"Johnny, aku baik-baik saja. Kamu jangan khawatir aku hidup dengan baik selama ini, kamu tau itu kan? Jadi tolong jangan khawatirin aku dan lupakan aku, kamu harus hidup dengan baik."
"Kamu mau kemana?"
Seorang gadis dengan gaun hitam itu tersenyum dan perlahan mendekat kearah Johnny, "Pergi." Katanya dengan lembut.
"Pergi ke mana?"
Gadis itu tersenyum semakin lebar dan kemudian berjalan mundur menjauhi Johnny, hal itu membuat Johnny takut dan mendekati gadis itu perlahan, namun sayang. Gadis itu menghilang tepat di depan matanya.
"Lunaa?"
Johnny memanggil dan tidak ada siapa-siapa, dan hal itu sungguh membuatnya menjadi sangat frustasi. "Luna!!!" Teriaknya terus menerus, dan tidak ada siapa-siapa di sana, Johnny menangis kemudian terduduk di ruang hampa.
"Luna!!"
Johnny langsung terbangun dari tidurnya dan membuka matanya lebar-lebar, dia terduduk di atas ranjang lalu mengatur nafasnya yang memburu.
"Johnny."
Hani langsung membuka pintu kamar anaknya ketika mendengar suara jeritan dari dalam, dia melihat Johnny yang terduduk di atas ranjangnya sambil menatap kosong ke depan, lalu dengan perlahan dia menoleh dan melihat Hani.
"Mama." Katanya lirih, bahkan hampir tidak terdengar.
Hani merasa seluruh tubuhnya lemas, dia langsung menghampiri Johnny dan kemudian memeluk anak satu-satunya itu, "Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Johnny membalas pelukan sang ibu dan kemudian langsung menangis di dalam dekapannya, "Luna, aku mimpi Luna, dia menghilang di dalam mimpi aku ma."
"Itu cuma bunga tidur sayang, itu cuma mimpi, jangan takut ya."
Johnny mengatur nafasnya yang tak beraturan dan menangis terisak di dekapan ibunya, hatinya sangat sedih dan terus meminta Luna untuk kembali, karena hanya dia satu-satunya gadis yang mampu membuat Johnny jatuh cinta sedalam ini.
***
Axel sedang mengintai diam-diam seorang gadis yang dia cari selama ini. Berkat semua usahanya akhirnya dia bisa menemukan di mana gadis superhero itu berada.
Gadis itu sedang membeli minuman di sebuah kedai sekarang, dan Axel tentunya menunggu di luar kedai itu sambil terus mengintai gadis yang dia tidak tau namanya itu.
Drrttt... Drtt..
Axel langsung mencari ponselnya yang berada di saku saat benda itu bergetar, dia berhasil menemukan ponselnya dan langsung mengangkat telepon dari rekan kerjanya yang tak lain adalah Brian.
"Halo? Ada apa?" Kata Axel, tatapannya masih tertuju pada kedai itu.
"Nggak kesini? Kita mau ditraktir lhoo."
"Engga, lagi banyak urusan, maaf udah dulu." Katanya buru-buru lalu segera mematikan teleponnya saat gadis itu keluar dari kedai tadi.
Axel terus mengikuti dari belakang dan melihat gadis itu, takut kalau dia akan kehilangan jejaknya.
Sedangkan, Jeha merasa ada seseorang yang terus mengikuti dirinya pergi, dia bisa merasakan itu dan sesekali menoleh ke belakang.
Dia sengaja berhenti di penyebrang jalan dan melihat seorang laki-laki ikut berhenti tiba-tiba, hal itu membuatnya yakin kalau orang itu mengikuti dirinya sedari tadi.
"Ck, mas!" Jeha akhirnya menegur laki-laki itu dan melihatnya dengan tatapan tak suka.
"A-apa?"
"Mas ngikutin saya kan?"
"H-hah?"
"Jujur atau saya teriak?"
"Ah- iya iya!"
Jeha tersenyum kecil saat mendapat pengakuan dari laki-laki itu. Kalau dilihat lihat laki-laki ini cukup tampan dan dari wajahnya tidak ada tanda bahwa dia akan melakukan tindakan kriminal.
Tunggu, apakah laki-laki ini suka kepadanya? Jeha mulai tersipu malu.
"Ma-maaf tapi boleh minta nomor telepon?"
"Apa nih pake minta nomor telepon?" Jeha membatin dan masih menunduk malu.
"Boleh."
Laki-laki di hadapannya tersenyum lebar dan kemudian mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya kepada Jeha.
Jeha mengambil ponsel itu dan mulai menekan beberapa angka dan memberikan nomor teleponnya kepada laki-laki itu.
"Terimakasih, nama saya Axel, mohon maaf bisa bicara sebentar?"
"Ya?"
"Jangan di sini, kita bisa bicara di kafe seberang sana?" Kata Axel sambil menunjuk ke kafe yang berada di seberang jalan, Jeha ikut melihat ke arah kafe itu dan mengangguk.
Benarkah laki-laki ini menyukai Jeha? Bahkan dia mengajaknya ke kafe untuk membahas sesuatu yang terkesan rahasia.
***
"HAHHH?!!"
Jeha terkejut setengah mati saat tau kalau dia dibawa ke kafe ini bukan untuk dijadikan pacar tapi diminta untuk menjadi bodyguard untuk seseorang.
"Saya melihat kamu melawan pencuri beberapa hari lalu, kamu ingat kan? Saya yang memanggil polisi karena kamu suruh."
Jeha terdiam dan kemudian mengingat kejadian itu, dia melihat Axel dan benar kalau itu adalah laki-laki yang ada di tempat kejadian bersamanya beberapa hari lalu.
"Ta-tapi kenapa saya!"
"Karena kamu hebat, ketangkasan kamu, kecepatan, keahlian, wahh."
Jeha sama sekali tidak menduga akan menjadi seperti ini, dia menatap Axel heran.
"Saya terlalu cantik buat jadi bodyguard kamu tau!" Kata Jeha dengan percaya diri dan Axel melihat gadis itu dengan tatapan tak yakin.
"Ah, sebentar." Axel mengeluarkan ponselnya dan kemudian menyerahkan ponselnya kepada Jeha.
Di layar ponsel itu menunjukkan seorang laki-laki dengan rupa yang sangat menyeramkan, rambutnya gondrong, janggutnya panjang.
"Ini adalah orang yang harus kamu jaga nanti."
Jeha langsung ternganga.
"Bu-bukankah dengan penampilan seperti ini dia bisa menjaga dirinya sendiri? Semua orang juga takut kalau di dekati dengan orang seperti ini."
Axel menggeleng, "Kamu akan mengerti saat kamu bergabung nanti."
"Saya nggak bilang kalau saya akan bergabung!"
Axel menghela nafas, "Kamu serius?"
"Ya!"
Jeha beranjak dari duduknya dan kemudian melihat Axel ketus, "Terimakasih minumannya tapi maaf saya harus menolak tawaran anda." Katanya dan kemudian segera melangkah pergi dari hadapan Axel.
Belum beberapa langkah ponselnya berbunyi, nomor tak dikenal datang memanggilnya.
"Kalau berubah pikiran, kamu bisa hubungi saya ke nomor itu."
Jeha agak sedikit menoleh dan kemudian mematikan panggilan itu dan segera melangkah keluar kafe.
***
"BODYGUARD?!"
Sesi terbahak saat mendengar semua cerita Jeha. Ya dia menceritakan semuanya kepada Sesi, tentang dia bertemu dengan laki-laki tidak jelas yang dia pikir awalnya akan mengajaknya kencan, ternyata dia ingin merekrut Jeha menjadi anggota bodyguard.
"Gila kan? Dia ngasihin gue foto orang yang harus gue jaga, dan lo tau?"
Sesi menggeleng.
"Orang itu serem banget, peris kayak Bigfoot. Mana ada orang yang kayak gitu butuh keamanan, semua orang juga akan lari kalau di deketin sama orang kayak gitu."
Sesi langsung tak berhenti tertawa, dia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Jeha saat ditawarkan untuk menjadi bodyguard saat itu, pasti sangat sangat lucu.
"Gila sih, aneh aneh aja tuh orang." Kata Sesi setelah meredakan tawanya.
Jeha hanya menghela nafas sebaliknya dan kemudian menatap keluar jendela. Sebenarnya dia agak terganggu dengan nomor ponsel laki-laki tadi, akankah dia menghubungi nya atau menghapus nomornya saja.
***
Johnny duduk di luar halaman rumahnya. setelah sekian lama dia akhirnya keluar dari kamarnya dan memilih duduk di halaman rumahnya dengan tenang, dia melamun menatap ke depan sambil terus memikirkan Luna di dalam pikirannya.
"Mas Brian, tolong masuk dulu dipanggil ibu." Brian yang sedang menjaga Johnny langsung masuk ke dalam rumah karena Hani yang merupakan nyonya besar membutuhkan pertolongannya.
Johnny menatap ke depan, kini dia hanya sendiri di luar halaman itu, duduk dengan kursi roda, kakinya tidak sakit, hanya terasa lemas saat berjalan, mungkin karena selama ini Johnny tidak pernah menggunakan kakinya lagi, dia lebih sering duduk dan berbaring.
Johnny menghela nafas dan kemudian matanya menangkap sosok perempuan yang berdiri di depan gerbang rumahnya, memakai gaun hitam. Itu adalah Luna, persis Luna yang ada di dalam mimpinya, gadis itu melambai ke arah Johnny dan kemudian melangkah pergi.
"Luna...."
Johnny menumpu badannya dan kemudian beranjak dari kursi rodanya perlahan, dia melihat gadis itu melangkah semakin menjauh dan Johnny juga melangkah maju dengan kaki lemahnya, dia mengejar bayangan itu dan pada akhirnya keluar dari rumahnya.
"Baik bu," Setelah beberapa menit Brian keluar dan langsung terkejut saat dia melihat kursi roda itu kosong tidak ada orang.
"Tuan Johnny." Brian memanggil namun tidak ada sautan, dia pun tersadar kalau Johnny sudah pergi entah kemana.
Sedangkan, Johnny terus berjalan mengikuti gadis dengan gaun hitam itu yang nampak seperti Luna dan terus melambaikan tangannya kepada Johnny. "Luna.."
Orang-orang melihat Johnny dengan tatapan aneh, bahkan saat Johnny lewat mereka semua dengan otomatis menjauh dari Johnny, karena kondisi Johnny yang sangat menyeramkan.
Gadis itu meyebrang jalan dan Johnny melihat lampu penyebrangan jalan berwarna merah, namun dia tetap ingin melangkah, tapi ada seorang gadis yang menahan tangannya.
"Jangan, berbahaya." Kata gadis itu, dia memakai masker plus topi dan menahan Johnny untuk tidak nekat menyebrang jalan.
"Luna.. Luna ada di sana, Luna."
"Jangan pak, berbahaya."
"Tapi, Luna.."
Johnny melihat perempuan itu berhasil menyebrangi jalan, dia melihat Luna berhasil menyebrangi jalan dan dia semakin ingin ke sana, tidak mau kehilangan sosok gadis itu.
Di kediaman Johnny sedang ramai dan ribut soal Johnny yang menghilang, semua orang menghubungi tim keamanan untuk mencari Johnny yang pergi, dan Axel pun menerima panggilan telepon dari pusat.
"Axel, Johnny menghilang dari rumah, tidak ada tanda dia pergi ke mana, tolong cari di mana dia berada, ini bisa jadi masalah besar kalau Johnny bertemu dengan musuh."
Axel langsung mematikan telepon dan kemudia berlari mencari Johnny di sekitar jalan, dia harus menemukan di mana laki-laki itu berada.
Johnny melihat lampu hijau, dia langsung menepis orang yang tadi menahan tangannya dan dengan perlahan melangkah menyebrangi jalan, dia melihat Luna sudah pergi jauh, dia melangkah dengan kaki gemetar.
Dia sudah lelah, dia sudah tidak kuat berjalan, wajahnya sudah pucar dan dia tidak bisa lagi untuk mengejar Luna yang sudah jauh.
Johnny berhasil menyebrangi jalan dan kemudian langsung ambruk di hadapan seorang gadis yang sedang menelepon, dia sudah sangat lelah dan kakinya terasa sangat sakit.
Jeha terkejut ketika ada seorang laki-laki yang jatuh di hadapannya, dia bahkan hampir melempar ponselnya karena saking terkejutnya. "Mass.." Jeha menyimpan ponselnya di saku dan kemudian menolong pria itu yang jatuh tersungkur.
Dia membalikkan tubuh pria itu dan terkejut ketika dia melihat pria itu yang terlihat sangat menyeramkan, rambutnya gondrong sebahu dan janggutnya sangat panjang, wajahnya pucat dan badannya besar. Jeha terdiam orang ini tampak tak asing di matanya.
Dia langsung teringat dengan laki-laki yang pernah ditunjukkan Axel kepadanya, laki-laki itu terlihat sama dan persis dengan laki-laki yang tersungkur sekarang. Dengan cepat dia langsung mengeluarkan kembali ponselnya dan menghubungi nomor Axel yang dia simpan.
"Halo,"
"Mohon maaf ada hal yang mendesak, telepon lagi nanti."
"Ini, bigfoot."
Axel menghentikan langkahnya ketika Jeha menyebutkan bigfoot, julukannya untuk Johnny.
"Bukan, maksud saya orang yang seperti bigfoot ini ada di sini, dia pingsan."
Axel langsung terkejut bukan main saat mendengarnya, dia tidak akan menyangka kalau Jeha akan menemukan Johnny di saat seperti ini.
"Kamu di mana?"
"Di jalan Sanggarlokka, di penyebrangan jalannya itu."
"Tunggu di sana, dan jaga dia."
Axel langsung memutuskan sambungannya dan kemudian lari dengan kakinya yang panjang untuk segera pergi ke tempat yang akan dia tuju.
Sedangkan Jeha masih di sana, menunggu Axel yang akan tiba sebentar lagi, dia berlutut dan kemudian mengangkat kepala laki-laki itu dan menaruhnya di pahanya. Sambil menunggu Axel dia menghalangi sinar matahari yang menyoroy wajah laki-laki itu dengan tasnya.
***
Jeha melongo melihat rumah besar yang ada di hadapannya, mereka berhasil membawa Johnny ke rumah dan Jeha disuruh untuk ikut dengan mereka. Sekarang Johnny sudah dibaringkan di kamarnya dan dia pingsan karena terlalu kelelahan.
"Silahkan duduk."
Jeha dan Axel duduk di sofa yang mewah itu, "Kamu yang menemukan Johnny bukan?"
Jeha melihat wanita paruh baya di depannya dengan tatapan aneh, dia seperti pernah melihat wanita ini tapi entah di mana dia melihatnya, namun tiba-tiba Jeha menganga dan wajahnya berubah menjadi senang.
"Maaf, tapi apakah anda Hani penulis terkenal itu?"
Wanita itu sedikit terkejut namun perlahan dia mengangguk dan tersenyum, Jeha semakin senang saat tau bahwa dia benar menebak wanita ini.
"Yaampun, saya fans anda, fans besar anda, tidak akan menyangka kalau kita akan bertemu di sini." Kata Jeha dengan senang dan Hani tersenyum lebar, "Wahh, terimakasih banyak ya kamu sudah membawa Johnny pulang, dia anak saya."
Jeha terdiam dan kemudian melihat Axel, "Oo-h iya sama-sama."
Ternyata bigfoot itu adalah anak dari idolanya.
"Ini, perempuan yang saya ceritakan waktu itu."
"Ohh dia?"
Jeha melihat Axel dengan tatapan bingung, mengapa Axel menceritakan dirinya dengan sosok besar seperti Hani yang merupakan penulis terkenal?
"Kamu yang akan menjadi bodyguart kan?"
Jeha langsung terkejut dan menggeleng, "Maaf, bukannya saya sudah menolak itu?"
Axel terdiam dan melihat Hani yang tampaknya tertarik dengan gadis satu ini, "Kenapa kamu menolak?"
"Saya merasa saya tidak bisa." Jawab Jeha sedikit tidak yakin, dia melihat Hani yang sekarang bersandar di sofa.
"Tugas kamu hanya menjaga Johnny, dan juga melindungi dia dari bahaya, kami kekurangan orang, maka dari itu kami berniat untuk mencari orang baru. Awalnya saya juga terdengar aneh mengapa Axel menyarankan kamu, tapi setelah bertemu langsung, kamu punya aura yang berbeda,"
"Maaf? Maksudnya?"
"Kamu seperti bisa menjaga dan juga melindungi anak saya, saya yakin itu dan bisa merasakannya di dalam diri kamu,"
"Maaf bu, tapi saya tetap tidak bisa, lebih baik saya pergi, saya pamit."
Axel tidak khawatir saat Jeha beranjak dari duduknya karena tampaknya Hani sangat menyukai Jeha dan dia akan melakukan apapun untuk merekrut Jeha saat ini juga.
"Gajinya dua ribu dollar perbulan, bagaimana?"
Jeha langsung terdiam, dia melihat Hani tidak percaya dan dia bahkan hampir tersedak dengan ludahnya sendiri saat mendengar nominal yang sangat-sangat banyak.
Dengan gaji sebesar itu tentu dia tidak akan pernah mengeluh di dalam hidupnya dan mungkin ibunya tidak perlu membawa makanan sisa dari majikannya lagi. Jeha langsung terduduk kembali di sofa.
"Mulai kapan saya bekerja?" Katanya dengan semangat dan Hani tersenyum girang.
"Mulai besok." Kata Hani dan Jeha mengangguk menyetujinya.