Bos baru

1945 Words
Dua orang lelaki tampan masih beradu pandang di depan pintu kamar Kost Seira. Satunya berpenampilan sederhana, dan satunya berpenampilan layaknya eksecutive. Mereka tak saling menyapa, tetapi tatapannya menunjukkan sebuah pergulatan yang tak nampak. Lelaki bermanik coklat itu menunjukkan sikap tidak suka dengan adanya Adrian di kost-an Seira. Aldo sengaja menjemput Seira lebih pagi dari biasanya, setelah absen dan ijin keluar, ia langsung pergi menjemput Seira. Berharap tunangannya itu akan memafkannya karena tidak persoalan kemarin. Saat datang memarkirkan motornya, bukan senyuman Seira yang ia jumpai, melainkan Adrian yang tengah berdiri di depan pintu kost kamar Seira. Kehadiran lelaki tersebut terasa mengganggu, Seira adalah tunangan sekaligus calon istrinya, kenapa ada lelaki lain yang menghampirinya di kost-an. Masalah ini akan semakin rumit jika kedua orang tuanya mengetahui hal ini. Adrian masih berdiri tenang menghadapi Aldo, tak ada hal apa pun yang dapat menghalanginya untuk membuat Aurel putrinya tersenyum lagi. Cara apa pun akan ia lakukan untuk membuat Seira mau menuruti permintaannya. “Siapa kamu?” Aldo berusaha setenang mungkin. “Adrian.” Jawabnya singkat. “Apa hubunganmu dengan calon istriku?” Aldo masih mencecarnya. Manik matanya menelisik tajam pria di depannya. “Aku atasan Seira yang baru di kantor pusat,” jawab Adrian tegas. Aldo tak percaya begitu saja. Tangannya tampak mengepal ingin memukul wajah Adrian yang telah mengunjungi calon istrinya. Baru saja Seira membuka pintu. Ia mendapati dua orang lelaki yang tengah bersitegang di depannya. Aldo dan Adrian, Seira bingung alasan apa yang harus ia katakan pada Aldo tentang Adrian. Sementara hatinya tak rela jika ia tak bertemu Adrian lagi setelah kejadian ini. “Mas Aldo?” Seira mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang. “Seira sudah waktunya Aurel berangkat sekolah.” Adrian menarik tangan Seira. Tidak ingin Aurel kecewa karena tidak berjumpa dengan Seira hari ini. Ia tahu Seira akan memilih berangkat bersama Aldo jika ia tidak memaksanya pergi. Aldo menahannya, tetapi Seira bergeming. Ia membiarkan Aldo membawanya pergi. Wanita berambut hitam itu tak menjelaskan apa pun pada calon suaminya. Bahkan ia tak menolak saat Adrian tetap menggandengnya menjauh dari Aldo. Berjalan mengikuti Adrian keluar kost-an menuju mobil yang terparkir di ujung jalan. Seira menatap Aldo dari kejauhan, melihat raut wajah Aldo yang terlihat memelas dan kecewa. Seperti biasanya, ia sama sekali tak menunjukkan amarahnya meskipun Seira pergi bersama Adrian. Ada rasa kasihan, tetapi rasa kecewa lebih memenuhi seluruh hatinya. Seira sama sekali tak merasa bersalah dengan keadaan seperti ini. Apalagi semalam ada sedikit ketegangan di antara mereka yang belum sempat selesai. “Kita bersiap menjemput Aurel.” Adrian mulai menginjak pedal gas dan menekannya pelan. Seira masih diam, bibir tipisnya tak menunjukkan senyuman atau kekesalan, ia memandangi jalanan yang mulai dipenuhi lalu lintas kendaraan di pagi hari. “Dia calon suamimu?” Seira mengangguk tak bersuara, perasaannya belum stabil. Alasan apa yang harus ia jelaskan pada Aldo setelah ini, tentang hubungan mereka dan pernikahan impian mereka berdua. Rencana pernikahan yang telah mereka rancang di tahun depan, kedua belah pihak keluarga telah bertemu dan mencapai kesepakatan. Semua telah setuju pernikahan akan digelar tahun depan, tepat setelah Aldo diangkat menjadi guru tetap di sekolahnya. Cerita cinta mereka begitu indah terukir saat asmara masih singgah, Seira selalu berlaku manja kepada Aldo. Keduanya saling mencurahkan rasa cinta mereka setiap saat. Saling mengerti dengan kesibukan masing-masing tanpa membatasi satu sama lain, tetapi sekarang, Seira pun seakan tak peduli dengan komitmen asmaranya. “Sepertinya dia sangat menyayangimu.” Ucapan Adrian cukup membuat Seira telak. Wanita di sampingnya benar-benar merasa menjadi wanita yang paling bersalah saat ini. Tak pantas jika ia harus menjadi pendamping Aldo yang terlalu baik. “Sudahlah jangan kamu bahas lagi, hari ini adalah hari pertamaku bekerja di kantor baru. Jangan sampai kamu menyusahkan dan berakhir masalah pada pekerjaanku.” Seira berujar datar. Adrian mendekikkan bahu, merasa kali ini wanita di sampingnya tidak ingin bercanda ataupun berbicara tentang calon suaminya. “Ok, kita jemput Aurel sekarang.” **** Gadis kecil itu berjalan memasuki sekolahnya dengan gembira, menggandeng tangan Seira dan Adrian begitu erat. Bersenandung dan menampakkan senyum cantiknya. Menyapa setiap guru yang lewat dan memerkenalkan Seira sebagai Mamanya. Seira hanya bisa menuruti perkataan Aurel, tidak ingin membuatnya bersedih ataupun kecewa. Adrian tersenyum melihat putri kecilnya kembali tersenyum. Berkat kehadiran Seira, ia bisa melihat Aurel kembali tertawa saat berangkat sekolah. “Mama-Papa, Aurel masuk ke kelas dulu.” Seira berjongkok di depannya, mengelus pucuk kepala dan mencium keningnya. Adrian tidak menyangka Seira akan memperlakukan putrinya penuh dengan kasih sayang, seperti anaknya sendiri. Sosoknya lebih terlihat seperti Mama kandung Aurel ketimbang Mama kandungnya sendiri yang tega meninggalkan putri kandungnya sendiri sejak kecil. Nikita sang Mama lebih mementingkan karirnya dari pada keutuhan rumah tangganya. Adrian berulang kali memohon, tetapi semua itu percuma. Nikita pergi diam-diam hanya meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. “Belajar yang rajin. Sampai ketemu saat pulang sekolah.” Seira tersenyum. Aurel membalasnya dengan mencium pipi Seira. Gadis kecil itu tampak bahagia. “Hanya Mama nih, yang dicium. Papa mana?” Adrian menunjuk pipinya, ikut berjongkok hingga tubuhnya sejajar dengan Aurel dan Seira. Aurel mencium pipi Adrian, tangannya menangkup pipi Seira dan Adrian, mendekatkan keduanya hingga pipi mereka saling bersentuhan. “Mama-Papa, Aurel sangat bahagia.” Matanya berbinar, wajahnya yang imut seolah hanyut dalam suasana yang sangat ia rindukan. Adrian memeluk putrinya dan Seira secara bersamaan.”Papa Janji akan buat Aurel selalu bahagia.” Seira ikut terlarut dalam suasana, merasa ikut terseret ke dalam keluarga kecil mereka. Membayangkan jika suatu saat mereka akan hidup bahagia bersama. “Mama jangan nangis.” Aurel melepas pelukan dan mengusap air mata Seira yang hampir tumpah. “Mama nggak nangis sayang, Mama hanya bahagia.” Adrian sekilas melirik sudut mata Seira yang berair. Ia menunjukkan senyum simpulnya. Apakah ini pertanda jika Seira memang menyukainha? “Aurel masuk kelas, ingat, jangan nakal, okey?” Adrian mencubit hidup putrinya. “Siap Papa.” Mengangkat tangannya dan langsung berlari masuk ke dalam kelas. Gadis kecil itu perlahan tak tampak lagi di antara puluhan murid yang baru saja datang. Seira masih berjongkok melihat Aurel dari kejauhan, tidak menyadari Adrian sedang memandanginya. “Sekarang aku antar kamu ke kantor.” Menarik tangan Seira berdiri hingga membuatnya terhuyung dan hampir terjatuh. “Ma—af.” Seira merasa kikuk karena jarak mereka begitu dekat. Adrian sepertinya sengaja membuat Seira semakin malu. Lelaki itu justru menatap lekat wanita di depannya. Ia tak peduli ada beberap pasang mata yang melihatnya. Bel tanda masuk berbunyi, membuat mereka melepaskan pegangan satu sama lain, banyak guru yang mulai berlalu lalang masuk ke dalam kelas masing-masing. Seira hanya tidak ingin semuanya jadi salah paham hubungannya dengan Adrian. Itu semua hanya semata-mata ingin menolong, bukan karena maksud lain. Seira berjalan mendahului Adrian menuju mobil, tidak ingin suasana bertambah buruk. Apalagi ini hari pertamanya bekerja di kantor pusat. Lebih tepatnya, Seira takut melihat tatapan Adrian yang selalu membuatnya gugup. “Seira, tungggu.” Seira masih berjalan mengabaikan panggilan Adrian. Berdiri di samping pintu mobil menunggu pemilik mobil membukanya. “Cepet banget jalannya.” Adrian terengah-engah. “Aku bisa terlambat kalau lelet.” Seira mulai panik. 15 menit lagi ia harus sampai ke kantor. “Tenang aja,” Adrian membuka pintu mobil dan hanya tersenyum. Melihat Seira panik membuatnya semakin senang menggodanya. “Tenang bagaimana, aku nggak mau dipecat gara-gara kamu.” Seira berujar sengit. Wanita yang tadinya lembut dan manis berubah menjadi wanita yang agak keras. “Sepertinya Calon suamimu itu sangat kurang beruntung mempunyai calon istri sepertimu.” Adrian berlalu dan masuk ke dalam mobil, sedangkan Seira begitu terkejut mendengar perkataan Adrian. Tak terima Seira langsung masuk ke dalam mobil dan meminta penjelasan tentang perkataannya. “Apa Maksudmu?” “Kamu mau terlambat, jika kamu menahanku sekarang?” Adrian tersenyum menang. Seira menarik tangannya, apa yang Adrian katakan ada benarnya juga. Jika terlalu lama di sini, hanya masalah yang akan ia dapat karena terlambat. **** Adrian membuka pintu mobil dan mempersilahkan Seira turun. Wanita itu takjub melihat kantor barunya, ia sama sekali tak pernah berkunjung ke kantor pusat selama ini. Selama ini Seira hanya mendengar cerita dari Maura yang biasa menemani Bos Beni. Gedung yang besar dan mewah tampak dari luar. Para karyawan tampak lalu lalang masuk pintu utama. Mereka terlihat sangat profesional. Pakaian yang mereka kenakan tampak berkelas dan tak main-main dari segi harga. Deretan mobil berkelas terparkir rapi. Netra Seira tak menangkap motor atau mobil butut di sana. Melihat keadaan kantor barunya membuat Seira takut dan tidak percaya diri. Ia hanya seorang lulusan D3 Akutansi yang berasal dari kampung. Bagaimana ia akan menyesuaikan dengan para karyawan yang terlihat berkelas? “Ayo masuk.” Adrian menggandeng Seira masuk ke dalam kantor. Para satpam dan karyawan menyambut kedatangan Adrian, mereka membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan mereka. Seira merasa aneh dengan perlakuan mereka, hanya sebagai karyawan biasa, tetapi mereka menyambut kedatangannya dengan penuh hormat. Padahal Seira hanya karyawan baru. Ia pun masih belum paham posisi apa yang akan big Bos Kevin berikan padanya. “Kamu tak perlu mengantarku sampai ke dalam,” bisik Seira. “Yakin?” tanya Adrian. Lelaki itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Seira. “Aku harus menemui Pak Kevin, kamu bisa pulang sekarang,” Seira berujar lirih. Seorang lelaki berpostur tinggi menghampiri mereka, Seira langsung menunduk hormat. Ia tidak ingin memberi kesan buruk saat hari pertama bekerja. Seira pernah beberapa kali bertemu Kevin saat ia melakukan audit di kantor cabang tempatnya bekerja. Melihat adrian, Kevin ikut membungkukkan badannya. Lelaki bertubuh tinggi itu memberi penghormatan pada lelaki berpenampilan casual di samping Seira. “Selamat datang, Tuan.” Adrian hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Seira merasa ada keanehan, kenapa Kevin memanggil Adrian Tuan. Setahu Seira tempatnya bekerja ini adalah Kevin Bosnya. Sedangkan tempat Adrian bekerja adalah kantor yang pernah ia kunjungi tempo hari. Dan sekarang Kevin terlihat tunduk pada kedatangan Adrian. “Ini Seira yang akan membantu pekerjaan Tuan sehari-hari,” ujar Kevin yang sukses membuat Seira terkejut. Memastikan bahwa telinganya dalam keadaan baik-baik saja. Bosnya adalah Adrian. Seira masih tidak percaya dengan semuanya. “Iya, saya sudah tahu.” “Seira, ini Tuan Adrian yang akan menjadi Bosmu sekarang.” “Apa? Dia Bosku?” Seira memastikan pada Kevin. “Iya betul, dia Bosmu sekarang, karena kalian sudah bertemu sebaiknya saya tinggal.” Kevin berpamitan. Lelaki itu meninggalkan mereka berdua berbalik ke menuju lift yang terletak di samping tempat reseptionist. Seira benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya memang terjebak dalam keadaan yang sangat sulit. Sekarang ia akan bertemu dengan Adrian setiap hari dan akan semakin sulit lepas darinya. Rasa yang harusnya ia tepis seolah tak mau pergi. “Sekarang kamu ikut aku.” Adrian kembali menggandeng Seira ke ruangannya. Ia menarik tangan Seira melewati tangga penghubung ke lantai dua. Sengaja ia memilih melewati tangga agar tak menjadi pusat perhatian. Adrian hanya ingin menjaga privasi Seira agar merasa nyaman. “Aku mau di bawa ke mana?” Seira bertanya. Sementara Adrian masih saja berjalan menggandengnya.”Hei, aku bertanya padamu bukan patung.” Adrian berhenti. Melepas genggamannya dan beralih menatap Seira tajam. Wanita bertubuh ramping itu terlihat takut melihat ekspresi Adrian yang tak biasa. Lelaki itu berjalan mendekati Seira hingga membuatnya tersudut pada dinding tangga. Seira menyilangkan kedua tangannya sebagai pertahan dirinya agar Adrian tidak berbuat macam-macam. Lelaki itu seringkali berbuat hal yang membuat Seira selalu kacau. “Kamu mau apa? Aku—aku belum siap.” Seira ketakutan saat Adrian semakin memojokkannya. Kedua netra itu beradu dengan jarak yang amat dekat. Pangkal hidung keduanya beradu di ujungnya. “Kamu maunya apa?” Adrian menyeringai. Napasnya begitu terasa menyapu wajah Seira, membuat Seira semakin gugup. “Bi—sa--kah kamu mundur sedikit?” “Kalau bisa sedekat ini, kenapa harus ada jarak di antara kita?” Adrian menumpu tangannya pada dinding. Ia tak memberi ruang pada Seira untuk leluasa bergerak. Seira masih gugup. Ia teringat kejadian saat di mobil. Saat lelaki itu tiba-tiba menciumnya yang kedua kalinya “Kamu tahu? Aku sangat terpikat padamu. Bibirmu.” Adrian menunjuk bibir mungil Seira.”Matamu.”Adrian mengelus kelopak mata Seira menggunakan ujung jempolnya.” Wangi tubuhmu, membuatku benar-benar tak bisa melupakanmu.” Adrian mencoba mencium bibirr mungil di depannya, tetapi Seira memalingkan wajahnya. Wanita itu terasa kehabisan oksigen. Adrian kali ini tak membiarkannya begitu saja. Hidungnya menyusuri pipi Seira yang mulus. Menghirup lekat aroma parfum yang sangat memikatnya. “Selamat pagi Tuan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD