5. Aida

1177 Words
"Ah, Abang lagi. Jalan Mawar ya, Bang," sahut sang wanita yang mengenali supir itu dari suaranya. "Beres, Neng." Supir itu membukakan pintu dan penutup jendela. Wanita itu masuk. Collins masih melongok. 'Ustadzah?' "Eh, Bang. Makasih." Ustadzah itu mengulurkan tangan dan memberi uang yang dilipat-lipat pada Collins. Pria itu menerimanya. Tak lama, bajaj itu pergi. Collins masih melongok sambil melihat uang kertas di tangan. Padahal hujan deras membasahi tubuh tapi ia seperti tak merasakannya. 'Ustadzah? Dia ... Ustadzah?' **** "Haciuuh!" Enyak langsung melirik ke arah luar. Ia sudah tahu siapa yang datang. Wanita itu menyambut Collins di depan. "Lah, kenape pulang basah kuyup begini dah!" Ia melihat Collins yang basah dari ujung kepala sampai kaki. "Kerjaan, Nyak." "Ya, udah. Lu mandi sono. Jangan lupa sholat. Udah sholat dzuhur belum?" "Belum, Nyak. Hujan terus dari tadi." "Ya udah, sono-sono." Enyak mengusirnya. "Ntar nyak sediain air jahe sama makan siang. Belum makan pan lu?" "Belum, Nyak." Collins beranjak ke kamar. Ia sengaja pulang cepat karena ingin makan di rumah. Lagipula, pasar tutup lebih cepat karena hujan yang lama. Entah kenapa ia nyaman berada di dalam keluarga Betawi ini. Walaupun berisik, mereka saling peduli. Itu yang tidak ia rasakan di rumahnya dulu. Selain sepi, bila bertemu anggota keluarga yang lain, selalu timbul percekcokan dan saling curiga. Ia tak tahan tinggal di sana. "Nyak, jemput babe jam berapa?" Collins muncul di meja makan sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. "Elu gak ke pasar lagi?" Enyak meletakkan gelas yang berisi air jahe beserta piring kosong ke atas meja. "Enggak, Nyak. Udah sepi." "Ya, elu ke tokonya aja. Kali, masih sempet bantu-bantu." "Di mana, Nyak?" "Jalan Mawar. Deket kok dari sini." Collins melongok. 'Jalan Mawar? Tempat ustadzah itu, 'kan di jalan Mawar? Deket dari sini?' Enyak melihat Collins yang melongok dan menepuk tangan di depan wajahnya. "Hei! Die malah bengong ...." Tentu saja pria itu tersadar seketika. "Eh, iya, Nyak. Ntar dulu. Bara bersihin motor Babe dulu." Ia menarik kursi dan mencoba meneguk minuman yang dibuat enyak. "Eh, ini jamu?" "Ya ... bisa dibilang begitulah. Ngak suka?" "Ngak. Enak, Nyak!" Collins terlihat bersemangat dan mengambil sendok, tapi ia melihat lauk dengan kecewa. "Gak ada semur jengkol lagi, ya Nyak?" **** Hujan telah berhenti. Collins akhirnya menemukan toko yang diterangkan enyak padanya. Sebuah toko sembako yang tidak besar. Ia menghentikan motornya di depan ketika melihat babe sedang melayani pembeli. "Oh, lu dah pulang, Bara?" sahut babe ketika pembeli pergi. "Udah, Be. Kalau hujan, sepertinya pembeli gak banyak jadi cepet tutup." Collins turun dan menyambangi pria paruh baya itu. "Kalo gitu, lu bantu babe bentar. Agak sorean kita ke padepokan. Lu apalin dulu dah harga-harga barang di marih." Babe melihat Collins memakai sendal jepit miliknya yang kekecilan karena kaki Collins yang besar. "Eh, sepatu lu basah ye?" Ia menengok ke atas mencari sesuatu dan menariknya. Sebuah sendal yang masih dibungkus plastik. "Cobain dah! Ini ukuran lu, kali." Collins membuka bungkusnya dan mencoba. Ternyata pas. "Berapa, Be? Aku beli." "Udah, gak usah. Babe kasih." "Tapi, Be ... Bara punya uang." Collins mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya. "Udah, simpen aja. Mulai sekarang lu kerja pakai sendal aje. Jangan sepatu, emang lu kerja kantoran?" "Iya, Be." "Mungkin untuk traktir pacar." "Pacar?" Terlintas wajah wanita cantik itu kembali di benaknya. Bukankah wanita itu tinggal di daerah ini? "Be, deket sini katanya ada ustadzah ya?" "Ustadzah? Untuk apa?" Tiba-tiba wajah babe berubah paham dan tersenyum. "Oh, banyak ... Lu ada naksir siape?" Ditanya begitu, Collins langsung panik dan menghindar. "Oh, hanya tanya aja." Ia mengusap belakang kepalanya. "Gue tau ape yang ada dipikiran lu!" Babe menunjuk-nunjuk wajah Collins. "Ustadzah Aida, pan?" 'Ustadzah Aida? Apa itu namanya?' "Yang pake tongkat dan paling cantik di marih cuma die. Iye, pan?" Kembali pria paruh baya itu menunjuk-nunjuk wajah Collins dengan senyum lebar. Collins tentu saja hanya bisa mengusap belakang kepala dengan malu-malu, tapi ia tetap menyangkalnya. "Eh, enggak, Be. Aku lihat dia di pasar pakai tongkat, terus orang-orang manggil dia 'Ustadzah'." "Iya satu-satunya orang yang pakai tongkat di marih ya ... ustadzah Aida." "Oh, begitu." "Iya. Yang naksir die juga banyak. Die sendiri suka digodain ama muridnye karena terlalu cantik. Die ngajar di MTS depan entuh." Babe menunjuk ke arah depan. "MTS?" "Setingkat SMP. Itu sekolah islam." "Dia ngajar sekolah biasa?" Collins tercengang. "Bukannya dia buta?" "Babe denger die ngajar untuk yang hafizh qur'an." "Hafizh qur'an?" "Untuk yang ingin hafal Alquran. Die cukup dihormati di marih walaupun udah gak punya orang tua." "Yatim piatu?" "Iya. Die sempat dibesarin ama paman dan bibinye yang kemudian meninggal. Sekarang die tinggal ama sepupunye, bedua." Collins takjub. Ia tak menyangka wanita itu punya banyak kepandaian walaupun buta. Ia bahkan merasa tak sebanding dengan kemandirian Aida. "Oh." Collins menunduk. "Tapi die gak langganan di warung enih. Die langganan di warung sono, deket rumahnye." Babe bisa melihat Collins tertarik dengan Aida, walau tampak ragu-ragu. "Hei!" Ia menyenggol lengan Collins. "Lu naksir die?" "Ketinggian, Be. Hafiz qur'an." Nada suara Collins terdengar tak yakin. "Ah, lu laki, bukan? Usahalah!" "Usaha apa? Datangin rumahnya?" Babe tertawa. Collins memang terlihat lugu. Karena itulah babe berani membawanya ke rumah. Sikap sopan Collins dan hanya bicara kalau ditanya, membuat ia terlihat seperti anak hilang dibanding anak yang kabur dari rumah. "Sesuatu yang diperuntukkan Allah untuk lu, die gak akan ke mana. Die bergerak lurus ke arah lu, walau di jalan banyak rintangan. Die pasti datang untuk lu." Collins mengerut dahi dan berpikir sejenak. "Jadi ... gimana? Maksudnya bagaimana?" Ia tak juga mengerti. Babe menepuk-nepuk bahu Collins. "Nanti lu juga ngerti. Oh, iye. Kalo sore gini, die ngajar ngaji anak-anak tuna rungu di sono." Babe menunjuk arah berbeda. Collins terdiam. Dibanding dirinya yang hanya hidup mendompleng nama orang tua, baginya wanita ini luar biasa. Apakah orang seperti itu mau dengan dirinya, pria cengeng yang hidup dari belas kasihan orang tuanya? Tanpa orang tua, dia bukanlah siapa-siapa. 'Aida. Namanya mirip nama ibuku, Aiko. Dia begitu tinggi untukku, tapi ... aku begitu ingin mengenalnya.' Collins tak bisa menepis perasaannya. **** Collins terkejut ketika masuk ke padepokan. Ia baru mengerti apa yang dimaksud padepokan oleh babe. Sebuah tempat perguruan pencak silat. Collins baru sadar kenapa para pemabuk yang tempo hari menahannya itu takut melihat babe. Babe adalah guru silat di perguruan itu. "Ayo, Bara. Ikut!" ajak babe. Collins tentu saja terkejut. "Ah, enggak, Be. Aku nonton aja." "Eh, enggak pake!" Pria paruh baya itu menarik lengan Collins. "Ayo, ikut! Laki-laki harus bisa ini. Gimana mau lindungi orang yang lu sayang, kalo begini aja lu kagak bisa!" "Tapi, Be. Aku gak suka kekerasan ...." Collins berdalih. "Ngak bisa!" Babe tetap menarik Collins untuk ikut. **** Enyak langsung mengintip keluar ketika mendengar suara motor di halaman. Terlihat babe dan Collins masuk ke dalam rumah. Collins tampak mengaduh-aduh sambil berjalan sedikit pelan. "Nape lu?" tanya Enyak heran. Babe hanya tertawa cekikikan. "Masa, baru belajar beberapa jurus aje langsung sakit pinggang, Nyak!" ledeknya. "Babe ... aku 'kan udah kena banting beberapa kali," keluh Collins dengan wajah meringis. Terdengar tawa Ipah. Wanita itu menghampiri Collins dan menyentil dahinya. "Aduh!" sekejap, kedua mata Collins terpejam. "Lu jangan malu-maluin jadi adek gua!" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD