"Pak, bapak pakai deodoran baru ya? Kok baunya seperti deodoran anak muda?"
'Deodoran?' Collins menarik baju kaosnya dan menciuumnya. 'Apa maksudnya ....' Pandangan Collins jatuh pada tangan wanita itu. Bertongkat. 'Eh, itu bukan tongkat orang cacat, itu tongkat untuk orang ....' Kembali ia memandang wajah wanita itu, di mana pupil matanya tak bergerak dan tetap tersenyum. Collins coba menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah sang wanita tapi manik matanya tak bergerak.
'Ah, dia buta rupanya ....' Entah kenapa Collins lega. "Eh ...."
Baru saja Collins bicara, wanita itu langsung kaget dan berdiri seketika.
"Eh, kamu siapa?"
Collins terkejut melihat reaksi sang wanita. "Oh, maaf. Saya tukang parkir yang baru." 'Apakah dia salah mengira, aku tukang parkir sebelumnya? Ah ... sekarang aku mengerti.'
Tetap saja ucapan pria itu membuat sang wanita syok. Wanita itu buru-buru bergerak keluar dengan menggunakan tongkatnya. "Eh, maaf. Aku salah orang." Sang wanita itu begitu panik dan malu.
"Eh ...." Collins tak tahu bagaimana cara menghentikannya. Meminta kenalan? Mendengar suaranya saja, wanita itu sudah ketakutan setengah matti. "Maaf, maaf. Eh ... terima kasih jeruknya."
Wanita itu menoleh sambil mengangguk pelan. "Eh, tidak apa-apa. Maaf." Wajahnya tapi tidak sepanik tadi. "Maaf ya, aku pikir kamu bapak yang bekerja sebelumnya."
"Oh, tidak apa-apa." Collins memandangi wajah cantik wanita itu. Mereka bisa bertemu lagi, ini sebuah keajaiban. Apa ia bisa berkenalan dengannya? "Aku ...."
Terdengar suara klakson dari mobil yang hendak keluar dari parkiran. Collins terpaksa harus melakukan tugasnya. "Eh, sebentar." Saat ia tengah berusaha memberi instruksi pada sebuah mobil, ia melihat sang wanita tengah menghentikan bajaj dan menaikinya. Collins hanya bisa menghela napas memperhatikan bajaj itu berlalu. 'Besok ... dia ke sini lagi, 'kan ya?' Harapan yang tak tahu jawabannya.
****
"Haah!!" Hardyn menepis kasar piring yang berada di atas meja hingga jatuh ke lantai dan pecah. Ia beranjak berdiri dengan raut wajah memerah karena marah. Ada aura menakutkan di wajahnya seiring ia menoleh pada wanita cantik yang berada di sampingnya. Seorang anak kecil dengan wajah bule yang mirip dengannya begitu ketakutan hingga menangis di kursinya.
"Aku sudah berkali-kali katakan, jangan urusi urusanku dengan Collins, kau mengerti?!" ucap pria paruh baya itu dengan nada tinggi.
"Kenapa harus marah-marah sih? Anak itu memang kurang ajar, tidak pernah menghargaiku di rumah." Sedikit sewot Miranda mengambil anaknya yang baru berusia tiga tahun dan menggendongnya. "Dia bahkan tidak menghargai kamu sebagai ayahnya. Lihat ... kau menakuti Nero!" Wanita itu memperlihatkan anak mereka sambil mengusap lembut kepalanya. Sang bocah terdiam sambil menyandarkan kepala pada dadda sang ibu. "Kalau dia menghargaimu, untuk apa dia harus berkali-kali mencoba kabur dari rumah, coba?"
Hardyn malas berdebat dengan istri mudanya itu. Ia geram, karena baru kali ini Collins bisa kabur dari penjagaan ketat para bodyguard-nya. Padahal, ia sudah mengganti bodyguard-nya ini dengan yang baru, yang lebih berpengalaman, tapi justru sang anak bisa lolos dengan mudah tanpa seorang pun tahu. Hardyn khawatir sesuatu terjadi pada anak kesayangannya itu karena sebelumnya Collins tak pernah lepas dari pengawasannya.
Hardyn meninggalkan meja makan dengan pesimis. Ia lebih baik menyewa orang yang bisa mencarinya, sebelum ia jadi gilla.
****
"... Baraa!"
'Siapa sih ini ... berisik banget dari tadi.' Collins menggeliat. Tiba-tiba ia merasakan air membasahi wajahnya. Seketika ia terbangun dan duduk di atas ranjang.
Terdengar kekeh seorang wanita. "Bangun, sholat subuh! Bentar lagi lo pan kerja!" Ipah pergi melenggang membawa gayung sambil tersenyum senang.
Collins pelan-pelan sadar sambil mengusap wajahnya yang basah karena disiram air oleh Ipah. 'Ah ... namaku 'kan Bara? Kenapa aku lupa?' Ia segera beringsut turun dari tempat tidur dan keluar membawa handuk. Ia bertemu Ipah lagi yang mencubit pipinya.
"Jangan molor terus, Sayang," ledek wanita itu dengan gemas.
"Ahh ... ck!" Collins menepis tangan Ipah sambil cemberut. Ipah lebih tua darinya, tapi senang sekali menjahilinya.
"Wajah kamu tuh lucu, kayak opah-opah Koreah."
Collins bertelak pinggang. "He, aku bukan opah-opah Korea. Aku tuh ...." Ia melirik Enyak, Babe dan Ipah yang tengah memandanginya bicara. "Orang Indonesia ...." Segera tangannya diturunkan dan melangkah ke kamar mandi. Collins sedikit malu menyadari ia hanya menumpang di situ.
"Dia tuh ada turunan Koreah, kali ya?" tanya Enyak yang mendekat ke Ipah.
"Ss ... mungkin Jepang." Babe terlihat serius dengan berpangku tangan sambil menyentuh dagunya. Ketiganya menatap ke arah pintu kamar mandi tempat Collins masuk.
****
Baru saja Collins memakai sepatunya, Ipah kembali usil. Wanita itu bertelak pinggang di depannya. "Lu nyuri ya?"
"Apa?"
"Sepatu lo!" Ipah menunjuk sepatu pantofel Collins yang memang terlihat mahal.
Pria itu bingung, tak bisa bicara. Ia baru sadar, seharusnya ia mengganti sepatu itu agar tidak ada yang curiga.
"Paling kw. Iya, pan?" timpal enyak.
"Eh, iya." Collins langsung mengiyakan. Namun babe yang sedang minum kopi hanya meliriknya.
"Tapi yang kw juga mahal lho, yang merek enih," sahut Ipah lagi.
"Udah ... kamu usil banget sih, Pah!" timpal babe pada Ipah. "Kali aje die nabung buat belinye. Kayak elu sekarang, kursus menjahit. Semuanye, pan hasil dari nabung. Mesin jahitnye juga."
Ipah terdiam.
"Dah, pegi sana, kerja! Ntar telat lagi. Nih, pake motor babe." Babe memberikan kunci motornya pada Collins.
Collins melongo. Babe menatapnya. "Lu bisa ngendarain motor, pan?"
"Eh, bisa, Be." Collins mengambil kunci motor itu. "Tapi babe gimana mau ke toko?"
"Ah, toko deket enih. Bisa jalan kaki. Tapi kalo lu pulang, lu jemput babe. Kita ke padepokan."
"Padepokan?" Collins memicing matanya.
"Iya. Babe ngajar di sono."
Collins tidak mengerti arti padepokan dan hanya mengangguk-angguk saja. "Iya, Be."
****
Siang itu hujan. Collins terpaksa menggunakan jas hujan yang ada di pos untuk bekerja. Walau hujan, pasar tetap ramai karena orang datang untuk membeli barang kebutuhan. Yang bermotor kebanyakan berteduh dan bajaj serta angkot adalah kendaraan paling laris saat hujan.
Pekerjaan Collins tak banyak hingga ia memperhatikan jalan di depan yang mulai becek karena genangan hujan. Apa wanita itu tak ke pasar lagi? Saat berpikir begitu, ia menoleh pada deretan orang-orang yang berdiri menatap ke arah jalan menunggu angkot atau bajaj lewat. Matanya terhenti pada raut seorang wanita berkerudung abu-abu yang sedang memegang tongkat. Wanita itu membawa plastik belanjaan di tangan yang satunya.
'Ah! Dia lagi ... apa dia menunggu bajaj?' Collins segera berdiri dan memakai jas hujannya sambil menutup kepala. Ia mendatangi wanita itu. "Kamu mau dicariin bajaj?"
Wanita itu terkejut dan matanya bergerak ke arah datangnya suara. Ia mengenali suara Collins. "Ah, iya, Bang."
Seorang ibu-ibu muda yang berada di samping wanita itu melirik Collins. Ia memegang belanjaan dan seorang anak kecil. "Saya juga ya, Bang. Tolong."
"Ah, iya, Bu. Satu-satu ya?" Collins mengiyakan. Dengan semangat penuh, ia melangkah ke pinggir jalan. Dalam hujan deras, ia menunggu bajaj lewat. Tak lama, ia mendapatkan satu. Segera ia kembali mendatangi wanita bertongkat itu. Ia melepas jas hujannya untuk menaungi sang wanita. "Udah ada, Mbak. Ayo!"
Wanita itu merasakan kepala dan bahunya tersentuh bahan plastik. Ia tahu Collins menaunginya dengan sesuatu. "Ah, terima kasih." Dengan tongkat ia berjalan ke depan.
Collins takjub wanita itu tahu, ke mana ia melangkah hanya dengan meraba-raba lewat tongkatnya. Ia terus mengiringi wanita itu hingga sampai ke tempat bajaj berada. Padahal dia sendiri juga terguyur hujan karena menaungi wanita itu dengan jas hujannya.
"Oh, ustadzah ...," sahut supir bajaj yang mengenali wanita itu.
"Ustadzah?" Collins terkejut mendengar sebutan itu dan menoleh pada sang wanita.
Bersambung ....