3. Pertolongan

1177 Words
"Lu ngapain di situ, pada!" Sebuah bentakan keras membuat semuanya menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria paruh baya yang punya sedikit rambut putih di sekitar dahi, kini berdiri di depan mereka dengan bertelak pinggang. Tanpa takut, ia menatap satu-satu pemuda yang berada di hadapan. "Eh ... babe ...," sahut pemuda berambut putih itu sedikit syok. Wajahnya tampak pias. "Eh ... dia ...." "Mau ape lu di sini? Bikin onar?" Pria itu berbicara pelan, tapi dengan sorot mata menantang. Seketika para pemuda itu melepas Collins dan mundur teratur. "Eh, enggak, Be. Cuma main-main." "Cuma becanda, Be." "Ya udah ... pergi lu pada!" Kalimat terakhir babe sedikit ditekankan sehingga para pemuda itu lari kocar-kacir menjauhi tempat itu. Tinggal sang pria dan Collins yang ada di sana. Sang pria mendatangi Collins. Collins bernapas lega. "Terima kasih, Pak." Ia berusaha menyelaraskan jantungnya. Pria ini telah membantunya. Collins merapikan baju. Babe memperhatikan Collins. "Lu mau ketemu siape?" "Eh?" "Lu bukan orang sini, pan? Lu cari siape?" Babe bertanya dengan ramah. "Eh, gak ada. Cuma ... numpang lewat," sahut Collins kikuk. "Eh, permisi." Tiba-tiba terdengar bunyi perut Collins yang kelaparan. Ia harus menyembunyikan rasa malunya dengan sudut bibir yang terangkat. "Oh, kalau mau makan bisa keluar lagi ke jalan raya. Di sana banyak pedagang makanan." Pria itu menunjuk arah. Eh, iya ...." Collins hanya mengangguk sopan sambil berusaha tersenyum. Ia tak tahu bagaimana cara menerangkannya pada orang ini, tapi ia tak beranjak dari duduknya. "Kenape lagi?" Pria itu penasaran. Ia masih terus meneliti wajah Collins. Collins memakai kemeja dan celana bahan yang murah, tapi ia punya sepatu mahal. Kenapa ia punya sepatu mahal? Kembali babe menatap Collins. Collins selain tampan, ia punya wajah terawat. "Oh, aku ingin istirahat sebentar." Collins berusaha tersenyum. Cukup melelahkan baginya berjalan hampir sejam kemudian diserang preman di tempat itu. Sekarang, ia harus ke mana? "Lu sebenernye mau ketemu siape sih?" Kembali babe bertanya. "Mmh?" Collins terlihat bingung mencari alasan. Bola matanya bergerak tak beraturan. Perutnya pun mulai tak bisa diajak kompromi. Lalu ia harus bagaimana? Tiba-tiba pria itu meraih lengannya. Collins terkejut. Genggaman pria itu cukup kuat ketika Collins berusaha melepaskan diri. "Mau ke mane lu?" "Eh?" "Kamu ngincer rumah orang yak?" "Eh, bukan." "Mau maling?" "Enggak, Pak. Ya udah, Saya pergi aja." Collins berusaha melepaskan diri tapi pria itu masih menggenggam lengannya. Babe memperhatikan wajah Collins yang berusaha jujur. Ia masih tak yakin. "Ayo jujur!" bentaknya. "Sumpah, Pak. Aku bukan maling. Aku hanya lapar." "Kalau laper 'kan tinggal beli!" "Iya," sahut Collins dengan wajah melankolis. "Lu, gak punya duit?" Collins tak menjawab. Ia menarik lengannya tapi pria itu kembali menggenggamnya. Belakangan babe bisa merasakan tangan Collins yang gemetar. "Lu kabur dari rumah ye?" Kembali Collins tak menjawab karena takut. Ia hanya berusaha menarik lengannya hingga lelah. "Pak, tolong ...." "Lu mau makan? Ayo ke rumah!" "Gak usah, Pak." Selain bingung, Collins tak tahu apa keinginan pria itu. Ia berusaha menghindar. "Kalo lu bener, ikut babe!" Mendengar ultimatum pria itu, Collins terpaksa ikut. Ia hanya ingin membuktikan ia benar. "Siape name lu?" Collins kebingungan. Bila ia menyebut namanya, orang takkan percaya karena dia bukan bule. Lagipula, orang yang tahu keluarganya pasti akan membawanya pulang ke rumah. Siapa yang tak kenal Hardyn Grow, miliarder Inggris yang perusahaannya hampir merajai pasar global. Properti, hotel, mal dan masih banyak lagi. Ia harus menyembunyikan identitasnya, tapi pakai nama siapa? Terlintas nama sang ibu yang keturunan Jepang-Indonesia, Aiko Aibara. Ah, ya. Bara. "Bara. Namaku, Bara." **** "Ayo, silakan. Kebetulan hanya ada enih," sahut seorang wanita yang rambutnya digelung ke belakang. Ada sedikit rambutnya yang memutih di samping, seperti babe. Ia adalah istri pria itu. Collins memperhatikan makanan yang ada di atas piring. "Apa ini?" "Semur jengkol. Masa gak tau?" "Apa? Jengkol?" Netra Collins membulat sempurna. 'Bukannya jengkol itu bau ya? Tapi kok gak ada baunya?' Ia coba mengangkat dengan sendok dan menciummnya. "Eh, itu gak basi ya! Enyak baru ngangetin!" Terang wanita itu lagi. "Eh, bukan begitu." Collins tersadar sudah melakukan hal yang tak sopan. Akhirnya ia segera mengambil dan memakannya dengan nasi. Rasanya ternyata enak. "Mmh!" Ia tersenyum lebar. Enyak melirik Babe. "Jadi ini anak siape sebenernya, Bang?" "Anak boleh nyasar." "Ape?" Wanita itu menaikkan alisnya. Sang suami tersenyum. Ia mengangkat jari telunjuk ke dekat mulut agar istrinya tak banyak bertanya. Enyak langsung mengerti. "Jadi lu bakal tinggal di marih?" tanyanya pada Collins. Collins seketika berhenti mengunyah dan melirik pada pria berbaju koko itu. Ia tak tahu harus menjawab apa. "Lu lagi cari kerja, pan? Ya udah, lu kerja aja ama babe di toko. Tapi gajinye kecil. Gak papa, pan?" "Apa tidak merepotkan?" Collins bingung. Pria itu tiba-tiba baik padanya. Menurutnya, pria ini membingungkan karena sering berubah-ubah. "Aku tidak masalah kalau soal gaji." "Lu boleh tinggal di marih. Makan dikasih, asal lu bantu-bantu, ye? Lu bisa panggil gue 'Babe' dan ini istri gue. Lu bisa panggil die 'Enyak'." Babe memperkenalkan diri dan istrinya. 'Tinggal?' Collins tak mengerti apa yang dihadapinya saat ini. 'Keluarga ini menerimanya begitu saja?' "Eh, iya." Collins mengangguk sopan. Ia tak punya pilihan selain menerimanya. "Dan ada gue juga yang tukang tereak di marih. Assalamualaikum, Be, Nyak." Seorang wanita berkerudung coklat muda masuk ke rumah sambil menyalami kedua orang tuanya. "Nama gue Ipah. Lu siapa?" "Bara." Collins berusaha meraih tangan Ipah ketika wanita itu menyodorkan tangannya, tapi ternyata Ipah malah menjitak kepalanya. "Aduh!" Ketiga orang itu malah mentertawakan Collins. **** "Baju ini cukup deh ye, sama elu?" tanya babe yang memilihkan beberapa pakaian murah di pasar. Collins mengiyakan. Selagi pria itu baik padanya, ia memang seharusnya menurut. "Eh, Be. Dari mana?" Seorang pria menegur babe. "Oh, ini. Nemenin ponakan belanja," sahutnya pada pria itu. Sang pria, yang berpostur tinggi, kurus, membawa kayu yang dimainkannya di tangan. Ia memperhatikan Collins. "Kerja di mana lu?" "Oh, dia lagi cari kerja. Sementara kerja di tokoku dulu." Kembali babe mewakili Collins. "Kalo jadi kang parkir, bisa kagak?" Pria kurus itu kembali bertanya pada Collins. "Kang parkir? Kang parkir di mana?" tanya babe antusias. "Lah, enih. Di pasar ini! Pak Joyo pulang kampung, kemaren. Dijemput anaknya. Sakit kayaknya." "Yang bener, Min?" Babe tak percaya. "Lah, iya. Mau kagak?" Pria itu kini menepuk-nepuk bahu sendiri dengan kayu itu. "Ya, maulah!" Babe menoleh pada Collins dengan senyum lebar. "Bara, lu kerja jadi kang parkir aja, ya? Cepet ganti baju lu. Di pasar udah rame noh yang belanja." "Eh? Tukang parkir?" Rasanya Collins tidak seberuntung ini kalau tidak bertemu dengan Babe Sabeni yang juga ketua RT di lingkungannya. Pekerjaan yang ditawarkan juga tidak terlalu sulit dan sebentar saja ia sudah mengumpulkan beberapa ratus ribu padahal ia telat datang bekerja. Udara mulai terik sehingga Collins masuk ke dalam pos penjagaan dan berteduh di sana, sambil melihat-lihat jalanan. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya dan meletakkan dua buah jeruk di atas meja. "Jangan lupa makan ya, Pak, ya. Nanti sakit." Collins melongo. Seorang wanita cantik berkerudung kuning tersenyum ke arahnya. Wanita yang kemarin dikejarnya! Dan wanita ini datang sendiri kepadanya tanpa diminta. 'Kenapa ... dia tersenyum padaku? Apa ... dia mengenalku?' Collins panik hingga sulit menelan ludahnya, tapi sebelum ia bisa berkata-kata, wanita itu kembali bicara. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD