Cemburu

1632 Words
Mataku terus menatap Adrian meminta satu penjelasan apa yang terjadi. Kehadiran gadis kecil ini membuatku bingung. Satu hal yang baru aku tahu. Ternyata Adrian tidak berstatus lajang. Satu hal yang cukup menamparku. Aku tengah berdiri bersama suami orang lain. Jangan sampai aku disebut pelakor. Lebih baik aku harue cepat-cepat pergi dan melupakan Adrian. Aurel mencium pipiku dan berpamitan masuk ke dalam rumah, langkahnya yang ringan membuatnya bernyanyi riang. Kehadiran Aurel telah menyita hatiku. Meskipun hatiku benar-benar bimbang. Gadis kecil itu terlihat sangat bahagia saat melihatku “Bisa jelaskan padaku?” tanyaku tanpa basa-basi. Tidak bisa menahan beribu pertanyaan yang telah muncul dalam pikiranku. Aku butuh penjelasan. “Kita bicara di sana.” Adrian mengajakku duduk di bangku taman. Berjalan mengikuti langkahnya, hatiku semakin tak sabar mendengar semua penjelasannya. Duduk saling berhadapan membuatku sedikit gugup, wajah lugas itu terlihat begitu tampan dan berwibawa dari dekat. Matanya masih saja memandangiku yang tengah gugup. “Jangan melihatku seperti itu.” Aku berusaha menghalau rasa gugupku. Tak tahan bila ia menatapku seperti itu. Takut terseret ke dalam arus yang akan menghanyutkanku. “Aku hanya memastikan,” jawabnya seraya tersenyum. Ia seperti menggodaku. Dia benar-benar selalu membuatku mati gaya. “Memastikan?” tanyaku balik. Masih tak mengerti apa maksud ucapannya. “Iya,” jawabnya singkat.“Memastikan, apakah kamu benar-benar Nikita atau bukan. Ternyata kamu memang bukan Nikita.” Penjelasan Adrian membuatku semakin pusing. Nama itu lagi. Siapa Nikita? Kenapa wajahnya mirip denganku? Atau ini hanyalah omong kosong Adrian agar bisa memperdayaiku.. “Nikita adalah mantan istriku yang telah pergi dari rumah semenjak Aurel berumur tiga tahun. Setiap hari ia selalu memandangi foto mamanya berharap akan bertemu kembali dengannya.” Mata Adrian terlihat berkaca-kaca. “Apa hubungannya denganku?” Aku masih belum mengerti dengan penjelasan Adrian. Berarti status Adrian adalah single parent. Alias duda beranak satu. Wow setidaknya aku tidak akan di cap pelakor jika jalan bersamanya. “Semenjak bertemu denganmu malam itu ... bayangan Nikita kembali masuk dalam kehidupanku. Wajahmu mirip sekali dengannya. Hanya saja penampilanmu lebih sederhana.” Adrian menjelaskan kejadian malam itu. Saat pertama kali ia bertemu denganku. “Mirip?” tanyaku tak percaya, berarti kejadian malam itu hanyalah sebuah pelampiasan karena dia menganggapku Nikita. Ada rasa sesak yang menelusup, kecewa dan entahlah, rasanya aku tak mau lagi mengingat kejadian malam itu. Dia menciumku hanya karena mengingat Nikita sang mantan istri. Dia menganggapku sebagai Nikita, bukan Seira. Wanita itu pasti sangat berharga baginya. Sampai-sampai ia begitu susah melupakannya. Bagi Adrian mungkin malam itu merupakan suatu keberuntungan. Namun bagiku kejadian itu hanya membuat hubunganku dengan Mas Aldo menjadi kacau dan menyeretku ke dalam lingkaran permain Adrian. Bila bisa terhapus, ingin rasanya memutar waktu kembali dan memilih tak berurusan dengannya. Aku hanyalah sebuah pelampiasan. Sudah cukup aku membohongi Mas Aldo, tak ingin melangkah lebih jauh dan menghianati cintanya yang tulus. Terlebih orang tuanya yang sudah ku anggap sebagai orang tuaku sendiri. Toh lelaki di depanku ini sepertinya hanya mempermainkanku. Aku tak ingin menjadi wanita bodoh yang terlalu berharap pada hubungan fiktif ini. “Seira, aku mohon padamu, buat Aurel tersenyum lagi. Dia adalah malaikatku, penyemangat hidupku, satu-satunya pelita yang kupunya.” Adrian menggenggam tanganku, wajahnya terlihat memelas. Ah, dia benar-benar mengoyak hatiku.q Kenapa dengan hatiku ini? Harusnya aku menolaknya, harusnya aku tak menatap manik mata yang telah menghipnotis. Pertahananku runtuh, aku menyerah. Ternyata aku tak bisa menolaknya. Hubungan dengan Mas Aldo kini yang menjadi taruhannya. “Kamu tak perlu khawatir, aku akan tetap menggajimu, dan soal hubunganmu dengan tunanganmu ... bisa kupastikan semua akan baik-baik saja.” Adrian seolah mengerti apa yang kupikirkan. Bukan bahagia mendengarnya, tetapi justru ada rasa sakit yang terasa. Rasanya tak rela jika ia hanya menganggapku biasa. Ia tidak cemburu sama sekali dengan hubunganku bersama Mas Aldo. Dan kejadian itu, ia tak menganggapnya begitu berarti. Sejenak hembusan angin sore ikut menari dan tak tahu apa yang harus kukatakan, menerima atau menolaknya, yang pasti mulutku hanya bungkam menerima semua keputusan Adrian untuk tetap membuat putrinya tersenyum. Itu artinya aku akan terikat dengan Adrian dan bertemu dengannya setiap saat. Padahal aku ingin menjauh darinya. Bagaimanai dengan Mas Aldo dan lainnya. Pikiranku terlalu kacau untuk memikirkan semua itu sekarang. Yang terpenting aku mendapat gaji yang lebih dan bisa mengirim uang kepada keluarga di kampung. Bukannya aku matre, tetapi aku memang butuh uang yang lebih untuk mengirim orang tuaku di kampung. Di musim tanam seperti ini mereka membutuhkan uang untuk keperluan menggarap sawah mereka. Apalagi setelah gagal panen di musim kemarin. Aku tidak tega jika mengar ibu yang berkeluh kesah di telepon. Setidaknya sebagai anak yang baik dan berbakti aku memang harus membantu mereka. **** Tangan Adrian menggenggamku erat. Ia menggandengku berjalan saat keluar dari mobil. Perlakuannya selalu membuatku tersipu malu. “Besok kujemput pukul tujuh pagi.” Adrian melepas tangannya. Kami berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Aku hanya menunduk tak berani memandangnya. Terlalu takut jika pada akhirmya aku terbuai dengan keadaan. “Tapi ... “ Aku masih ragu menerima permintaannya. “Seira, Aurel sangat mengharapkanmu.” Adrian terdengar memohon. Mengingat senyuman gadis kecil itu membuatku luluh, akhirnya aku benar-benar menyerah. Aku memgangkat wajahku dan tersenyum ke arah Adrian, hanya mengangguk sebagai isyarat menyetujui permintaannya. Aku sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata apapun. “Makasih.” Ia tampak begitu bahagia. Malam yang semakin larut membuat tubuhku mulai terasa kedinginan. Adrian melepas jasnya dan menangkupkannya pada tubuhku. Aroma parfumnya membuatku teringat kejadian malam itu. Merasakan setiap sensasinya dan merasakan tubuhku yang mulai menghangat. “Pakailah, selamat malam dan mimpi yang indah.” Wajah tampan itu berlalu, ada perasaan tak rela berpisah dengannya malam ini. Masih kurasakan aroma parfum yang tertinggal pada jas miliknya. Memejamkan mata, merasakan setiap kebersamaan yang telah kulalui meski hanya beberapa jam saja. Tidak kupungkiri, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, mulai merindukan setiap ucapannya, sentuhannya, senyumannya, bahkan sorot matanya yang tajam sekaligus menghangatkan. “Seira, kamu baru pulang?” Suara Mas Aldo mengagetkanku. Pikiranku terlalu terbuai dengan keberadaan Adrian, sehingga tak menyadari kehadiran Mas Aldo. Tatapannya tak henti melihatku, seolah ada raut curiga di wajahnya. Tanpa merasa bersalah aku membuka pintu kamar dan mengabaikannya. Masih teringat jelas pesannya sore tadi, ketika hasrat rindu ingin bertemu, ia malah lebih mementingkan pekerjaan sampingannya. Apa aku terlalu egois memaksakan kehendakku? Aku hanya wanita biasa yang ingin selalu menjadi prioritasnya. “Kamu di antar siapa? Kenapa jam segini baru pulang?” Kali ini pertanyaan Mas Aldo terdegar tajam. “Apa itu penting bagimu?” Aku menoleh dan menjawab pertanyaannya sinis. Hatiku sudah terlanjur kecewa. Wajah lelahnya tak membuatku iba atau simpatik kepadanya. “Seira! Aku menghawatirkanmu sejak tadi pagi, tetapi kamu seolah tidak terjadi apa-apa.” Mas Aldo mulai terlihat menahan emosi. Terlihat dari telapak tangannya yang mengepal. Pandangannya tertuju pada jas hitam yang kupakai. Kueratkan jas yang kupakai, baru menyadari jika aku masih memakai jas milik Adrian. Pasti jas Ini yang membuat Mas Aldo terlihat sedikit emosi. Matanya masih menunjukkan meminta penjelasan. Begitu jahatnya kah aku yang tak mempedulikan perasaannya? “Mas, aku lelah, ingin istirahat. Soal jas ini, kamu tak perlu khawatir. Aku hanya meminjamnya karena kedinginan.” Mas Aldo masih terdiam, bukan ini yang aku harapkan. Dia masih saja diam dan tak mau menunjukkan rasa amarahnya. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana reaksinya jika mengetahui yang sesungguhnya. Berusaha memancingnya agar cemburu, tetapi semua terasa sia-sia. Ia masih sama saja, tidak menunjukkan ekspresinya yang berlebih. Apa ini yang dinamakan sayang? Tak ada rasa cemburu atau rasa marah. Ia mendekat, tangannya berusaha membelai rambut hitamku. Bukannya menolak, aku mundur beberapa langkah menghindari belaiannya. Hatiku teramat lelah, ingin segera tidur dan berharap semua ini hanyalah mimpi. “Mas, selamat malam,” ucapku tanpa tersenyum ataupun membalas perlakuannya. Menutup pintu kamar dan menyandarkan tubuh pada pintu. Menarik napas dan melepas sesak yang sempat menghimpit d**a. Jika dapat memilih, aku ingin hidup normal seperti wanita lainnya, memiliki seorang kekasih yang begitu menyayangiku tanpa harus ada kehadiran orang lain dalam hubungan kami. Suasana terdengar hening. Aku tak mendengar panggilan atau ketukan pintu lagi. Padahal aku sangat berharap Mas Aldo membujukku untuk mau membukakan pintu. Ternyata aku salah. Lelaki itu telah pergi dan membiarkanku begitu saja. Ia pasrah saat aku marah dan menghindar darinya. Aku hanya terlalu berharap lebih padanya. Benar kata Adrian. Mas Aldo terlihat sangat lembek saat menghadapiku. Selalu mengalah dan tak pernah marah. Ponselku berdering. Ternyata Mas Aldo yang menelponku. Aku membiarkannya sesaat. Ingim tahu seberapa besar usahanya untuk menghubungiku. Panggilan ke lima aku mengangkat teleponnya. “Dek, kamu marah?” Belum sempat menjawab. Mas Aldo langsung bertanya dari ujung telepon. “Menurutmu?” Aku masih kesal. Menjawab pertanyaannya dengan ketus. “Dek, keluarlah. Aku masih di depan pintu. Aku mohon.” Nadanya terdengar memelas, membuatku tak tega. Aku beranjak dan membuka pintu kamar. Lelaki itu duduk di teras dan menutup telponnya. “Dek, siapa lelaki yang mengantarmu pulang?” pertanyaan itu terasa menamparku. Aku masih berdiri di depan pintu. Ada rasa takut menjelaskan siapa sebenarnya Adrian. Mas Aldo masih duduk tak melihatku. Tangannya menggenggam ponselnya. Tampak sekali ia tengah marah. Terlihat dari cara menggenggam ponselnya. “Dia ... dia yang menolongku kemarin saat para preman menggangguku.” “Lantas kenapa pulang sampai larut?” Pertanyaan Mas Aldo terasa menyudutkanku, tetapi aku sangat suka. Itu pertanda ia cemburu dan aku sangat mengharapkannya. “Kamu cemburu?” Aku masih berdiri dengan jarak beberapa meter. “Dek, tidak pantas rasanya keluar malam dengan lelaki yang baru kamu kenal.” Mas Aldo mulai berceramah. Aku mulai bosan dengan nasihat bijaknya. “Mas enggak usah berlebihan. Kami hanya makan malam. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena dia telah menolongku. Apa itu salah?” Aku beralasan.”Jika Mas Aldo yang menolongku, aku pasti akan melakukan hal yang sama.” Mas Aldo masih duduk terdiam. Sepertinya percuma aku keluar dan menemuinya. Toh semua sama saja. Ia malah menyudutkanku dan tidak berusaha membujukku. “Sebaiknya Mas Aldo pulang. Malam makin larut. Tak seharusnya Mas Aldo di sini. Aku tak mau bermasalah dengan Ibu kost karena keberadaanmu.” Ucapanku sedikit ketus. Lelah rasanya aku menghadapinya. “Dek... “ Mas Aldo beranjak. “Sudahlah, Mas. Aku tak mau berdebat lagj. Aku mau istirahat. Pekerjaan hari ini membuatku lelah. Tanpa basa-basi aku menutup pintu kamar. Tak peduli Mas Aldo marah atau terluka. Aku hanya ingin menghindar dari pertanyaannya yang menyudutkanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD