga kangen banget sama kamu. Gimana sekolahnya?
Jari-jari Qiana dengan lincah bergerak di atas papan ketik. Ia menulis balasan lagi.
Menyebalkan, Pa.
Qiana memasukkan ponselnya ke dalam saku saat menyadari beberapa senior sudah masuk ke ruangannya. Pertanda MOS akan dimulai. Ia menghela napas berat. Baginya hal seperti ini sangat membosankan dan tidak ada manfaatnya sama sekali.
“Selamat pagi semua!” Seorang OSIS perempuan menyapa ramah dan semangat. Ia ditemani dengan lima temannya yang lain.
“Pagi, Kak!” Peserta MOS menjawab serentak. Kecuali Qiana yang hanya berekspresi datar. Namun tanpa ia sadari, Gilang memerhatikannya sedari tadi. Nampaknya laki-laki tampan dengan wajah ramah itu menyukainya. Kemarin, Gilang menemani Qiana lari hingga selesai. Sampai-sampai, Gilang membuat salah satu cewek yang menyukainya dalam diam terbakar api cemburu.
“Karena kemarin perkenalannya belum selesai, sekarang dilanjut, yah. Dimulai dari Adik di belakang sana. Yang duduk sendiri.” Perempuan tadi kembali berbicara. Kiran namanya. Dia menunjuk Qiana. Lalu, dengan langkah malas cewek itu melangkah ke depan ruangan tanpa senyum sedikit pun. Qiana sempat beradu tatap sebentar dengan Gilang.
“Nama saya Qiana Carabella,” kata Qiana tanpa ekspresi. Para laki-laki terlihat menatap Qiana kagum. Menatap kecantikan cewek itu. Qiana tinggi semampai dengan tubuh langsing yang diidamkan para wanita. Rambut sepunggung menambah kesan manis pada dirinya. Jika cewek itu lebih sering menebar senyum, ia akan terlihat lebih menarik.
“Lebih lengkap dong, Dek, kayak asal sekolah, hobi dan cita-cita. Juga apa alasan kamu memilih sekolah ini untuk melanjutkan pendidikan,” ujar Tina seraya tersenyum. Qiana baru melihat senior ramah seperti ini. Kemarin yang ia tahu seniornya sangat menyebalkan. Jordan terutama.
“Qiana Carabella dari SMP Tunas Bangsa. Hobi bersepeda dan cita-cita jadi polwan. Saya memilih sekolah ini karena lumayan dekat dengan rumah.” Qiana berucap lagi tanpa senyum. Untuk alasan kenapa ia bersekolah di sini, sebetulnya ada alasan lain yang tak bisa ia katakan.
“Nomer teleponnya berapa, nih?”
“Jomblo gak, Qi?”
“Cantik-cantik jutek.”
“Sok kecantikan banget sih lo!”
“Ah dasar cewek caper! Kemaren aja dihukum habis-habisan sama Jordan.”
“Panteslah dihukum gitu. Berani nentang dan bentak Jordan, sih. Baru masuk aja udah ganjen.”
“Clara, bisa gak sih gak usah bikin panas suasana? Kalian tuh sebagai senior harusnya menunjukkan sikap baik. Biar mereka juga mencontoh kita. Kalau seniornya aja cablak, gimana sama juniornya? Maunya dihormati tapi kalian aja gak bisa menghargai,” kata Kiran, yang merupakan wakil ketua OSIS. Clara dan temannya hanya memutar bola mata malas.
Kurang lebih begitulah ucapan OSIS perempuan yang lain dan teman-teman seruangannya. Qiana menulikan
telingan. Ia tak peduli sama sekali. Gadis itu menatap Tina dan Kiran datar. Seolah berbicara ‘udah belum?’. Tina mengangguk tanda Qiana boleh duduk lagi.
Dengan langkah gontai ia kembali duduk di kursinya. Rasanya ia ingin pulang saja dan tidur tanpa gangguan. Acara ini betul-betul membosankan menurutnya. Menyebalkan lebih tepatnya. Karena sedari tadi banyak orang yang membicarakannya. Apapun yang ia lakukan, orang-orang pasti akan mencari kesalahan untuk dikomentari.
Acara perkenalan itu terus berlanjut hingga seorang laki-laki tampan dengan ekspresi sangarnya memasuki ruangan itu dan memusatkan perhatian seluruh orang yang ada di sana. Qiana menatap cowok itu penuh kebencian. Siapa lagi kalau bukan Jordan Hamizan? Si Ketua OSIS kejam. Sangat kejam dari yang paling kejam. Gara-gara cowok itu, Qiana selalu jadi bahan omongan. Tapi Qiana merasa bangga karena berhasil membuat pipi cowok itu merah karena tamparannya.
“Selamat pagi.” Jordan menyapa. Membuat peserta perempuan memekik histeris ketika membalasnya. Padahal cowok itu tak senyum sama sekali. Namun, wajah sangar cowok itu sepertinya jadi daya tarik tersendiri.
“Besok, seperti yang sudah saya bicarakan kemarin, untuk lebih mengakrabkan diri, kita akan melanjutkan MOS di hutan. Kita akan menginap dua hari dua malam di sana. Mohon persiapannya diperlengkap. Dan saya harap tidak akan ada yang telat,” jelas Jordan dengan tegas. Ketika dia mengucapkan kata ‘telat’, itu untuk menyindir Qiana. Terbukti saat Jordan mengatakan itu ia menatap Qiana. Cewek itu hanya membuang pandangannya ke arah lain. Dia menggerutu kesal dalam hati. Sudah ia duga, sekali berurusan dengan cowok itu, maka seterusnya akan selalu begitu.
“Ada yang mau bertanya? Bisa angkat tangan,” cetus Jordan. Para peserta perempuan langsung mengangkat tangannya. Kecuali Qiana yang hanya menatap tak peduli. Jika tak ingin papanya marah, ia tidak akan mau mengikuti MOS ini hingga selesai. Tapi sepertinya besok akan menarik sekali, karena Qiana termasuk sang pecinta alam.
“Ya, Qiana? Kamu mau bertanya?” Gilang justru malah menunjuk Qiana yang hanya diam saja. Gadis itu membelalak dan menatap Gilang dengan tatapan dinginnya lalu menggeleng. Dia tak ingin bertanya apa pun. Malas bicara juga.
“Lo gak mau nanya besok mulai jam berapa gitu? Biar lo gak telat dan gak ngerepotin! Kalau besok lo telat, kita bakalan ninggalin lo!” seru Jordan ketus. Qiana menaikkan sebelah alisnya.
“Lo bisa gak sih gak nilai orang dari satu kesalahan aja?! Emangnya lo gak pernah telat? Lo juga harus tau, gue gak pernah takut ataupun kapok dengan hukuman gak penting lo itu!” Qiana berseru kesal. Semua orang menatapnya. Anak cowok memandang Qiana kagum karena gadis itu berani sekali. Dia sama sekali tak menjerit histeris seperti perempuan lain jika melihat Jordan. Perempuan seperti itu cukup langka dan harus dilestarikan!
“Satu kesalahan akan merusak kepercayaan,” sahut Jordan lalu menatap Qiana tajam.
Gadis itu balas melotot lalu berseru datar, “Dan melupakan ribuan kebaikan?”
Jordan mendelik kesal. “Jam istirahat nanti temuin gue di kantin! Kalau lo gak datang, lo penakut!
Qiana melotot. Ia berdiri dari kursinya lalu berseru lantang. “Gue pasti datang!”
Jordan hendak kembali menyentak namun ia urungkan ketika Kiran menatapnya tajam. Jordan menghargai Kiran sebagai wakilnya, dan juga, cewek itu adalah orang yang dia suka.
“Udah, udah. Lo lagi Dan, kenapa sih suka banget ribut? Biasanya juga lo cuek aja.” Kiran melerai. Jordan mendengkus kesal. Qiana duduk kembali dengan wajah menahan marah. Sangking kesalnya dia, cewek itu sampai hampir menangis. Matanya sudah sedikit memerah.
Jam istirahat tiba. Para peserta MOS serta OSIS berhamburan keluar dari ruangan. Kebanyakan dari mereka pergi menuju kantin. Begitu juga Qiana yang sudah disuruh ke tempat itu oleh Jordan.
Cewek itu berjalan malas di koridor. Sambil menebak-nebak apa yang akan Jordan lakukan. Memarahinya? Membuat ia malu? Atau menjadikan ia pesuruh cowok itu? Qiana mendengkus membayangkan hal bodoh semacam itu. Kapan penderitaan ini berakhir?
Dari hari pertama, Qiana sudah sangat terlihat mencolok dan sudah dikenal semua orang karena pernah dihukum habis-habisan oleh Jordan. Lalu ketika gadis itu memasuki pintu kantin, semua orang menatapnya. Namun, tetap ada beberapa yang fokus dengan makanan mereka. Tak peduli dan tak ingin tau apa yang sedang terjadi.
Qiana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Berusaha menemukan orang yang menyuruhnya datang ke sini. Mata bulat cewek itu menemukan cowok yang tengah menatapnya dengan pandangan merendahkan. Qiana segera berjalan ke sana tanpa basa-basi lagi. Orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi memerhatikan gerak-gerik cewek itu dengan serius.
“Gue kira lo gak akan dateng, Tar.” Jordan tersenyum miring. Qiana menaikkan sebelah alisnya. Tar? Kenapa cowok itu memanggilnya ‘Tar’? Itu jauh sekali dari namanya. Jordan tertawa melihat ekspresi bingung cewek itu.
“Tar itu, ‘Datar’.” Jordan menjawab kebingungan Qiana. Cewek itu menganga kemudian merotasikan bola matanya. Ia menatap Jordan tajam dan menaikkan dagunya tinggi-tinggi.
“Gue udah bilang, gue pasti datang!” seru Qiana berani.
“Oke, silakan duduk, Dek.” Jordan tersenyum ramah. Namun, senyum itu terlihat menyebalkan di mata Qiana. Cewek itu duduk di kursi yang ada di depan Jordan. Tatapan tajamnya belum melembut.
“Kali ini, gue gak akan kasih lo hukuman yang berat-berat kok. Lo cuma harus pesenin makanan buat gue terus suapin gue.”
“APA?!” Qiana refleks berteriak dan menggebrak meja. Membuat orang-orang yang sedari tadi penasaran jadi makin penasaran. Cewek itu menggeleng tegas. Bisa turun harga dirinya jika ia menyuapi cowok sok kecakepan macam Jordan.
“Duh, lo gak denger? Gue bilang, lo pesenin gue makanan terus suapin gue di sini. Kurang jelas juga? Gue perlu teriak di sini? Biar semua orang juga bisa denger.” Jordan megulang ucapannya dengan intonasi yang semakin menyebalkan. Qiana mengepalkan tangannya kuat-kuat. Berusaha sesabar mungkin menghadapi orang di depannya ini.
“Gue lebih baik lari seratus kali, bersihin lapangan pake sikat gigi, atau bahkan bersihin genteng sekalian daripada harus lakuin hal menjijikan kayak yang lo bilang!” Qiana tetap berseru tidak terima. Jordan melipat tangannya di depan d**a.
“Ya udah, kalau gitu gue akan aduin ke kepala sekolah kalau pagi tadi, lo nampar gue,” ujar Jordan. Qiana semakin kesal. Jika Jordan benar-benar mengadukan hal itu, bisa habis ia oleh papanya. Cewek itu menelan ludah lalu mengangguk pasrah.
“Oke, gue bakal lakuin yang lo suruh. Lo mau makan apa?” tanya Qiana ketus. Ia berdiri dan mengambil ponsel di saku, membuka memo lalu mengetik pesanan Jordan.
“Gue mau es teh sama batagor. Eh, gak deh. Gue mau jus mangga aja.” Jordan menyebutkan pesananya. Qiana mengetik sambil menahan kesal setengah mati. Jordan tersenyum jahil.
“Eh jangan batagor, deh. Bosen gue. Pesenin gue nasi goreng spesial. Juga, gue bosen jus mangga. Gue mau air putih.”
“Sekali lagi lo ganti menu, gue gak mau pesenin!” Qiana memotong ucapan Jordan.
Cowok itu tertawa karena berhasil membuat Qiana kesal. “Jadi pelayan itu harus ramah, Mbak.”
Qiana langsung pergi memesan. Tak memedulikan Jordan yang terus menertawakannya. Oke, mungkin hari ini cowok itu menang. Tapi nanti, tidak akan!
Gilang dan Riski datang menghampiri Jordan yang sedang duduk menunggu Qiana.
“Lo jadiin dia pelayan lo, Dan?” tanya Gilang.
Jordan mengangguk lalu tersenyum miring. “Dia belum tau siapa gue. Jadi, gue harus memperkenalkan diri gue dengan menghukum orang yang terang-terangan nentang gue itu.”
“Lo mau jadi sok berkuasa?” sahut Riski.
Jordan menatap cowok kurus itu tajam.
“Ya gak gitu juga.”
Beberapa menit kemudian Qiana datang membawa sepiring nasi goreng dan sebotol air mineral. Ia meletakkan piring itu dengan kasar di meja.
“Wuih, ganas amat, Mbak,” sergah Jordan. Qiana memutar bola matanya malas. Ia melirik Gilang dan Riski yang sedang memerhatikannya.
“Kalian berdua pergi sana, jangan ganggu gue dan pelayan baru gue ini.” Jordan menaik-turunkan alisnya ketika menatap Gilang dan Riski. Dua cowok itu langsung berdiri dan meninggalkan tempat Jordan.
Qiana duduk lagi di tempat awalnya. Dia mengembuskan napas kasar. Haruskah ia menyuapi Jordan?
“Ayo cepet suapin gue. Gue udah laper banget, nih. Kebanyakan marah-marah.” Jordan mendekatkan sepiring nasi goreng spesial itu pada Qiana.
Dengan kasar, cewek itu meraih sendok lalu menyendokkan nasi goreng sebanyak-banyaknya ke atas sendok. Agar hukuman tidak bermutu ini segera selesai.
“Mulut gue terlalu kecil untuk nampung nasi goreng satu sendok penuh. Lo mau gue muntah?” protes Jordan ketika melihat satu sendok telah diisi banyak nasi oleh Qiana. Cewek itu menghela napas kasar lalu menaruh separuh nasi itu ke piring.
Jordan membuka mulutnya. Dengan tangan gemetaran, Qiana menyuapkan sesendok nasi itu ke dalam mulut Jordan. Cowok itu melahapnya dengan senang hati. Dalam hati ia tertawa keras melihat ekspresi gugup Qiana. Biasanya cewek itu selalu terlihat datar.
“Aaaaaaaahhhh! Kalau dihukumnya kayak gitu sih, gue juga mau kali! Kapan lagi bisa nyuapin cogan?”
“Si Qiana itu, pasti cuma cari perhatian doang. Mungkin dia memang sengaja pengen nyuapin Kak Jordan. Biar tenar!”
“Iya, ya. Baru kelas sepuluh udah sok kecakepan. Lagian ya, Kak Jordan itu cocoknya sama Kak Kiran.”
Banyak murid kelas sepuluh yang berkomentar dengan bermacam-macam tanggapan tentang Qiana yang tengah menyuapi Jordan. Cewek itu hanya bisa berpura-pura tidak mendengar. Dan berusaha untuk tetap santai meskipun sebenarnya ia sangat risih.
“Gak usah dengerin omongan orang-orang sirik,” ujar Jordan lalu meneguk air mineral yang tadi dibelikan Qiana. Cewek itu menatap Jordan sekilas lalu kembali menatap nasi goreng spesial di depannya yang tinggal setengah piring.
“Itu sisanya buat lo. Karena gue udah kenyang,” kata Jordan. Cowok itu berdiri kemudian tersenyum. “Makasih buat traktirannya. Dan jangan lupa, makanannya harus dihabisin karena kalau enggak, nanti dia nangis.”
Qiana menatap Jordan malas. Ia disuruh makan makanan sisa? Bekas cowok itu pula. Yang benar saja. Cewek itu menatap nasi goreng di depannya tanpa minat.
Jordan tersenyum miring lalu berlalu pergi dari kantin sambil memelototi adik kelas yang ganjen padanya.