Kebohongan

1581 Words
Perkataan Adrian benar-benar mengusik pikiranku, kenapa ia memperkenalkanku sebagai calon istri. Nikita? Siapa dia? Apa dia mantan kekasihnya? Sepertinya aku terjebak pada keadaan yang sulit. Ini bukan masalah antara Mas Aldo dan Adrian, tetapi lebih. Dua buah keluarga yang menganggapku sebagai calon menantunya. Ini lebih dari gila, aku benci dengan situasi yang menjepitku. Aku masih duduk di teras. Menyesap kopi panas yang baru saja kubuat. Seharian ini aku merasa kewalahan menghadapi Adrian yang semaunya. Kami baru saja bertemu, tetapi sikapnya seolah mengenalku lama. Tak segan ia memperlakukanku layaknya pasangan kekasih. Aku benar-benar mati kutu dibuatnya. “Kamu sedang memikirkanku?” Tiba-tiba saja Mas Aldo datang ke rumah. Ia membawa satu kantung plastik makanan dan meletakkannya di atas meja. Aku hanya tersenyum, setidaknya aku tidak ingin membuatnya curiga. Cukup kusimpan rapi dalam hati apa yang terjadi hari ini. Selebihnya biar takdir yang menentukan segalanya. “Kenapa enggak ngabari dulu, aku, kan bisa dandan buat menyambut kedatanganmu” ujarku. Penampilanku memang berantakan. Memakai kaus oblong dan celana jeans, rambutku berantakan. Memikirkan Adrian membuatku tak tenang. Satu cangkir kopi panas menjadi temanku saat ini. “Kamu lelah, Dek?” Mas Aldo membuka kantung plastik yang ia bawa. Satu kardus maratabak bangka rasa cokelat kacang begitu menggiurkan. Dia paling tahu makanan kesukaanku. Tak berpikir lama aku langsung melahapnya. Kuabaikan pertanyaan Mas Aldo tak menjawabnya. “Dek, kamu lapar?” Gigitanku terhenti saat mendengar pertanyaan Mas Aldo.”Enggak, Mas. Aku hanya terlalu senang melihat makanan ini.” Aku meletakkan gigitan terakhir dan mengusap bibirku dengan tisu. “Kenapa berhenti? Lanjut saja. Aku senang melihatmu antusias melahap makanan ini.” “Hehehehe, satu udah kenyang, Mas. Kamu mau aku buatin kopi?” “Enggak usah.” Mas Aldo menolak. Aku mengangguk dan kembali menghabiskan kue bangka yang kumakan. Tak peduli lelaki di sampingku masih memandangku lekat. “Kamu tadi enggak masuk kerja? Ke mana?” tanya Mas Aldo. Tatapan matanya begitu lembut, berdosa sekali bila aku harus membohonginya. Kembali aku menyesap kopi hitamku. Sembari menyiapkan beribu alasan yang akan kuucapkan. “Anu, Mas, aku tadi nyari lowongan pekerjaan yang baru,” jawabku asal. Tidak mungkin aku berterus terang. Biar bagaimanapun aku harus menjaga perasaaan Mas Aldo. Setidaknya ia tidak menaruh curiga padaku. “Lho kenapa dengan pekerjaanmu sekarang? Apa ada yang mengganggumu?” Mas Aldo terlihat heran. Aku bingung harus menjawab apa, terjebak dengan kebohonganku sendiri. Otakku harus berpikir keras untuk mencari alasan lagi menutupi kebohongan lainnya. “Aku mulai tidak nyaman bila harus pulang malam, Mas. Sedangkan akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan.” Mas Aldo tersenyum, senyum yang beberapa tahun lalu mampu menggetarkan hatiku, tetapi sekarang, ke mana getaran itu. Senyumnya pun tampak biasa saja sekarang. “O ... baiklah kalau memang itu keputusanmu. Kamu sudah makan?” Suasana yang hambar mulai kurasakan. Satu pertanyaan yang klasik membuatku mulai bosan dengan perbincangan ini. Semuanya terasa hambar dan tak semenarik dulu lagi. Semua yang diucapkan Mas Aldo terasa biasa, tak ada hal menarik yang mampu membuatku tersipu atau merasakan debaran jantung yang begitu kuat. “Aku kenyang, Mas.” Tanganku menutup kardus pembungkus kue coklat itu. Ingin rasanya beranjak masuk dan menyudahi pertemuan ini. “Dek ... .” “Mas, aku ngantuk. Besok aku harus berangkat pagi dan menyelesaikan pekerjaanku.” Aku sudah tak tahan bila harus berbohong dengan hatiku sendiri. “Ya sudahlah, kamu istirahat, Mas pulang dulu.” Wajah itu terlihat kecewa, tetapi kenapa ia tidak mau menunjukkan kekecewaannya, inilah yang membuatku merasa bosan dengan sikap Mas Aldo. Selalu saja mengalah. “Mas ... “ Aku mulai tak tahan, setidaknya ia menunjukkan emosinya atau apalah, kenapa selalu seperti ini. “Seira, Mas tahu kamu lelah, sebaiknya kamu istirahat. Besok Mas akan menjemputmu.” Mas Aldo mengusap pucuk kepalaku. Aku tersenyum, ternyata dia masih memperhatikanku. Belaiannya masih teras hangat. Ia merapikan rambutku dan menatapku lekat. Tak tega melihatnya, aku pun sedikit berbasa-basi.“Enggak ngajar?” tanyaku manja. Aku tidak ingin melihatnya kecewa, meskipun ia tak pernah menunjukkan kekecewaannya. “Besok Mas ada jadwal keluar, Setelah absen, Mas akan menjemputmu.” Bibir itu melengkungkan senyuman. “Baiklah, aku akan menunggumu.” “Mas pulang dulu.” Aku hanya mengangguk, mencium punggung tangannya, melihat sorot mata yang kecewa. Ia berlalu tanpa memberi kecupan manis atau ucapan selamat malam. Begitu jahatkah aku padanya? Hingga membuat dirinya tak mengucapkan sedikit pun kata sayang. Bahkan ia melupakan ritual yang selalu ia lakukan saat berpamitan, mencium kening adalah hal yang selalu ia lakukan. Ada rasa kecewa saat melihatnya berlalu meninggalkanku. Yang jelas aku hanya berharap, perasaan ini akan tumbuh lagi di antara aku dan dirinya. Lelah rasanya jika aku harus terus berbohong dan berbohong lagi. Sampai kapan rahasia itu akan tertutup. ***** Aku masih merapikan pakaian, memoles bibir dengan lipmatte agar bibir terlihat tidak pucat. Bekerja seharian akan membuat pikiranku terkuras. Bos Beni pasti akan menyuruhku mengerjakan seluruh pekerjaanku yang tertunda. Apalagi kemarin adalah kunjungan Big Bos Kevin. Yang biasanya pasti akan banyak meminta laporan penjualan. Dan itu selalu aku yang disuruh membuatnya. Lelaki betubuh pendek itu bisa saja marah atau malah memotong gajiku karena aku tidak masuk dan meminta ijin. Ia terkenal paling sadis di antara pimpinan yang pernah ada. Dua kali sudah aku merasakan hukuman karena kecerobohanku. Biasanya Mas Aldo akan menjemputku pukul delapan pagi, masih ada 30 menit lagi waktu tersisa. Aku membuat segelas s**u coklat untuk menemaniku sarapan. Belum sempat meminumnya, terdengar pintu kamar kost diketuk dengan keras. “Mas Aldo?” tebakku. Mengambil tas, membiarkan segelas s**u dan sepotong roti tergeletak di lantai. Gegas aku membukakan pintu. Seorang Lelaki berpakaian formal berdiri tepat di depanku. Wajah yang akhir-akhir ini selalu menggangguku, sikap tegasnya yang membuatku tak bisa melupakannya. Seorang Tuan Muda yang tiba-tiba saja hadir dalam kehidupanku. Ia tersenyum melihat keterkejutanku. “Morning ... “ Gigi berderet rapi menunjukkan senyumnya. “Kamu ?” Bagaimana ia bisa di sini. Tiga puluh menit lagi Mas aldo akan menjemputku. Apa maunya mendatangiku sepagi ini. Bisa kacau bila mereka bertemu di waktu yang sama. “Apa maumu?”Aku berusaha bersikap wajar. “Menjemputmu.” Ia terlihat begitu santai. Gayanya yang casual sama sekali tidak menunjukkan identitasnya sebagai seorang tuan Muda. Sekilas orang akan beranggapan lelaki di hadapannya ini hanyalah seorang pengangguran berkelas. “Aku sudah ada yang jemput.” Sedikit jaim, aku tak mau menunjukkan sikap manisku. “Yakin? Aku pikir lelaki itu terlalu biasa, bahkan ia terlalu lembek untuk menjadi seorang lelaki.” “Apa maksudmu?” “Maksudku, Aku yang akan mengantarmu.” Adrian menarik tanganku, bahkan aku sama sekali tak menolaknya. Menurutinya mengikuti langkah kakinya membawaku pergi. Lagi-lagi bibirku terkunci. Tak banyak mengeluarkan ocehan atau penolakan. “Tidak ada yang bisa menolak permintaanku.” Adrian membuka pintu mobilnya. Tanpa ragu, aku masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman di dalamnya. Tanpa berpikir bagaimana kecewanya Mas Aldo jika tak bertemu denganku. “Sudah berapa lama kalian berhubungan?” Wajah itu terlihat santai tanpa merasa bersalah telah membawaku pergi dengan paksa. Tangannya masih memegang kemudi di depannya. Mobilnya mulai melaju membelah jalanan di pagi hari. “Kami sudah bertunangan,” jawabku jujur, aku tak mau berbohong atau menutupi hubunganku dengan Mas Aldo. “O..” Adrian terdengar datar menjawabnya. Ponselku berdering, terpampang nama Mas Aldo di sana. Ia pasti tengah mencariku. Apa yang harus aku lakukan? Bingung, harus menjawab apa? Dan lagi-lagi aku harus berbohong. “Angkat saja, aku tak akan mengeluarkan suara.” Adrian memberi kode padaku. “Halo ... .” mengangkat telpon Mas Aldo membuatku berdosa. “Kamu di mana?” Suaranya terdengar panik. “Aku ... aku ... “ Bingung harus menjawab apa. Adrian hanya tersenyum melirikku sekilas. Aku benar-benar mati kutu sekarang, Tak mungkin aku mengatakan tengah berdua dengan lelaki lain saat ini. “Kamu baik-baik saja ‘kan? Aku khawatir, pintu kamar kost-mu terbuka, sedangkan kamu tidak ada.” Adrian membentuk kedua jarinya membentuk lingkaran, membuatnya tersenyum lebar. Aku geram melihat ekspresinya, seolah mengejekku yang terjebak pada situasi yang sulit. “Aku ... aku ... terburu-buru Mas, Bos Beni menelponku untuk segera berangkat.” Kebohongan yang kesekian kalinya aku ucapkan. Bibir terasa kelu, tapi mau tak mau aku harus berbohong, “Baiklah. Kamu hati-hati di jalan.” Mas Aldo menutup telponnya tanpa mendengar suaraku terlebih dahulu. Mungkin dia kecewa. Ada rasa sakit di sini, tetapi Mas Aldo pasti jauh lebih kecewa dibanding denganku. “Udah engak usah dipikirin. Kamu lihat lelaki tampan di sampingmu ini. Seorang tuan Muda yang pastinya lebih menarik dari calon suamimu itu.” “Iya, lelaki tampan yang semaunya sendiri!” timpalku ketus. Ini semua karena Adrian yang memaksaku untuk ikut. Jika aku menolak semua tidak akan seperti ini. Saat ini aku akan bersama Mas Aldo, bukan lelaki menyebalkan itu. Ia sama sekali tak merasa berdosa setelah kemarin menganggapku seperti w************n yang hanya menginginkan uangnya. Ia justru malah semakin mendekatiku dan membuat hidupku kacau. “Menyebalkan? Tapi yang pasti kamu akan selalu merindukanku.” Adrian tersenyum. “Jangan harap!” jawabku ketus. Memasukkan ponsel aku hanya menatap jalanan di depanku, tak peduli ada Adrian yang tengah memperhatikanku. Ucapan lelaki itu tak membuatku bernafsu untuk berdebat dengannya. Bukannya aku menyesal karena berbohong, tetapi kenapa Mas Aldo tidak marah, kenapa ia hanya diam tanpa berkata apa pun. Apakah hubungan seperti ini akan terus tetap bertahan? Apakah menjalani hubungan yang penuh ketimpangan akan mendapatkan kebahagiaan? Yang jelas aku lelah melalui semuanya. “Pikirkan lagi keputusanmu, sebelum kamu melangkah lebih jauh.” Ucapannya kini terdengar lebih lembut. Perangai yang selalu berubah-ubah. Aku menoleh, melihat wajah Adrian yang terlihat bijak. Lelaki itu mampu membuat hatiku bergetar kali ini. Bukan karena wajahnya yang tampan atau pun hartanya yang melimpah, melainkan ada hal yang tidak bisa aku jelaskan. Rasa itu muncul begitu saja saat aku pertama kali berjumpa dengannya, tidak peduli bahwa sesugguhnya hati ini memang ada yang memiliki. Rasa itu masih saja bersembunyi sampai sekarang, bahkan saat aku bersamanya degupan jantungku berdetak kian keras. Aku tak menampik semuanya, hal ini yang tak aku dapatkan beberapa hari ini saat bersama Mas Aldo. Apakah ini salah? Aku rasa sebelum janur melengkung, aku masih bisa memilih apa yang harus aku pilih. Toh semua keputusan ada di tanganku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD