Johnny tersenyum kecil melihat langit yang masih berwarna merah, sekarang dia berada di halaman rumahnya sambil menikmati waktu pagi yang sangat jarang dia pakai untuk melihat indahnya langit di pagi hari, dia merasakan angin yang menerpa wajahnya. Sangat sejuk dan itu membuat jati Johnny terasa nyaman.
"Oh! Tuan!"
Johnny langsung menoleh ke gerbang rumahnya dan menemukan Jeha yang berdiri di sana sambil melambaikan tangannya pada Johnny, dia tersenyum dan segera melangkah lebar mendekati Johnny.
"Brian mana?"
Johnny memperhatikan gadis itu yang sedang tersenyum melihat kearahnya, dia mengerjapkan matanya dua kali dan melihat Johnny yang tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Di dalam." Jawab Johnny dengan suara serak, dia melihat perubahan wajah Jeha yang mendadak jadi khawatir, "Tuan sakit?"
Johnny menunduk lalu perlahan dia menggeleng, "Ekhemm." Johnny membenarkan tenggorkannya yang sedari tadi terasa sangat kering, dia jadi gugup karena tiba-tiba Jeha berbicara dengannya.
Johnny kembali mengangkat kepalanya dan melihat Jeha sudah berdiri di sampingnya, "Tuan harus ada yang jaga dan saya siap menjaga tuan."
Johnny menoleh sebentar dan kembali menatap ke depan saat gadis itu juga menoleh ke arahnya. "Sebaiknya kamu di dalam."
"Terus tuan sendiri?"
Johnny mengangukkan kepalanya sebagai jawaban dan Jeha juga menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Nggak mau, saya bekerja di sini ya untuk menjaga tuan."
Johnny hanya terdiam dan tidak menjawab Jeha, dia lebih memilih untuk melihat langit daripada harus menanggapi apa yang gadis itu katakan. Karena Johnny tau walau Jeha baru bekerja beberapa minggu di rumahnya, dia tau kalau sifat Jeha sangat keras kepala.
"Ahh cantiknyaa." Jeha berseru dan tersenyum memandang langit yang indah itu, seruan Jeha membuat Johnny agak sedikit terkejut dan langsung menoleh ke gadis itu.
"Cantik kan?"
Jeha yang merasa dirinya diperhatikan langsung bertanya kepada Johnny namun tatapannya masih fokus kepada langit yang cantik itu, Johnny yang mendengar itu langsung mengangguk dan ikut kembali melihat langit.
"Sejak kapan tuan suka lihat langit kayak gini?"
Jeha menoleh ke lawan bicaranya dan melihat Johnny yang tidak bisa melepas pandangannya dari langit yang sangat cantik itu, selama beberapa detik dia tidak menjawab membuat Jeha jadi salah tingkah.
Gadis itu mengulum bibirnya merasa bahwa dirinya terlalu banyak bertanya sehingga Johnny mungkin saja merasa tidak nyaman.
"Sejak saya mengenal Luna."
Jeha langsung terdiam dan kemudian melihat Johnny yang sudah tersenyum sambil memandang langit, Jeha terdiam melihat Johnny tersenyum untuk pertama kalinya, dan pemandangan itu rasanya lebih indah daripada langit hari ini.
Walaupun penampilan Johnny saat ini sangat kacau macam seperti bigfoot, tapi itu tidak menutupi ketampanannya, apalagi saat dia sedang tersenyum seperti ini.
"Saya rasa hidup saya mulai berwarna saat Luna datang."
Jeha langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar itu, dia langsung menyadarkan dirinya karena sudah terlalu lama memperhatikan wajah Johnny.
"Nona Luna?" Jeha kembali masuk ke dalam pembahasan setelah pikirannya kemana-mana tadi, dia juga ikut melihat langit kembali.
Johnny mengangguk sebagai jawaban.
"Saya tidak tau di mana dia sekarang, tapi rasanya dia sangat dekat dengan saya."
"Mungkin itu namanya cinta."
Johnny menoleh dan melihat Jeha yang juga ikut menoleh ke arahnya, "Kata orang, cinta membenarkan semuanya, saat orang bilang kalau itu adalah hal yang salah tapi karena kita terlalu cinta bisa aja kita buta dan bilang kalau itu benar, kita semua nggak tau di mana nona Luna berada, semua orang bahkan mengira nona Luna sudah pergi, tapi tuan benar-benar menyangkal itu dan bilang kalau nona Luna masih hidup,"
"Tuan nggak salah karena udah berpikir seperti itu, kalau aku jadi tuan mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."
Johnny terdiam melihat Jeha yang entah kenapa sangat mengagumkan di matanya, baru kali ini dia melihat ada seseorang yang membelanya dan juga mengerti apa yang dia maksud, padahal Jeha belum lama bekerja di sini.
"Tuan hebat, tuan bertahan dalam waktu yang lama, mungkin kalau aku menimpa dan mengalami hal yang sama aku nggak yakin aku akan bertahan."
"Siapa nama kamu?"
Jeha langsung tersentak saat tiba-tiba Johnny menatapnya tajam dan mengatakan siapa namanya, dia terdiam beberapa detik sambil menatap mata Johnny yang baru dia sadari kalau laki-laki itu memiliki bola mata berwarna hazel dan itu sangat cantik.
"Siapa?"
Jeha kembali tersadar saat dia lagi-lagi tidak fokus. "J-JEHA!"
Karena gugup, dia mengatakan itu dengan suara lantang membuat Johnny agak sedikit terkejut dan Jeha langsung meringis, dia sudah membuat kesalahpahaman dan membuat mereka menjadi canggung dengan suara lantangnya tadi.
"Maaf, maafkan saya." Kata Jeha sambil membungkukkan badannya berkali-kali, merasa sangat bodoh karena tadi mengucapkanya dengan sangat lantang.
Jeha mengulum bibirnya dan melihat Johnny yang sedang menahan tawanya melihat ekspresi Jeha yang lucu ketika gadis itu sedang gugup. Jeha mengigit pelan bibirnya dan menjadi gelisah saat itu juga, takut kalau Johnny akan marah karena tadi dia terkesan membentak laki-laki itu.
Johnny langsung tertawa saat dia sudah tidak tahan menahan rasa geli di dalam batinnya saat melihat wajah Jeha yang benar-benar sangat lucu. Tawa Johnny membuat Jeha terdiam dan langsung melihat laki-laki itu.
"Hahahaha, lucu sekali."
Johnny tertawa terbahak dan itu membuat Jeha melongo, ini pertama kalinya dia melihat Johnny tertawa, bukan. Ini pertama kalinya Johnny tertawa sejak kejadian itu dan depresi melandanya.
Bukannya ikut tertawa Jeha malah melongo dan melihat Johnny yang sepertinya sangat geli, dia tertawa tanpa henti dan baru berhenti saat menyadari kalau Jeha menatapnya dengan tatapan tak biasa.
"Ma-maaf." Kata Johnny dengan nada bicara yang berubah menjadi dingin, dia merasa bodoh karena sudah tertawa dan yang lebih membuatnya malu Jeha tidak ikut tertawa dan memandangnya dengan tatapan aneh.
"Sa-saya masuk dulu."
Johnny langsung berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah, Jeha yang kaget melihat Johnny yang langsung kabur setelah tertawa terbahak-bahak tadi langsung berlari kecil mengikuti Johnny.
"Tunggu saya."
Jeha tersenyum lebar dan melangkah mengikuti Johnny yang sudah masuk ke dalam rumahnya, dia merasa senang karena melihat laki-laki itu tertawa dan tersenyum untuk pertama kalinya.
Sedangkan, di kejauhan ada seorang gadis yang mengintai dari jauh dan melihat Jeha serta Johnny yang sedang masuk ke dalam rumah, gadis itu terdiam dia merasa sangat sakit saat melihat Johnny tertawa seperti tadi, dan dia merasa lebih sakit lagi bahwa kenyataanya gadis itu yang membuat Johnny tertawa.
Gadis itu meneguk salivanya dan langsung berbalik meninggalkan sekitar rumah Johnny dan melangkah semakin jauh.
***
Jeha mencuci mukanya yang sangat berminyak dan itu membuatnya tidak nyaman, maka dari itu dia langsung pergi ke toilet dan mencuci mukanya dengan sabun.
"Di mana Jeha?"
Jeha mendengar suara Hani yang sedang mencarinya, buru-buru dia membilas wajahnya dengan air dan kemudian mengelap wajahnya dengan handuk kering dan cepat-cepat keluar dari kamar mandi.
Saat dia keluar dari kamar mandi Hani sudah berdiri di hadapannya dan melihat Jeha dengan senyuman yang merekah di bibirnya.
"Siang bu." Jeha menyapa dan Hani langsung memeluk tubuh Jeha secara tiba-tiba dan hal iyu tentu saja membuat Jeha terkejut, dia tidak tau kalau akan mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Hani.
Setelah beberapa detik Hani melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Jeha sambil menatap gadis itu dengan tatapan senang, bahkan matanya sekarang berkaca-kaca.
"Terimakasih." Kata Hani yang Jeha sama sekali tidak mengerti apa maksud Hani mengatakan itu.
Beliau mengusap wajahnya pelan dan meneteskan air matanya kembali, Jeha langsung panik sendiri, dirinya yang membuat Hani menangis seperti ini, pasti ada sesuatu yang tidak beres.
"Bu, ada apa?" Tanya Jeha hati-hati melihat Hani yang mulai terisak dan Jeha menjadi tambah bingung karenanya.
***
"Terimakasih sudah membuat Johnny tersenyum lagi, ini pertama kalinya saya melihat ah, saya mendengar dari para pelayan kalau Johnny tertawa karena kamu, sayang sekali saya datang telat jadi nggak bisa nyaksiin semua itu."
Jeha terdiam ternyata itu alasan mengapa tadi dia dipeluk oleh Hani, ternyata karena dirinya sudah membuat Johnny tertawa.
Jeha menggelengkan kepalanya pelan, "Johnny tertawa bukan karena saya, tapi emang mungkin ada sesuatu yang lucu."
Hani mengangkat senyumnya dan kemudian menarik tangan kanan Jeha dan mengenggamnya dengan kedua tangan, "Semenjak kamu ada di sini, dia sudah mulai berubah."
Jeha terkejut dan melihat genggaman tangan Hani. Dia mengangkat kepalanya melihat Hani yang sekarang masih tersenyum.
"Terimakasih sudah hadir, saya harus berterimakasih sama Axel tentang ini, Axel yang membawa kamu ke sini." Kata Hani lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan Jeha dan melepaskan genggaman tangannya.
"Permisi."
Mereka berdua menoleh ke sumber suara dan melihat Axel dengan seorang pria paruh baya datang dari pintu.
"Tan!!" Hani langsung berdiri senang dan menghampiri pria yang ada di sebelah Axel.
Jeha jadi ikut berdiri dan melihat Hani yang memeluk sekilas pria paruh baya itu. Pria itu mungkin berusia lima puluh tahun, tapi masih terlihat jelas ketampanan yang tercetak di wajahnya.
"Ini siapa?"
Jeha langsung membungkukkan tubuhnya memberi salam, "Saya Jeha, anggota keamanan baru." Kata Jeha dan Tan tersenyum sambil mengangguk.
"Saya Tan, paman Johnny."
Jeha ikut tersenyum dan mengangguk paham, dia melihat Axel yang mengisyaratkan dirinya untuk pergi mengikuti dirinya. Jeha mengangguk dan kemudian segera pergi bersama Axel setelah laki-laki itu melangkah meninggalkan Hani dan Tan.
"Axel."
"Kerja bagus Jeha."
"A-apa?"
Axel tersenyum dan kemudian menepuk pundak Jeha pelan. "Semua orang di sini udah tau kalau kamu yang membuat tuan tertawa lagi."
"Tuan hanya tertawa."
"Kamu tau kan, beliau sedang mengalami masa sulitnya, jangankan tertawa tersenyum aja tidak saat depresi datang, tuan benar-benar menutup diri dari semuanya dan menjadi pemurung, tapi kamu membuat dia tertawa, itu sudah seperti sejarah sendiri di rumah ini."
Jeha terdiam mendengar perkataan Axel yang menurutnya agak berlebihan, Johnny tertawa bukan karena dirinya tapi karena memang dia menemukan sesuatu yang lucu.
"Mau makan?" Tanya Axel dan Jeha menggeleng.
"Aku udah makan."
"Sayang sekali."
"Ehh?"
"Aku mau traktir daging."
"Aduh aku jadi lapar lagi."
Jeha pura-pura mengeluh sambil mengelus perutnya, hal itu membuat Axel tertawa dan langsung menarik tangan Jeha untuk segera pergi dari rumah itu.
Mereka akan mengunjungi restoran yang menyajikan daging terbaik yang pernah ada.
Sedangkan, laki-laki yang memperhatikan mereka hanya menatap Axel dengan tatapan sebal dan juga menatap Jeha dengan tatapan sebal.
"Johnny."
Laki-laki itu langsung menoleh ke daun pintu dan melihat seorang pria yang sudah lama tidak dia temui, yaitu Tan, paman kesayangannya.
"Oom."
Tan tersenyum lebar dan kemudian melangkah masuk ke dalam kamar, dia langsung memeluk Johnny setelah dirinya berada di hadapan Johnny.
"Bagaimana kabar kamu?"
Johnny balas memeluk dan mengangguk, "Baik, sangat baik." Katanya dan kemudian melepaskan pelukan mereka.
Tan terdiam sebentar, merasakan ada yang aneh pada Johnny, beliau langsung berbalik dan melihat Hani yang berdiri di dekat pintu meminta jawaban.
"Semua karena wanita tadi, Johnny jadi lebih sedikit berubah." Kata Hani dan Tan langsung tersenyum lebar.
"Keponakan oom sudah kembali?"
Johnny hanya terdiam dan menundukkan kepalanya, pikirannya sedari tadi tidak bisa fokus, dia terus memikirkan daging.
"Sebaiknya kita makan, hmm ma-"
"Aku mau makan daging."
Tan dan Hani saling bertatapan setelah Johnny dengan lantang mengatakan bahwa dia ingin memakan daging. Beberapa detik kemudian Tan langsung tertawa dan merangkul Johnny, "Baik, ayo kita makan daging!" Serunya dan mengajak Johnny segera keluar dari kamarnya.
***
Johnny menikmati daging di meja makan rumahnya, padahal yang dia maksud adalah pergi ke restoran daging dan bertemu dengan Jeha, tapi ibunya dan Tan tidak memahami apa yang Johnny inginkan.
Dia melihat ibunya mulai memotong-motong daging menjadi kecil dan kemudian membalikkan daging-daging itu, kepulan asap tipis mulai bermunculan disusul dengan harum daging yang membuat siapapun akan merasa lapar.
"Kami pulang." Johnny langsung menoleh setelah mendengar suara Jeha yang sudah tidak asing di telinganya, dia langsunh beranjak dari duduknya dan sudah tidak peduli dengan harum dagin itu yang membuatnya lapar.
"Johnny mau kemana?"
Hani melihat anaknya malah pergi dari meja makan dan meninggalkan mereka, sedangkan Johnny berjalan dan melihat Jeha dengan Axel yang berada di ruang tengah sambil mengobrol.
"Jeha."
Gadis itu langsung menoleh melihat Johnny yang tadi memanggilnya, Jeha menatap Johnny dam mengangkat alisnya bingung.
"Boleh bicara sebentar?"
Johnny melirik Axel dan kemudian segera melirik Jeha yang juga sama bingungnya, gadis itu mengangguk dan kemudian menoleh ke arah Axel, "Aku pergi dulu." Kata Axel dengan senyuman membuat Johnny menghela nafas sebal.
Jeha mengangguk dan membalas senyuman Axel dengan senyuman lebar, hingga laki-laki itu segera melangkah pergi dari hadapan Johnny dan Jeha.
"Ada apa?"
Johnny langsung menoleh melihat Jeha saat gadis itu mulai membuka suara. Johnny mengusap tengkuknya karena dia bingung harus mulai dari mana, dia tidak merangkai kata apapun untuk berbasa-basi kepada Jeha.
"Jadi temanku ya." Kata Johnny pada akhirnya setelah beberapa detik dia terdiam.
Jeha mengerjapkan matanya dua kali melihat Johnny tidak percaya, barusan laki-laki itu bilang kalau dia mau Jeha menjadi temannya?
"Ma-maksud tuan?"
"Aku ngerasa kalau aku nyaman dan kamu pun banyak membantu, maka dari itu aku mengajak kamu jadi temanku, bagaimana?"
Jeha terdiam saat Johnny bahkan merubah kata saya menjadi aku, Jeha mengigit bibirnya bingung, apa yang harus dia jawab karena jujur dirinya tidak merasa kalau mereka sudah sedekat itu bahkan menjadi teman.
"Bagaimana?"
Johnny melihat wajah Jeha yang tampak bingung, gadis itu perlahan menatap Johnny dan secara perlahan bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman yang cantik, dia mengangguk.
"Baik, Johnny." Katanya dengan senyuman dan itu membuat d**a Johnny sedikit bergetar karena gadis itu tidak memanggilnya dengan embel-embel tuan seperti biasanya.