Terjebak

1820 Words
Bibir ini masih terasa basah, bayangan Adrian masih saja menggelayuti, aish kenapa wajah itu masih saja membekas, setelah apa yang telah ia lakukan beberapa menit lalu. Pandangan kami masih beradu, seakan tak bisa lepas satu sama lain. Bukannya merasa bersalah, tetapi rasa itu semakin timbul. Aku seperti w************n yang begitu gampangnya terbuai dengan lelaki yang baru aku kenal. Tahu seluk beluk keluarga dan asal-usulnya saja aku tak tahu. Bagaimana mungkin dengan gampangnya aku melakukan hal terbodoh terjadi diantara kami. Aku masih terdiam merasakan napas yang masih tersengal, sejak kapan aku berubah seperti ini? Menjadi liar dan tak terkendali. Terlalu agresif dan menuntut. Tautan bibir itu seakan tak mau lepas. Terlalu menuntut satu sama lain. Ia sangat lihai membuatku larut dan terbuai dengan permainannya. Nama Mas Aldo sama sekali tak terlintas dalam benakku. Aku benar-benar tak waras. “Kamu adalah milikku, selamanya akan tetap menjadi milikku.” Adrian merapikan rambutku yang berantakan, perlakuannya begitu terasa lembut. Wajah yang semula beringas perlahan menghangat. Sentuhannya begitu lembut menyisir setiap sisi wajahku. Aku hanya bisa menundukkan wajah. Malu dengan apa yang baru saja terjadi. “Aku ... “ suaraku terdengar lirih. Bingung harus berkata apa. Semua terjadi begitu saja tanpa ada batas dan keraguan di antara kami. Bisa saja Adrian akan menganggapku sebagai w************n. Toh kenyataannya dia telah leluasa menjamah bibirku. Mas Aldo saja tak pernah mencium bibirku. Ia hanya sebatas mencium kening dan pipi tak lebih. Ia benar-benar masih menjaga batas di antara kami selama ini. Pertemuanku dengan Adrian terasa sangat singkat, tetapi hubungan ini sudah terlalu dekat tak ada jarak. Aku pun sama sekali tak mengingat keberadaan Mas Aldo di hatiku. Jahat, sepertinya aku memang jahat kepada orang yang begitu tulus mencintaiku. “Aku tidak ingin membuatmu terbebani dengan semua ini, Yang kita lakukan berdasarkan mau sama mau, tak ada paksaan atau apapun. So ... kita saling membutuhkan.” Adrian berujar santai. Lelaki itu menatap mataku tanpa beban. Seperti tidak terjadi apa pun di antara kita. “Tapi ... .“ “Kamu bisa pulang sekarang.” Adrian membuka pintu mobil. Ia benar-benar memerlakukanku semaunya. Setelah mendapatkan yang ia mau. Ia melepasku seolah tak butuh. Lelaki macam apa ini yang membuatku menghianati Mas Aldo. Bahkan ia tidak lebih baik dari lelaki mana pun yang aku kenal. Aku keluar dengan hati yang tak menentu, kisah singkat yang membuat hati tak mau kembali lagi. Aku memesan sebuah taksi daring untuk membawaku kembali ke kantor. Aku ingin menenangkan diri dan bersembunyi dari hiruk pikuknya keramaian. Laju taksi yang lumayan kencang membuatku sedikit mangntuk. Sepoi angin yang terasa membuatku mataku terasa berat. Hingga tak terasa supir taksi membangunkanku karena telah sampai. Mengeluarkan selembar uang berwarna biru, aku segera masuk ke kantor. Mencari minum dan menandaskan beberapa gelas. Cuaca panas membuatky kehausan. Ditambah dengan perut yang masih terasa lapar. Aku menyuruh OB untuk membelikanku sebungkus nasi agar aku tidak pingsan karena kelaparan. Perut ini benar-benar tak bisa di ajak kompromi. Untung saja Bos Beni tak menyuruhku lagi. Bertemu kembali dengan teman-teman tak membuatku lupa, rasa ini benar-benar telah berpaling ke arah yang lain. Jika dipikir-pikir aku memang terlihat seperti perempuan rendahan, dengan gampangnya melakukan hal yang tak pantas dengan lelaki lain tanpa ikatan apa pun. Pesonanya memang begitu kuat, aku tertarik padanya, bahkan aku tak bisa menolak apa keinginannya. “Sial, kenapa aku harus selalu mengingatnya.” Seperti biasa, Mas Aldo akan menjemputku pukul lima sore, aku menunggunya di halte depan kantor. Tak ada debaran apa pun di hatiku, bahkan kekuatannya tak sedahsyat saat aku berdekatan Adrian. Semua terasa biasa saja. Hambar tak ada hal istimewa yang membuatku menunggunya. Aku hanya menjalani hubungan yang menurutku seperti jalan setapak yang lurus. Kisah cinta yang berlangsung selama tiga tahun mulai terasa hambar, apa ini ujian pasangan sebelum menikah. Sepertinya iya, terlalu banyak setan yang merayuku untuk berselingkuh dan meninggalkan Mas Aldo. “Seira ... .“ Wajah lugu itu lagi-lagi membuatku merasa bersalah. Ia datang dengan muka polosnya. Memakai tas selempang yang ia gunakan untuk tempat buku dan lainnya. Tak ketinggalan jaket jins pemberianku saat ia berulang tahun. Aku hanya tersenyum tipis menyambut kedatangannya, bukan karena tak lagi sayang, tetapi hati ini terasa biasa saja saat berjumpa dengannya. Aku tak ingin membuatnya curiga dengan tingkahku. Biar semua menjadi rahasiaku. Hanya aku dan Adrian yang tahu “Kamu sudah lama menunggu?” Mas Aldo duduk di sampingku. Lelaki itu memandangi wajahku. Aku berpaling tak ingin semakin merasa bersalah. “Lumayan, kita pulang sekarang?” Suasana hambar mulai tercipta. Mas Aldo selalu merasa bersalah dan tak ada hal menarik lainnya yang kami perbincangkan. Aku hanya ingin istirahat dan mengguyur tubuhku dengan air dingin. “Dek, maaf.” Wajah itu lagi-lagi menunjukkan ekspresi yang sangat tidak aku suka. “Mas, sudahlah. Lebih baik kita pulang sekarang.” Aku menarik tangan Mas Aldo dan berjalan menuju motor butut miliknya. ***** Hari ini sepertinya aku terlambat berangkat, semalam tidur terlalu larut membuatku bangun kesiangan. Astaga, hari ini adalah jadwal kunjungan Pak Kevin, pemilik tempatku bekerja. Bisa-bisa aku terkena SP karena terlambat. Gegas aku merapikan tempat tidur dan langsung beranjak ke kamar mandi. Waktu sepuluh menit bagiku sudah lebih dari cukup untuk membersihkan badanku. Memakai baju seadanya membuatku terlihat sederhana, kemeja putih lengan panjang dipadu dengan jins ketat. Rambut panjangku kuikat asal. Masa bodoh dengan penampilan, yang penting hari ini aku tidak terlambat. Itu lebih penting. Setidaknya menghindari amukan Bos Beni dan Big Bos. Aku berdiri di trotoar, tak ada satu pun taksi lewat, bahkan tak ada satu pun ojek online yang menyahut pesananku. Aish, sepertinya aku memang harus terlambat. Dan bayangan wajah murka Bos Beni sudah di depan mata. “Berangkat kerja?” Seseorang menyapaku. Aku memicingkan mata melihat orang asing yang mendekatiku. Memakai kaca mata hitam dengan setelan kemeja berwarna biru membuat lelaki di depanku penuh pesona. Kulit putihnya terpancar begitu menawan. Buru-buru aku mengalihkan pandanganku, tidak menggubris kehadirannya. “Aku antar?” tawarnya. Aku hanya diam mengabaikannya. Merasa tak nyaman bila mengobrol dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. “Yakin, akan sampai tepat waktu.” Ia menunjuk arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ucapannya seolah-olah ia begitu mengenalku. “Maaf, tetapi saya ... “ Ucapanku terhenti saat melihat lelaki di depanku melepas kaca mata hitam miliknya. Ia adalah Adrian. Lelaki yang benar-benar telah membuatku kacau. Dia yang membuatku akhir-akhir ini selalu terlambat. “Kita masih ada urusan, jadi sebaiknya kamu aku antar.” Ia menarik tanganku dan mempersilahkanku masuk ke dalam mobil. Apa lagi yang akan ia lakukan padaku. Pikiranku bercampur aduk. Bagaimana jika nantinya aku terlambat datang ke kantor. Bisa mati aku terkena sanksi dari Bos Beni. Aku tak menyangka pagi hari ini aku akan bertemu dengan Lelaki itu lagi, apa ini suatu kebetulan atau memang ini jalannya. Rasanya lepas darinya benar-benar membuatku susah. “Pasang sabuk pengamanmu.” Aku masih bingung, gugup, berulang kali memasukkannya ke dalam kuncian, tetapi tetap saja tak berhasil. “Nggak usah gugup, aku tidak akan memakanmu.” Adrian membetulkan sabuk pengamanku, wangi tubuhnya benar-benar membuatku sangat nyaman. Ah, lelaki itu sangat memikatku. Dan aku benci situasi ini. Aku merasakan wanginya hingga membuatku terpejam. Wangi parfumnya mengingatkanku pada kejadian saat itu. Ya, kenapa aku harus selalu mengingat kejadian laknat itu. Seharusnya aku melupakannya dan menjauh dari Adrian demi hubunganku dengan Mas Aldo yang telah menuju tahap pernikahan. “Kamu kenapa? Apa ada yang salah.” Suaranya terdengar bersahabat tidak seperti kemarin. “Aku hanya takut terlambat,” jawabku berdalih. Setidaknya ia tidak terlalu percaya diri menganggapku gugup karenanya. “Oke ...” wajahnya tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu. Ia menghidupkan mesin mobil dan melajukannya. Deru mobilnya terdengar sangat pelan. Aku hanya menatap jalanan di depanku. Memperhatikan satu persatu mobil yang menyalip kami. Aku membayangkan menjadi Nyonya yang selalu mendampinginya ke mana pun ia pergi. Mimpi apa aku ini, harusnya aku sadar siapa aku, ada Mas Aldo yang menungguku. “Udah selesai melamunnya.” “Ah, iya, maaf, sudah sampai?” Bukannya menjawab Adrian malah tersenyum lebar, aku tak mengerti apa maksudnya. Melihat sekeliling, ternyata aku tidak berada di tempatku bekerja, tetapi malah di depan sebuah rumah besar yang sangat megah. Arsitekturnya hampir mirip dengan istana-istana di kerajaan dongeng. Aku pun tak pernah bermimpi bisa berada di tempat sebagus ini. “Ayo turun!” Adrian membantuku. Perlakuannya benar-benar membuatku sangat tersanjung sebagai seorang perempuan. Bisa dikatakan wanita yang menjadi istrinya pasti sangat beruntung. Bersanding dengan lelaki tampan, kaya dan begitu menyanjung wanita. Meskipun ada sisi menyebalkan dari sosok di sampingnya. “Tapi ... aku harus ke kantor.” Aku menatap lelaki di depanku. “Turun, masalah di kantormu akan aku selesaikan.” Lelaki itu berujar seolah bisa mengatasi semuanya. Adrian turun dari mobil dan membukakanku pintu. Lelaki itu menggandengku masuk ke dalam rumah megah. Apakah ini rumah miliknya? Lantas untuk apa dia mengajakku ke sini? Apa jangan-jangan. Pikiranku mulai berlari, bayangan Adrian yang beringas terlintas begitu saja di pikiranku. “Tuan Muda, Nyonya besar sudah menunggu.” Seorang pelayan datang menyambut kedatangan kami. “Apa yang kamu lakukan?” Aku menggenggam erat tangan Adrian, tiba-tiba saja tangannku terasa dingin. Aku merasa aneh dengan semuanya. Tiba-tiba saja mengajakku datang ke rumah dan bertemu dengan orang tuanya. “Kamu cukup diam saja, menuruti semua perkataanku maka semua akan baik-baik saja.” Ia masih mengandengku menuju ruang makan. Sebuah ruangan besar lengkap dengan furniture yang berkelas, berulang kali mataku takjub melihatnya. Semua lantai terbuat dari marmer. Meja makan yang begitu panjang dengan berbagai macam makanan telah tersaji di atasnya. Perutku mulai terasa sakit melihat makanan, bbaru sadar jika sedari pagi perutku kosong belum terisi. “Adrian ... .” Wanita paruh baya tersenyum. Wajahnya terlihat sangat cantik. Kulitnya mulus terawat tanpa kerutan di usianya yang sudah memasuki usia senja. Sangat terlihat jika beliau dari kalangan berkelas. Aku merasa gugup, takut jika kehadiranku tidak diterima. “Mama, sudah lama.” Ia memeluk Mamanya. Keduanya terlihat melepas rindu, sang Mama terlihat sedih melihat Adrian. Membuatku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Ibu dan anak itu terlihat sedikit melo. Membuatku semakin bingung dengan apa yang terjadi. “Siapa dia? Nikita?” Wanita itu menatapku. Wajahnya terlihat menghangat melihatku. Ada rasa rindu yang tersirat pada wajahnya. “Nikita? Sepertinya Tante salah. Aku Seira bukan Nikita.” Wanita paruh baya itu mendekatiku dan memelukku erat, tangisnya pecah seolah menahan rindu yang begitu berat. Aku benar-benar tak bisa berkutik. Sementara Adrian malah masa bodoh melihatnya. “Maaf, Tante.” Aku merasa semakin tidak nyaman. Wanita di depanku menganggapku Nikita. “Kamu Nikita, Kan?” Ia melepas pelukannya. Ia masih kekeh dengan pendiriannya. Padahal aku sudah menjelaskan siapa aku. Aku beralih menatap Adrian meminta penjelasan kepadanya, bagaimana mungkin mamanya memanggilku dengan nama Nikita. “Aku ... aku ... “ Aku bingung bagaiman lagi harus menjelaskannya. “Dia seira, Ma. Wajahnya memang mirip sekali dengan Nikita, tetapi mereka jelas sangat berbeda.” Sial, apa maksudnya sangat berbeda? Apa dia sedang merendahkanku? Dan siapa Nikita? Apa wanita itu begitu spesial untuknya hingga membuat mamanya begitu merindukan wanita bernama Nikita tersebut. “Oh, ya, Maaf, seira. Tante kira kamu Nikita.” Mama Adrian menghapus air mata yang sempat tumpah. “Tidak apa-apa Tante, senang bertemu dengan Tante.” Aku tersenyum kecut, sepertinya aku terjebak dengan permainan Adrian. “Dia ini calon istriku, Ma.” Adrian memeluk bahuku hingga membuatku meringis. Perkataannya membuatku terkejut. Seperti mendapat sengatan listrik. Bagaimana mungkin dia mengatakan aku adalah calon istrinya, kami baru saja bertemu dua hari, tetapi dia ... apa maksud semuanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD