2. Pelarian

1181 Words
Dua orang pria berjas hitam menangkap Collins. Mereka menahan tubuhnya hingga tak mampu kabur. "Hei, lepaskan aku!" Mereka tak peduli. Seorang pria yang merupakan pemimpin mereka datang dengan mengancingi satu jasnya dan merapikan pakaian. "Tuan muda Collins. Jangan bikin masalah menjadi tambah rumit. Ayolah! Aku sudah memberimu kebebasan untuk pergi ke bar, jadi sebaiknya sekarang Tuan Muda pulang." Collins menatap pria yang menyebalkan itu. Kenapa ayahnya bisa menyewa bodyguard seperti mereka ini? "Aku hanya ingin jalan sebentar di sekitar sini, kenapa ketat sekali penjagaannya, sih?" Pria berbadan kekar itu mendatangi Collins yang masih berusaha melepaskan diri. Ia menghela napas pelan. "Berhenti bermain-main, ok? Kenapa Tuan senang sekali kabur, sih? Hh ... Itu tidak menyelesaikan masalah, Tuan. Yang ada, Tuan besar akan mengganti kami dengan bodyguard yang lebih ekstrim lagi. Apa itu yang Tuan mau? Sudahlah, bekerja samalah dengan kami! Tuan pulang bersama, sekarang." Collins terdiam. Karena tak ada perlawanan, ia dilepas. Collins masih sempat menghempas tangan bodyguard yang menahannya sebelum merapikan jasnya. Pria itu mempersilakan Collins berjalan lebih dulu. Collins berjalan dengan merengut dan setengah terpaksa. Di dalam mobil, Collins membuka jendela. Ia berusaha menghirup udara dari luar dalam-dalam. Memang tidak banyak membantu tapi setidaknya menyadarkan dirinya ia masih hidup dan harus terus berjuang. Berjuang mencari kebebasan. **** Collins keluar ruang kerjanya. Hari ini sedikit melelahkan hingga ia meregangkan kedua tangan. Leher terasa pegal karena terus-terusan menunduk. Collins menyentuh leher dan menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. "Eh ...." Ia bergerak ke arah toilet. Sang sekretaris membiarkan saja pria itu ke sana karena itu tidak menjadi perhatiannya. Keberadaan bodyguard Collins yang berada di mana-mana di ruangan itu yang sungguh mengganggu pemandangan. Karyawan pun jadi tak bebas mengobrol dengan bebas di sana. Collins sempat melihat seorang pegawai kebersihan membuka ruang penyimpanan sebelum ia masuk bilik toilet. Ketika ia selesai, tak ada orang di sana. Pelan-pelan Collins mendatangi ruang penyimpanan. Tadi ia melihat ada pakaian tergantung di pintu. Ternyata masih ada. Ia mencoba memakainya. 'Ah, pas!' Hanya celananya sedikit menggantung karena tubuh Collins yang tinggi. 'Rasanya aku bisa menyamar dengan pakaian ini.' Collins mengancingi kemejanya. Tubuh Collins yang kurus, pas dengan kemeja murahan itu. Jas mahalnya ia gantung menggantikan pakaian tadi. Ia juga melihat topi untuk menyembunyikan rambutnya. Collins memasukkan rambut gondrongnya ke dalam sebelum memakai topi itu di kepala. Ia kemudian mengaca di cermin toilet yang besar. 'Tidak bisa dikenali, 'kan?' Baru saja ia berdiri, seseorang masuk ke dalam toilet. Collins segera menunduk. Cepat-cepat ia menutup pintu ruang penyimpanan. Ternyata ia tak dikenali karena pria itu tak acuh padanya. Collins buru-buru keluar dengan sedikit menunduk. Setelah keluar ia sendiri bingung harus ke mana. 'Apa wajahku benar tak dikenali?' Ia tadi tak sempat bercermin dengan benar. Kembali ia menunduk ketika berhadapan dengan orang ramai di kantor itu. 'Ya, Allah, mudah-mudahan tak terlihat.' Collins bergerak pelan ke arah lift. Di sana ia berdiri di depan pintu lift. Kepalanya mulai terangkat. "Hei, kamu!" Collins kembali menundukkan kepala. 'Apa dia mengenaliku? Aduh, siallan!' "Kalo petugas atau pegawai rendahan di lift barang ya!" 'Pegawai rendahan ....' Collins mengepalkan tangannya erat-erat karena geram. Namun kemudian menghela napas pelan. Seharusnya ia senang penyamarannya berhasil. Ia baru sadar banyak orang sombong yang dipekerjakan ayahnya di sana. "Eh, iya maaf." Ia bergeser ke lift barang. Baru saja ia menekan tombol, pintu lift terbuka. Ia segera masuk dan menutup pintu. Kali ini ia bisa bercermin pada pintu lift. Wajahnya memang tak mudah dikenali. Walau kulitnya tidak seputih sang ayah tapi topi lusuh itu mampu mengelabui banyak orang. Termasuk dirinya. 'He he, apa aku terlihat miskin?' Collins tersenyum sendiri sambil merapikan topinya. Setelah turun di basemen Collins segera keluar. Ia berusaha melewati pos pembayaran parkir dengan menunduk. Sedikit mendebarkan tapi ternyata petugas di sana tak peduli. Collins bisa melewati tempat itu dengan mulus. Ia hampir saja hendak melonjak-lonjak kegirangan ketika ia menemukan bus lewat di luar. Segera ia menyetopnya. Collins begitu bangga bisa naik bus. 'Syukurlah, bus di sini bisa berhenti di mana aja.' Collins turun di stasiun kereta api terdekat. Ia kemudian menyewa loker untuk menyimpan barang-barangnya. Ponsel dimattikan dan dompet ... 'Ah, aku lupa ambil uang, ck!' Dengan uang tersisa ia membeli tiket terjauh yang termurah setelah itu menunggu kereta datang. Siang itu udara tidak begitu panas. Collins mendapat kereta yang tidak terlalu ramai sehingga ia bisa duduk. Sambil menyelami apa yang terjadi pada dirinya, ia menikmati pemandangan. Sebenarnya tidak menyenangkan pergi ketika kamu sendiri tak tahu mau ke mana. Collins hanya ingin menghindar sebentar dari masalahnya, sebelum ia memutuskan ingin melakukan apa. Kini ia tak punya tempat untuk bersandar. Dulu saat di Inggris, ia ingin sekali pulang ke Jakarta tapi setelah sampai, ia juga tak menginginkan kehidupannya di sini. Lalu ia harus ke mana? Sepanjang perjalanan Collins hanya diliputi kebingungan. **** Stasiun tujuannya sangat padat, orang ramai keluar dari pintu kereta. Entah sejak kapan kereta api itu jadi sesak penumpang, Collins bahkan baru menyadarinya. Karena mengikuti arus, Collins terdorong ikut keramaian hingga tak sengaja menyenggol seorang wanita berkerudung hijau. "Ah!" "Eh, maaf." Ia bisa melihat dari samping wajah wanita itu sangat menawan. "Cantik." Tanpa sadar ia berucap. Wanita itu memegang sebuah tongkat. Saat sang wanita membuka tasnya, ia menjatuhkan sesuatu. Collins reflek membungkuk mencarinya. Ia menemukan sebuah tasbih. Baru saja ia akan mengembalikannya, sang wanita sudah menghilang. Seketika Collins panik dan mencari. Ternyata wanita itu sudah berada di luar dan naik bajaj. 'Ah, siallan, kalah cepat!' Collins terpaksa mengantongi benda itu. Namun ia merasa aneh. Kenapa kantong celananya tak berisi apa pun? Ia kembali memeriksanya hingga menarik dasar kantong itu keluar. Benar tak ada apa pun. 'Astaga, apa aku kecopetan? Ah, siall. Benar-benar siall!' Collins terpaksa melangkah keluar tanpa tujuan. Tanpa disadari ia mengikuti ke arah mana bajaj itu pergi. Senja berganti malam. Perut Collins mulai keroncongan. Ia berhenti di sebuah pos ronda sambil mengusap perutnya. Lapar sekali, bagaimana ini? Semua uangnya hilang, padahal sisa uangnya tak seberapa. "Heh! Ngapain lu di markas gue!" Seorang anak muda dengan rambut dicat putih dan pakaian hitam-hitam datang menyambangi. Ia bersama anak muda yang lainnya berpakaian sama. Kaos lengan pendek, celana jeans hitam dan tato di sana sini. Collins terkejut. "Eh, maaf. A-aku hanya numpang istirahat. Eh, ya udah. Aku pergi." Ia tak ingin mencari masalah. Yang penting saat ini ia ingin mencari makanan karena lapar. Belum juga bergerak, tangan pemuda itu sudah mengungkungnya di dudukan kursi. Collins terpaksa mundur dengan mata terbelalak. Pria itu menarik kerah baju Collins dengan kasar. "Siapa yang suruh elo pergi, hah? Kenapa lo gak gabung aja sama kita-kita? Iya gak teman-teman?" Dengan satu alis terangkat, pemuda itu menoleh pada teman-teman gengnya. "Yoi, man!" "Yo!" "Aku juga bawa minuman untuk merayakannya." Pemuda itu mengangkat sebotol minuman yang sangat Collins kenal. Senyumnya mulai mengintimidasi. Collins menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat minuman itu. Topinya bahkan terjatuh hingga rambut gondrongnya tergerai. "Aku tidak minum itu, aku tidak minum itu!" Wajahnya penuh dengan trauma, tapi sia-sia saja penolakannya karena dua orang lainnya datang dan memegangi kedua tangan Collins agar mau dicekoki minum beralkohol itu. "Tunggu, lepaskan aku!" Pemuda itu tersenyum melihat rambut Collins yang tergerai melewati bahu. "Kamu itu sama dengan kami 'kan, hah? Kenapa harus pura-pura?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD