Bab 5 : Terror yang Datang.

2071 Words
"Terimakasih sudah menahan Johnny tadi, saya nggak tau harus berterimakasih bagaimana sama kamu." Kata Hani melihat Jeha yang hanya tersenyum ramah, gadis itu menggeleng, "Suda jadi tugas saya." Katanya dan Axel yang berdiri di belakang Jeha ikut tersenyum, dia merasa bangga dengan Jeha. "Nyonya, kami izin untuk pergi makan siang dahulu, setelah makan siang saya akan mengantarkan Jeha kembali ke sini dan saya akan segera ke rumah utama." Hani mengangguk melihat Axel dan Jeha secara bergantian, "Baik, kalian boleh pergi, nikmati makanan kalian ya." Jeha mengangguk semangat dan kemudian melihat Axel yang tersenyum, "Kita mau makan di mana?" Ternyata Axel membawa dirinya ke salah satu kedai roti sandwich yang ada di lingkungan ini, dia melihat roti sandwich yang sepertinya sangat besar untuk dirinya yang hanya makan sedikit, dia melihat Axel yang sedang menikmati roti sandwichnya. Jeha langsung terpana saat melihat cara makan Axel yang memang sangat tampan di matanya, dia tersenyum malu ketika terus memperhatikan Axel yang sama sekali tidak sadar kalau Jeha memperhatikannya sedari tadi. "Maaf hanya bisa ngajak kamu ke sini, tapi sandwich di sini emang terkenal banget, selain sehat juga rasanya nggak main-main." Jeha tersadar dari lamunannya ketika Axel mulai berbicara, gadis itu melihat roti sandiwich miliknya dan kemudian mengangguk, "Udah lama juga nggak makan sandwich." Kata Jeha lalu mengigit roti sandiwchnya. Axel tersenyum sambil mengunyah, dia melihat gadis yang ada di depannya, "Gimana?" "Hm, beneran enak!" Kata Jeha yang juga terkejut dengan rasa roti sandwich itu yang luar biasam Axel tersenyum lebar dia merasa senang saat rekomendasi dirinya mendapat nilai bagus. "Kan, apa aku bilang." Jeha hanya tersenyum dan kemudian langsung kembali memakan roti sandwich itu dengan lahap. "Je." "Ya?" Jeha mengangkat kepalanya dan melihat Axel yang duduk di hadapannya, laki-laki itu terkekeh saat melihat wajah Jeha yang lucu. Jeha dibuat terkejut saat tiba-tiba dia beranjak dari kursinya dan mencondongkan tubuhnya ke depan, menyeka sudut bibir Jeha pelan dengan ibu jarinya, lalu mengambil tissue dan kembali duduk. Walau hanya beberapa detik, tapi itu sangat berpengaruh kepada Jeha yang merasakan dia kembali senam jantung, bahkan karena terlalu gugup dia tidak berani menatap Axel, Jeha hanya menunduk dan menahan rasa panas di wajahnya. "Kamu lucu." Jeha langsung mengangkat kepalanya tiba-tiba ketika dia mendengar Axel baru saja bilang kalau dirinya lucu, "Lu-lucu?" Axel mengangguk dan menyentuh sudut bibirnya sendiri sambil tersenyum melihat Jeha yang sekarang mengulum bibirnya dan kembali menunduk, "Lucu, kayak anak kecil." "Ma-makasih." Axel mengambil tissue dan kemudian mengelap bibirnya sendiri, dia melihat Jeha yang kembali asik memakan sandwichnya, "Jeha?" "Ya?" "Cara melayang itu gimana?" "Hee?" Jeha terkejut dengan pertanyaan Axel dyang dibilang sangat tidak masuk akal, kenapa laki-laki itu menanyakan cara melayang kepada Jeha. "Melayang?" Axel buru-buru memperbaiki perkataanya, "Ah, kemarin kamu ngelawan pencuri itu kan? Aku liat kamu lari ngejar dan terus loncat tinggi dan nendang pencuri itu sampai tersungkur, itu karen banget tau." "Ahh itu." Jeha menggeleng, "Aku agak menghitung jaraknjauh pencuri itu dan saat di jarak yang tepat baru aku lompat dan nendang dari belakang, serangan itu ampuh sih." Jelas Jeha dan Axel mengangguk. "Aku paham, terimakasih Jeha." Katanya disusul dengan senyuman manis dan ternyata senyuman Axel menular, Jeha jadi ikut tersenyum karenanya hanya dengan melihat senyuman manis dari wajah Axel. *** "Aku pergi dulu," Jeha melihat Axel yang sudah akan pergi ke rumah utama. Sekarang mereka sudah sampai di kediaman Johnny. "Bri, tolong kerjasamanya sama Jeha ya." Brian mengacungkan ibu jarinya dan kemudian Axel tersenyum lebar, dia kembali melihat Jeha dan menatap mata gadis itu. "Kamu harus jaga diri baik-baik, kamu satu-satunya perempuan di anggota kita. Walaupun aku tau kamu bisa jaga diri sendiri, tapi harus ada orang lain juga yang menjaga kamu, maka dari itu Brian sangat bisa kamu andalkan." Jeha melirik Brian dan mengangguk, "Iya, terimakasih sudah khawatir, dan makasih sandwichnya lain kali aku yang traktir." Katanya dan melihat Axel yang terkekeh lalu mengangguk, lalu tak lama dia melihat Brian. "Bri, kalau ada apa-apa, bisa langsung kabarin ya." "Siap bos!" Axel menghela nafas dan kemudian pamit untuk kembali ke rumah utama. Dia berjalan masuk ke dalam mobilnya dan melihat Jeha serta Brian yang menunggu dirinya pergi dari kediaman rumah Johnny. "Hati-hati." Jeha melihat Axel tersenyum dari dalam mobilnya dan kemudian mobilnya bergerak ke luar dari halaman rumah. Gadis itu menunduk dan merasa ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya saat Axel pergi, seperti ada sesuatu yang kosong di sana dan disusul dengan perasaan sedih. *** Johnny merasakan kepalanya sangat pusing dan tubuhnya sangat lemas ketika dia sudah membuka kedua matanya dan hanya melihat langit-langit kamar yang tidak pernah berubah bentuknya. "Sshh." Johnny meringis saat dia merasakan kepalanya semakin sakit saat dia hendak beranjak dari kasurnya. Apa yang terjadi padanya sampai dia bisa pingsan dan berada di sini, itulah hal yang dipikirkan Johnny. Dia memaksakan diri kembali untuk beranjak dari kasurnya dan kemudian berhasil saat dia berusaha untuk menahan rasa sakit yang memang menyerangnya sedari tadi. "Minum, minum, minum." Johnny melangkah keluar kamarnya dan hendak menuju ke dapur. Dia tidak menemukan satu pelayan pun di sana, dan Johnny pun tidak mempermasalahkan itu, dia bisa mengambil air sendiri. Namun, tiba-tiba langkah nya terhenti saat melihat sebuah ruangan yang sangat dia kenal setengah mati, ruangan yang sudah kosong bertahun-tahun itu dan pintunya selalu tertutup, kini pintu ruangan itu terbuka. Itu adalah ruangan bermain, ruangan yang sudah seperti tempat arcade, Johnny membuat ruangan itu karena untuk Luna yang sangat senang sekali bermain arcade dan selalu ke sana saat mereka kencan. Maka dari itu Johnny berinisiatif untuk membuat arcade sendiri, yang di mana Luna bisa bermain sepuasnya. Ruangan itu seharusnya sudah tidak terpakai lagi, tapi kenapa sekarang pintu ruangan itu terbuka? Johnny melangkah pelan mendekat ke ruangan itu, pikirannya sudah kemana-mana, apakah Luna sudah kembali dan dia sedang bermain di sana? Johnny mengintip di balik pintu dan melihat punggung seorang gadis yang sedang menatap ke depan. Johnny tau, itu bukan Luna. Dia langsung melangkah dan masuk ke dalam ruangan. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Jeha langsung menoleh dan melihat laki-laki yang sering dia bilang mirip seperti bigfoot sedang menatap nya dengan tatapan yang tidak menyenangkan. "A-ah, maaf saya lagi ngeliat-liat aja." Kata Jeha gugup, bagaimana tidak sekarang bigfoot itu adalah atasannya, kepada laki-laki itulah dia bekerja, maka Jeha harus bersikap baik dan juga sopan. "Apa yang kamu liat? Mau mencuri?!!" "Bu-bukan!!" Johnny mengerutkan keningnya melihat Jeha yang mendadak melantangkan suaranya dan gadis itu terdiam saat dia sadar bahwa baru saja dia hampir saja membentak atasannya itu. "Ma-maaf saya bukan mau mencuri, hanya lihat lihat, saya suka pergi ke arcade dan rasanya melihat arcade di dalam rumah, saya pikir itu hal yang luar biasa." "Kamu siapa?" "Y-ya?" "Kamu siapa?" Jeha melihat Johnny yang berdiri di depannya dengan wajah garang. Siapapun akan merasa takut jika dilihat oleh Johnny dengan ekspresi menyeramkan itu, ditambah penampilan dia yang sangat buruk. "Jeha, nama saya Jeha. Saya anggota keamanan yang baru di sini, maaf kalau saya lancang." Kata gadis itu lalu kembali menunduk ketika selesai memperkenalkan diri kepada Johnny. "Kamu hanya petugas keamanan, kenapa berani masuk ke sini?" "Ma-maaf." "Bagaimana kalau ada yang rusak, bagaimana kalau kamu merusaknya?!" Jeha terdiam menunduk, sambil memainkan ujung kukunya takut. "Pergi." Jeha mengangkat kepalanya tak percaya, apakah dia dipecat sekarang. "Tuli? PERGI!" "Ma-maksud tuan?" "PERGI DARI RUANGAN INI!" Johnny berteriak di depan wajah Jeha dan.... PRANGG!!! Terdengar suara pecahan kaca yang sangat kencang, bahkan Johnny terkejut dan menunduk, melindungi dirinya dari pecahan kaca itu. Sedangkan Jeha, dia tidak sempat melindungi dirinya, dahinya tergores pecahan kaca yang melayang ke arah mereka, perlahan goresan di dahi Jeha mengeluarkan darah. "A-apa itu?" Johnny melihat jendela ruangan arcade pecah, sepertinya keributan berasal dari sana tadi. Sedangkan Jeha terpaku melihat ada gumpalan putih yang terhenti tepat di bawah kakinya, gumpalan ini yang tadi memecahi kaca. Ada seseorang yang melemparnya dari luar. "Ada apa ini??" Hani masuk ke dalam ruangan bersama Brian dan beberapa pelayan, mereka semua panik karena mendengar pecahan kaca yang berasal dari ruangan ini. Dan benar, mereka semua melihat kaca jendela ruangan itu pecah dan ada Johnny serta Jeha di dalamnya. "Johnny." Laki-laki itu menoleh dan melihat ibunya, "Ma." Jeha ikut menoleh dan semua orang langsung terkejut melihat dahi Jeha yang berdarah, darahnya semakin mengalir dan semua orang yang melihat itu terkejut dan panik termasuk Johnny. "Je-Jeha kamu-" Hani ingin melangkah mendekat namun para pelayan segera menahan Hani, "Sebaiknya kita bawa tuan Johnny masuk bu," Bisik pelayan dan Hani segera menghela nafas panjang. "Brian, tolong temani Jeha, dan Johnny, ayo kita masuk." Hani segera menarik lembut tangan anaknya itu dan menuntun Johnny yang sepertinya agak sedikit terkejut dan syok karena tadi, mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu dan yang tersisa hanyalah Brian dan Jeha. "Je, dahi kamu." Jeha tidak menanggapi, dia hanya fokus kepada gumpalan putih itu, dia menunduk dan memungut gumpalan itu yang ternyata sangat berat. Brian yang penasaran langsung ikut melihat gumpalan yang berada di tangan Jeha itu. Dia membuka sesuatu putih yang membalut, dan itu ternyata adalah sebuah kertas, dan sesuatu yang berat itu adalah batu. "I-itu." Jeha melebarkan kertas itu dan ada suatu tulisan di sana, "Luna sudah mati, sebaiknya kamu menyusul Johnny." Jeha membaca itu pelan dan Brian sudah mengira kalau itu adalah pesan terror lagi. Gadis itu melihat Brian, "I-ini pesan terror kan?" Brian mengangguk, "Sudah sangat sering pesan terror datang, dan isinya selalu sama." "Sebaiknya kita simpan, jangan sampai tuan Johnny tau apa isi pesan ini, kalau dia tau mungkin dia akan mengakhiri hidupnya sendiri karena mengira kalau Luna sudah mati." Jeha mengangguk dan setuju dengan perkataan Brian, buru-buru dia memasukkan kertas itu ke dalam sakunya dan melempar batu itu kembali keluar kaca. "Sekarang, kita harus bersihkan dulu luka kamu, kalau tidak bisa-bisa darahnya bertambah banyak." Jeha mengangguk dan kemudian dia bersama Brian keluar dari ruangan itu dan meminta pelayan untuk membersihkan kekacauan yang ada di sana. *** Seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam jalan di kerumunan orang-orang, sambil menempelkan teleponnya di telinga dia sibuk berjalan dan melihat ke depan. "Bagaimana?" "Saya melihat seorang wanita." Kata laki-laki itu dan kemudian berhenti di penyebrangan jalan karena lampu masih berwarna merah. "Wanita?" "Saya tidak tau itu siapa tuan, tapi yang jelas ada seorang wanita di sana, dan saya tidak pernah melihat dia sebelumnya." "Siapa dia?" "Nanti saya akan cari tau tuan." "Tidak, biar saya yang mencari tau sendiri, saya harus tau dia siapa." kata si penelepon dan kemudian dia langsung memtuskan sambungan telepon. *** "Pelan-pelan." Brian agak ngilu sendiri melihat luka Jeha yang sedang diobati, sedangkan perempuan itu tampak sangat tenang seperti tidak merasakan apapun. Jeha memikirkan siapa orang yang berani memecahkan kaca dan memberi Johnny pesan terror secara terus menerus, entah kenapa itu sangat menganggu pikirannya, membuat Jeha ingin segera menangkap orang tersebut. "Kamu tidak apa-apa kan Jeha?" Tanya Brian dan gadis itu mengangkat kepalanya dan mengangguk, "Tentu." katanya santai. Pelayan yang mengobati Jeha langsung memberikan plester ke dahi Jeha yang luka dan kemudian melihat Brian, "Sudah selesai mas." Katanya dan Brian mengangguk, "Makasih, kamu silahkan kembali bekerja." Pelayan itu mengangguk dan kemudian segera meninggalkan Jeha dan Brian di sana. "Kamu sebaiknya istirahat Jeha, ada kamar kosong di sini, sebaiknya kamu istirahat sebentar pasti kamu syok." kata Brian dan kemudian hendak membantu Jeha yang berdiri dari duduknya. "Di mana kamarnya?" Kata Jeha tersenyum dan Brian langsung menuntun Jeha untuk segera ke kamar kosong itu, "Kamarnya ada di seberang kamar tuan Johnny." Kata Brian."Kalau begitu biar aku sendiri aja, aku bisa ke sana." "Serius?" "Iya, kamu sebaiknya jaga di depan aja." Brian melepaskan tangannya yang tadi menuntun Jeha, dia tersenyum kecil dan kemudian menunduk sopan kepada Jeha dan pamit untuk segera pergi ke sana. Jeha menghela nafas panjang dan kembali melangkah menuju kamar yang dimaksud oleh Brian.Dia menghentikan langkahnya saat berada di depan kamar Johnny, pintu kamar laki-laki itu terbuka dan nampak Johnny yang sedang duduk di kursi sambil menatap kosong keluar jendela, dia menatap kosong ke sana yang tidak ada apa-apa di luar jendela. Jeha menatap Johnny dengan tatapan iba, laki-laki itu masih sangat muda dan dia harus terjebak di dalam pikiran dan masa lalunya sendiri, dan parahnya dia sampai depresi karena hal ini, cerita yang sudah Axel ceritakan padanya membuat Jeha merasa kasihan dan ingin membantu Johnny bagaimanapun caranya. Jeha tersenyum kecil dan berbalik menuju kamar kosong yang sudah dibilang oleh Brian tadi, namun dirinya langsung terjatuh karena kakinya terasa sangat lemas. Johnny langsung terkejut dan menoleh melihat Jeha yang tersungkur di depan pintu kamar kosong yang ada di seberangnya, dia hanya melihat dan kemudian kembali menatap kosong ke depan, tidak peduli dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Sedangkan Jeha meringis kesakitan karena kakinya menubruk lantai sangat kencang, dia meringis dan mengusap-usap kakinya pelan, mungkin karena pikirannya kacau dia jadi sangat lemas. "Ayo berdiri." Jeha mengangkat kepalanya dan melihat uluran tangan seseorang, dia terdiam dan kembali melihat lebih ke atas, dia melihat Johnny yang sedang menatapnya dengan wajah dingin sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Jeha. Awalnya, Johnny merasa tidak perduli dengan gadis itu, namun entah kenapa dengan dirinya diam dan tidak membantu gadis itu membuat dirinya merasa tidak nyaman, padahal dia tidak pernah membantu siapapun sebelumnya pacsa dirinya terkena penyakit ini, dia tidak pernah mengkhawatirkan sesuatu.Namun, dengan gadis ini Johnny merasa lain, dan..Ada yang berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD