1. French Kiss, Sate Padang dan Kamu
Fandi sedang menata tumpukan dokumen di meja kerja Alaric ketika pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Ia bahkan tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa yang datang. Bau parfum mahal yang familiar sudah lebih dulu terhidu, disusul suara ceria yang langsung merusak ketenangan sore itu.
"Fandi."
Candramaya Danuastri berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di pinggang. Wajahnya yang cantik berseri-seri seperti anak kecil yang baru saja memenangkan lotre. Rambutnya yang panjang jadi sedikit berantakan karena terburu-buru, tetapi senyum lebarnya tercetak sangat manis saat melihat sosok yang dia cari-cari.
Fandi menghela napas pelan, tubuhnya seketika menegang. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Arahnya selalu sama setiap kali Maya muncul di hadapannya tanpa agenda, ke arah bahaya. Ke arah pinggir jurang yang menggoda imannya.
"Selamat sore, Maya," sapa Fandi datar, dengan mata masih tertuju pada kertas kontrak yang baru saja ia urutkan. "Ada yang bisa aku bantu?"
“Ada dong.” Maya melangkah masuk, menutup pintu dengan sengaja, lalu duduk di ujung meja kerja, tepat di atas tumpukan berkas yang baru saja Fandi rapikan. Posisi duduknya santai, seolah meja kerja milik bos konglomerasi itu adalah bangku taman.
Fandi berdehem kecil untuk mengusir pikiran nakal, melirik rok pensil desainer milik Maya yang kini menindih laporan pajak perusahaan. "Maya, tolong turun. Berkas itu harus ditandatangani besok."
"Nggak mau, sebelum kamu bayar utang." Maya mencondongkan badannya ke depan. Sepasang mata bulat indahnya yang ekspresif berbinar nakal, mengunci pandangan Fandi. "Kamu ingat janji kamu, kan?
"
Fandi mengernyit, memundurkan kepalanya beberapa senti untuk menjaga jarak aman, bagi jantungnya tentu saja. "Janji?"
"Jangan pura-pura lupa, deh!" Maya mencondongkan badan, semakin dekat membuat Fandi jadi mundurkan tubuhnya. Fandi menelan ludah melihat dua mata itu yang selalu berbahaya, ekspresif sekaligus indah.
"Dulu kamu bilang, kalau Alaric dan Ruby rujuk, kamu bakal kasih hadiah spesial buatku. Sekarang mereka sudah rujuk. Bahkan lebih dari rujuk, mereka malah bulan madu. Jadi… aku datang menagih janji."
Fandi mengangkat kepala. Wajahnya tetap tenang, seperti yang selalu ia latih selama belasan tahun bekerja di korporat, meski di dalam d**a mulai sedikit berdegup tak tertahankan.
Ia ingat betul percakapan itu. Dia menjanjikan lebih selain sate padang kesukaan Maya setelah french kiss panas yang membuatnya harus janaba sebelum solat Subuh karena mimpi liar tentang Maya.
Ciuman itu hanya satu kali, berharap tidak berarti apa-apa.
Nyatanya dia salah karena dari cara Maya menatapnya sekarang, seolah gadis ini sedang menunggu sesuatu yang jauh lebih besar dari seporsi sate padang. Menunggu sesuatu yang mengancam akan menghancurkan tembok-tembok harga diri yang Fandi bangun dengan susah payah selama tiga puluh lima tahun.
"Maya," kata Fandi pelan, suaranya dia buat terdengar stabil meski sebenarnya tidak, "hadiahnya tuh makan sate padang, sepuasmu. Yang di dekat Rumah Sakit Mazaya itu. Kamu bilang itu kesukaanmu."
Maya mengedip. Sekali. Dua kali, kemudian bengong lama seolah memroses kode dari planet lain. Lalu tertawa kecil, seolah Fandi baru saja bercanda garing mengalahkan kriuknya kerupuk di warung tenda.
"Sate padang, sepuasku?" tanyanya, suaranya naik satu oktaf. "Seriusan? Cuma sate padang?"
"Sepuasmu makan, Maya," Fandi menegaskan, meski matanya tidak berani bertemu mata Maya. Ia fokus pada sebelah kanan dahi Maya, yang lebih aman. "Dua porsi. Tiga kalau kamu mau. Empat juga bisa, asal kamu mampu, tambah kerupuk kulit.”
"Gak mau! Aku dengar jelas malam itu. Kamu bilang 'hadiah spesial', bahkan lebih dari sekadar sate padang. Eh tapiii tadi kamu bilang sepuasku, kan? Kamu tahu apa yang bisa membuatku puas, hmm?"
Fandi menelan ludah. Ia bisa merasakan panas di tengkuk menjalar ke telinga.
Tolong, jangan memerah sekarang, doanya pada dirinya sendiri.
"Di kamusku," lanjut Maya, suaranya turun menjadi bisikan yang terlalu intim menggoda untuk diutarakan di ruang kerja, "hadiah spesial dari lelaki dewasa yang sudah tiga puluh lima tahun ke gadis cantik sepertiku… ya minimal french kiss. Atau…"
Maya menggigit bibir bawahnya, matanya berkilat iseng, "…lebih." Kemudian dia mengedip, tertawa kecil melihat ekspresi lucu bujang lapuk di depannya ini.
Fandi menelan ludah lagi. Kedua tangannya yang tadi memegang dokumen kini mengepal di sisi tubuh. "Maya, jangan…"
"Jangan apa, heuuum?" Maya sudah memegang dasi Fandi, menariknya pelan. Jarak mereka semakin dekat. "Jangan mikir yang aneh-aneh? Tapi aku sudah mikir loh gara-gara kamu. Sejak french kiss panas kita waktu itu malahan. Sejak kamu bilang 'hadiah spesial' dengan wajah merah merona. Kalau kamu cuma mau kasih sate, kenapa wajahmu merah waktu bilang itu, hmm? Kenapa suaramu bergetar?"
"Karena aku lapar," Fandi menjawab kaku, asal, karena alasan itu terdengar payah bahkan di telinganya sendiri.
Maya tertawa pelan. Sebuah tawa yang terlalu lembut dan berbahaya. "Bohong iih. Kamu malu? Atau… takut. Takut aku minta lebih, ya? Takut kamu tidak bisa menolak apa yang diinginkan oleh tubuhmu. Takut imanmu goyah, kan?”
Fandi mencoba melepaskan genggaman Maya di dasinya, tapi gadis itu malah nekat semakin erat menarik. Satu tangan Maya kini berada di d**a Fandi, tepat di atas jantung yang berdetak tidak karuan. Maya pasti bisa merasakannya. Sial.
"Maya, ini di kantor," Fandi mencoba lagi, suaranya semakin parau. Maya tidak tahu saja betapa Fandi berjuang untuk mengusir bisikan setan yang menyuruhnya untuk menerkam Maya.
"Alaric bisa masuk kapan saja. Ruby bisa datang. Staf lain…,"
"Alaric lagi di luar kota sama Ruby. Aku udah cek." Maya tersenyum puas, seperti kucing yang baru menelan whiskas satu kaleng sekaligus.
“Aku tahu karena Ruby upload story. Jadi… sekarang waktunya bayar utang. Atau kamu mau kita pindah ke apartemenku saja? Kan jadi lebih nyaman dan lebih… privat?"
Mata Fandi membola mendengar undangan itu. Sebelum Fandi sempat memprotes lagi, Maya sudah berjinjit, menarik kerah kemejanya dengan satu tangan, dan menempelkan bibirnya ke bibir Fandi penuh kenekatan yang tidak menyertakan kerja otak.
Ciuman itu awalnya sepihak dan penuh desakan impulsif khas Maya. Tapi mampu membuat Fandi membeku. Tubuhnya menegang, menahan diri setengah mati dengan mencengkeram saku celananya.
Tapi, seolah ada saklar rahasia yang tertekan di dalam dirinya, pertahanan Fandi runtuh begitu saja oleh serangan bibir Maya. Rasionalitasnya menguap.
Tangan kanannya naik ke pinggang Maya, menahannya agar tidak jatuh. Bibirnya yang tadinya kaku berubah menjadi lembut, lalu dalam dan lebih dalam. Ia bisa merasakan napas Maya tercekat, tapi gadis itu tidak mundur. Justru ia membalas lebih berani, hingga lututnya sedikit lemas dan harus mengalungkan tangan pada leher Fandi.
Fandi renggangkan pelukan karena kehabisan napas, dia tempelkan kening pada kening Maya. Napas keduanya terengah-engah. Sapuan hangat napas Fandi membuat wajah Maya merah padam, tapi senyumnya masih ada. Senyum yang membuat Fandi ingin menghilang.
"Lihat," katanya serak, suaranya lebih seksi dari biasanya. "Bukan cuma sate, kan?"
Fandi pejamkan mata sebentar, menarik napas dalam yang tidak cukup dalam. "Maya… ini tidak seharusnya terjadi."
Ia melepaskan tangannya dari pinggang Maya. Rasa bersalah dan kilatan realitas langsung mampir ke kepalanya penuh peringatan.
Ia menatap Maya, lalu beralih menatap pantulan dirinya di kaca jendela gedung yang memerlihatkan deretan gedung pencakar langit Jakarta.
Gedung-gedung mewah itu adalah dunia Maya. Sedangkan dirinya? Hanya seorang anak kampung yang kebetulan beruntung bisa lulus S2 dan bekerja sebagai tangan kanan keluarga konglomerat Mahesa.
Ada dinding pembatas yang sangat tebal, tinggi, dan jelas terlihat di antara mereka. Fandi tahu, sekali ia melangkah melewati dinding itu, ia tidak hanya akan merusak kepercayaan keluarga besar Mahesa dan Alaric yang sudah menganggapnya saudara, tetapi ia juga akan dihancurkan oleh kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang 'pesuruh next level'.
Da bukanlah seorang CEO atau pengusaha atau pewaris keluarga kaya raya. Hubungan ini tidak memiliki masa depan jika dimulai dengan kenekatan egois seperti ini.
"Tapi sudah terjadi." Jawab Maya ringan sembari merapikan rambutnya dengan sikap biasa, bukan baru saja mencium asisten sepupunya di ruang kerja. "Dan sekarang aku mau hadiah yang lebih lengkap. Mulai saat ini, kita pacaran. Resmi." Mata Maya kembali bersinar.
Fandi menatapnya tajam, mencoba menemukan celah untuk kabur. "Tidak."
“Kenapa?”
“Karena aku asisten Alaric. Kamu sepupunya. Keluarga kalian…, Maya, kita sungguh berbeda.”
Maya mengangguk-angguk, pura-pura mengerti, lalu berkata dengan nada polos yang berbahaya, “Oh, jadi kamu mau langsung loncat ke tahap lebih serius? Malam panas di apartemenku atau di rumahmu, misalnya? Tanpa pacaran dulu?”
Fandi tersedak. “Apa?!”
“Aku cuma bilang ‘misalnya’.” Maya mengangkat bahu, tapi matanya bercanda. “Kamu yang bilang hadiah spesial. Otakku yang nakal ternyata ya? Jangan salahkan aku.”
Fandi berdiri, merapikan dasi dengan gerakan kaku. “Hadiahnya tetap sate padang. Besok sore. Aku antar. Setelah itu, kita lupakan kejadian tadi.”
Maya tersenyum miring. “Nggak bisa dilupakan, Fandi. Bibirku masih terasa bibirmu,” Maya mengedip jenaka, “lagipula aku sudah memutuskan.” Ia berjalan menuju pintu, lalu menoleh.
“Mulai hari ini, kamu pacarku. Kalau tidak setuju, bilang saja. Nanti aku kasih tahu Alaric dan Ruby bahwa asisten kesayangan mereka menolak bayar utang… dengan cara yang sangat tidak sopan di ruangan kantor.”
Fandi membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Maya sudah keluar, meninggalkan bau parfum dan kekacauan di ruang yang tadi tenang.
Fandi duduk kembali di kursi, jantungnya masih berdegup kencang. Di kepalanya, suara Maya masih terngiang, hadiah spesial… malam panas… pacaran… apartemen.
Ia menghela napas panjang, lalu bergumam pelan pada diri sendiri.
“Tenang Fandi, sate padang… hanya sate padang…”
Tapi entah kenapa, rasa di bibirnya sama sekali tidak mirip bumbu sate padang. Hanya tertinggal rasa Maya yang manis dan berbahaya, yang akan menghantuinya mulai malam ini.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang baru saja memberi kekacauan.
Maya: Besok jangan pakai dasi. Aku suka lihat leher kamu. Muaah
Fandi memelototi layar ponselnya, tangan yang biasanya stabil saat membuat kontrak miliaran rupiah kini sedikit gemetar. Ia mengetik balasan dengan cepat, tanpa berpikir panjang.
Fandi: Maya, ini tidak benar.
Jawaban datang dalam hitungan detik.
Maya: Tapi kamu juga tidak menolak ciumanku tadi. Jadi… kamu setuju secara diam-diam, kan?
Fandi meletakkan ponselnya di meja dengan horor, kemudian sandarkan punggungnya. Ia menatap langit-langit ruangan, mencoba mencari jawaban yang tidak ada di sana.
Seorang pria berusia tiga puluh lima tahun, lulusan S2, asisten paling terpercaya di perusahaan konglomerasi, dikalahkan oleh seorang gadis berusia dua puluh delapan tahun yang baru saja menafsirkan ulang arti dari seporsi sate padang.
"Besok," gumamnya lagi, memotivasi diri sendiri, "aku cuma akan antar makan sate padang."
Tapi di dalam hati yang paling dalam, di tempat yang bahkan Fandi sendiri tidak mau mengakui, ada sesuatu yang berbisik : Kalau memang cuma sate padang, kenapa kamu sudah membayangkan wajahnya? Bibirnya?
Fandi tidak punya jawaban. Dan untuk pertama kalinya selama belasan tahun kariernya, Fandi Baskara merasa benar-benar tidak punya kendali.