Mobil Adrian berhenti tepat di depan pintu gerbang. Satpam yang berjaga terlihat mengawasi mobil milik Adrian. Lelaki berkulit hitam itu masih berdiri tegak. Sepertinya dia penasaran siapa yang berada di dalam mobil mewah yang berhenti di depan pos jaga.
“Semoga hari ini menyenangkan.” Adrian membuka sabuk pengaman. Memandangiku begitu dekat.
Mataku semakin tertantang untuk tidak melepasnya. Bola mata yang terlihat sangat menawan itu semakin menghipnotisku, membuatku semakin larut dan hanyut ke dalamnya.
“Nanti aku akan menjemputmu.” Tangannya yang lembut membelai pipiku, aku benar-benar terlena dengan semuanya. Bahkan, tubuhku sama sekali tidak menolaknya.
Jika bisa memilih aku ingin lebih lama lagi bersamanya, tetapi Bos Beni pasti akan memberi sanksi lebih berat jika aku tidak masuk lagi hari ini.
Adrian mulai menarik tubuhnya menjauh, rasa deg-degan masih saja bertabuh dalam hatiku. Rasa khawatir sama sekali tak terbesit dalam pikiranku. Aku berusaha biasa saja. Memasang wajah datar di depannya. Aku tidak mau jika ia berpikiran bahwa aku masih ingin bersamanya. Lelaki itu pasti akan merasa menang dan akan memperlakukanku semaunya.
“Terima kasih.” Aku tersenyum tipis padanya, senyumnya terlihat menawan, hanya menganggukkan kepala dan membiarkanku pergi.
Membuka pintu mobil, satpam kantor melihatku penasaran. Menghilangkan rasa kikuk, kuterbitkan senyum dan menyapanya. Dia hanya tersenyum dan masih penasaran dengan siapa yang telah mengantarku menggunakan mobil.
“Pagi, Pak,” sapaku, berjalan masa bodoh tak peduli dengan pikirannya.
Sebagian besar orang kantor tahu hubunganku dengan Mas Aldo, setahu mereka kami sudah bertunangan dan Mas Aldo hanyalah seorang guru honorer yang selalu mengantarku menggunakan motor bututnya.
Kembali masuk kantor sepertinya hariku akan dipadati pekerjaan menumpuk. Aku menarik napas, membuangnya pelan. Semangat untuk hari ini.
Suasana kantor sudah terlihat ramai terlihat beberapa OB mulai membersihkan lantai. Ada yang mengantarkan minuman. Ada pula yang membawa setumpuk berkas yang tidak terpakai disimpan di gudang.
“Seira, dipanggil Bos Beni.” Maura teman sekantorku memanggil. Gadis cantik asisiten Bos Beni itu berdiri dengan mengenakan rok mini dan stiletto pada kaki jenjangnya.
“Iya,” balasku lemas.
“Buruan, enggak pake lama!” Gadis bertubuh ramping itu berlalu. Aroma parfumnya yang khas meninggalkan aroma yang menyengat. Pantas saja gosip santer beredar bahwa Maura menjalin hubungan dengan Bos Beni. Ada yang memergokinya jalan berdua dan bergandengan mesra.
Masa bodoh dengan mereka. Tak ada hal yang penting sekarang selain nasib pekerjaanku. Aku bergegas menemui Bos Beni. Satu yang pasti aku akan terkena teguran karena kemarin tidak berangkat kerja, semua ini karena Adrian. Lelaki itu memang membuat hariku kacau. Menyesal aku tak melawan kemarin.
Menaruh tas di kursi, aku langsung melangkah ke ruangan Bos Beni. Sebelum masuk, setidaknya aku harus merancang alasan apa yang akan aku berikan. Jangan sampai lelaki otoriter itu memotong gajiku semena-mena.
Membuka pintu, melihat wajah Bos Beni yang terlihat santai membuatku lega. Setidaknya aku tahu atmosfir perasaannya. Dia itu salah satu Bos yang disiplin pada karyawannya. Mungkin saja pagi ini Maura telah membuatnya senang.
“Bos Beni memanggilku?” tanyaku.
“Duduk.”
Aku duduk dan menundukkan wajah, jurus ampuh untuk mengindari wajahnya yang terlihat marah. Lelaki itu terdengar membuka laci mejanya. Aku mengintip, ia membawa sebuah amplop cokelat besar yang ditaruh di atas meja.
“Kenapa tidak masuk kemarin?” Tangannya mengetuk meja hingga menimbulkan suara pelan.
“Bos ... kemarin aku ... .” Bingung mau jawab apa, dan akhirnya aku harus berbohong untuk kesekian kalinya, bukan hanya dengan Mas aldo, tetapi dengan Bos Beni pun aku harus berbohong.”Ada urusan mendadak Bos. Maaf jika belum sempat ijjn.” Aku berusaha merendahkan diri. Tahu jika memang kesalahan ada padaku.
“Sudahlah itu tidak penting, yang penting sekarang aku punya kabar bagus untukmu.”
“Kabar bagus?” Aku tak pecaya mendengarnya. Kemarin aku tidak masuk, dan sekarang malah mendapat kabar bagus.
Bos Beni menyerahkan sebuah amplop cokelat besar kepadaku. Perlahan aku membukanya untuk memastikan isinya.
“Mulai besok kamu pindah ke kantor pusat, dan gajimu akan naik dari yang sekarang.” Bos Beni menjelaskannya.
Melihat surat tugas yang kupegang membuatku tak percaya. Statusku yang hanya seorang karyawan biasa ternyata mendapat promosi mutasi ke kantor pusat. Sebuah impian setiap orang yang bekerja di kantor cabang.
Kesejahteraan akan terjamin jika bekerja di sana. Gaji yang lumayan besar serta fasilitas yang tersedia untuk setiap karyawan membuatku begitu senang
Rasanya aku masih tidak percaya, akhirnya ada jalan untuk menghindari sang Tuan Muda. Lelaki itu akan lebih sulit menemukanku. Cukup terakhir hari ini aku bertemu dengannya.
“Aku nggak salah dengar, kan, Bos?” tanyaku memastikan. Siapa tahu telingaku sedang tidak sehat karena dari pagi mendengar ocehan Adrian.
“Tidak, kamu memang tidak salah dengar. Bos besar sendiri yang memutuskannya, aku hanya menuruti perintah Pak Kevin.”
Mendengarnya hatiku semakin girang, rasanya tak sabar hari ini segera berlalu. Tak menunggu lama aku berpamitan pada Bos Beni untuk kembali ke tempatku. Menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum kepindahanku besok.
Pekerjaanku lumayan menumpuk hari ini. Setidaknya setelah ini aku tidak akan berjumpa dengan tumpukan kertas yang selalu menyiksaku.
Masa bodoh dengan teman sekantor yang melihatku aneh, yang terpenting aku akan mendapat suasana baru. Mereka sufah terbiasa melihatku dengan tatapan aneh. Dan yang paling membuatku bahagia adalah Adrian tidak akan tahu di mana tempatku bekerja.
****
Merapikan semua barang, aku berpamitan pada teman sekantor. Merekalah selama ini yang selalu mensupportku, tanpa mereka aku tidak akan bisa bertahan sampai sekarang di kantor ini. Meskipun terasa berlebihan, tetapi mereka tetap team yang solid buatku.
Memang, hubungan kami tidak terlalu baik karena sikapku yang terlalu introvert, tetapi buatku mereka tetap teman seperjuangan. Mereka yang selalu membelaku saat menjadi sasaran amukan Bos Beni. Apalagi jika aku ceroboh salah memasukkan data. Omelan Bos Beni akan meluncur seharian.
Mereka juga lah yang selalu menjodohkanku dengan mas Aldo kala itu hingga membuat kami dekat dan menjalin hubungan sampai sekarang ini. Bisa dibilang Mas Rudi adalah Mak comblang di antara kami.
Mas Aldo, ya aku harus memberitahunya kabar gembira ini. Malam ini aku ingin menghabiskan waktu dengannya, makan malam romantis bersama. Hal yang sudah lama sekali tidak kami lakukan. Setidaknya aku ingin memperbaiki hubungan kami yang sudah semakin hambar. Memulai dari awal dan melupakan Adrian.
“Sudah dijemput kesayangan, tuh, di luar.” Maura menggodaku. Tak biasanya ia bersikap sok manis kepadaku.
Aku hanya tersenyum malu-malu, pasti Mas Aldo menjemputku. Berjalan keluar membawa box berisi barang membuatku kesusahan berjalan.
Celingukan mencari keberadaan Mas Aldo, aku sama sekali tak menemukannya. Menaruh box ke lantai, aku membuka ponsel dan mencari kontak calon suamiku.
Belum sempat menelpon, sebuah pesan masuk pada aplikasi berwarna hijau tersebut.
[Dek, Mas nggak bisa jemput, ada jadwal les mendadak. Nanti malam Mas ke kost-an.]
Bahagia yang sudah kurangkai akhirnya terbuang sia-sia, kecewa sungguh kecewa. Inikah rasanya kecewa, sakit sekali rasanya. Tuhan seolah menampar wajahku secara halus. Seperti inilah pasti perasaan Mas aldo saat mendapatiku tidak di Kost pagi tadi.
Saat rasa rindu mulai menggebu, tiba-tiba hilang begitu saja. Aku tak bersemangat. Ingin marah pun percuma. Tak akan membuat Mas Aldo datang menjemputku
“Ayo kita pulang.” Seseorang mengambil boxku dan menarik tanganku.
Melihat bentuk tegapnya, aku yakin dia adalah Adrian. Si pengacau yang hadir dalam hidupku. Dia menarik tanganku hingga sampai di depan mobil suv silver miliknya. Membukakan pintu dan mempersilahkanku masuk.
Hanya menurut, aku tak berkata apa pun. Pikiranku masih melayang merasakan rasa kecewa yang sangat besar.
“Kenapa? Putus Cinta?” Ucapannya terdengar mengejekku. Ia mengemudi mobilnya sembari melirikku sekilas.
Wajah Adrian tampak tersenyum, senyumannya seolah mengejekku yang tengah kecewa. Andai bisa teriak aku akan teriak sepuasnya. Kenapa harua Adrian yang bersamaku sekarang. Sang Tuan muda tersebut selalu muncul kapan saja. Aku jadi heran apa dia benar-benar seorang pengangguran yang tak punya pekerjaan. Masa bodoh lahu bukan urusanku.
“Kalau mau teriak, teriak saja. Aku siap , mendengarnya.”
Aku masih terdiam, malas rasanya menanggapi perkataannya, aku hanya butuh bantal yang selalu siap sedia menampung air mataku.
Adrian masih melajukan mobilnya, aku tak peduli ke mana ia akan membawaku pergi. Hati ini sudah terlanjur kecewa, butuh sesuatu hal untuk mengembalikan rasa kecewaku pada Mas Aldo.
Berulang kali Mas Aldo menelpon, tetapi aku sengaja tidak mengangkat atau membalas chatnya. Mungkin saat ini dia tengah khawatir padaku, aku tak peduli, hatiku sudah kecewa.
“Kenapa nggak diangkat? Lagi marahan?”
Aku masih menatap lurus pandanganku,tak menggubris pertanyaan Adrian.
“Kalau marah,jangan lama-lama, kasihan cowoknya.”
Aku mendelik menatapnya tajam, apa urusannya ikut campur urusan percintaanku, kehadirannya saja sudah membuat kacau hidupku.
“Sudahlah, apa aku bilang, kalian itu tidak berjodoh. Lelaki sepertiku seratus persen lebih baik darinya.” Adrian masih saja tersenyum, sepertinya ia bahagia melihat keadaanku seperti ini.
“Bukan urusanmu!” sahutku ketus.
“Urusanku lah, kamu ini karyawanku,” ujarnya santai.
“Sejak kapan aku punya atasan sepertimu.”Aku masih kesal melihat wajahnya yang tampak begitu absurd.
“Nanti juga akan tahu.”
Wajahnya masih terlihat santai, membawaku entah ke mana, yang pasti aku tak peduli dengan semuanya.
****
Berhenti di sebuah taman, aku begitu takjub betapa indahnya tempat ini. Bunga-bunga yang bermekaran membuat tempat ini tampak indah di sore hari. Sepertinya aku sangat mengenal tempat ini, menyisir pandangan sekeliling, aku menemukan sebuah bangunan megah di sampingnya.
Bukankah ini rumah Adrian, berati saat ini aku berada di rumah Adrian dan akan bertemu Nyonya besar yang menganggapku sebagai calon istri Adrian. Oh No... kenapa semakin rumit masalahnya.
“Mama ... !!!!”
Seorang gadis kecil cantik nan imut menghampiriku, memelukku dengan erat dan terdengar sesengukan. Hatiku terenyuh mendengarnya, pelukan ini terasa hangat dan nyaman. Hatiku seolah tertaut padanya, gadis kecil yang mampu membuat suasana hatiku mereda.
“Mama kenapa pergi, Aurel kangen Mama ... “ ia masih saja menangis memelukku. Tanganku terasa kaku, melihat Adrian yang tampak hampir menangis.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua ini seperti sangat cepat. Kemarin ada Ibu Adrian yang menganggapku calon mantunya. Sekarang anak kecil memganggapku sebagai seorang Ibu.
Gadis kecil ini masih memeluk, tanganku benar-benar terasa kaku, ingin melepas, tetapi tak tega jika melepasnya. Melihat sikap Adrian yang sedikit cengeng membuatku bertanya. Wajah yang biasa terlihat lugas, kini meredup. Bahkan pelupuk matanya berair dan siap meleleh membasahi pipi.
Apa gerangan yang terjadi, siapa anak kecil ini? Apa hubungannya dengan Adrian? Kenapa ia memelukku? Pertanyaan itu seakan hanya berputar-putar di otakku tanpa tahu jawabannya.
“Ma, Aurel kangen sama Mama, besok antar Aurel ke sekolah ya?”
Mama ? Dia memanggilku Mama, apa maksudnya?
Adrian memberi kode padaku seraya mengangguk, sepertinya aku mulai paham apa yang terjadi. Tetap membiarkan gadis kecil itu memelukku. Getaran hangat mulai kurasakan, gadis kecil ini seakan mempunyai ikatan yang begitu kuat.
“I—ya ... .” tanganku reflek mengelus punggung gadis kecil tersebut.
“Janji? Mama nggak boleh bohong.” Aurel melepas pelukannya dan terlihat merajuk.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk, wajahnya terlihat sangat bahagia, hatiku tersentuh saat melihat senyuman terukir di bibir manisnya. Meskipun belum menikah dan mempunyai anak, melihat Aurel membuatku bahagia.
“Aurel, sayang ... boleh Papa bicara sebentar degan Mama?” Adrian mendekati kami dan tersenyum pada Aurel.
Sorot matanya terlihat begitu teduh, sikapnya yang kadang arogan sama sekali tak muncul di sana. Ia tampak seperti ayah yang begitu menyayangi putrinya. Pria mapan dengan segala harta dan kekuasaan yang ia punya.
Melihat keduanya membuat hatiku begitu damai, entah perasaan macam apa yang merasukiku. Aku merasa nyaman berada di antara mereka, meskipun baru beberapa menit bertemu dengan Aurel. Sejenak melupakan statusku sebagai calon istri Mas Aldo.
“Siap Papa.” Senyumnya memancar, gadis kecil itu seolah bangkit dari hal yang membuatnya bersedih.