Jeha masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai, ini sudah pukul sepuluh malam dan dia baru pulang bekerja, setiap hari dia selalu pulang jam segini dan itu membuat Jeha lelah, karena gadis itu harus memulai kerjanya saat jam enam pagi dan pulang jam sepuluh malam.
Jeha langsung melompat ke atas kasurnya dan merentangkan tangannya, ia merengangkan ototnya yang terasa kaku dan memejamkan matanya perlahan merasakan rasa sakit yang ada di punggungnya.
Jeha kembali membuka matanya saat mendengar notif yang masuk ke dalam ponselnya, ia menoleh ke samping karena tas nya ia letakkan asal di atas kasur. Dengan cepat Jeha mengambil tasnya dan membuka tas itu, mengambil ponsel lalu mengecek siapa yang mengiriminya pesan.
Ternyata ada satu pesan dari Sesi.
Sesii : Apakabar Jaheeee
Jeha tersenyum melihat satu pesan teks yang baru saja dikirim oleh Sesi, buru-buru dia membalas pesan itu sebelum gadis itu pergi tidur.
Jeha : Baikkk, lagi apa Si?
Terkirim, Jeha tersenyum dan menunggu jawaban dari Sesi sesegera mungkin, karena ada banyak sekali hal yang ingin dia ceritakan pada gadis itu. Jeha menunggu balasan dari Sesi yang tidak kunjung datang.
Ia menghela nafas dan mengunci ponselnya, Sesi pasti sudah tertidur, kalau dia sudah tidak membalas pesan darinya pasti sekarang gadis itu sedang terlegetak di atas kasur lengkap memakai pakaian kerja yang belum dia ganti dan terlelap sepanjang malam, memang aneh tapi itulah Sesi.
Sudah bertahun-tahun, bahkan hampir sepuluh tahun mereka bersahabat dan tentu saja Jeha sangat tau bagaimana sifat dan tabiat Sesi yang bisa dibilang cukup buruk, ya itu salah satunya dia akan lupa mengganti baju dan terlelap lengkap dengan baju kerjanya dan terkadang dia tidak melepas heels yang dia pakai saat itu.
Jeha langsung beranjak dari kasur dan melangkah menuju kursi yang sudah berhadapan dengan meja belajar, dia menarik kursi itu dan kemudian menyalakan lampu belajar membuat kamarnya sedikit ada penerangan, dia langsung duduk di sana dan memperhatikan tumpukan buku-buku yang ada di atas mejanya.
"Jadi temanku, ya?"
Kata-kata Johnny tadi masih terngiang di kepalanya, sebenarnya dia masih tidak mengerti kenapa Johnny tiba-tiba mengajaknya berteman, entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu, bahkan tadi Jeha sempat kaget dan mengira kalau Johnny kerasukan setan, tapi nyatanya laki-laki itu dalam keadaan sadar saat mengajaknya berteman.
"Johnny, Johnny, Johnny, Jo -"
Jeha masih berlatih memanggil laki-laki itu tanpa menggunakan tuan, karena bagaimanapun dia sudah terbiasa dengan panggilan tuan kepadan Johnny, namun sepertinya sekarang dia harus memanggil nama laki-laki itu hanya namanya saja, tanpa embel-embel tuan karena mereka sudah berteman, tapi bagaimanapun rasanya sangat aneh.
Ternyata bukan hanya Jeha yang merasakan itu, tapi Johnny juga merasakan hal yang sama, dia bahkan tidak bisa tertidur karena memikirkan hal tadi.
Ini pertama kalinya dia membuka diri kepada seseorang, pertama kalinya dia mempercayakan orang dan bahkan menjadikannya sebagai teman, padahal sebelumnya dia sama sekali tidak mengubris orang-orang yang mau dekat dengannya, selama ini bahkan dia menghindari orang-orang yang peduli padanya.
Namun, gadis itu membuat Johnny kembali merasakan adanya harapan, harapan untuk sembuh dan keluar dari masalah ini. Sejujurnya Johnny sadar kalau semua yang dia lakukan selama ini memang tidak baik, termasuk menjauhi dirinya dari banyak orang dan akhirnya dia bergelut dengan pikirannya sendiri dan terpuruk sampai saat ini.
Tapi, entah kenapa Jeha membawakan harapan untuknya, gadis itu datang dan Johnny dapat merasakan ada sesuatu yang hangat di dalam hati gadis itu, mungkin karena Jeha adalah satu-satunya orang yang mempercayai bahwa Luna masih hidup dan berada di pihaknya, maka dari itu Johnny menganggap bahwa Jeha adalah teman yang pas untuknya.
***
Keesokan harinya Jeha melangkah menuju rumah Johnny, dirinya sengaja tidak meminta abang ojek tadi turun tepat di depan rumah Johnny, karena dia mau jalan kaki sebentar untuk menyehatkan badan, dan juga agak sedikit menghindari Johnny, karena dia tidak tau harus berbuat apa saat bertemu dengan laki-laki itu nanti, maka dari itu Jeha memilih mengulur waktu dengan jalan kaki.
Dia bersenandung kecil sambil melangkah dengan langkah riang, bahkan sesekali dia melihat sekitar dan tersenyum lebar menikmati angin sejuk yang menerpa wajahnya, namun Jeha langsung menghentikan langkahnya ketika merasakan ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
Jeha menoleh cepat ke belakang dan mendapati tidak ada apa-apa di sana, dia meringis pelan mungkin tadi itu hanya bayang-bayangnya saja, Jeha kembali menatap ke depan dan melangkah dengan langakh pelan, dia masih mengetes apakah benar ada seseorang yang mengikutinya.
Jeha kembali merasakan ada seseorang yang mengikutinya dan entah kenapa langkah orang itu semakin dekat kepadanya, Jeha yang merasakan itu sengaja memperlambat langkahnya dan dia mengambil ancang-ancang.
Satu, dua, ti-
BUGH!
Jeha memutar kakinya ke belakang menendang wajah seseorang itu dengan kakinya yang panjang sambil mengepalkan kedua tangannya di depan d**a, Jeha mengerjapkan matanya ketika melihat orang itu meringis kesakitan dan memegang hidungnya yang terkena tendangan Jeha.
"A-Axel?"
Jeha langsung menurunkan kakinya dan mengerjapkan matanya dua kali melihat Axel yang sedang meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya, sedetik kemudian Jeha baru sadar kalau yang ditendang dirinya tadi adalah Axel.
Gadis itu menutup mulutnya tak percaya dan segera melangkah hati-hati mendekati Axel, "Axel, aku minta maaf."
Laki-laki itu masih meringis dan mengusap hidungnya yang terasa gatal, seperti ada sesuatu yang turun dari sana.
"Da-darah!"
Axel mendengar Jeha beteriak darah dan langsung memeriksa hidungnya dan melihat darah di jari telunjuknya, dan benar itu ternyata adalah darah.
***
Johnny menunggu di halaman rumahnya sambil menikmati langit yang indah di pagi hari, sebenarnya dia juga sedang menunggu Jeha yang biasanya akan datang jam segini, tapi anehnya kenapa gadis itu datangnya lama sekali, tidak seperti biasanya.
Johnny melihat seseorang yang dia kenal membuka gerbang rumahnya, tangan kanan Johnny terangkat untuk menyapa orang itu namun tertahan saat melihat ada orang lain di belakang Jeha.
"Axel?" Johnny bergumam melihat ada sesuatu yang aneh di wajah Axel, dia mencari tau apa itu dan kemudian langsung menyadari kalau hidung Axel sedang disumpal dengan tissue.
"Pagi tuan." Sapa Axel setelah dia berdiri di hadapan Johnny yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Hi-"
"Aah, ini saya mimisan." Jawab Axel padahal Johnny belum menanyakan apa-apa, dia hanya mengangguk dan kemudian melihat Jeha yang berdiri di samping Axel, "Halo teman!" Sapanya dengan senyuman lebar yang tentunya dibuat secara paksa.
Johnny tidak tau bagaimana dia akan mengekspresikan ini kepada Jeha dan saat dia mencoba malah wajah kikuk dengan senyuma lebar seperti orang bodoh yang keluar, terlihat gadis itu juga memasang wajah kikuk.
"Ha-halo teman." katanya gugup, bukan gugup tapi lebih terlihat canggung.
Axel yang ada di sana, diantara mereka hanya melihat sapaan canggung mereka satu sama lain sambil menahan senyum, dia melirik Jeha yang sekarang juga sedang meliriknya mengkode meminta tolong membawa gadis itu pergi dari hadapan Johnny.
Axel menghela nafas dan melihat Johnny, "Maaf tuan tapi Jeha harus bertanggung jawab dengan ini." Axel menunjuk hidungnya yang sekarang sedang disumpal dengan tissue, "Jadi saya bawa pergi Jeha dulu tuan." Kata Axel ramah dan kemudian segera menarik tangan Jeha lembut masuk ke dalam rumah besar itu.
Johnny melihat mereka berdua dan kemudian terkekeh pelan. Jadi orang yang membuat hidung Axel menjadi seperti itu adalah Jeha? Ternyata gadis itu bisa melawan Axel yang dia pikir dialah orang yang paling terkuat di timnya.
***
"Bahan makanan abis, dan tidak ada bisa beli bahan bulanan sekarang, Biya baru aja pulang karena jatuh dari kamar mandi."
Axel masuk ke dalam ruang tengah dan tak sengaja mendengar percakapan Fitri dengan Hani yang kebetulan ada di sana. "Ah, Axel."
"Ada apa bu?"
Hani sedikit terkejut saat melihat hidung Axel yang sudah disumpal dengan tissue dan di tissue itu ada sedikit noda darah, "Kamu kenapa Axel?"
Laki-laki itu melepas tissue yang sudah menyumpal hidungnya dan menunduk sambil mengenggam kedua sumpalan tissue itu kuat-kuat, "Saya tadi jatuh." Kata Axel berbohong dan Hani hanya meringis ikut merasakan betapa sakitnya hidung Axel sampai mengeluarkan darah seperti itu.
"Aduh, mbak Biya juga tadi jatuh makanya gaada yang bisa beli bahan makanan bulanan, gimana ini." Mbak Fitri mengeluh membuat Axel merasa terpanggil untuk membantunya.
"Biar saya aja yang beli bahan makanan."
Axel menawarkan diri dan Hani serta Fitri melihat Axel yang sudah tersenyum melihat Hani dan Fitri.
"Kamu serius? Kita bakal berterimakasih banget sama kamu Axel."
Laki-laki itu mengangguk dan terdengar langkah kaki yang mendekat, Jeha melangkah mendekati mereka dan berdiri tepat di belakang Axel.
Hani langsung tersenyum saat Jeha datang. "Bagaimana kalau Jeha temani Axel?"
Jeha yang baru datang jelas bingung apa yang dimaksud Hani, kenapa dia harus menemani Axel.
"Ma-maksudnya, bu?"
***
Dan di sinilah mereka berada, di pasar swayalan yang lumayan besar untuk membeli beberapa bahan makanan bulanan yang sudah ditulis dalam catatan kecil oleh Fitri untuk membantu mereka memudahkan apa yang akan dibeli supaya tidak ada yang terlupa.
"Jadi bawang putih," Jeha menyebutkan satu-satu bahan makanan sedangkan Axel yang mendorong troli sambil mengambil apa yang sudah disebutkan oleh Jeha tadi.
"Nanti d**a ayam, ayam utuh, daging sapi, dan kulit ay -"
"Jeha maaf bisa pelan-pelan?"
Jeha langsung terdiam dan melihat Axel yang menggaruk tengkuknya bingung melihat ada banyak sekali macam jenis daging di sana.
"I-ini yang mana?"
Jeha yang melihat Axel kebingungan langsung membantu laki-laki itu mengambil semua yang sudah dia sebutkan tadi dan memasukkannya ke dalam troli.
"Makasih Jeha."
"Sama-sama."
Jeha kembali berjalan, kali ini dia mensejajarkan langkahnya dengan Axel. Hari ini, dia merasa sangat bahagia karena bisa berbelanja dengan Axel, momen ini sangat-sangat langka bagi dirinya dan juga Axel.
"Apalagi habis ini Jeha?"
"Kopi bubuk, dan beberapa minuman kaleng."
Axel mengangguk, kalau itu dia sudah tau itu jenis apa.
"Maaf ya sudah merepotkan kamu, ini pertama kalinya aku ikut belanja seperti ini, dan melihat ada banyak banget daging daging yang terpajang di freezer tadi."
"Ini pertama kali?"
Axel mengangguk.
"Di mata aku, itu semua ayam dan aku nggak tau yang mana bagian-bagian nya."
Jeha yang mendengar itu langsung terkekeh dan melihat Axel yang juga ikut tertawa pelan.
"Kamu dengan tuan Johnny berteman?"
Jeha langsung termenung setelah mendengar apa yang Axel katakan, sedangkan laki-laki itu menunggu jawaban dari Jeha yang tak kunjung keluar.
"Sebenarnya, rasa aneh menganggap tuan Johnny sebagai teman, karena memang dasarnya aku bawahan dan bekerja untuk tuan, dan tiba-tiba menjadi teman terus harus panggil nama, aku rasa itu cukup membuat canggung."
Axel memperlambat gerakan trolinya dan melihat Jeha yang memasang wajahnya tak enak.
"Tapi Je, menurutku akan lebih baik kalau kamu memang berteman dengan tuan, karena itu bukan suatu hal yang canggung,"
"Jujur, ini pertama kali setelah bertahun-tahun tuan tersenyum dan perlahan berubah menjadi lebih baik, semua itu karena adanya kamu yang datang, kamu tau kan Je, kalau tuan mengalami depresi dan butuh teman untuk menumpahkan segala ceritanya dan mungkin dengan kamu menjadi temannya tuan bisa sembuh dan menjadi seperti dulu,"
Jeha mengangkat kepalanya dan melihat Axel yang sibuk mendorong troli sambil menatap ke depan.
"Aku yakin semua orang rumah juga akan senang kalau kamu bersedia menjadi teman tuan."
Axel mengakhiri perkataannya dengan senyuman dan melirik Jeha yang sepertinya sedang memikirkan perkataannya tadi.
Axel menghela nafas senang dan langsung tersenyum. "Ayo kita bayar."
***
Saat mereka keluar dari pasar swalayan itu rupanya sudah turun hujan sangat deras, bahkan mereka terjebak di depan swalayan karena tidak membawa payung untuk pergi ke parkiran.
"Bahaya."
Jeha melihat raut wajah Axel yang terlihat khawatir, entah apa yang ada dipikiran Axel sampai dia berucap seperti itu.
"Bahaya kenapa?"
"Tuan."
"Tuan kenapa?"
Axel mengusap wajahnya gusar, dia melihat Jeha cemas, "Tuan akan tak tenang kalau hujan, tuan takut hujan dan bisa jadi memorinya kelamnya teringat lagi, dan itu sangat bahaya untuknya."
Jeha yang mendengar itu langsung terdiam dan melihat Axel, dia masih belum paham dengan apa yang Axel jelaskan.
"Saat hujan beberapa minggu lalu, tuan bahkan hampir memutuskan urat jadinya karena teringat bayangan akan Luna dan kecelakaan itu, sebenarnya kecelakaan itu terjadi saat hujan turun."
Jeha langsung menutup mulutnya tak percaya setelah mendengar cerita Axel, dia melihat laki-laki itu cemas dan melihat hujan yang turun dengan lebat kemudian, "Nggak ada pilihan lain."
Jeha mengenggam tangan Axel, dan kemudian menarik laki-laki itu menerobos hujan, Axel ikut berlari karena terkejut tiba-tiba Jeha menariknya sangat kencang dan menerobos hujan seperti ini.
Johnny yang berada di dalam kamarnya meringkuk di pinggir kasur, tubuhnya begetar karena takut dan dia memeluk lututnya ketakutan. Sekelibat bayangan mulai muncul dan membuat Johnny sangat takut dengan dirinya sendiri.
Saat memejamkan matanya dia melihat dirinya yang sedang berada di dalam mobil dan melihat Luna yang juga sama takutnya dengan dirinya saat itu, karena itu Johnny membuka matanya dan tidak berani memejamkan matanya karena terlalu takut bayangan itu akan kembali.
"Aaa!" Johnny beteriak saat suara petir menyambar, dia mengingat Luna yang pingsan di sampingnya dengan darah yang terus bercucuran dari kepalanya, itu adalah terakhir kali dia melihat Luna sebelum gadis itu menghilang.
Air mata Johnny sudah membasahi pipinya dan dadanya begerak naik turun karena terisak, dia terlalu sakit hati untuk membayangkan semua yang terjadi pada dirinya dan Luna hari itu.
"Johnny!"
Hingga terdengar suara seorang gadis yang dia kenal, Johnny mengangkat kepalanya dan melihat Jeha yang melangkah mendekat ke arahnya dan langsung memeluk Johnny dengan erat.
Karena merasa ada sandaran yang menghampiri dirinya Johnny balas memeluk Jeha erat, bahkan sangat erat lalu mennagis di pelukan gadis itu, dia menangis hebat dan Jeha jadi ingin mennagis juga saat mendengarnya.
Jeha mengusap punggung Johnny pelan, Jeha datang dengan baju yang basah jadi dia berniat untuk melepas pelukan itu namun Johnny segera menahan tubuhnya dan semakin memeluk Jeha semakin erat.
"Jangan pergi." Kata Johnny sambil menangis dan kemudian menenggelamkan wajahnya di bahu Jeha.
Jeha terdiam dan kembali memeluk Johnny, membalasnya dengan erat sambil mengusap punggung Johnny, berharap kalau laki-laki itu akan baik-baik aja. Jeha sudah berjanji dengan dirinya sendiri, kalau dia akan menjadi teman Johnny.