Gadis cantik itu masih setia dengan alam mimpinya. Tak peduli dengan alarm dari ponsel yang meraung-raung kencang sejak lima menit yang lalu. Qiana malah menutup telinganya dengan bantal.
Lima menit lagi gue bangun! teriaknya dalam hati. Namun keinginan itu musnah ketika sinar matahari pagi menyiram wajahnya. Seseorang telah membuka gorden di ruangan bernuansa pink dan hitam itu.
“Baby, bangun, hey! Ini sudah setengah tujuh. Kamu bukannya mau camping?” Irwan berseru. Ia berdecak melihat putrinya yang tidur seperti batu. Dengan gemas, pria itu menarik selimut tebal warna merah muda yang menyelimuti tubuh Qiana.
“Qia ... ayo bangun, Sayang. Nanti kamu terlambat. Jam tujuh pagi bisnya udah berangkat, kan?” Irwan mengguncang bahu Qiana. Gadis itu menggeliat. Susah payah membuka kelopak matanya. Semalam, ia jalan-jalan bersama Irwan hingga pukul sebelas malam. Qiana lelah jadi ia masih ingin tidur.
“Lima menit lagi, Pa. Qia janji!” sahut gadis itu, kembali menutup matanya rapat-rapat.
Irwan tertawa kemudian menggeleng. “Kamu bisa terlambat, Sayang. Ayo bangun!”
“Oh, siang nanti Papa ke Singapura. Kamu mau minta dibelikan apa?” tanya Irwan dengan suara keras.
Mata Qiana yang tadinya sangat berat untuk dibuka, seketika melebar. Ia langsung duduk. “Makanan yang banyak!”
Irwan tersenyum lebar. Sudah ia pastikan, hal ini akan berhasil membuat mata Qiana terbuka sempurna. Makanan. Ya, anak gadisnya selalu minta itu. Jarang meminta barang-barang.
“Ayo cepat mandi,” perintah Irwan.
Qiana mengangguk malas lalu turun dari ranjang berukuran besar itu. Ia berlari ke kamar mandi dan mandi kilat agar tak terlambat. Irwan meggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Qiana yang selalu susah untuk bangun pagi. Apalagi jika ia tertidur larut malam. Jika tak dibangunkan, gadis itu bisa saja tidur hingga siang hari. Saat posisi matahari sudah berada di tengah-tengah.
***
“Papa, Qia ‘kan, udah bilang Qia berangkat sama sopir aja, tapi Papa ngeyel. Gimana nanti kalo semua orang lihat Qiana bareng Papa? Pokoknya aku gak mau dianter sama Papa.” Qiana menggerutu kesal saat Irwan memaksa ingin mengantarnya ke sekolah. Padahal, ini sudah pukul tujuh lewat lima menit. Itu artinya, gadis itu sudah terlambat. Dan sepertinya, hal ini akan cukup untuk membuat Jordan murka.
“Lho, Qia malu ya, jadi anak Papa?” tanya Irwan dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Gadis itu hanya mendengkus kesal. Mencoba mencari alasan agar papanya mengizinkan ia untuk pergi diantar sopir pribadi saja.
“Ya bukannya gitu, tapi ‘kan, Qia mutusin buat nutupin jati diri yang sebenarnya, Pa. Aku yakin, Papa pasti ngerti.”
“Papa gak akan keluar dari mobil kok, dan gak akan ada yang lihat.” Irwan menatap Qiana dengan ekspresi termelas sedunia.
“Papa gak mau kalau kamu sampai dihukum gara-gara telat.”
Qiana menelan ludah. Andai saja Irwan tahu apa yang sudah terjadi padanya dua hari kemarin. Mungkin, pria itu bisa saja nekat menutup sekolah.
Gadis itu menghela napas berat. Jika Papanya sudah memelas seperti itu, Qiana tak sampai hati untuk menolak. Akhirnya ia mengangguk hingga Irwan memekik senang. Qiana hanya geleng-geleng kepala lalu naik ke mobil milik papanya.
***
Halaman depan SMA Citra Jaya itu sudah penuh oleh para peserta MOS yang akan pergi camping. Setiap orang membawa tas yang besar-besar sekali. Apalagi para perempuan rempong yang membawa berbagai macam peralatan dandan.
Peserta perempuan banyak yang mencuri-curi pandang pada Jordan yang terlihat sangat tampan dan keren memakai jaket merah dan jeans hitam. Juga kupluk abu-abu yang melekat manis di kepalanya. Namun sayang, ekspresi cowok itu selalu saja sangar dan terlihat galak. Jika sering tersenyum, mungkin para gadis bisa pingsan di tempat.
“Udah pada datang semua?” Jordan bertanya pada Riski yang sedari tadi sibuk mengabsen. Cowok bertubuh kurus itu mengenakan kemeja kotak-kotak warna biru hitam. Terlihat sangat rapi dan tampak kece.
“Tinggal satu orang lagi,” jawab Riski.
“Siapa?” Alis Jordan terangkat. Dia mulai curiga. Menebak-nebak siapa orang itu. Cowok itu yakin, tebakannya tak akan meleset.
“Qiana Carabella.” Riski menyebutkan nama orang yang memang belum hadir.
Jordan menggeram kesal. Tebakannya benar! Dan tentu saja dia tahu nama itu. Si gadis menyebalkan yang berani menentangnya.
“Cewek itu lagi!” Jordan mengepalkan tangannya menahan amarah.
“Udah, langsung suruh masuk ke mobil aja semuanya. Peduli amat sama si cewek muka datar itu,” tutur Jordan dengan ekspresi kesalnya.
Riski mengangguk lalu segera berteriak pada para peserta MOS. Sebenarnya Riski ingin menunggu Qiana. Tapi dia malas berdebat dengan Jordan. Karena biasanya, siapa pun yang berdebat dengan Jordan pasti akan kalah. Kecuali Kiran. Bukan rahasia lagi bagi anak-anak OSIS jika dua orang itu memang dekat dan sering kali ditebak-tebak punya hubungan khusus.
“Yang tadi namanya disebutin, Masuk ke bis satu!” Riski berseru lantang. Membuat para peserta yang merasa tadi namanya disebutkan segera memasuki bis satu. Ada empat bis yang disiapkan pihak sekolah karena peserta lumayan banyak.
“Sorry gue telat!” Qiana yang tiba-tiba datang langsung berseru tanpa dosa. Membuat ia menjadi pusat perhatian. Gadis itu sudah tak risih lagi, menurutnya itu sudah biasa.
“Lo lagi, lo lagi. Bisa gak sih gak buat masalah sekali aja?! Gak menghargai waktu banget!” Jordan berteriak marah. Dia benci sekali pada orang yang bertele-tele.
Qiana mengembuskan napas kasar. Jordan selalu saja menyebalkan dalam kondisi apa pun. Dan selalu melebih-lebihkan sesuatu yang sebenarnya sepele.
“Jalanan macet,” kata Qiana sedatar mungkin. Dia menatap Jordan tanpa minat. Wajah cowok itu tampak memerah karena marah. Mulai sekarang, Qiana akan menjuluki Ketua OSIS itu dengan sebutan ‘Gorila Pemarah’. Kenapa Gorila? Kenapa tidak kelinci? Macan? Atau singa yang lebih seram? Ya karena menurut cewek itu, jika Jordan mengamuk, mirip dengan gorila.
“Terserah lo! Sekarang cepat masuk ke bis dan bawain tas gue!” seru Jordan lalu melemparkan ransel warna hitam miliknya pada Qiana. Gadis itu dengan sigap menangkapnya. Tas itu berat sekali. Entah apa yang dibawa Jordan. Qiana curiga jika Jordan membawa batu bata untuk buat rumah di sana.
“Gue di bis berapa?” tanya Qiana datar. Tak peduli dengan tatapan membunuh dari Jordan. Betul kan, katanya? Cowok itu sangat berlebihan. Jika saja tidak akan berangkat, mungkin Jordan sudah menghukumnya lagi.
“Sepuluh,” sahut Jordan ketus lalu pergi begitu saja menuju ke bis yang akan ia tempati.
“Lo di bis dua Qi, bareng gue.” Gilang yang tiba-tiba datang langsung memberitahu. Qiana mengangguk lalu berjalan menuju bis dua. Dia susah payah membawa tas Jordan yang mungkin jika ditimbang bisa lima kilo berat-nya. Ditambah lagi tasnya yang juga lumayan berat. Ia tak banyak membawa alat apa pun. Cewek itu hanya banyak membawa makanan. Ia sangat suka ngemil dan antisipasi takut tak dikasih makan.
“Sini gue bantu bawain tasnya. Si Jordan itu, sebenernya baik kok. Dia cuma gak suka aja sama orang yang sering ngulang-ngulang kesalahan,” jelas Gilang lalu mengambil alih tas Jordan.
“Thanks,” sahut Qiana datar.
Gilang tertawa karena cewek itu hanya menjawab satu kata.
Saat tiba di bis, Qiana mencari-cari kursi yang kosong. Cewek itu hanya mendapati dua kursi kosong lagi. Dia akan duduk di sana. Tapi terlambat. Jordan lebih dulu mengisi tempat itu. Qiana menghela napas gusar.
“Lang, lo duduk di sini!” seru Jordan pada Gilang yang baru saja masuk ke dalam bis. Cowok itu menggeleng. Ia melirik Qiana yang sedang terdiam di sampingnya.
“Terus Qiana gimana? Dia cewek, Dan. Lo masa gak mau ngalah, sih?” Gilang menatap Qiana penuh rasa kasihan.
Sedangkan gadis itu hanya diam dengan ekspresi datarnya. Tak penting juga dapat tempat duduk atau tidak. Ia masih bisa berdiri. Lagipula, Qiana menjamin, jika Jordan tak akan mau merelakan kursi itu untuknya. Cowok itu memang suka sekali melihat ia sengsara.
“Masa bodo lah, siapa suruh telat,” sahut Jordan cuek.
“Lo duduk di sini aja, Qi. Biar gue berdiri,” ujar Gilang lalu melirik Qiana. Para perempuan yang berada di sana memekik tertahan karena perlakuan manis Gilang. Cowok itu sudah tampan, baik hati pula. Berbeda dengan Jordan yang selalu teelihat sinis.
“Nggak, makasih,” tolak Qiana cuek. Tentu saja dia tak mau duduk berdekatan dengan Jordan si Gorila Pemarah itu!
“Ya udah gue temenin lo berdiri.” Gilang tersenyum manis.
Qiana mengangguk lalu berpegangan pada pegangan besi yang ada di atasnya. Tasnya disimpan di bagasi bis. Gilang berdiri di belakang Qiana. Jordan hanya mengangkat bahu tak peduli lalu memainkan ponselnya. Toh jaraknya tak terlalu jauh. Paling hanya tiga puluh menit juga sampai.
“Masih ada tempat kosong gak?” Semua orang beralih menatap Kiran yang berdiri di pintu masuk bis. Napas cewek itu terlihat memburu karena lelah berpindah dari bis sana ke bis sini untuk mencari tempat kosong.
“Kiran? Lo gak kebagian? Sini sama gue.” Jordan berdiri dari duduknya. Menatap Kiran lembut. Para peserta cewek melongo. Ini tak adil, bukan? Ketika Gilang meminta Qiana untuk duduk bersamanya, Jordan menolak mentah-mentah. Sedangkan Kiran? Astaga, bahkan cewek itu tak perlu memohon-mohon atau memasang wajah melas. Jordan malah menawarkan.
Gadis cantik dengan setelan baju rajut panjang berwarna ungu gelap itu melangkah mendekati tempat Jordan dengan senyum lebar. Ia sempat melirik Qiana dan Gilang heran lalu kembali melanjutkan langkah dan duduk tepat di samping Jordan. Mereka berdua saling melempar senyum lalu mulai mengobrol.
Qiana yang melihat hal itu hanya memutar bola matanya malas. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tak terima atas perlakuan ini. Ia dibiarkan berdiri sedangkan Kiran yang baru datang langsung disambut dengan baik. Oke baiklah, sepertinya ia tahu apa jawabannya. Kiran adalah wakil Jordan sedangkan ia hanya seorang junior yang selalu terlihat salah dan rendah di mata cowok itu.
“Lo gak apa-apa, kan, Qi? Atau mau gue temenin naik mobil pribadi aja? Gue bukannya gak percaya lo bisa tahan lama berdiri, gue cuma ngerasa gak enak aja sebagai kakak kelas. Ngerasa gak bertanggung jawab banget ngebiarin adik kelasnya berdiri. Kalau soal kuat, gue yakin lo pasti kuat banget. Lari dua puluh putaran aja lo taklukin,” ujar Gilang ketika ia melihat gadis itu melamun.
Qiana menggeleng pelan lalu menjawab, “gue berdiri aja. Gak enak kalau milih pisah pakai kendaraan pribadi. Lo pasti tau kan, watak anak jaman sekarang? Apa pun yang gue lakuin, mereka pasti nyari-nyari suatu hal buat dikomentarin.”
Gilang mengangguk lalu memantapkan hatinya untuk menjaga Qiana dengan sepenuh hati. Ia merasa senang melakukan hal itu. “Lo beda, Qi. Lo kelihatan apa adanya.” Qiana tak menyahuti ucapan Gilang.
Bis besar berwarna biru itu segera melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan lingkungan sekolah dan pergi ke sebuah tempat indah yang biasa dipakai untuk berkemah. Lokasinya tak jauh dari sekolah. Hanya berjarak 15 KM.
Lima belas menit berlalu. Kaki Qiana mulai terasa kebas karena terlalu lama berdiri. Gilang yang menyadari itu merasa kasihan dan semakin merasa bersalah.
“Pegel ya, Qi? Tahan sebentar, ya. Lima belas menit lagi sampai kok. Gue yakin lo kuat,” ucap Gilang lembut. Qiana mengangguk. Ia sedikit tertegun karena ucapan Gilang yang menganggapnya cewek kuat.
Tanpa diduga, sopir bis mengerem mendadak karena ada sebuah pasukan bebek yang lewat.
“AAAAAA!!!”
Para murid perempuan memekik histeris karena kaget dan tak siap dengan keadaan. Tak sedikit yang terbentur kursi di depannya. Banyak pula makanan ringan yang berhamburan karena terlepas dari tangan pemiliknya.
Qiana yang kaget dan tak siap pun terpelanting ke depan lalu kepalanya terbentur sandaran kursi di sebelahnya. Dia
memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut nyeri.
Gilang tak sempat memegang Qiana. Dia langsung menghampiri cewek yang terduduk di lantai bis dengan kepala menunduk.
Air mata Qiana nyaris keluar karena ngilu yang ia rasakan di dahi. Namun gadis itu bersusah payah untuk menahannya. Ia memegangi dahi dan sebuah darah segar menempel di tangannya. Ia meringis.
“Qiana, astaga! Berdarah!” Gilang berseru panik membuat yang lain menoleh ingin tahu. Gadis itu hanya diam. Merasakan pusing yang begitu hebat di kepalanya.
Tina yang kebetulan ada di bis ini langsung mengobati dahi Qiana yang berdarah dan memar. Sedangkan Gilang mengepalkan tangannya. Dia marah. Marah pada diri sendiri karena lalai menjaga Qiana. Juga marah pada Jordan yang malah sibuk tertawa dengan Kiran.
Gilang menghampiri kursi di mana ada Jordan duduk. Dan cowok itu malah terlihat santai sambil memainkan ponsel. Seolah tak tahu menahu atas apa yang terjadi. Lalu ada Kiran yang sedang bersandar nyaman di bahu lelaki itu. Gilang menarik kerah jaket Jordan hingga cowok itu berdiri. Mata tajam Gilang memancarkan kemarahan. Anak perempuan beringsut takut melihat Gilang yang sedang diselimuti emosi. Biasanya laki-laki itu selalu terlihat tenang. Kiran menatap dua cowok di sampingnya. Tak tahu harus berbuat apa.
“Lo itu sebagai Ketua OSIS gak ada tanggung jawabnya sama sekali, ya! Lo lihat di sana? Qiana jatuh! Dahinya berdarah dan lo malah santai-santai gak jelas kayak tadi?! Asyik pacaran sementara ada peserta yang kena masalah. Ketua OSIS macam apa lo, hah?!” Gilang berseru-seru marah. Jordan hanya menatapnya bingung. Gilang beralih menatap Kiran yang sedang terdiam.
“Lo juga sama aja, Ran! Wakil macam apa lo? Tega ngebiarin Adik kelasnya berdiri dan akhirnya jatuh sampai dia luka. Mana anak OSIS yang katanya punya solidaritas tinggi? Susah senang bareng-bareng? Kalian berdua itu sebelas dua belas! Pasangan yang serasi. Sama-sama gak tau malu!”
Jordan mulai tersulut emosi. Jadi, ini semua salahnya? Gampang sekali Gilang menyalahkannya.
“Terus gue harus apa? Nangis-nangis minta maaf?” tanya Jordan. Gilang hampir saja melayangkan pukulan keras pada Jordan jika saja Qiana tak menahan tangannya.
“Gue gak apa-apa kok. Gak usah berlebihan,” sergah Qiana pada Gilang. Dia menarik Gilang menjauh dari Jordan. Suasana akan rumit jika dua cowok itu sampai adu jotos di dalam bis.
Jordan dan Kiran sama-sama terdiam. Memikirkan ucapan Gilang yang begitu menusuk. Memang, Gilang adalah Gilang. Dia tak pernah mau berbasa-basi atau membutuhkan kata-kata halus jika ingin menyindir orang.
“Lo duduk bareng gue aja, Qi, satu kursi bagi dua,” tawar Tina seraya tersenyum. Qiana mengangguk pelan lalu duduk di samping Tina. Di dahinya terdapat plester berwarna coklat. Cewek itu agak pusing jadi dia tak menolak tawaran Tina. Gilang menghela napas lega. Dia tersenyum kecil pada Qiana meski gadis itu tak pernah sekalipun terlihat tersenyum. Gadis itu cuek sekali.
Gilang beralih melirik Jordan di belakang sana. Cowok itu terlihat sedang terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Sama halnya dengan Kiran yang juga bungkam. Gilang tersenyum miring. Ia yakin, perkataannya tadi pasti sangat menohok hati mereka. Lagipula, itu semua memang benar, kan?
“Mau berbagi tempat duduk?” tanya seorang laki-laki peserta MOS pada Gilang. Gilang terkekeh pelan lalu mengangguk. Ia duduk di samping cowok dengan rambut ikal.
***
Peserta MOS dan para OSIS yang ikut camping berhamburan turun dari bis. Mereka telah sampai di tempat tujuan dua menit yang lalu dan telah dibagi kelompok.
Tempat ini sangat sejuk. Banyak pepohonan rindang di sekililing padang rumput tempat para siswa-siswi membangun tenda. Juga tak jauh dari sini, terdapat sebuah air terjun yang tak terlalu besar. Airnya bergemiricik mengaliri sungai. Berdebum kencang akibat terkena batu besar di bawahnya.
Peserta MOS membuat tendanya dengan kelompok masing-masing. Qiana membantu kelompoknya membuat tenda. Dia bersyukur karena satu kelompok dengan orang-orang baik. Dengan Tara dan Nessa. Dua cewek rempong yang tak bisa berhenti bicara. Sangat berbeda dengan Qiana yang lebih pendiam. Tara tinggi sepantaran dengan Qiana. Rambutnya sepinggang diikat satu. Nessa lebih mungil dengan gigi gingsul di sebelah kiri yang membuatnya terlihat manis.
“Qi, lo gak apa-apa, kan? Kalau lo pusing lo duduk aja. Biar gue sama Nessa yang buat tendanya,” ujar Tara lembut. Dia tahu sekali tadi Qiana sempat jatuh dan terbentur. Jadi ia tak tega. Meskipun banyak rumor yang beredar tentang Qiana yang dikira selalu cari perhatian pada senior, Tara tak pernah ikut-ikutan. Ketika orang lain membenci seseorang, tak seharusnya, kan, ia ikut membenci padahal tak punya masalah?
“Iya tuh, Qi. Gue takut lo pingsan.” Nessa nyengir.
“Gak apa-apa, santai aja.” Qiana menyahut pelan.
“Qi?” Gilang menghampiri Qiana yang sedang berkutat dengan tendanya. Gadis itu menoleh lalu menaikan sebelah alisnya seolah bertanya ‘ada apa?’ Sedangkan Tara dan Nessa hanya bisa menggigit bibir bawah mereka karena melihat Gilang yang begitu tampan dan baik hati. Mereka malah melting padahal yang diperhatikan adalah Qiana.
“Lo masih pusing?” tanya Gilang. Matanya memancarkan kekhawatiran. Ia menatap Qiana dari atas sampai bawah. Takut jika gadis itu lecet atau terluka.
“Enggak.” Qiana menjawab pendek.
“Sini biar gue bantuin buat tenda. Lo duduk aja, ya. Istirahat,” kata Gilang lalu tersenyum. Qiana menghela napas berat lalu memutuskan untuk duduk. Baiklah, kali ini ia tak menolak karena pasti Gilang akan terus memaksa.
“Ma ... makasih Kak Gilang udah mau bantuin,” ujar Tara sambil tersenyum malu-malu. Gilang membalasnya dengan senyum manis membuat Tara menganga dan nyaris meneteskan air liur. Oke, itu berlebihan.
Nessa menyikut lengan Tara. “Gak usah norak deh, Tar!” bisik cewek mungil itu. Qiana yang melihat adegan itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Enak banget lo, yang lain buat tenda lo malah duduk santai!” Qiana menoleh lalu mendapati seorang perempuan bergaya modis tengah melipat kedua tangannya di depan d**a. Perempuan itu menatap Qiana tak suka.
“Berasa ratu yah, lo?!” Cewek itu berseru ketus. Qiana hanya menganggapnya angin lalu. Ia sibuk meneliti tempat indah ini. Melihat burung-burung yang menari di atas pohon. Dan menatap kagum kupu-kupu yang bergerak indah dengan sayap warna-warni.
“Cuma kejedot doang manja banget. Minta dibantuin Gilang lagi! Eh, asal lo tau ya, yang kejedot itu bukan cuma lo doang. Jadi gak usah ngerasa jadi orang yang paling butuh bantuan!” Cewek itu menggerutu kesal karena diabaikan. Qiana berusaha tetap diam meskipun ia yakin hal itu hanya akan membuat orang di depannya ini semakin menjadi-jadi.
“Dasar tukang caper!” Cewek itu mendesis. Matanya melotot, tersorot galak.
Qiana mulai mendongakkan kepalanya. Balas menatap cewek itu dengan sorot dingin. “Emangnya kenapa kalau Gilang bantuin gue? Lo iri?”
Cewek dengan celana jeans robek di bagian lutut itu menganga atas ucapan Qiana. Benar kata Jordan, cewek ini memang menyebalkan.
“Iri? Buat apa gue iri? Lagian ya, yang deketin duluan, kan, elo, bukan Gilang!” bantahnya. Qiana memutar bola matanya jengah. Hidup Clara terlalu ribet!
“CLARA!” Gilang membentak perempuan bernama Clara tadi. Clara OSIS juga. Dia memang angkuh dan senang mem-bully. Sama seperti Jordan.
“Apa sih, Lang? Lo mau belain cewek tukang caper ini?!” Clara tersenyum miring. “Jangan habisin waktu lo buat dekat-dekat sama cewek ganjen ini, Lang!”
“Gue gak caper! Lo harusnya berkaca sebelum bicara,” seru Qiana tegas. Ia memilih pergi dari sana karena hatinya merasa kian panas.
Clara mendengkus. Ia memandangi Gilang yang baru saja selesai membangun tenda milik kelompok Qiana.
“Lang, bantuin gue juga dong,” pinta Clara.
Gilang menggeleng lalu menyahut penuh sindirian, “Lo OSIS, kan? Anak SISPALA juga. Masa bangun tenda doang gak bisa,” balas Gilang ketus.