Qiana menatap nanar sebuah bingkai foto berisi seorang wanita yang sedang tersenyum manis. Ia mengusap foto itu dengan tangan bergetar. Gadis itu tersenyum pahit. Ia melirik sebuah kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Terdapat sebuah bulatan yang ia buat di tanggal hari ini.
Waktunya nemuin Mama, gumam gadis itu dalam hati.
Ia membuka lemari pakaian, mengambil satu baju lengan panjang berwarna silver, celana bahan warna gelap, dan tak lupa juga ia mengambil sebuah kerudung berwarna hitam. Ini akan menjadi hari yang menyedihkan. Dia menghela napas.
***
Kaki jenjang Qiana berpijak di sebuah lingkungan bertanah merah. Ia menatap pedih gundukan tanah di depannya lalu berjongkok. Mengelus sebuah nisan bertuliskan ‘Riana Carabella’.
Ia terdiam. Larut bersama kesiur angin. Kemudian tanpa bisa ia cegah, setitik air mata jatuh membasahi pipinya. Tak ada isakan yang terdengar, namun buliran bening itu tetap setia mengalir dengan deras.
Kata orang-orang, tangisan tanpa suara adalah tangisan yang lukanya paling dalam. Rasa sesak menyentuh palung jiwanya. Hingga sebuah isakan kecil terdengar memilukan. Matanya terpejam dan ia membiarkan semua kesakitan yang ia pendam selama ini keluar.
Gadis itu menaruh sebuket bunga mawar putih di atas gundukan makam mamanya. Dalam diam, ia memanjatkan doa untuk mendiang mamanya yang baru saja pergi lima bulan yang lalu.
Seperti pikirannya tadi, hari ini akan menjadi hari yang menyedihkan. Setiap satu bulan sekali, Qiana pergi ke tempat ini. Berdoa untuk mamanya dan menangis sepuasnya. Baginya, tak ada hal yang paling menyakitkan dari melihat sebuah kenyataan yang ternyata, orang yang ia sayangi sudah tiada. Berkali-kali ia menepis kenyataan pahit itu. Tapi berkali-kali pula ia kecewa karena hal ini memang nyata. Ibu dan segala kasih sayangnya, telah pergi jauh ke tempat istirahat terakhir.
“Ijinin Qiana nangis, Ma. Kali ini aja biar aku ngerasa lega. Gak ada tempat lain yang bisa bikin aku sepuasnya nangis selain makam Mama dan kamar aku.” Bahu gadis itu bergetar hebat.
“Sejak Mama pergi, aku selalu sendirian, Ma. Qia gak tau harus gimana. Qia udah gak punya teman lagi,” ujar Qiana.
“Apa Mama bisa kirimin malaikat baik buat Qia? Orang yang akan ngelindungin dan sayang sama Qia seperti tulusnya kasih sayang Mama.” Ia menyeka air mata yang membuat pipinya basah.
Jangan tanya seberapa terpukulnya ia, gadis itu teramat sangat merasa kehilangan. Riana adalah ibu yang baik baginya. Yang selalu mengerti semua masalah-masalah yang sedang ia hadapi. Bisa menjadi teman belanja yang asik, yang bisa ia mintai saran atas segala kegalauannya. Tapi sekarang, kepada siapa ia harus mengadu? Kepada siapa harus meminta saran? Ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan.
“Maafin Papa, Sayang.”
Qiana tertegun.
Ia berdiri dan membalikkan badan. Menatap sosok di depannya tak percaya. Papanya, ada di sini. Gadis itu langsung memeluk pria paruh baya dengan setelan jas hitam dan kemeja putih yang melekat di tubuh kekarnya itu.
“Papa kok di sini?” tanya Qiana.
Irwan memeluk Qiana erat. Mengecup puncak kepala putrinya itu. “Karena Papa tau hari ini jadwal kamu tengok Mama. Maaf Papa telat. Maaf juga karena selalu buat kamu kesepian. Mulai besok, Papa janji akan sering di rumah dan dengerin semua keluh kesah kamu.” Qiana terenyuh. Air matanya kembali menetes.
Ayah dan anak itu berjongkok di depan makam Riana. Saling diam yang mampu membuat atmosfer di pemakaman itu terasa semakin sesak. Orang-orang yang ketika datang ke tempat peristirahatan terakhir ini menangis, biasanya dia adalah orang yang paling terluka oleh rasa kehilangan.
“Papa ingat, Mama pernah bilang di hari terakhirnya, dia minta Papa jaga kamu. Dia mau kamu gak nangis karena Mama. Air mata kamu terlalu berharga buat Ibu yang masih belum baik seperti dia, katanya.” Irwan berucap pelan. Qiana terdiam. Ibu yang masih belum baik?
“Mama salah, Mama adalah Ibu yang paling baik. Mama gak akan terganti. Qia sayang Mama dan gak mungkin Qia gak nangis ketika Mama pergi ninggalin Qia untuk selamanya.” Qiana membalas ucapan Irwan dengan suara serak. Hidungnya tersendat dan ia sulit untuk bicara.
“Dia mau kamu gak nangis, Sayang. Papa pun begitu. Kamu mau janji? Papa akan lakuin apa pun agar kamu terus ketawa. Air mata kamu yang jatuh, juga mengiris hati Papa.” Irwan mengusap nisan almarhumah istrinya. Qiana menunduk.
“Qiana janji. Qia janji akan jadi wanita kuat kayak Mama. Qia janji, Pa,” ujarnya.
Irwan tersenyum. “Kamu sangat penting di hidup Papa, Nak. Dan Papa juga mau, anak Papa yang paling kuat ini nantinya akan dapat pendamping yang sangat menyayangi kamu sedalam yang Papa kasih. Kamu jangan pernah ngerasa sendirian. Masih ada Papa di sini, dan juga Mama, dia selalu ada di hati kamu.”
Qiana langsung memeluk Irwan erat. Ia keliru jika selalu berpikiran bahwa dia selalu sendirian. Nyatanya, Irwanlah yang masih sangat memedulikannya. Dialah malaikat baik itu.
“Yuk kita pulang. Ini udah sore. Nanti malam, Papa mau ajak kamu makan malam di luar,” ujar Irwan. Mata Qiana berbinar seketika. Ini sangat langka. Biasanya, untuk menemui papanya itu sesulit menemui presiden.
Yang tahu kerapuhannya hanyalah Irwan. Sosok ayah yang paling ia sayangi. Dan ia tak akan pernah mau merasakan rasa kehilangan lagi nantinya. Kepergian sang mama cukup untuk membuat dunianya runtuh separuh. Jika papa-nya juga pergi, ia akan kehilangan langit-langit dunianya. Ia tak akan memiliki tempat pulang ternyaman lagi.