Johnny beranjak dari duduknya saat dia merasakan sudah terlalu lelah berada di sana, dan juga dia merasa haus. Dia melangkah keluar kamar dan menutup kembali pintu kamarnya dengan pelan, dia tidak mau menghebohkan satu rumah hanya karena dia ingin mengambil air.
Johnny hendak melangkah, namun langsung terhenti saat melihat pintu seberang kamar yang Jeha tempati agak terbuka.
Johnny menghela nafas, kenapa gadis itu sangat teledor, dia bahkan tidak menutup pintunya dengan benar, bagaimana dia akan menjaga dirinya dari kejahatan.
Tapi, kalau dipikir-pikir dia tadi menyelamatkan Johnny yang hampir terkena pecahan kaca itu, dan akhirnya itu mengenai dahi gadis itu.
Dia melihat luka Jeha yang plester di dahinya. Johnny jadi merasa bersalah akan itu, dia tidak mau merepotkan orang lain, namun pada akhirnya dia lah yang membuat semua orang khawatir.
"Enggh." Jeha mengerang dan Johnny buru-buru langsung pergi dari sana, dia tidak mau Jeha memergoki dirinya sedang memperhatikan gadis itu, yang ada Jeha akan berpikiran aneh-aneh tentangnya.
Johnny langsung melangkah buru-buru menjauh dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Tuan Johnny, ada apa?"
Seorang pelayan menyapanya dan Johnny langsung terkejut, dia melihat pelayan itu dan menggeleng, "A-air." Katanya dengan suara dingin dan pelayan itu segera mengambil gelas.
Johnny menggaruk tengkuknya dan kemudian matanya melirik kemana-mana, dia langsung meloncat karena terkejut saat dia melihat ke cermin besar yang ada di dekat dapur.
"Astaga." Katanya sambil melihat sosok tinggi dengan rambut gondrong serta janggut panjang nampak seperti bigfoot berdiri di hadapannya.
"Kaget bukan?"
Dia kembali terkejut saat mendengar bisikan itu tepat di telinganya, dia menoleh dan seorang gadis cantik langsung memamerkan senyumnya.
"Bigfoot, anda kelihatan seperti itu." Kata gadis itu yang tak lain adalah Jeha, dia menjauhkan badannya yang tadi sangat dekat dengan Johnny.
Laki-laki itu hanya terdiam dan menggerutu, menunggu pelayan yang tak kunjung datang juga.
Johnny langsung pergi ke kamarnya saat menunggu pelayan itu terlalu lama, dia tidak nyaman saat ada orang di dekatnya dan memilih untuk pergi dari sana.
Sedangkan Jeha benar-benar heran saat melihat Johnny yang pergi secara tiba-tiba, dia melihat Johnny dengan tatapan aneh, dirinya hanya mencoba untuk menghibur tapi sepertinya laki-laki itu tidak suka, Jeha mengangguk paham, dia harus menjaga sikapnya lebih sopan lagi kepada Johnny.
***
Axel langsung masuk ke dalam rumah Johnny saat dia mendengar kabar tentang surat teror itu, ini sudah keberapa kali surat teror itu datang dan kali ini Jeha yang menjadi korban.
Dia jadi terluka akibat surat teror itu. Dengan langkah lebar dia masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Brian.
"Mana Jeha, mana Jeha." Katanya dengan suara panik dan seorang gadis yang berdiri di belakang Brian terheran melihat Axel yang tampak panik.
"Axel."
"Jeha."
Axel langsung menghampiri gadis itu dan meraih pundak Jeha, dia melihat dahi Jeha yang diplester dan menghela nafas, syukurlah itu hanyalah goresan kecil.
"Ke-kenapa?"
"Aku khawatir."
Jeha langsung terdiam saat mendengar apa yang Axel katakan, dia menunduk malu dan menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
Axel beralih melihat Brian, "Apa? Isi suratnya sama?"
Brian mengangguk, "Masih sama."
"Kamu liat siapa yang melempar?"
"Aku tidak ada di tempat kejadian, yang ada di sana hanya tuan Johnny dan Jeha." Kata Brian melirik Jeha yang masih menunduk malu.
"Je?"
"Ah iya?"
"Kamu yang ada di tempat kejadian?"
Jeha terdiam sebentar dan kemudian langsung mengangguk, "Ah, maaf aku nggak liat pelakunya siapa, tiba-tiba aja itu terjadi." Kata Jeha mematahkan semangat Axel.
Laki-laki itu mengangguk paham, pasti Jeha juga sama terkejutnya, dia tersenyum, "Nggak apa-apa, tapi kamu sudah menjalankan tugas kamu dengan baik."
"Mak-maksudnya?"
"Luka itu, karena kamu lindungin tuan Johnny." Kata Axel sambil menunjuk dahinya sendiri berkali-kali, dan itu membuat Jeha langsung memegang dahinya yang terluka dan tersenyum.
"Sebaiknya kamu istirahat, Brian ayo ikut aku." Kata Axel dan melempar senyum kepada Jeha sebelum dia pergi bersama Brian ke halaman rumah Johnny.
***
Jeha tertidur di dalam kamarnya, tadi Axel menyuruh dirinya untuk istirahat dan dia menuruti apa kata laki-laki itu.
Dan kini sekarang dia terbangun dan merasakan puas, hari ini dia banyak tidur daripada bekerja padahal luka yang dia terima bukan luka yang cukup serius, hanya luka kecil yang akan sembuh dengan sendirinya, tapi keluarga Christian benar-benar ingin membuatnya baik-baik saja dan tidak ingin melukai dirinya.
"Tuan, tuan harus makan."
Terdengar beberapa suara pelayan dengan ketukan pintu membuat Jeha terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah pintu kamarnya yang hanya dia tutup setengah. Suara itu yang membuat dirinya terbangun dan kemudian melihat salah satu pelayan dengan wajah khawatir sambil terus mengetuk kamar Johnny.
Jeha langsung beranjak dari kasurnya dan melangkah pelan ke arah pintu, dia menarik pintu dan melihat ada dua pelayan yang sudah ada di depan kamar Johnny memintanya untuk segera makan, tapi laki-laki itu tidak membukakan pintu untuk mereka.
"Ada apa?" Tanya Jeha dan para pelayan itu hanya menatap nampan dengan makanan di atasnya dengan tatapan murung.
"Sudah hampir tiga hari tuan Johnny tidak mau makan." Kata salah satu pelayan dan Jeha langsung melihat pintu Johnny yang tertutup rapat.
"Biar saya yang urus." Katanya membuat para pelayan itu terkejut dan melihat Jeha ragu.
"M-mbak tapi,"
Jeha langsung mengambil nampan itu dan tersenyum lebar melihat kedua pelayan yang sekarang hanya menatapnya dengan tatapan ragu.
"Udah nggak apa-apa, kalian kembali bekerja aja."
Para pelayan itu mengangguk ragu dan kemudian segera meninggalkan Jeha yang sudah memegang nampan dan melihat pintu kamar Johnny yang terasa sangat horor. Kenapa semua orang tidak berani membuka pintu kamar laki-laki ini?
Jeha mngetuk pelan pintu kamar laki-laki itu dan langsung membukanya, "Tuan Jo-"
Hal pertama yang dia lihat saat membuka pintu adalah Johnny yang sedang bersikap aneh di depan kaca, dia memegangi janggut panjangnya dan sepertinya sangat syok dengan wajahnya sendiri. Laki-laki itu langsung berbalik dan menoleh saat Jeha memanggilnya, dia melihat gadis itu masuk dengan nampan berisi makanan.
Mereka saling bertatapan beberapa saat karena sama-sama canggung dan malu terlebih untuk Johnny yang sangat malu bisa kepergok dengan Jeha.
"Ma-makanan tuan." Kata Jeha menunjuk makanan yang ada di tangannya dengan mata.
Laki-laki itu melirik nampan berisi makanan dan memejamkan matanya pelan, "Saya nggak mau, buang aja."
Jeha menggeleng, "Nggak bagus buang-buang makanan."
"Yaudah kamu makan aja."
"Saya udah makan tadi."
Johnny menghela nafas sebal melihat Jeha yang hanya tersenyum melihat dirinya yang sedang kesal. "Kamu mau buat saya marah?"
Gadis itu menggeleng, "Saya cuma pengen tuan makan."
Johnny menatap Jeha dan langsung mendengus, gadis ini seperti tidak ada takutnya dengan dirinya, dia terus menatap Johnny dan itu membuat laki-laki itu kesal.
"Oke-oke taruh di sana aja."
Jeha menoleh ke meja yang ada di sampingnya, dia kembali melihat Johnny dan menggeleng, "Tuan harus makan sekarang, saya yang akan jaga tuan selagi tuan makan jadi tidak akan ada yang berani ganggu tuan!"
Johnny hanya menatap sebal gadis itu yang sangat bersemangat untuk memberinya makan.
Johnny mengangguk dan kemudian melangkah mendekat ke arah Jeha, menarik nampan itu dari tangan gadis cantik itu dan duduk di atas ranjangnya, "Saya akan makan, kamu keluar aja."
"Nggak, saya akan di sini."
Johnny sudah tidak berkomentar, dia memilih memakan dalam diam daripada harus berdebat dengan Jeha yang dia yakin dia akan kalah. Laki-laki itu menyendok makanan dan melihatnya dengan tatapan tak berselera.
Sudah lama dia tidak makan dan saat memasukan makanan ke dalam mulut Johnny langsung terdiam. Dia sangat rindu dengan masakan para pelayannya, walaupun tatapannya tak berselera tapi perutnya tidak bisa bohong, dia juga lapar dan butuh diisi dengan makanan.
Jeha tersenyum saat Johnny memakan sendok pertamanya, gadis itu tau kalau perut Johnny sangat membutuhkan makanan walaupun dia merasa tidak lapar, dan ternyata benar laki-laki itu terus makan dan makan.
Jeha bersandar di meja dan kemudian sadar kalau tangannya meyentuh sesuatu yang dingin, dia langsunh terkejut dan melihat meja itu.
Ada banyak bingkai-bingkai foto di sana, hal itu membuat Jeha kepo dengan isi foto tersebut, dia mengambil satu bingkai foto dan melihat seorang laki-laki bersama seorang wanita yang saling berpelukan sambil tersenyum ke kamera.
Jeha terpaku pada Johnny yang tampak bukan seperti dirinya, di foto itu dia terlihat jauh lebih tampan di sana, bahkan Jeha akan mengatakannya kalau Johnny sangat tampan di sana. Dia beralrih melihat seorang gadis yang ada di sebelah Johnny.
"Gadis ini si-"
"Luna."
Jeha mengangguk-angguk dan beberapa menit kemudian langsung tersadar kalau ini adalah Luna, seorang gadis yang sangat berarti di hidup Johnny, dia gadis yang ada di kecelakaan itu.
Jeha tersenyum kecil, "Cantik." katanya dan itu membuat Johnny menghentikan gerakan sendoknya mengambang di udara, laki-laki itu langsung melihat Jeha yang sedang terpaku pada foto Luna.
"Terimakasih." Kata Johnny lalu kembali melahap makanannya dan melihat Jeha, "Aku mewakili Luna beterimakasih karena kamu bilang dia cantik."
Jeha tersenyum dan kembali meletakkan bingkai itu di atas meja, dia melihat Johnny dan nampan yang kosong, "Woooo habisss." Jeha berseru membuat Johnny terkejut dan melihat nampan berisi makanan tadi kosong, dia pun juga terkejut bagaimana itu bisa habis, semua makanan ludes dia makan.
"Ke-kemana makanan?"
Jeha melangkah dan mengambil nampan itu, "Perginya ke sini." Dia menepuk perutnya sendiri dan tersenyum melihat Johnny yang masih terkejut karena sudah memakan makanan itu tanpa sisa.
"Makasih udah makan dengan baik." Kata Jeha dengan nada bicara yang sungguh-sungguh tulus, membuat Johnny langsung melihat ke arah gadis itu dan menatapnya tak percaya.
Baru kali ini ada seseorang yang mengatakan itu kepadanya dan Johnny merasa sangat tersentuh akan itu, dia melihat Jeha yang melangkah pergi ke luar kamarnya dengan nampan itu.
Johnny melihat pintu kamarnya kembali tertutup dan gadis itu sudah pergi. Dia merasakan ada sesuatu yang tak beres, hatinya merasa hangat saat gadis itu berada di sisinya dan Johnny tidak mau berbohong akan itu.
***
Jeha keluar dari kamar Johnny dengan nampan kosongnya, dia melangkah menuju dapur dan para pelayan sudah menunggunya sedari tadi, mereka langsung terkejut saat melihat nampan makanan itu kosong.
"Tu-tuan Johnny?"
Jeha mengangguk sambil tersenyum dan kemudian menaruh nampan itu di wastafel, "Makasih makanannya, tuan Johnny sangat menikmatinya dengan baik." Kata Jeha dan para pelayan itu tersenyum lega, akhirnya Johnny mengisi perutnya setelah sudah lama dia tidak menyentuh makanan.
Hani datang dan terkejut melihat nampan kosong yang biasa dipakai para pelayan untuk membawa makanan untuk Johnny kosong dan tidak ada sisa bekas makanna.
"Johnny makan semuanya?" Kata Hani melihat para pelayan tak percaya.
"Iya, barusan aja dia makan bu." Jeha menjawab dan Hani langsung melihat ke arahnya, "Kamu yang buat dia makan?"
Jeha menggeleng, "Tuan mau makan karena dia memang mau makan."
"Iya, Jeha berhasil membujuknya bu, dan akhirnya nampan itu kosong." Kata salah satu pelayan membuat Jeha langsung terheran, mengapa dia mengatakan seperti itu.
Hani langsung menghela nafas lega dan langsung tersenyum lebar, dia melihat Jeha dengan tatapan senang, "Terimakasih banyak, karena kamu anak saya jadi mau makan lagi, terimakasih banyak."
Jeha terkejut saat Hani mengenggam tangannya dan berucap seperti itu, dia sama sekali tidak mengerti kenapa dia Hani harus beterimakasih padanya, padahal dia hanya mengantarkan makanan kepada Johnny.
***
Johnny melihat bingkai-bingkai foto yang terjajar rapih di atas mejanya dengan tatapa sendu, dia melihat dirinya yang tersenyum atau tertawa lebar di dalam foto, bahkan di beberapa bingkai ada foto dirinya dengan Luna.
Johnny menghela nafas dan kemudian menggulung lengan kaosnya sampai ke siku, dia melihat ada banyak bekas luka goresan di dekat urat nadinya. Dalam beberapa kondisi, dia ingin mengakhiri hidupnya karena merasa sudah sangat tidak kuat dengan segala tekanan yang ada di dalam pikirannya.
Dia tidak bisa hidup dengan kondisi seperti ini, maka dari itu Johnny sempat berpikiran untuk membunuh dirinya dengan segala macam, namun sepertinya Tuhan tidak mau dirinya pergi begitu saja, semua usaha Johnny untuk mengakhiri hidupnya tidak berhasil.
Dia menghela nafas dan kembali menutupi luka-luka mengerikan itu dengan kaos.
"Axeeell." Johnny mendengar suara seseorang, dia langsung melangkah ke luar jendela dan melihat seorang gadis cantik yang tak lain adalah Jeha yang sedang menghampiri Axel dengan senyuman lebarnya.
Dia melihat wajah Jeha sangat tampak senang saat dia berhadapan dengan Axel dan bisa terlihat dengan jelas kalau sepertinya gadis itu menyukai Axel.
"Yeayy." Gadis itu berseru, entah apa yang mereka bahas namun sepertinya ada kabar gembira yang membuat gadis itu terlihat lebih senang.
Johnny menghela nafas dan kemudian langsung menarik gorden untuk menutup jendelanya, kalau dipikir-pikir lagi ternyata gadis itu sangat berisik, dan hal itu membuat Johnny tidak nyaman
Dia langsung kembali ke atas ranjang dan melihat langit-langit kamarnya yang tidak pernah berubah, saat melihat Axel dan Jeha tadi, dia jadi teringat dengan Luna. Gadis itu selalu tersenyum manis saat menghampirinya persis seperti Jeha yang tersenyum saat Axel menyapanya.
Johnny memejamkan matanya dan merasakan ada sesak di dalam d**a, dia ingin semua waktu kembali ke saat kecelakaan itu terjadi, maka Johnny akan menghindari kecelakaaan itu dan menyelamatkan Luna, lalu melangsungkan pernikahan mereka.
Andai saja semua itu bisa dia lakukan, andai saja waktu bisa berputar ke belakang maka dia akan melakukannya.
Namun, kata "andai" itu sangat menyakitkan dan tidak akan pernah terjadi.